PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Keluarga Kecil Prasetya Wardana


__ADS_3

Kelanjutan dari bab sebelumnya ya 😂.


Kalau bingung, sentil aja othor gesreknya. 🤗😅


Depok, jam 17.00 WIB


Duuuaarrrr!!!


Suara petir yang menyambar tidak henti, dan akhirnya memadamkan lampu seluruh kota, suasana rumah Pras menjadi gelap gulita.


"Papa!!"


Suara teriakan Alishba, saat gelap karena mati lampu.


Pras yang tadinya membaca majalah otomotif, karena mati lampu, akhirnya mendatangi anaknya yang ada di kamar.


"Sayang, Papa disini."


Britney setiap minggu sore ikut pengajian ibu-ibu. Pengajian yang diadakan setelah sholat ashar sampai jam 5 sore. Harusnya sudah pulang, tapi karena hujan sangat deras, jadi seperti biasanya ada rumpi sore bersama ibu-ibu puri anggrek.


"Papa, Mama kenapa belum pulang?"


Alishba terlihat sangat cemberut, dan menatap sangat Papa yang sedang menyalakan lampu emergency.


"Iya sayang, hujannya deras. Mama nunggu hujannya reda dulu."


"Apa Mama nggak bawa payung?"


"Entahlah, Papa nggak tahu."


Alishba mendekati sang Papa dan berkata "Ayo Papa, kita jemput Mama, keburu gelap. Ayo Papa."


"Alishba, hujannya masih deras."


"Alishba mau sama Mama."


"Sayang, ada Papa disini. Mama juga akan pulang."


"Alishba mau sama Mama!"


Pras mulai menggendongnya dan mengajak anaknya untuk keluar dari kamar. Alishba tadi bermain barbie di kamar, setelah mati lampu menjerit dan tampak ketakutan.


"Emms, kita tunggu Mama disini."


Pras memangku anaknya, dan suasana semakin gelap. Sudah lebih dari jam 5 sore, suara rintikan hujan sudah berubah.


Alishba yang duduk di atas pangkuan sang Papa, dan mereka ada di ruang tamu. Menatap luar yang dari jendela. Suara ibu-ibu yang lewat depan rumah itu sudah terdengar.


Greeeetth!!


Suara pintu pagar yang terdorong, terdengar oleh Pras dan Alishba yang menunggu di ruang tamu.


"Nah....itu Mama pulang." Pras mengangkat anaknya dan menggendongnya, lalu mengajak anaknya ke teras rumahnya.


"Mama... Mama" Suara merdu Alishba, dan Britney yang melihatnya tersenyum manis.


Britney meletakan payungnya, lalu mendekat dan berkata "Sayangnya Mama."


Sanga Mama dengan senang dan menicumi wajah Alishba dengan bahagia.

__ADS_1


"Mama, rumah kita mati lampu." Ucap Alishba yang telah mengadu.


"Iya sayang, semuanya juga mati lampu. Bukan cuma rumah kita aja sayang. Tadi rumah Tante Hilma juga mati lampu."


Alishba dengan tersenyum dan berkata "Mama, ikut Mama."


"Sayang, gamis Mama basah. Mama ganti baju dulu." Ucap Britney dan Pras yang menggendong Alishba merasakan anaknya yang menganyun, dan segera ingin digendong oleh sang Mama.


Britney melangkahkan kaki ke dalam rumah, dan Pras mengikuti istrinya yang telah berjalan di depannya.


"Alishba, Mama sekarang lagi hamil. Alishba kalau minta gendong sama Papa aja sayang. Kasian Adik bayi di dalam perut Mama."


Alishba menoleh ke wajah sang Papa, dan memegang kedua pipi sang Papa.


"Apa Adik akan sakit?"


"Iya sayang, Adik bayi juga akan keberatan. Kakak sudah besar, kasian Adik bayi masih kecil sekali."


"Benar kah?!"


Mereka bedua menatap Britney yang sedang mengambil baju di lemari. Ruangan kamar yang memakai lampu emergency yang cukup terang. Kedua orang itu duduk di tengah tempat tidur, dan Britney menoleh ke arah mereka berdua.


"Alishba kamu kenapa sayang? Kenapa cemberut?"


Kedua tangan Britney yang memegang dress ibu hamil, dan mendekapnya dalam dadanya. Terpana melihat ekspresi putri kecilnya.


"Kata Papa, Alishba nggak boleh minta gendong Mama. Nanti Adik bayi bisa sakit."


Pras menoleh ke Alishba dan meraih putri kecilnya.


"Sayang, bukan begitu maksud Papa."


Dalam hati Pras dia juga serba salah, tapi putri kecilnya semakin hari, berat badannya semakin kian bertambah, apalagi istrinya sekarang sedang hamil muda. Apa yang akan terjadi bila sang putri kecilnya, meminta gendong dengan sang Mama terus menerus.


Alishba melihat perut sang Mama dan Pras mengelus rambut Alishba, sangat susah menjelaskan kepada anak seusia Alishba.


"Papa, Alishba mau di gendong Papa aja. Kasian Adik bayi nanti bisa capek."


"Iya sayang, nanti Adik bayi bisa capek. Anak Papa hebat."


"Kakak Alishba, Papa!"


"Iya, Kakak Alishba hebat."


Pras menciumi kening anaknya dan Britney yang tersenyum berjalan ke kamar mandi yang ada dalam kamarnya. Sungguh pemandangan sore hari yang cukup menggemaskan.


Walaupun hujan masih sangat deras, dan mati lampu. Tapi keluarga kecil itu tetap hangat, dengan cinta dan kasih sayang yang ada.


"Papa, apa Adik bayi akan cantik seperti Alishba?"


Pras yang berbaring di atas tempat tidur, dan Alishba bersandar di atas dada Papanya.


"Mmh, Papa tidak tahu sayang."


Alishba menoleh ke arah wajah sang Papa.


"Apa akan tampan seperti Papa?!"


Pras menoleh ke arah anaknya, dengan senyuman manis dan begitu tengil, lalu bertanya "Apa Papa begitu tampan?!"

__ADS_1


"Papa memang tampan. Tapi masih tampan Marlo." Jawab Alishba.


"Benarkah?"


"Benar Papa, tapi kata Mama. Papa lebih tampan dari Marlo."


Sang Papa dibandingkan dengan boneka barbie, Alishba masih saja membandingkan dirinya juga dengan barbienya.


"Papa lebih tampan. Marlo cuma boneka."


"Papa lebih tampan kalau Papa senyum. Tapi kalau Papa melotot dan marah-marah, Alishba nggak suka."


Pras dengan tertawa dan berkata "Masak Papa kalau marah harus senyum sayang?!"


Pras jadi duduk dan Alishba duduk diatas pangkuannya, tangan mungil itu mengelus wajah sang Papa.


"Papa kalau senyum begini tampan. Tapi kalau marah-marah, lebih tampan Marlo."


"Berarti Papa harus senyum terus dong."


"Iya Papa, harus! Papa nggak boleh marah-marah sama Alishba atau Mama."


Pras yang gemas, bertanya "Memang Alishba tahu kalau Papa marahin Mama?"


"Sayang, kamu ini teledor jagain Alishba. Anak kita bisa sampai hilang begitu, kamu bisa nggak jagain anak kamu!!" Suara Alishba seperti Pras yang sedang memarahi istrinya. Lalu Alishba berkata lagi "Nah, Mama sampai nangis kan, gara-gara Papa marah-marah."


Pras tertawa gemas dan memeluk putri kecilnya. Lalu ia berkata "Iya sayang, maafin Papa ya. Papa kadang suka marah-marah."


"Papa minta maafnya sama Mama dong. Kan Mama yang dimarahin, bukan Alishba. Jadi Papa juga bikin Adik bayi takut. Soalnya kalau Papa marah-marah, Alishba aja takut, apalagi Adik bayi yang masih kecil, pasti juga takut sama Papa." Suara yang sangat menggemaskan. Pras dengan tersenyum dan merasa seperti dinasehati oleh sang ibu. Anaknya sudah pandai menasehati sang Papa.


Tidak ada sosok sempurna, semua ada sesuatu yang unik. Pras memang sosok yang tampan dan manis senyumnya, tapi disaat dirinya marah juga bisa menyakiti perasaan istri dan anaknya.


Britney yang keluar dari kamar mandi, dan melihat suaminya yang memeluk anaknya dengan gemas.


"Mama...." Alishba tersenyum.


Britney mendekati tempat tidur dan Pras langsung berkata "Mama, maafin Papa ya. Ternyata Papa suka marahin Mama."


Britney yang tampak bingung dan tidak mengerti, tapi Pras mengedipkan matanya, lalu Britney mulai paham, dengan apa yang telah terjadi.


"Mmh, Papa harus dihukum.'


Alishba menoleh ke arah Britney dengan senyuman manis dan bekata "Iya Mama, Papa harus dihukum."


"Ayo, kita hukum Papa."


Britney masuk arena itu, tempat tidur yang cukup luas. Pras mulai digelitiki anak dan istrinya. Kedua perempuan itu dengan kompak, dan semua menjadi tertawa.


"Alishba.... Ampun... Ampun sayang."


"Mama, ayo kejar Papa."


Pras yang berlari meninggalkan tempat tidur, dan Britney mengambil bantal memelukanya erat. Melihat anaknya yang masih mengejar Papanya. Pras membalikan badannya, dan mengangkat Alishba dengan tinggi.


"Wow, Alishba terbang."


"Mama Alishba diatas."


Pras memang sangat istimewa dan cukup unik. Tidak ada hal yang sempurna, tapi karena sebuah cinta dan itu menjadi pelengkap hidupnya.

__ADS_1


"Cinta ini, begitu istimewa."


Batin Pras dengan segala yang ada, dan Britney menatapnya dengan penuh kasih sayang.


__ADS_2