
Lanjut yak, semoga kalian tidak geram. Ini bukan bawang bombay kok. Jadi tidak perlu siapkan tisue, tapi bisa siapkan koin, kalau mau getok othor gesrek ini. 😌 Masih sambungan dari bab sebelumnya. 🙏
Duduk menunggu sang suami, dengan perasaan manis, sambil menatap ke layar ponselnya.
Sudah jam 4 sore, Vava duduk di sebuah sofa restoran mewah, yang ada di mall berbintang dan berada di kota hujan.
[Kak Britney, aku mau ke Villa. Besok aku pulang ke Pondok Indah. 🤗🥰]
[Iya sayang, jaga diri baik-baik ya. Kakak merindukanmu 🥰😘. ]
[Oke Kakak, miss you too. 😘]
Vava masih berbinar-binar, dan ada yang mendatanginya.
"Nyonya Mahatma." Tegurnya dengan tatapan sinis, dan tampak menenteng tas mewahnya.
Sosok nyonya dan dia terlihat glamour, rambut dengan gaya layer hair cut begitu tertata rapi. Sepertinya dia memakai hair spray.
"Tante Mesti." Ucap Vava, dengan wajah yang tampak terkaget, dan langsung berdiri.
Vava yang sangat tidak menyangka, kalau akan bertemu Tante Mesti di tempat ini. Bahkan cukup jauh dari rumahnya.
Mesti tampak tesenyum dan bertanya "Kenapa? Kamu kaget? Nggak suka ketemu Tante??!"
Vava dengan tersenyum, walaupun rasanya ada hal pahit, lalu berkata "Vava senang, bisa bertemu Tante Mesti."
"Tante Mesti, gimana kabarnya?"
Mesti dengan senyuman sinis, dan dia menatap Vava dari ujung atas sampai bawah "Begini, jadi Nyonya Mahatma. Tidak ada yang berubah."
"Tante bersyukur, kamu tidak jadi menikah dengan Jo Jo."
"Tante paham, kalau Jo Jo, tidak sekelas putra keluarga Mahatma."
"Ternyata, kamu pandai memancing ikan yang lebih besar."
Vava yang masih tersenyum, tapi tangannya sangat dingin. Dulu Vava tidak begini, bertemu siapa saja, dia berani melawannya. Walaupun hanya dengan perkataan, Vava tidak pernah kalah. Tetapi kenapa, dia seperti mati kutu dihadapan Mamanya Jonathan.
"Maaf Tante, Vava tidak mengerti maksud Tante." Vava yang bingung harus berkata, sebenarnya dia sangat tahu maksud tujuan Mesti menghampiri dia, bahkan di tempat umum.
"Emm, kamu sama saja seperti Mama kamu. Buah yang jatuh, tidak akan jauh dari pohonnya." Ucapnya dengan tajam, dan begitu menusuk hati Vava.
Vava tampak menghembuskan nafas, dan perlahan menatap Mesti dengan tajam, lalu dia berkata "Tapi Mama Vava, jauh lebih hebat dari Tante Mesti."
"Hebat? Hebat menggoda pria kaya? Hebat menggaet pemuda? Emm, atau pria Photografer?"
Vava semakin bergumuruh, rasanya dia ingin langsung meneriaki Mesti, meski saat ini mereka ada di tempat umum.
"Tahan Vava, kamu lagi hamil. Kamu jangan terpengaruh perkataannya."
Vava berusaha meredam dirinya, dan berkata "Terserah Tante Mesti, mau bilang apa tentang Mama."
"Lagian Mama memang sudah banyak gosip. Jadi tidak masalah."
Mesti masih berdiri di depannya,
"Demi apa kamu mendekati pria kaya?"
"Bahkan kamu sampai hamidun."
"Demi harta? Tahta atau nama?"
"Memang sih, kalau orang kelas rata-rata, bila ingin berbaur dengan konglomerat, segala cara pasti ditempuh."
"Uppss, bukannya begitu Vava?!"
Vava mulai tidak bisa menahan dirinya, rasanya sangat tidak tahan dengan ucapan Mamanya Jonathan.
"Suami kamu sudah datang."
"Titip salam saya untuk dia. Jaga sikap kamu, Nyonya Mahatma."
Vava masih terdiam, dan Mesti pergi. Setelah melihat Lingga yang sudah berjalan ke arah mereka.
Vava yang mulai terduduk, dadanya mulai terasa sangat sesak. Nafasnya tidak beraturan. Sorot matanya sudah berubah layu, air bening tampak berkilau di matanya, dan hampir terjatuh.
"Sayang, maaf. Aku lama ya?!" Tanya Lingga yang memeluk Vava dari belakang, dan belum tahu perasaan istrinya.
Di ujung jauh, ada Mesti yang masih melihat Vava, dan mulai merasa kesal. "Lingga mencintai Vava? Dari kapan?"
Mesti lalu mengambil ponselnya, dan menghubungi seseorang.
"Kamu tahu, aku bertemu siapa?"
Mesti berjalan dengan menawan, dan tersenyum manis. Lalu mulai bergosip, tapi dia juga merasa kesal. Ada satu hal yang membuat dia puas.
Vava yang duduk sudah bisa meredam perasaannya, dan langsung mengusap air matanya yang hampir terjatuh.
__ADS_1
Lingga bukan hanya memeluknya dari belakang. Tapi saat ini, Lingga sudah menyematkan sebuah kalung dengan liotin permata di leher indahnya Vava.
"Em, sangat manis. Kamu suka?" Tanya Lingga yang masih memeluknya dari belakang.
"Iya Mas." Jawab Vava dan mulai tenang.
Vava masih kepikiran tentang perkataan Mesti. Tapi dia sudah mulai tersenyum, saat Lingga menatapnya dari depan.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Ems, nggak apa-apa."
Lingga yang melihat Vava tampak berkaca-kaca, lalu bertanya "Sayang, kamu menangis?"
"Emms, aku nangis."
"Aku bahagia Mas."
Lingga mulai memeluknya, dan Lingga juga merasa senang.
Mesti yang tadi pulang dari acara ulang tahun temannya. Dia malah bertemu Vava. Sudah sangat lama Mesti ingin menghujat Vava, setelah Vanesa menolak lamaran darinya.
"Mas Lingga."
Lingga mengelus rambut Vava, dan masih memandanginya, lalu bertanya "Kenapa? Kamu mau sesuatu?"
"Mas, kita pulang aja yuk."
"Kenapa? Kamu tadi yang minta, ingin jalan-jalan berdua."
"Bukan begitu Mas, tapi aku masih mual. Aku takut muntah lagi."
Lingga memegang tangan Vava dan berkata "Ada aku, kenapa harus takut. Aku akan menjaga kamu. Aku bisa merawat kamu."
Vava tersenyum dalam hatinya, "Tuhan sudah memberi aku suami yang baik. Tuhan, terima kasih."
Vava merasakan ketulusan Lingga, bahkan semalam, sang suami juga tampak siaga saat menjaga dia.
Bahkan beberapa kali Vava muntah, tapi Lingga tampak begitu perhatian.
"Kamu cuma pesan minum?"
"Emm, masih malas makan."
"Terus maunya apa?"
"Nonton?"
"He'em."
Vava lalu berdiri, dan suaminya dengan tersenyum menggandeng tangan Vava.
Mereka berdua, hendak menonton film. Vava tampak menyenderkan badannya, lalu Lingga merangkul pinggang Vava.
"Mas Lingga."
"Apa?"
"Tadi aku bertemu Tante Mesti."
Vava tidak ingin menutupi apa yang telah terjadi. Tidak berniat mengadu, tetapi Vava tidak ingin membohongi suaminya.
Apalagi setelah dirinya merasakan kasih sayang dan ketulusan sang suami.
"Dimana?"
"Dia nyamperin aku di Restoran."
"Jadi karena itu Vava menangis." Batin Lingga.
"Terus dia bilang apa? Apa masih sama seperti dulu, yang bilang calon menantuku."
"Mmh, apasih Mas Lingga. Jangan menggodaku."
"Makanya, sekarang senyum." Lingga menghentikan langkahnya dan Vava terdiam.
Lingga menatap Vava dan memegang kedua tangannya. Lalu bertanya "Aku siapa kamu?"
"Mas Lingga suami aku."
"Lalu??"
"Ya suamiku."
"Kamu nggak mau cerita sama suami kamu?!"
Vava mulai cemberut dan berkata "Mau, tapi malu. Dilihatin orang, tadi hampir nangis. Makanya aku ingin pulang."
__ADS_1
"Karena itu kamu ingin pulang."
"Apa yang dia bilang?"
Vava dengan matanya berkaca-kaca mulai menunduk. Lingga menatap Vava lebih lekat. Lalu menarik kepala Vava dalam dadanya. Lingga memeluk erat sang istri.
"Menangislah. Ada suami kamu. Kamu tidak perlu takut. Kamu tidak perlu malu."
Vava mulai sesenggukan, bahkan saat ini mereka ada di tempat umum.
Mereka sudah ada di lobby bioskop, tapi Lingga dengan rasa manis, mengelus rambut Vava.
"Aku sayang kamu."
Kedua tangan Vava mulai memeluk erat suaminya. Lingga merasakan cinta yang mulai bersemi dalam hatinya. Sempat menolak dalam pikirannya, tetapi hati tidak bisa berbohong. Kalau saat ini, dia sudah mencintai Vava.
"Siapapun yang menyakiti kamu. Aku tidak akan segan membalasnya."
"Sayang, jodoh, maut sudah ada yang mengatur."
"Apa kamu menyesalinya?"
Vava mulai mendongakan kepalanya, wajahnya yang begitu tirus dan Lingga memandangi Vava yang cemberut.
"Bukan aku yang tidak bersyukur. Tapi tadi, Tante Mesti kata-katanya nggak ngenakin. Apalagi bawa-bawa Mama. Aku nggak bisa ngelawan omongannya. Memang benar, aku hamil duluan. Lalu apa aku salah?"
"Dia sampai bilang begitu?"
Vava mengangguk, dan Lingga juga merasakan hal tidak enak.
"Emms, sayang. Katanya mau nonton.".
"Kita pulang aja."
Lingga mengerti dan akhirnya mengajak istrinya pergi dari mall itu.
Di tempat lain, yang sangat jauh dari Lingga dan Vava berada.
Tampak seseorang yang sangat begitu geram. Rasanya sangat muak, dan ingin segera membuang bongkahan batu yang sudah menghalangi jalannya.
"Lingga, kamu yang mengusik aku. Aku tidak segan membuatmu lenyap."
"Kerjakan dengan mulus. Aku mau dia."
Suaranya yang tampak bergetar, saat dia menghubungi seseorang.
Lingga dan Vava sudah ada di dalam mobil kuda jingkrak merah. Lingga dengan santai mengarahkan mobil ke arah puncak.
"Mas, bukannya kita pulang? Kenapa jalan ke arah puncak?"
"Kita memang pulang."
Vava dengan cemberut menoleh ke arah Lingga dan berkata "Mas Lingga, jangan bercanda deh. Nggak lucu."
"Sayang, kita memang akan pulang. Tapi pulang ke Villa."
Vava dengan perasaan tidak enak, bertanya "Ada apa dengan Mas Lingga?"
"Apa maksud kamu?"
"Mas Lingga nggak pernah mau dengerin aku."
Lingga meminggirkan mobilnya di sisi kiri jalan. Lalu dia berkata "Vava sayang, aku tahu. Akhir-akhir ini, aku terlalu sibuk. Di rumah aku juga sering di ruang baca. Kamu tadi minta jalan-jalan berdua aja. Ya udah, sekarang waktunya kita jalan berdua, mumpung aku ada waktu."
"Nat cerita sama Mas Lingga?"
Lingga tersenyum dan berkata "Bukan, aku tahu sendiri."
Vava dengan rasa tidak senang, lalu berkata "Mas Lingga nyadap obrolan aku?"
"Uuh, CCTV."
"Kamu sudah sadar." Ucap Lingga dengan senyuman manis, lalu mulai mengendarai mobilnya lagi
"Ngeselin!"
"Kenapa juga semua ruangan dikasih CCTV? Aku juga dikasih GPS. Sekalian aja, ini aku di simpen aja di kamar."
Lingga menggeleng dan tersenyum "Sayang, kamu istriku. Aku nggak mau kamu kenapa-napa. Kalau ada yang berani menyentuh milik pribadiku, entah dari fisik atau bahkan hatinya, seperti hal barusan. Aku tidak akan segan-segan membuat dia hancur."
"Ya udah aku mau bobok aja. Masih dua jam juga nyampenya. Nanti bangunin aku. Aku pusing bau parfum Mas Lingga."
"Sayang, padahal aku udah ganti parfum."
"Ya aku nggak suka. Aku pusing."
Lingga berkata "Iya aku ngerti. Bumil memang unik."
__ADS_1
Lingga yang sekilas menoleh ke Vava "Bukan cuma kamu saja Vava, tapi kita. Bahkan semua keluarga kita. Aku tidak bisa diam, melihat milikku di sentuh atau sampai di rusak. Aku bisa lebih keji dari dia."