PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Mulai Menata Hati Dan Perasaan


__ADS_3

Kelanjutan dari bab sebelumnya. Maaf, ini hanya cerita dari haluan othornya saja ya. Tidak ada hal apapun, baik tentang toleransi yang ada, dari awal cerita, perbedaan keyakinan memang ada. Harap tidak jadi masalah. 🙏


Dari makam, lalu menuju kantor RM. Padahal hari selasa, dan sudah jam 8 lebih, tapi jalanan kota Jakarta tampak ramai.


"Mas." Rengek Britney yang tampak duduk bersadar, dan menatap wajah sang suami yang sedang menyetir mobil.


"Iya sayang?"


Britney masih menatap suaminya, dan bertanya "Mas bilang, waktu itu Kakek sempat sadar. Apa Kakek menanyakan aku?"


Pras yang menyetir dengan santai, dan sekilas menoleh ke arah istrinya, lalu dia berkata "Tidak tahu. Hanya Abah yang saat itu masuk ke ruangan. Aku nggak tahu soal Kakek. Tapi Kakek sempat bicara kalau Kakek ingin tidur."


"Hanya itu saja?"


"Iya itu aja sayang. Itu yang Abah ceritakan sama aku. Katanya suara Kakek juga tidak terdengar jelas."


Britney terakhir bertemu dan masih asyik mengobrol dengan Kakek waktu hari Natal. Britney juga memberikan hadiah untuk Kakek, sweater rajut dan malam terakhir sebelum Kakek sakit, beliau masih mengenakan sweater itu.


Britney tampak terdiam dan menatap ponselnya, tampak foto Kakek pada saat hari Natal. Foto bersama Pras, Britney, dan Alishba yang ada diatas pangkuan Kakek Restu.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" Tanya Pras dengan rasa penasaran.


"Iya Mas, aku nggak apa-apa."


Pras mulai memutar arah, saat melihat warung bubur ayam yang terlihat ramai di sebelah kanan jalan.


"Sayang, dari semalam kamu tidak makan. Pagi ini kamu harus makan."


"Iya Mas." Suara Britney yang terdengar pelan, dan masih menatap layar ponselnya.


"Aku ngerti kamu masih sedih. Aku juga tahu kamu masih nyesel. Tapi kamu juga harus ingat sama anak kita."


"Iya Mas, aku tahu."


Britney mulai memasukan ponselnya ke dalam tas, dan Pras mulai mencari tempat parkir mobil. Jalanan tampak ramai, parkiran depan warung bubur itu juga sangat ramai, padahal sudah jam 8.40 tapi warung itu benar-benar ramai.


Tidak lama setelah memesan bubur.


"Kamu makan ya,"


"Mas, aku bisa makan sendiri."


Pras yang duduk di sebuah kursi plastik, dan Britney yang di sebelahnya. Mereka duduk di bawah pohon, karena dalam warung itu sudah ramai, dan beberapa orang juga tampak menikmati sarapan mereka, sambil menatap jalanan ibukota, tampak ramai kendaraan yang berlalu-lalang.


"Aaak..." Pras memaksa istrinya untuk membuka mulutnya, dan dengan rasa terpaksa Britney mulai makan dari tangan sang suami.


Britney dengan senyuman tipis, saat Pras dengan tengil mengusap bibir merahnya.


"Mmh, pemaksaan."


"Kalau tidak begini, kamu tidak akan makan."


"Tapi nggak enak, dilihatin orang."


Tangan kanan Pras mulai mengelus perut istrinya, dan berkata "Sayang, kamu makan ya, Papa suapin."


Dengan gaya yang tengil dan Britney mulai melihat ke arah sekitar. Beberapa orang yang ada di dekat mereka berdua, ada yang melihat ke arahnya, dan ada yang cuek saja, tidak menghiraukan Pras dan Britney yang tampak uwu.


"Mas, aku bisa makan sendiri."


"Ya udah, tapi habiskan. Ingat, dimakan. Bukan cuma diaduk-aduk."

__ADS_1


"Iya, aku team aduk buryam Mas."


"Aku nggak doyan, kalau buburnya udah diaduk-aduk."


"Aduk-aduk dulu Mas, enak loh."


"Hems, aku makan yang punyaku sendiri."


Britney sudah mulai tersenyum, saat dia melihat ekspresi dan tingkah suaminya.


"Mas, do'a dulu dong." Ujar Britney.


"Apa aku harus berdo'a pakai gaya Alishba yang seperti orang bernyanyi?"


Britney semakin tidak bisa menahan tawa, dan mulai mengambil mangkoknya.


"Ya udah, aku makan."


Pras kembali mengelus perut Britney dan berkata "Sayang, kamu makan ya. Papa juga makan buryam. Nanti kamu harus ikut team Papa, jangan aduk-aduk buburnya."


"Yee, ngerayu. Sayang, ikutan team Mama aja. Kakak Alishba aja ikutan team Mama."


"Lihat aja nanti, pasti ikutan team Papa."


Britney akhirnya mulai makan buburnya, dan Pras mengelus rambut istrinya "Nah gitu. Makan yang banyak ya, kalau perlu nambah lagi."


"Emms, Mas Pras kamu gitu." Batin Britney dan dia tampak tersenyum.


Setengah jam setelah itu. Mereka berdua sudah tiba di kantor RM. Pras sebagai pengawal istrinya hari ini, dengan santai dan gaya tengilnya, menyapa Pak satpam yang ada di parkiran.


"Silahkan Bu Britney." Pras yang tampak membuka pintu mobil camry putih itu.


Britney tadi masih merapikan riasan wajahnya, dan cukup berbincang dengan Satpam RM. Dari dulu saat Pras kerja di RM, dia sudah mengenal akrab Pak Satpam itu.


Tampak mobil Evan dan mobil Abah Ferdi yang sudah terparkir di halaman samping kantor RM.


"Mas, apa riasan aku terlalu tebal?" Tanya Britney yang merasa tidak nyaman akan wajahnya yang saat ini.


Terlalu banyak menangis di pagi ini, membuatnya memakai foundation dan concealer cukup tebal. Tadi Pras masih melihat tampak wajah yang sama, dan tidak berlebihan.


"Kamu cantik sayang."


"Aku serius Mas."


"Apa aku terlihat bercanda?"


"Kamu menyebalkan Mas." Ketus Britney.


Britney sudah tampak rapi dengan dress biru dongker tanpa lengan, tapi tertutup blazer hitam dan sudah terlihat formal.


"Istriku memang beda." Batin Pras yang mengikuti langkah istrinya yang berjalan dengan sangat menawan.


Britney selalu menjadi sosok yang berbeda. Dia selalu menampilkan dirinya yang profesional ketika di tempat kerja, walaupun terkadang bersikap biasa saja, dengan dirinya yang apa adanya. Tapi entah kenapa, pembawaan dan aura Britney selalu tampak menjadi sosok wanita karier, yang menonjolkan wibawanya dan karakter seorang Bos.


"Sayang, aku mau ke pantry."


"Kopi?"


"Hems, kamu tahu itu. Dari pagi aku sibuk ngurusin wanitaku. Jadi lupa belum minum kopi."


Britney mendengar kata wanitaku jadi tersenyum malu, dan dia berkata "Ya udah, aku saja yang buat."

__ADS_1


"Nggak usah. Kamu ke ruangan kamu. Aku bisa buat sendiri."


"Tapi Mas."


"Hari ini aku cuma pengawal. Buat apa kamu melayani aku." Ucapnya dengan gaya tengilnya.


Britney lupa dan Pras tampak sedikit mengeratkan giginya, saat tersenyum tengil.


Britney tampak menggeleng, dan mulai masuk ke dalam lift.


"Sayang, kamu harus semangat." Batin Pras dengan sepenuh hati.


Pras mulai berjalan ke luar dari lobby itu, dan mengambil sesuatu yang tertinggal di dalam mobil.


Britney sudah ada lantai ruangannya, dan berjalan ke arah ruangannya.


"Pagi Tania."


"Bu Britney." Batin Tania yang tampak kaget.


"Pagi Bu Britney."


Ekspresi Tania masih terlihat kaget, tapi dia sangat senang, atasannya sudah mulai kembali ke kantor.


"Aksa dimana?" Tanya Britney, yang belum melihat asistennya.


"Aksa baru saja ke atas. Ke ruangan Pak Ferdi."


"Mms, ya udah kalau gitu. Saya mau ke ruangan dulu."


Tania dengan tersenyum dan berkata "Baik Bu Britney, silahkan."


Britney dengan rasa berdebar, kantor akan mengingatkan dirinya pada sosok Kakeknya yang telah tiada.


"Banyak dokumen. Emms... Apa yang Aksa lakukan?"


Britney yang melihat tumpukan dokumen tentang keuangan, dan juga arsip management perusahaan RM.


"Ada apa? Kenapa arsip lama ada disini?"


Britney berjalan ke luar ruangannya, dan menemui Tania.


"Tania, kenapa arsip management ada di meja saya? Ada apa?"


"Owh, itu kemarin Bu Britney. Saya mau merapikannya, tapi kata Aksa nanti saja kalau semuanya sudah selesai."


"Apa ahli kuasa hukum di ruangan saya?"


Tania dengan tersenyum dan berkata "Iya Bu Britney, kemarin dengan Pak Evan, lalu siang Pak Pras juga datang."


"Mms, ya sudah kalau gitu."


Britney lalu kembali ke ruangannya, dan perlahan dia membuka arsip lama yang ada di tumpukan paling atas.


"Aku harap, semua berjalan lancar. Aku harus bekerja keras untuk Kakek." Batin Britney, yang mengingat sang Kakek.


Dulu RM berdiri juga atas perjuangan sang Kakek, yang tidak kenal lelah, dan terus mengembangkan usahanya. RM, Restu Mandiri, adalah kantor Kakek Restu Mahendra. Dari usia mudanya dan itu juga harus bekerja keras. Kakek Restu dahulu juga hanya pemuda perantauan, dia juga dari keluarga sederhana. Dan semua ini, juga hasil dari cita-citanya. Kekek Restu Mahendra sebenarnya adalah Insiyur, tapi dia tidak mau dikenal sebagai sosok Insiyur, dia lebih suka dikenal sosok Restu, yang pernah jadi kuli bangunan, dan banyak belajar dari orang-orang hebat, akhirnya beliau juga menjadi sosok yang hebat dimata anak dan cucunya.



Setelah 8 tahun terakhir, Kakek yang hanya duduk di kursi roda, dan Kakek Restu Mahendra tutup usia, pada usianya 82 tahun.

__ADS_1


"Kakek, memang hebat." Batin Britney dengan tersenyum manis, saat melihat tanda tangan sang Kakek.


__ADS_2