PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Kejutan Untuk Suami Tampan


__ADS_3

...☘Malam beradu dengan gelojak asmara,...


...menyatu padu dalam puncak gelora.☘...


Masih kelanjutan dari bab sebelumnya. Tolong baca baik-baik tulisan ambyar ini. Bila ada kata yang tidak sesuai, tolong komentari othor gesrek ini.



"Mas, sudah adzan maghrib." Ucap Britney, yang telah masuk ke kamar mandi, dan Pras masih asyik berendam dalam bathup.


"Mas, kamu tidak mendengarku?"


Britney duduk berjongkok, dan mengelus rambut belakang suaminya, lalu berkata "Mas, jangan marah dong. Iya, aku lalai. Aku minta maaf."


Pras menatap istrinya dan berkata "Aku tidak marah, buat apa kamu minta maaf sama aku."


"Mas, bukan begitu maksud aku." Ucap Britney, dan mulai menunduk dengan cemberut. Britney tidak berani menatap mata suaminya, yang begitu tajam.


"Sudahlah, kamu urus baik-baik anak kamu. Aku nggak suka kamu yang begitu entengnya. Tadi sebelum aku ke kamar Vava. Kamu bilang sama aku, kalau kamu yang akan mengawasi Alishba. Tapi dia sendirian ke lantai dua, dan diatas sepi. Itu namanya kamu sudah teledor." Ucap Pras dengan suaranya pelan, membuat Britney jadi diam.


"Kamu keluar dulu, aku mau mandi."


Britney keluar dengan perasaan tidak tenang. Pras juga salah, dia asyik bermain playstasion. Istrinya yang sibuk tetap saja disalahkan. Suami maunya menang sendiri.


Pras bergegas mandi, dan mengguyur kepalanya dengan shower. Tetesan air yang berjatuhan telah mengenai kepalanya. Rambutnya yang basah, dan tangannya sudah mengayak rambut hitamnya, dan menggerakan kepalanya.


"Sayang, kamu semakin hari semakin teledor. Kemarin belanja di supermarket Alishba juga hampir hilang."


Pras masih menggerutu, semenjak kemarin sudah sangat kesal dengan istrinya. Kemarin Papa muda itu benar-benar memarahi istrinya. Tapi Britney juga mengerti, kalau dirinya memang salah.


...Pondok Indah, jam 18.10 WIB....


"Sayang, kamu sudah sholat?" Tanya Pras yang melihat istrinya telah mengenakan mukena putih, dengan pinggiran renda abu-abu.


"Belum Mas. Aku menunggu kamu Mas." Jawab Britney.


Televisi sudah dimatikan dan Alishba juga sudah mengenakan mukenanya, terlihat sangat cantik. Mukena putih yang sama dengan sang Mama. Ternyata mukena couple itu sangat cocok untuk Alishba dan Britney. Jaman sudah berkembang, apa saja dibuat couple, dan itu sah-sah saja, tidak masalah.


Pras yang menjadi imam dalam sholat maghrib ini. Alishba cukup menggemaskan, tapi dia cukup mengikuti Papanya dan juga Mamanya.


"Papa Alishba juga." Ucapnya, lalu mencium tangan Papanya.


Pras dengan gemas mencium kening Alishba. Britney tersenyum, melihat sang suami yang begitu menyayangi putrinya.


"Sayang, maafin aku. Aku juga salah." Ucap Pras.


Setelah selesai sholat maghrib berjama'ah, mereka berdua larut dalam suasana.


"Mas, aku juga salah." Balas Britney, dan Pras meraih istrinya dalam pelukannya.


Alishba yang tidak mau kalah, juga memeluk Mamanya. Lalu Pras menarik anaknya. Alishba berpindah dalam pelukan Pras dan Britney.


"Sayangnya Mama. Maafin Mama. Maafin Mama." Ucap Britney, yang menciumi wajah Alishba.


Keluarga besar Kakek Restu masih berkumpul di Pondok Indah, apalagi ini malam minggu. Semua anak cucu dan buyutnya akan menginap di rumah itu. Ada Abah Ferdi dan Mamah Sarah, ada Evan dan Ghea serta Giel. Lalu ada Maeva, Aksa dan juga Arvez. Terus ada Rendy, Almeera dan juga Latif.


Latif anaknya Rendy dan Almeera baru berumur 3 tahun. Sangat tampan, tidak kalah tampan dengan Giel dan Hafiz.


...5 Jam kemudian...


"Mas, aku tidak tenang. Aku ambil Alishba aja ya." Ucap Britney.


"Kenapa?" Tanya Pras, Britney menatapnya dan Pras mulai mengelus rambut istrinya, berkata "Apa salahnya kalau Tante Vanesa mengajaknya tidur dikamarnya, dia juga Neneknya Alishba. Sudah lama Alishba tidak bersama Neneknya."


Sebenarnya Pras sudah merencanakan hal ini, bahkan Evan, Ghea dan juga Tante Vanesa sangat mendukungnya. Agar Pras berhasil membuat sang istri luluh. Bahkan Ghea sudah menukar pil KB Britney. Tapi Britney tidak sadar akan hal itu.


"Mas, tapi aku gelisah. Aku nggak bisa tidur. Apalagi kemarin, aku hampir saja kehilangan Alishba."


Britney semakin cemberut, dan Pras mulai menutup bibir sensual istrinya dengan jari telunjuknya.


"Sstt... Jangan diungkit lagi. Aku cuma mau kamu tahu satu hal, kalau aku juga butuh kamu."


Britney dengan gemas dan berkata "Tapi Mas."


"Kamu tahu apa kewajiban kamu?" Tapapan Pras sudah bagiakan kucing yang minta di elus-elus.


Bibir manis Pras juga mulai bermain, Britney jadi kesal dengan tingkah nakal suaminya.


"Mas, tapi aku capek."


"Seseorang istri tidak boleh berkata capek. Tidak ada alasan untuk menolak keinginan suaminya."


"Mas, ngertiin aku yang sedang gelisah."


"Sudah satu jam aku ngertiin kamu. Bahkan aku cukup tahu, apa yang membuat kamu gelisah. Bukan Alishba, tapi kamu takut aku nakalin."


"Mas, ayolah. Aku tidak enak badan. Badanku pegel-pegel."

__ADS_1


"Bisa aku pijitin, pasti pegelnya ilang."


"Mas, aku lupa bawa pil KB. Jadi libur dulu, Mas."


"Nggak ada hari libur. Apalagi ini malam minggu."


"Kenapa kalau malam minggu? Bukannya sunahnya kalau malam jum'at?"


"Kalau malam minggu, semua orang bersama pasangannya. Kamu itu pasanganku, aku nggak mau jadi pria single yang hanya memeluk guling."


Britney yang sepertinya sudah kalah, dan Pras tidak henti membujuk istrinya. Apalagi mood Britney tidak senang, pasti harus lebih nakal.


"Baiklah, tapi aku ke kamar mandi dulu."


Pras tersenyum tengil, dirinya tidak akan kalah. Sang istri pasti menurutinya.


Britney yang dikamar mandi, bergumam. "Mas, Pras, aku harus gimana? Pil KB? Heh! Sudah tiga bulan aku tidak meminumnya. Bagaimana aku bilang sama kamu, kemarin kamu sudah marah sama aku. Padahal aku menunggu moment yang tepat. Karena kamu sudah memaksa, jadi aku harus mengatakannya."



"Dua garis merah."


Britney yang tersenyum dan penuh kebahagiaan. Britney memang sudah hamil, kemarin dia sudah cek lebih dulu. Karena kejadian Alishba hilang di supermarket. Britney jadi mengurungkan niatnya, untuk menceritakan tentang dua garis merah itu.


Britney yang memakai kimono warna putih keluar dari kamar mandi. Pras yang duduk, sudah mulai memandangi istrinya. Menyandarkan kepalanya, pada tangan kanannya yang menenpel di dinding.


"Mas." Panggil Britney, dengan suara yang merdu.


Pras tersenyum saat melihat Britney mendekat, dan kedua tangan Britney, tampak di belakang.


"Mas." Ucapnya dengan pelan, dan Pras mulai beranjak dari tempat duduknya.


"Sayang, kamu sudah siap?"


Kedua tangannya tampak memegang pinggang istrinya, dan Britney tersenyum manis. Pras yang sangat mengingankan anak kedua, jadi tidak sabar. Britney yang tersenyum, mulai mengecup bibir manis suaminya.


"Mas, aku punya hadiah buah kamu."


Britney dengan tatapan manis, sorot mata itu terpancar jutaan rasa, tampak air bening, mulai menggenangi kilauan coklat mata itu.


"Hadiah? Tapi kenapa kamu mau menangis?"


Pras mulai berdebar, dia melihat sang istri seolah ingin menangis, perlahan jatuh sudah air bening itu, dari ujung kelopak mata istrinya.


"Ini hadiahnya."


"Sayang, kamu hamil? Kamu hamil?"


Pras dengan tersenyum, tatapan matanya syahdu dan tangan kanannya menyentuh pipi kanan sang istri. Jari jempolnya mengusap air mata istrinya, dan perlahan meraih kepala Britney, mengecup keningnya dengan rasa cinta.


"Aku bahagia. Sayang, aku mencintaimu."


Pras memanjatkan sebuah do'a dalam hatinya. Rasa syukur atas kenikmatan yang ada. Bahwa saat ini, istrinya telah mengandung lagi, setelah sekian lamanya. Sudah 6 tahun, dari semenjak kelahiran Alishba, saat ini waktu yang tepat, untuk mereka berdua untuk memiliki buah hati lagi.


"Mas, aku juga mencintaimu."


Pras memeluk erat istrinya, dan sangat gemas rasanya. Istrinya begitu pandai menutupi hal ini, tapi Pras benar-benar bahagia. Sudah dua bulan, Pras selalu menginginkan agar dia diberikan momongan lagi. Sekarang Pras telah diberi kepercayaan lagi.


Pras memandangi wajah cantik istrinya, dan Britney mulai mengusap air matanya sendiri. Tersenyum manis dan rasanya sangat bahagia. Kedua mata yang saling menatap manis, rona bahagia terlihat jelas, dari kedua wajah orang itu.


"Sayang"


Pras mengecup bibir sensual nan manja, Britney meraih kepala suaminya. Dengan jutaan rasa bahagia dengan asmara, berubah membara dengan gelora yang ada.


Bibir manja dengan ganasnya bersentuhan, dan semakin liar menyulut ke dalam, dan menelusuri bagian dalammya, memutar dengan basah, rasa bercampur dalam kepuasan.


"Sayang"


Pras mulai mengangkat istrinya ke tempat tidur, tempat tidur yang berukuran king, dengan sprei kantun jepang bermotif bunga sakura. Pras dan Britney menarik selimut lembutnya.


Lampu kamar yang redup, dan suasana sudah berubah lebih membara. Malam bergairah dengan bertabur cinta, dan semakin mendalam perasaan cinta keduanya. Tidak dapat dipungkiri bahwa suaminya sangat jago membuat istrinya pasrah dan menikmati belaiannya. Begitu juga dengan sang suami, terkadang istrinya lebih liar dari singa benita, dan membuatnya kalah dalam peraduan malam penuh gelora.


"Sayang, kamu milikku. Hanya aku, dan aku yang membuat kamu bahagia."


Britney menggigit kecil bibir sensualnya, dan dia menatap suaminya, tangan kanannya mengusap pipi kiri suaminya.


"Mas, terima kasih. Kamu selalu setia dan cinta kamu sangat berharga. Jangan tinggalin aku, aku juga hanya ingin kamu, kamu suamiku."


Jari telunjuk pras menyetuh bibir istrinya "Ssthh, aku tidak akan menginggalkan kamu. Aku juga tidak mau jauh dari kamu."


Pras yang masih di posisi atas dan menatap istrinya. Mereka berdua masih terbungkus selimut. Kedua orang itu seakan bernostalgia pada malam pertama mereka. Sangat mendebarkan, rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


...Di Golden Mansion....


Sudah jam 11 malam, tapi gadis bermata sipit terbangun dari tidurnya. Tadi jam 8 malam, sudah berselimut tebal, dan Lingga masih sibuk dengan pekerjaannya.


Vava yang masih berbaring menyamping, dia membuka mata, dan menatap sosok yang duduk dan hanya fokus ke arah layar laptopnya.

__ADS_1


"Apa yang dia lakukan?" Batin Vava berbicara, Vava hanya memandangi Lingga dari kejauhan.


Vava menyikap selimutnya, dan mulai duduk bersandar.


"Mas Lingga."


Suara merdu Vava memanggil Lingga. Perlahan mata Lingga menatap Vava yang sudah duduk bersandar.


"Iya, ada apa?" Tanya Lingga, yang masih melihat ke arah Vava, tapi tidak beranjak dari tempat dia duduk.


"Mas, aku lapar."


Vava mulai dengan wajah cemberut dan menatap Lingga dengan sendu. Tadi waktu makan malam, Vava tidak menikmati makanannya, hanya tiga sendok sup, setelah itu pergi dari ruang makan dan tidur.


Lingga bangkit dari kursinya, dan mendekati istrinya yang cemberut di atas tempa tidur.


"Kamu lapar? Kenapa tadi tidak makan?"


Tatapan mata Lingga begitu dingin, dan pertanyaan juga cukup menyengat Vava.


"Emmss. Tadi aku tidak nafsu makan, tapi sekarang aku lapar. Aku mau makan dari tangannya Mas Lingga. Aku pengen disuapin."


Entah Vava berakting, atau memang manja karena mengidam. Lingga hanya merasa aneh saat tahu apa keinginan Vava. Apalagi saat ini Lingga hanya melihat sosok Vava yang berbicara cukup manis.


"Kamu mau makan apa?"


"Aku mau nasi goreng ebi, tapi yang masakin Mas Lingga, terus di suapin sama Mas Lingga."


Lingga menyungging bibir kanannya, dan berfikir "Apa ibu hamil suka yang aneh-aneh? Vava juga berubah."


"Nasi goreng ebi?"


"Iya, aku pengen nasi goreng yang pakai ebi. Terus telurnya di dadar." Ucap Vava dengan suara manis.


Jari tangan kanan Lingga tampak menggaruk pelipis sebelah alisnya. Rasanya bingung, karena dirinya tidak pernah masuk ke dapur.


"Vava, aku tidak bisa masak nasi goreng. Biar koki saja yang buat untuk kamu."


Vava semakin cemberut dan mengelus perutnya yang masih datar, lalu dia berkata "Tapi anak kamu, maunya kamu yang masak. Nanti kalau anak kamu jadi ileran gimana? Kamu nggak sayang sama anak kamu?"


Lingga tanpa berkata bergegas pergi. Vava mulai tersenyum, setelah sang suami pergi keluar dari kamar itu.


"Yes, akhirnya Mas Lingga pergi juga."


Vava mulai beranjak dari tempat tidurnya, dan Vava mengambil ponselnya yang ada di meja kerja suaminya. Padahal sudah dikasih tahu, semua aturan suaminya. Vava tampaknya mengeyel dan tidak mau menurut.


"Hems, dimana ponselku?"


"Bibi Rumi juga bilang, kalau butuh apa-apa telfon. Bukan chat dari WA, jadinya Mas Lingga tahu aku masih pakai ponsel."


Vava mencari di laci dan tidak ketemu. Lingga yang sudah masuk kamarnya dan Vava cukup terkaget, saat melihat Lingga yang berjalan mendekatinya.


"Kamu ngapain di situ?"


Vava tersenyum dan berkata "Mas Lingga, ponsel Vava. Sebentar aja, buat chat aja. Vava janji nggak mainan ponsel."


Lingga berwajah datar, lalu mengambilkan ponselnya.


"Ini ponsel kamu."


Vava menatap suaminya yang tiba-tiba dingin seperti es. Lalu dia bertanya "Mas Lingga, marah sama aku? Tapi aku nggak bohong, memang aku lapar, aku juga pengen nasi goreng buatan Mas Lingga. Suer!!"


"Aku nggak bisa masak, koki yang akan masak."


Vava mendekati Lingga dan meraih tangannya. "Jadi Mas Lingga benar-benar nggak bisa masak? Tapi aku pengen nasi goreng buatan Mas Lingga. Mas Lingga minta koki yang nyiapin bahannya, tapi Mas Lingga yang masak, nanti minta dipandu sama kokinya. Ayo Mas Lingga, ayo! Aku mau nasi goreng buatan Mas Lingga."


Vava tampak berubah kekanakan, tangan kanan Lingga juga di goyang-goyang, dan Lingga tidak tahan dengan suara rengekan Vava.


"Ya udah, ayo kita ke dapur. Aku sudah memanggil koki untuk datang kesini."


"Nah, gitu dong. Aku jadi suka sama Mas Lingga."


Lingga hanya tersenyum kecil saat Vava tiba-tiba memeluknya.


"Kenapa aku jadi aneh begini? Entah kenapa aku jadi nyaman meluk dia."


Vava tidak mengerti kalau ibu hamil, bisa berubah moodnya. Ternyata dia cukup nyaman memeluk Lingga Mahatma.


"Ayo kita ke dapur."


Lingga mengajak Vava pergi ke dapur, dan Vava berubah senang.


Bersambung



Semoga kalian suka cerita dalam bab ini. Cerita tanpa alur dan hanya haluan othornya saja.

__ADS_1


Terima kasih untuk, Like, komentar dan juga Vote dari kalian semua πŸ€—πŸ₯°πŸ˜˜


__ADS_2