PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Pertemuan Ini Sungguh Hareudang


__ADS_3

Lanjutan dari cerita sebelumnya. Ini bukan film action atau cerita tentang adu tembak seperti Mafia. Tapi ini kisah keluarga Mahatma.


"Mbak Limar." Ucap Lingga dengan tertunduk di atas aspal. Raut mata kesedihan yang tidak berdaya.


Flashback On.


Setelah Limar terbangun dari mimpi buruknya. Ada seseorang yang datang.


Selasa, jam 1.20 WIB. Masih dini hari, ruangan pengunjung. Limar menatap wanita itu dengan tajam.


"Tante Serly!" Limar yang baru masuk ruangan, cukup terkejut dengan apa yang dia lihat saat ini. Lalu Limar duduk di depannya, dengan tatapan tajam.


"Apa kabar?"


"Tante Serly, bisa lihat sendiri." Jawab Limar, yang masih dengan keangkuhan dalam dirinya.


"Kamu masih tetap seperti dulu. Yang penuh keangkuhan dan juga egois."


"Tante memujiku?" Tanya Limar dengan tatapan sinis dan menyungging bibirnya menarik ke kanan.


Limar juga tahu bagaimana Serly, tapi Limar tidak menyangka, kalau Serly ternyata masih hidup. Bahkan Serly lebih glamour, tidak seperti saat Limar bertemu dulu.


"Kamu sudah tahu, siapa gadis yang kamu tembak?"


Limar menatap Serly dengan santai, dan berkata "Tidak, dia masih sakit."


"Gadis itu hanya suruhan Ayah kamu. Untuk memberi sedikit pelajaran kepada pengawalmu. Tapi kamu menembak dia." Ucap Serly dengan santai.


Limar dengan terkejut dan tampak terdiam. Limar bagaikan orang yang ingin segera berlari, untuk bertanya kedapa Ayahnya. Tapi saat ini, dirinya masih terkurung di dalam tahanan.


"Ayah?" Tanya Limar yang berusaha tenang, dan tidak ingin memperlihatkan dirinya yang lemah.


"Kamu putri kesayangan Ayahmu. Tapi, dia tega membuat kamu terkurung, dan dia masih bisa tidur nyenyak, di rumah yang mewah."


Serly seolah sedang menertawakan keluarga Mahatma, yang sekarang berantakan. Serly merasa hal ini sangat lucu baginya.


"Kamu tahu siapa Siska??"


Limar menjadi bingung, "Kenapa Serly juga mengenal Siska?"


"Dia adalah orangku." Serly dengan sinis dan tersenyum bahagia.


"Aldo! Kamu menyukainya??"


"Gadis bodoh."


"Emms," Tampak senyuman senang, dan ingin rasanya membuat Limar menangis di hadapannya.


Limar masih berusaha tegar, untuk diam dan mendengarkannya saja.


"Kamu sangat benci, bila Ayahmu memiliki istri lain. Tapi, kamu menyukai pria beristri."


"Bukan, begitu Limar?!"


Kedua tangan Limar tampak mengepal, dan dirinya semakin emosi. Tapi Limar tidak ingin runtuh.


"ALDO!"


"Kamu ingin tahu siapa Aldo?"


Limar seolah ingin pergi, dan tidak ingin mendengar apapun lagi dari mulut yang berbisa itu.


"Aldo, dia hanya korban. Siska, memang istrinya. Tapi, sayangnya. Siska memilih mengikuti aku. Menjadi anak asuhku."


"Tapi ternyata, Tuhan adil. Tanpa aku bergerak. Sudah ada laki-laki baik, yang menggiring Aldo ke tempat yang tidak seharusnya." Ucapnya dengan senang.


Limar semakin tidak ingin mendengar kata-kata darinya.


"Kamu pasti lebih terkejut lagi."


Serly tampak memandangi Limar dengan senyuman liciknya, dan Limar memalingkan wajahnya, lalu kembali menatap Serly lagi.


"Evellyn adalah Adik kamu. Dia putri Yuda Mahatma."


"Siska hamil???" Serly tertawa terbahak dan merasa sangat lucu.


"Bayi itu, bukan anak Ayah kamu. Bukan Limar."


Serly yang tersenyum manis, dia merasa bahagia sekali.


"Siska hanya menaruh obat tidur, dia tidak bertindak apapun. Tapi sayangnya, dia mulai memiliki rasa untuk Yuda, jadi aku cukup memberi kejutan manis untuk dia. Ems, kecelakaan."


"Dan dia akan kembali gelandangan, sebelum bertemu aku."


"Siska yang malang." Senyuman manis semanis madu, tapi lagi-lagi itu sangat berbisa.


"Mas Yuda, punya level tinggi. Dia bukan pria yang mudah didekati. Limar, kamu yang salah menilai Ayah kamu. Sangat disayangkan. Gadis berpendidikan, tapi hanya memainkan egomu dengan sombong!"

__ADS_1


"Tante, waktu kita sudah habis."


"Tidak!"


"Aku sudah memastikan waktunya."


Limar juga merasakan hal aneh, sepertinya tidak ada penjagaan.


"Mana ada jam besuk jam segini. Kamu lebih bisa menilai aku, kamu dulu bilang aku pandai berakting. Aku saat ini sudah melakukannya di depan para petugas. Aku bilang, aku adik Bundamu yang menderita kanker, dan aku membawa surat Bundamu. Jadi, mereka percaya, dan akan segera melepaskan kamu saat ini juga. Aku sedang menunggu surat tahanan luar."


Limar merasakan hal yang tidak enak. Rasanya ingin menangis, tapi dia tidak bisa menangis di depan wanita gila ini.


"Apa mau Tante?"


"Apa mauku??!"


"Kamu!"


Limar mulai mengerti, dari tadi Serly sudah mengoceh dan mengatakan semuanya. Pasti dia sudah membuat rencana licik untuknya.


"Siska bodoh, dia ingin membalasku. Atas kematian bayinya, tapi Mas Yuda malah menceraikan dia. Akhirnya akan hidup menggelandang."


"Soal Aldo, untung kamu menembaknya. Kalau tidak, dia sudah tertusuk dan itu karena Ayahmu."


"Sepertinya, dokumenmu sudah hampir beres."


Serly sudah selesai melantur, dia seperti wanita gila, yang meluapkan segalanya.


"Tante tahu dimana Aldo?" Tanya Limar dengan serius, dan suaranya begitu tegas.


Serly mengangguk, dan berkata "Aldo ada di sebuah tempat, yang jauh dari sini."


"Tante tahu dimana tempatnya??" Tanya Limar dengan suara yang tajam, dan sangat serius.


"Apa imbalan kamu untukku? Tuan Putri Limar Mahatma!"


Limar yang masih bingung, tapi dia ingin berpura-pura. Serly wanita licik, dia pasti akan ketahuan.


"Aku tidak punya apapun untuk Tante. Bahkan aku, masih dalam tahanan."


"Kamu ahli menembak."


Serly cukup tersenyum manis dan Limar masih menatap Serly dengan teguh. Limar tidak ingin rapuh dihadapan Serly.


"Bisakah, kamu memberikan satu tembakan untuk aku?"


"Bagus!"


"Aku akan segera mengantar kamu ke tempat Aldo."


Tidak lama Limar sudah berganti baju, Limar yang sudah rapi dengan celana jeans dan kaos putih. Lalu memakai jaket kulit. Semuanya sudah dipersiapkan Serly.


Mereka berdua, lalu pergi dan Limar duduk di mobil Serly, hanya diam tanpa berkata.


Flashback off


Lingga masih dalam kebingungan, Limar sudah dibawa pergi Serly. Lalu apa yang akan terjadi dengan Kakaknya.


Serly bahkan memiliki kebencian terhadap Limar. Karena Limar, Serly tidak bisa menikah dengan Yuda. Karena Limar pula, Yuda hanya melihat ke arah Limar, bukan Evellyn.


Itulah yang menyakitkan Serly, bahkan sampai Serly menikah dengan pria Jepang, dan setelah itu kembali untuk menitipkan Evellyn. Dia berkata kalau Papanya Nicholas tidak bisa menerima Evellyn. Dengan begitu Yuda akan merawat Evellyn.


Dari usia Evellyn 5 tahun sudah tinggal bersama Yuda. Tapi Yuda menganggap Evellyn hanya orang lain dan bukan darah dagingnya.


Sampai detik Evellyn meninggal, Yuda belum pernah mengucap kata Anakku. Itulah yang semakin membuat Serly sakit hati, dan menjadi dendam kepada Limar.


"Mbak Limar, kamu dimana?" Batin Lingga yang sangat cemas.


"Bos Lingga. Wanita itu hanya meninggalkan ini." Ucap Nat.


Lingga yang membaca surat itu, menjadi sangat rapuh tak berdaya. Tidak ada dalam bayangan dia, kalau Limar akan menuruti apa kemauan Serly.


"Ayah, kalau sampai ada apa-apa sama Mbak Limar. Aku tidak akan memaafkan Ayah." Batin Lingga yang sangat cemas.


Seandainya, Yuda tidak menemui Serly. Pasti Limar tidak akan dalam masalah. Serly penuh dendam.


Rasa sayang Yuda terhadap Limar, semakin membuat Serly, untuk segera menghancurkan Limar.


Subuh tiba, Limar ada di sebuah kota yang sejuk.


"Limar." Ucap Aldo dengan rasa terkejut dan mereka berdua ada tempat yang sudah Serly persiapkan.


"Limar ini dokumen kamu." Ucap Serly dan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Kamu bisa disini?? Bukannya kamu."


"Aku tidak akan lama. Aku hanya sebentar saja."

__ADS_1


Aldo masih berpenampilan seperti biasa, dengan tersenyum berkata "Maafkan aku. Aku memang pengecut."


Limar mengerti dan berkata "Wanita itu yang menyuruhmu kesini?"


"Iya, dia yang menyuruhku kisini. Aku tadinya mau pulang ke Solo. Tapi ada yang mengikuti aku. Akhirnya aku pergi ke rumah temanku."


Limar memandangi Aldo dari atas sampai ke kaki, tidak ada yang kurang apapun dari Aldo, Limar bertanya "Apa dia yang menyuruh kamu pergi?"


Aldo menggeleng, lalu berkata "Pak Yuda yang menyuruh aku pergi. Tapi wanita itu ternyata tahu semua tentang aku. Aku sekarang seperti tawanan, yang harus menurutinya."


"Demi aku??"


Aldo yang berkaca-kaca, dan tidak berani menatap Limar, hanya mengangguk saja.


Limar dengan rasa berani, lalu dia mendekat. Aldo yang masih berdiri, tidak tahu apa yang hendak Limar lakukan padanya.


Limar mengecup bibirnya Aldo dengan segala perasaan yang ada dalam dirinya, Aldo tidak ingin lagi menghindar lagi.


Kedua tangannya menarik pinggang Limar dan menyempurkan ciuman manis itu. Ciuman bagaikan candu untuk keduanya. Di sebuah kamar hotel berbintang. Aldo yang selesai sholat subuh, rasanya hendak berdosa.


Setan apa yang merasuki Aldo saat ini, perasaannya sudah merancu dan tidak terhindarkan. Entah, obat apa yang dia minum, kenapa begitu nikmat rasa kiss pagi buta itu. Bahkan pikirannya juga menjadi buta, seolah kesucian pria dan wanita ini, sudah akan ternoda.


Aldo dan Limar melakukan ciuman itu dengan gairah mereka. Sungguh pagi yang hareudang. Ciuman yang terlanjur basah, mereka dalam kobaran asmara.


Pertemuan yang singkat, tapi keduanya memiliki perasaan yang sama.


"Limar," Aldo yang tidak mengingat akan dosa, sudah mulai menjejelajah ke leher Limar.


Aroma parfum yang Limar pakai sangat menggoda, semua sepertinya sudah dipersiapkan Serly untuk keduanya.


"Emmmh." Limar yang cukup menikmati setiap sentuhan Aldo.


Limar yang tidak kuat atas sentuhan lembut itu, dia semakin terlena.


"Aldo," Ucapnya dengan manja.


Aldo mengakatnya ke sebuah tempat tidur dan Limar hanya menurut saja.


"Limar, kamu percaya sama aku?"


Limar menggangguk. Limar tidak ada lagi kepercayaan terhadap siapapun. Tapi saat ini, Limar juga memanfaatkan Aldo. Kedua orang yang saling memanfaatkan untuk diri mereka.


"Aku harus bisa melakukannya." Batin Aldo, gejolaknya mulai runtuh.


Limar menggodanya dan menarik leher Aldo, sekarang Limar lebih berani. Bahkan Aldo hanya akan menikmati, apa yang Limar lakukan padanya.


"Limar." Ucap Aldo yang terbaring dan menggeleng.


Jari telunjuk Limar menutup bibir tipis Aldo, dan Limar malah mengusar bibir itu dengan jarinya.


Limar yang ada di posisi atas, perlahan membuka jaketnya.


Aldo semakin gugup dan Limar masih duduk di atas pinggangnya.


"Aldo, kamu nikmati saja." Ucap Limar, dengan cepat Limar melepas kaos yang dikenakan Aldo saat ini.


Aldo yang memalingkan wajahnya, tapi posisi Limar masih membuatnya tidak kuat menahan gairah pria.


Limar menciumi Aldo dari kening, pelipis mata, pipi, telinga, leher hingga ke area sensitif Aldo.


"Aldo maafkan aku." Batin Limar.


Dengan rasa manis, Limar melakukan persembahan rasa yang begitu nikmat. Aldo tidak hanya berdiam saja, setelah ada yang berdiri tegang dan sudah berubah tajam.


Gejolak terpaksa menjadi gairah manja. Mereka berdua tampak menikmati pagi yang berbeda. Sebuah tragedi pagi di balik dinding.


"Bagus, aku bisa pulang." Ucap Serly dan pergi.



Ini bukan cerita yang wajid dibaca. Tolong jangan hujat othornya. 😂


Karena memang begini jalan cerita yang ada.😜


Otak mesum?? Bukan.


Olah raga pagi? Bukan.


Entahlah, othor juga tidak tahu.


Kalau tulisan ini, tamat disini.


Bagaimana? 🤭


Tapi, kalau masalah ini selesai. Pasti akan tamat di season 2. Apakah harus dilanjut season berikutnya. Tapi Mas Pras pasti sudah tua. Visualnya pasti berbeda. 😌


Ceritanya lanjut apa tidak ya?? ✌😅

__ADS_1


__ADS_2