
Yuk lanjut ya. Semoga tidak masalah dengan cerita ini. Karena haluan othor memang ambyar. Jadinya begini ini. Sambil menunggu Mas Pras kembali.
Suasana pagi hari kota Jakarta. Menatap bunga yang basah, bukan karena embun pagi, tapi karena gerimis di pagi hari.
Sosok manis menggendong tas ransel. Duduk di bangku halte. Menatap layar ponsel, lalu ada angkot yang datang.
"Untung masih dapat tiket." Ucapnya dan sudah duduk di barisan kanan belakang sopir angkot itu.
Aldo yang hendak ke stasiun yang tidak jauh dari kantor polisi dimana tempat Limar saat ini berada. Dan akan berlanjut ke Gambir.
Aldo yang hendak pergi ke luar kota, dengan menaiki kereta api.
Sebelum Aldo mematikan ponselnya. Dia tampak mengirim sebuah pesan.
[Saya sudah pergi. Sesuai yang anda perintahkan.]
Aldo lalu mematikan ponselnya, setelah melihat tanda kalau pesan itu sudah di baca. Perlahan dia mengambil sim 1 dan mengganti nomor baru. Tapi dia masih mematikan ponselnya, dan memasukan ke dalam tas ranselnya.
"Limar, kamu menggambari fotoku." Ucap Aldo dengan tersenyum, saat melihat foto dirinya dan juga beberapa foto keluarganya, yang ada dalam tas ranselnya.
Limar semalam memang sengaja mengacak-acak tasnya Aldo, melihat foto culunnya Aldo saat STM, tangan jailnya beraksi mengambil spidol yang ada di dalam tas itu, lalu membuat wajah Aldo dalam foto itu, berubah jadi seperti tikus unyu.
Aldo yang masih tersenyum berkata "Semoga kamu lekas lupa, apa yang telah terjadi."
Tidak lama Aldo sudah tampak turun dari angkot itu, dan dia sudah tiba di stasiun. Tapi ini bukan stasiun Gambir, melainkan stasiun yang ada di wilayah Jakarta Selatan.
Dengan senyuman manis dan tanpa penyesalan. Aldo cukup senang saat mengenal Limar, tapi untuk bersatu rasanya masih tidak terbayangkan. Sosok yang berbeda jauh darinya.
"Aku harus pergi."
Aldo menoleh ke belakang, gerimis juga mulai reda, walaupun mentari sepertinya masih enggan menyapa.
Selalu ada ujian dalam kehidupan, dan pastinya akan ada jalan penyelesaian masalahnya.
Aldo yang tumbuh besar di lingkungan biasa. Sejujurnya, dia juga takut akan perasaannya.
Semakin lama bersama, pasti akan ada perasaan manis untuk keduanya. Biarlah dirinya dipandang sebelah mata. Tapi Aldo tidak ingin hatinya menjadi serakah.
"Kalau aku terus bersamanya. Aku pasti tidak akan bisa melepaskannya. Aku masih terluka, aku masih takut kalau nantinya akan kembali terluka."
(Aldo jadi mundur alon-alon, hadeh!)
Banyak perbedaannya diantara mereka berdua. Entah jalan yang di tempuh Aldo ini benar atau salah, tidak ada yang tahu.
Mungkin terlalu dini, untuk sebuah hubungan, dikala luka belum mengering. Pastinya, Aldo lebih terluka segalanya.
Fisik tampak segar dan senyuman masih tersirat dalam wajah manisnya. Tapi tidak ada yang tahu, isi hati Aldo yang sebenarnya.
Seperti Hesti, dia lebih memilih pergi, dari pada menodai mata dan pikirannya. Agar hatinya selalu tenang, dan masih menyimpan rasa untuk suaminya.
Orang bisa saya cemburu buta, orang bisa saja menjadi berubah, dan bahkan bisa membunuh tanpa menyentuh.
Ibaratnya, do'a istri yang tersakiti pasti suatu saat akan terkabulkan. Entah saat ini, esok, atau nanti.
__ADS_1
Tidak ada yang tahu. Bahkan seperti Aldo, roda akan berputar dan kapan dia ada berapa di atas, tidak ada yang tahu.
Aldo yang memandangi ke arah luar, tampak sinar mentari dari sisi timur yang begitu cerah, sebuah bukit terlihat kebiruan, awan putih diantara langit biru membentang.
Sungguh pemandangan yang indah di suatu kota. Perjalan Aldo baru di mulai, jejak langkah kaki yang dia tinggalkan di kota Jakarta, akan membuat kenangan dan akan mengukir masa depan, dengan hati dan segenap perasaan.
"Limar, kamu pasti bisa bahagia tanpa aku." Ucap Aldo yang tersenyum manis dan masih menatap luar dari sisi kaca kereta api.
Aldo yang tadi dari stasiun berganti kereta, lalu saat ini sudah berada di gerbong kereta api eksekutif, dengan tiket tujuan untuk ke Surakarta.
Aldo yang melakukan perjalanan dengan kereta api. Dengan cepat meninggalkan kota yang penuh kenangan untuknya.
"Allen, Papa sayang kamu."
Di tempat lain.
Di Kota Yogyakarta.
Suasana pagi yang cerah di kota Jogja, sudah pukul jam 8 pagi.
Dengan senyuman secerah mentari pagi ini. Hesti yang tersenyum manis, telah membangunkan putra tampannya.
"Langit... Sudah siang Nak." Ucap Bunda Hesti, saat masuk kamar Langit.
Hesti Maheswari tampak membuka gorden berwarna biru muda, dan mengikatnya dengan tali gorden. Lalu lapisan gorden yang bermotif bunga, juga digeser dan tersemat pada sisi jendela kaca itu. Jendela yang ukuran cukup lebar.
"Hemm... Bunda. Ini jam berapa?"
Hesti lalu merapikan bungkus snack dan kaleng bekas minuman yang berserakan di atas meja. Komputer yang tampak layar LCD masih menyala. Lalu terlihat gambar perempuan, dan Bunda Hesti cukup memperhatikannya.
"Langit, kamu punya pacar?" Tanya Hesti dan masih merapikan meja itu.
"Tidak Bunda." Jawabnya dan masih tengkurap memeluk guling.
"Sudah siang, ACnya bunda matikan ya."
Langit mulai bersandar dan masih berselimut tebal. Melihat sang Bunda yang sibuk mengambil baju kotornya, yang ada di keranjang sebelah kamar mandinya.
"Bunda kalau Langit punya pacar, apa Bunda akan setuju?" Tanya Langit, yang masih merasa mengantuk, dan kembali mendekap gulingnya.
Hesti dengan tersenyum, tangan kirinya memegang keranjang baju kotor, dan tangan kanannya mengayak rambut Langit.
Hesti berkata, "Emms, Bunda harus tahu dulu, gadis mana yang jadi pilihan putra tampannya Bunda."
"Emm, Bunda." Balas Langit dengan bibir unyu.
Hesti yang gemas bertanya "Apakah dia? Yang ada di layar itu?"
"Bukan Bunda, itu foto idol korea. Bukan Langit yang pasang. Tapi Dek Sekar yang suka pakai PCnya Langit."
"Iya, Sekar bilang sama Bunda. Katanya kalau Mas Langit nggak datang lagi ke rumah Eyang. Kamar Mas Langit buat Sekar aja."
"Huft, enak aja. Bunda sih, kasih ijin dia masuk kamar Langit. Itu PC banyak isian drakor. Aku jadi sebel semalam. Udah aku ganti paswordnya."
__ADS_1
Hesti yang masih di dekatnya berkata "Ya sudah bangun. Eyang sama Sekar baru sarapan. Bulikmu udah berangkat kerja. Ommu juga sudah berangkat. Kamu masih tidur nyenyak."
"Langit kan liburan Bunda." Lalu dia mulai beranjak dari tempat tidur.
"Kalau liburan hanya tiduran saja. Tidak mau jalan-jalan?"
"Bunda, apa motornya Sakti baru??" Tanya Langit, yang saat ini cuci muka di wastafel kamar mandinya.
"Bunda nggak tahu."
Langit lalu memeluk Bundanya, "Bunda, Langit di sini nggak ada motor. Langit mau jalan-jalan. Terus, masak harus pijam motornya Sakti, dia juga sibuk kerja. Kan nggak enak kalau pinjam."
Langit berusaha merayu sang Bunda dan Hesti berkata "Ems, kamu hanya sebentar di Jogja. Jadi buat apa motor baru. Kecuali kamu kuliah di Jogja, kamu dua minggu lagi sudah ke Jerman. Nanti bunda sewain di Mas Bagyo."
"Bunda, sewa di Mas Bagyo sama aja. Motornya itu biasa dipakai turis. Langit mau kayak punya Sakti."
"Ya udah motor kamu aja, nanti biar di kirim kesini."
"Ya jangan! Nanti kalau Langit balik ke Jakarta susah lagi."
Langit tampak bercermin, menata rambutnya "Itu motor kesayangan Langit. Nanti disini nggak ada yang ngerawat jagoan Langit. Kalau disana kan ada yang lainnya."
Hesti berfikir, memang benar kata Langit. Keluarganya di Jogja semua punya urusan dan kesibukannya sendiri. Disini semua serba dikerjakan sendiri, hanya ada satu ART itupun juga sudah usia. Berbeda dengan di kediaman suaminya, yang banyak pekerjanya.
"Tapi kalau beli baru, siapa yang akan merawatnya?"
"Bunda, nanti biar Sakti yang ngerawatnya."
Hesti tersenyum dan berkata "Mandi sana. Nanti Bunda pikirkan."
Hesti lalu keluar dari kamar Langit.
"Bunda, Bunda. Aku mau tidur lagi." Langit menjatuhkan badannya dan melentangkan kedua tangannya.
Langit dengan dirinya sendiri, dia tidak tahu apa yang telah terjadi pada Kakak-kakaknya.
Walaupun terkadang mementingkan pribadinya. Langit juga sayang dengan Kakaknya. Terutama dengan Limar, kakak perempuannya.
Langit kemarin sore tiba di Jogja. Dia tinggal di rumah Eyangnya. Di rumah Eyang Dewi ada Bulek, Om dan dua Adik sepupu.
Skip!
Waktu begitu cepat!
Kembali ke Aldo.
Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, tampak matahari begitu menyengat. Siang hari yang terasa panas. Aldo yang turun dari kereta itu, lalu berdiri dan memandangi sekitar.
Penumpang kereta yang turun dan ada pula beberapa penumpang kereta yang menunggu kereta datang. Stasiun yang begitu ramai.
Aldo hanya menatap ke depan, berjalan ke pintu utama stasiun.
"Aldo." Suara yang memanggilnya, dan Aldo mendekatinya dengan senyuman manisnya.
__ADS_1