PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Pertemuan Yang Menyakitkan


__ADS_3

...☘Pertemuan bukan lagi alasan,...


...waktu datang mempertemukan☘...


Lanjutan cerita para perempuan cantik.


Ini hanya haluan othornya saja ya, jadi jangan baper ya 🥰😘.


Britney yang sudah tiba di rumah Mamah Sarah, disambut oleh Maeva dan Arvez di depan pintu rumah. Mereka yang sudah mandi, dengan penampilan yang cantik. Serta bayi Arvez juga sudah tampan, semerbak harum minyak telon, dan tampak sangat menggemaskan.


"Tante Britney, masih bau asem sayang." Ucap Britney, dengan gemas mencubit pipi Arvez yang tampak seperti bakpao.


"Mama, Alishba mau cium Kakak bayi Arvez." Rengek Alishba yang melihat sang Mama memegang pipi Arvez.


"Alishba kamu mandi dulu sayang, nanti main sama Mammi Maeva." Ucap Maeva, dan Alishba yang mendengar itu langsung menurut.


Britney tersenyum saja, saat melihat tingkah anaknya yang sudah berjalan ke dalam rumah.


"Oma, Oma, Alishba datang."


"Cantiknya Oma Sarah sudah datang. Tangannya Oma kena tepung. Alishba sana ke kamar dulu dan mandi. Oma baru buatin donat kesukaan Alishba."


"Harus banyak coklat yang pink ya Oma."


"Iya, nanti dibanyakin warna pink kesukaan Alishba."


Britney yang masih mengobrol dengan Maeva, dan membahas soal ngidamnya Britney, yang kepengen mie goreng rica-rica buatan Maeva.


Alishba yang di temani suster Rini, sudah naik ke lantai dua pergi ke kamarnya. Kamar yang dari dulu terbiasa ditempati Britney, ketika menginap di rumah Abah Ferdi.


Suster Rini yang dulu terbiasa merawat Alishba. Setiap Alishba datang, suster Rini juga sangat senang, walaupun sekarang sudah merawat bayi Arvez. Suster Rini masih dekat dengan Alishba.


"Suster Rini, Alishba mau mandi air dingin aja. Alishba gerah, nggak mau mandi pakai air hangat."


"Iya Alishba sayang. Suster Rini, siapin airnya dulu ya sayang."


Alishba mulai mencari baju yang ingin dia pakai. Suster tadi membawakan tas khusus milik Alishba, jadi Alishba mencari sendiri baju yang dia suka.


Jalan-jalan sore di Mall mewah.


Di tempat lain ada Limar dan Aldo yang sedang berjalan di sebuah Mall. Setelah tadi dari tempat tinggal mertua Aldo. Limar ingin membeli sesuatu di Mall itu. Limar meminta Aldo untuk mengawal dirinya.


Bukan sebuah alasan, tapi Aldo memang pengawalnya, yang harus menjaga Limar kemanapun dia pergi.


"Aldo, apa anak kamu suka boneka?"


"Mmh, iya. Dia suka boneka kuda pony."


Limar memikirkan boneka itu, "Little pony?"


"Nah, iya yang kecil-kecil itu. Di kamarnya sudah banyak." Jawab Aldo yang tidak basa basi. Apapun Aldo berikan untuk kebahagiaan anaknya.

__ADS_1


Limar mulai ke toko boneka, mencari Little pony yang dimaksud Aldo.


Tidak lama, mereka berdua sudah tiba di toko itu. Aldo yang tampak biasa saja saat berjalan bersama Limar, tapi tidak dengan Limar. Sepertinya ada perasaan aneh, yang Limar rasakan.


"Apa yang ini?" Tanya Limar yang tersenyum manis saat menatap Aldo, tapi Aldo cukup serius saat melihat boneka yang dipegang Limar.


"Itu terlalu mahal." Jawab Aldo.


Pertanyaannya apa, jawabannya apa. Limar menjadi bingung dan meletakan kembali boneka itu.


Aldo juga bingung saat melihat ekspresi Limar saat ini.


"Bos, itu memang boneka kesukaan Allen. Tapi Bos jangan memaksakan diri."


Aldo yang tidak basa basi, langsung mematahkan perasaan Limar saat ini.


Limar cukup menunduk dan berjalan keluar dari toko itu. Aldo lalu mengikuti Limar lagi. Aldo tidak berniat seperti itu. Tapi ini hal yang berbeda, Aldo hanya ingin bersikap profesional saja.


Selayaknya bawahan dan atasannya. Aldo hanya seorang pengawal, dia tidak ingin membuat Bosnya mengasihani dirinya.


"Bos Limar, maaf. Saya tidak bermaksud begitu."


Limar berkata "Padahal tadi kamu bersikap biasa saja, terus kenapa sekarang jadi profesional."


"Bos, saya__"


"Aku, tadi waktu di mobil. Kamu cukup bilang aku, aku dan aku. Tidak ada kata formal. Sekarang kamu berubah!"


Limar berjalan dengan cepat, dan tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita cantik.


"Maaf, saya tidak sengaja." Ucap wanita itu.


Wanita itu tampak mengambil barangnya yang terjatuh. Limar masih menatapnya, dan wanita itu mulai mendongak ke wajah Limar.


"Hai! Limar."


"Siska!"


"Aku Ibumu, apa begitu menyapa Ibu tirimu?"


Limar dengan ekspresi yang tidak senang, senyuman pahit dia sematkan diwajah cantiknya. Tangan kanannya menarik rambutnya ke arah belakang. Gaya yang anggun dan menawan, Limar tampilkan dihadapan Ibu tirinya.


Aldo yang tadi tidak melihat kejadian itu, mulai mendekat dan menatap Siska dengan tatapan tajam.


"Della!!" Suara kencang tapi cukup mencengangkan, atas apa yang dia lihat saat ini.


"Al-do...." Suara Siska yang terbata.


Limar menoleh ke Aldo dengan tanda tanya, bagaimana Aldo bisa mengenal Siska.


"Aldo, kamu mengenal Siska?"

__ADS_1


"Siska?" Jari Aldo yang masih menunjuk ke wajah Siska, tapi dirinya menoleh ke arah Limar.


"Mms, dia Siska. Dialah perebut kebahagian keluargaku."


"Siska?" Aldo dengan rasa yang tidak percaya. Bagaimanapun saat ini, status mereka belum resmi berpisah. Lalu bagaimana Della berubah nama menjadi Siska, dan dia bisa mengenal Limar.


"Aldo, iya ini aku. Istri kamu."


Limar yang mendengar itu, langsung menoleh ke Siska. Jantungnya berderis cepat dan sangat memuncak, jadi dia Della, sang istri yang meninggalkan suaminya, lalu memilih tinggal dengan seorang pria kaya raya.


"Jadi dia mantan istri kamu?"


"Mmh, aku masih istrinya. Hanya saja itu waktu bernama Della. Tapi aku sudah berbeda. Aku bukan lagi Della yang dulu. Tapi aku Siska."


Limar dengan mata berkaca-kaca, disaat perasaan itu ada, tapi kenapa harus dia masa lalu Aldo. Sang perebut kebahagiaan Limar.


"Aldo, jadi dia Mamanya Allen?!" Tanya Limar dan Siska tersenyum manis melihat ekspresi kekesalan Limar.


Di tempat umum, dan banyak mata yang melihat. Tepatnya dilantai 5 dan Limar merasakan tenaganya melemas, tidak kuat menopang badannya.


"Bos Limar. Kita pergi saja dari sini." Suara Aldo dengan pelan dan Siska menatap kedua orang itu dengan senyuman mengejek.


Pandangan mata Limar menjadi buram, Aldo dengan siap langsung menangkap badan yang telah melemas dihadapannya, perlahan mata Limar sudah terpejam, rasanya sangat dingin. Aldo yang memegangnya merasakan hawa dingin ditubuh Limar.


"Bos Limar, Bos Limar."


Limar sudah ada dalam dekapan Aldo, Siska melihat hal itu, cukup tersenyum dan menganggap Limar hanya akting.


"Pasti dia akting lagi."


Aldo menatap Siska dengan penuh kekesalan, lalu bekata "Della Larasati, urusan kita belum selesai."


Siska yang bersedakap, memandang Aldo dengan sinis.


Aldo mulai mengangkat Limar, banyak pasang mata yang melihat kejadian itu. Bahkan beberapa pengawal Mahatma sudah ada disekitar situ.


"Aldo, bawa Bos Limar pergi dari sini." Ucap salah satu pengawal.


Sekitar delapan bodyguard tampan yang mengelilingi Limar saat ini.


Siska dengan tersenyum manis, melihat hal itu. Tidak ada yang mempeludikan Siska. Hanya ada seorang pengawal wanita yang mendekat.


"Nyonya, mari silahkan pulang, Tuan Yuda sudah menunggu anda."


"Baik. Aku juga mau pulang." Suara Siska dengan bersikap elegan. Tapi tetap saja, tidak ada aura berkelas dari dirinya, hanya karena dirinya cantik dan cukup disayangi Yuda, dia bisa semakin bertambah cantik setiap harinya. Tapi siapa yang diutamakan Yuda Mahatma nantinya, bila Limar benar-benar sakit.


"Pasti dia sengaja pingsan, agar Ayahnya kembali pulang. Siapa suruh kamu mengusir aku." Batin Siska sambil berjalan.


Siska juga mendapatkan fasilitas dari Yuda Mahatma, tapi masih banyak perbedaan antara dirinya dengan Limar Mahatma.


Tetap saja tuan putri berada diatas dirinya, dan itu tidak hanya karena Limar anak dari Yuda Mahatma. Karena Limar adalah Bos perempuan satu-satunya Mahatma Corporation yang sangat disegani.

__ADS_1



__ADS_2