
Masih lanjut tentang Limar Mahatma. Tolong pahami tulisan ini baik-baik. Ada unsur drama dalam tulisan di bab ini.
Sudah sangat sore, waktu sudah hampir maghrib. Aldo yang memangku Limar, dan mobil yang dikendarai oleh salah satu bodyguard pilihan itu, melaju cepat menuju rumah sakit swasta yang masih dalam naungan Mahatma Corporation.
"Bos, sadarlah. Jangan membuat saya cemas."
Aldo merasakan detak jantung yang sangat cepat. Bagaimanapun, Limar adalah tanggung jawabnya selama bekerja sebagai pengawal Limar. Apapun keadaan Limar, dia orang yang bertanggung jawab.
Tidak lama mereka sampai di rumah sakit, dengan nama RS Kasih Maria.
Beberapa bodyguard sudah tiba dulu, beberapa dokter segera menangani Limar, mereka sudah stay dan perawat yang di depan pintu lobby, sudah siap dengan segala peralatan yang ada.
"Bos, cepatlah sadar."
Aldo tampak berkeringat dan seorang bodyguard menepuk pundanya, lalu berkata "Aldo, kamu tidak perlu cemas."
Aldo mengangguk dan mengikuti sang Bos yang terbaring di ranjang. Beberapa perawat sudah mendorong ranjang itu, dan langsung membawa ke ruang utama.
Hesti dan Lingga sudah mendapat kabar tentang Limar, dengan segera mereka menyusul Limar ke rumah sakit.
Di tempat lain, Siska tampak diam, dan Yuda belum tahu tentang kabar putrinya satu-satunya.
"Mas Yuda, aku tadi bertemu Limar."
Yuda yang menatap laptop di ruang tamu, hanya diam mendengar hal itu.
"Mas Yuda, kamu dengar aku tidak?"
Siska dengan perasaan tidak suka, saat melihat Yuda yang hanya diam saja.
"Limar tadi pingsan, tapi pengawalnya sudah membawa dia pergi."
Yuda yang mendengar hal itu, lalu berdiri dan mengambil jas yang masih tergelatak di sisi kanannya.
"Mas Yuda, kamu mau pergi?"
Siska tampak tidak suka, dan merasa aneh dengan sikap Yuda Mahatma saat ini. Pikiran Siska sudah merancu, tidak bisa tenang lagi.
"Jaga anak kamu baik-baik. Jangan tinggalkan dia hanya dengan suster."
Hanya itu saja ucapan Yuda, dan pergi dari apartemen itu. Dua orang pengawal wanita sudah ada di depan pintu, dan Yuda mengatakan sesuatu kepada mereka berdua.
"Baik Tuan, kami akan mengawasi Nyonya Siska."
Yuda pergi dan tanpa menoleh lagi, tangan kanannya masih memegang jas yang dia bawa.
Mungkin Yuda Mahatma sudah tahu tentang sosok Siska yang sebenarnya, tapi dia tidak mengatakan apapun kepada Siska.
Setengah jam kemudian.
"A-yah... A-yah..." Lirih Limar yang sedang mengigau dan Langit yang menemani sang Kakak duduk di sebelahnya.
"Mbak Limar, ini aku Langit. Mbak Limar." Ucap Langit yang memengang tangan kiri Kakaknya.
Telapak tangannya masih dingin dan Langit tidak mengerti apa yang telah terjadi dengan Kakaknya. Aldo saat ini baru menjelaskan kepada Lingga.
Hesti yang ada di ruangan dokter. Mendengar penjelasan dokter. Kalau Limar tidak ada penyakit yang serius. Cuma akhir-akhir ini, sepertinya Limar banyak pikiran dan kurang istirahat.
"A-yah." Lirih Limar dan Langit memencet tombol darurat untuk memanggil dokter.
Limar sangat merindukan kehadiran Ayahnya, dia ingin merasakan cinta yang dulu pernah ada, hanya untuk dirinya saja. Siska bagaikan musuh untuk Limar, walaupun sang Bunda merestui hubungan Ayahnya dengan Siska, tapi Limar belum menyetujuinya.
__ADS_1
"Dokter Ghani, dari tadi Mbak Limar ngigau dok." Ucap Langit dan Hesti sudah ada disitu, saat dokter dan para perawat bergegas ke kamar itu.
Ruangan perawatan yang cukup luas, dengan desain modern. Berbagai alat medis, dan ruangan itu fasilitasnya sangat lengkap.
"Tidak apa-apa. Nona Limar, saat ini sedang banyak pikiran. Nanti setelah sadar, dia akan segera pulih."
Langit mendengar hal itu, tangannya mengepal, dan memikirkan Kakaknya.
"Pasti gara-gara pria itu." Batin Langit yang tidak senang, setelah beberapa hari pulang, dan waktu itu melihat Kakakanya frustasi di kamar. Langit berfikir penyebabnya adalah pria.
Lingga yang sudah mendengar penjelasan dari Aldo, cukup mengerti yang Limar rasakan saat ini.
"Dokter, kapan Mbak Limar akan segera bangun?" Tanya Langit.
"Sekitar dua jam lagi, saat ini dia tertidur karena efek obat yang membuatnya tidur. Kalau soal mengigau, itu tidak masalah. Nanti kita akan kesini lagi, kalau perlu akan ada perawat yang menjaganya disini."
Langit menatap dokter itu dan berkata "Tidak perlu dok, saya bisa menjaga Mbak Limar, nanti kalau ada apa-apa, saya akan memanggil dokter Ghani."
Dokter itu tampak tersenyum, dan mulai meninggalkan ruangan utama itu, bersama para perawat.
"Memang Mbak Limar mengigau apa?" Tanya Lingga dan menatap Langit yang masih berdiri di samping Limar.
Hesti memandangi kedua putranya dan berkata "Kalian duduk saja, Mbakmu tidak apa-apa. Kata dokter, Mbak Limar kalian, hanya kurang istirahat."
Hesti hanya ingin membuat Langit lebih tenang, karena Langit yang paling keras dan tidak bisa mengendalikan amarah, bila benar-benar ada yang menyakiti Kakak perempuannya.
"Mbak Limar, panggil Ayah. Tadi jelas banget, malah sampai 3 kali panggil Ayah."
Lingga yang bersedekap dan mulai duduk disamping Kakaknya, lalu memegang tangan Kakaknya.
"Mbak Limar, nanti Ayah akan datang. Mbak Limar janji sama aku, besok kita balapan, tapi kenapa malah Mbak Limar udah kalah sebelum duel sama aku."
Lingga dengan senyuman aneh menatap Langit yang ada di sebelahnya, lalu berkata "Memang apa salahnya? Mbak Limar sendiri yang ngajak aku. Besok dia harus datang, kalau tidak datang, anggap saja aku yang menang."
Hesti tampak tersenyum dan tidak lama Yuda sang Ayah telah datang.
"Mbak Limar, Ayah sudah datang. Aku pulang ya, sudah ada Ayah yang akan menjaga Mbak Limar. Cepatlah bangun, besok aku tunggu di sirkuit."
Yuda perlahan mendekati putrinya dan Lingga mulai berdiri, Langit tampak mendekati Ayahnya.
"Ayah tidak merindukan Aku?"
"Anak bandel, kamu ternyata pulang."
"Hems, aku pulang kemarin. Tapi Ayah tidak ada di rumah." Ucap Langit dan perlahan Ayahnya memeluknya.
Langit tampak menyungging bibirnya, dan Lingga yang melihat itu, cukup menyernyitkan dahinya.
"Bunda, Lingga pamit dulu. Nanti telfon Lingga, kalau Mbak Limar sudah bangun."
Hesti hanya memegang pipi kanan Lingga, dan mengangguk dengan wajahnya tersenyum.
Lingga tampak menepuk pundak Langit, yang masih dalam pelukan Ayahnya.
Setelah keluar dari pintu itu, Lingga bertemu Aldo yang masih menjaga Limar dari luar. Tampak beberapa pengawal lain, dan Ruk juga mengawal Lingga.
"Aldo, kamu tidak perlu berbicara apapun kepada Ayah atau Bunda. Kalau ada apa-apa, kamu hubungi saya saja."
Aldo mengerti dan berkata "Baik Bos Lingga, saya mengerti."
"Jaga Mbak Limar baik-baik. Saya pergi dulu."
__ADS_1
Lingga bergegas pergi dengan langkah kaki yang pasti, dan Ruk mengikutinya dari belakang. Dito juga tampak datang, karena tadi Lingga masih ada di kantor, saat mendapat telfon dari salah satu pengawal.
Dito dengan cepat menjawab panggilan itu dan langsung memberitahu Lingga yang masih sibuk bekerja.
Saat bergegas pergi, ponselnya berbunyi.
"Bos, Nyonya telfon."
Dito memberikan ponselnya Lingga, sang istri yang menelfonnya.
"Mas Lingga, dimana?"
"Aku di rumah sakit. Ada apa?"
Vava yang tidak tahu soal Limar, dan dia bertanya "Mas Lingga, memangnya siapa yang sakit?"
"Mbak Limar tadi pingsan, tapi sudah ditangani dokter. Ini aku sudah mau pulang."
"Mmh, ya sudah kalau gitu."
Lingga menghentikan langkahnya dan bertanya "Kamu kenapa? Ada yang kamu inginkan?!"
"Mmh, aku pengen buah Srikaya."
Lingga dengan suara biasa saja dan berkata "Hems, biar Ruk nanti yang membelinya ke supermaket."
"Mmh, aku pengen beli sendiri Mas, boleh ya aku pergi sama Nat. Please!"
"Ya udah, kamu hati-hati. Ruk akan menyusul kalian."
Vava dengan senang, lalu berkata "Yes, kalau gitu aku mau berangkat sama Nat ke supermarket dekat rumah. Thank you, Mas Lingga. Mmmuuach."
"Hems, hati-hati. Cepat pulang."
Vava menutup panggilannya, dan Lingga memberikan ponselnya kepada Dito.
"Ruk, kamu susul Vava. Dia mau pergi sama Nat ke supermarket dekat rumah."
"Siap Bos." Ruk langsung bergegas pergi, dan Dito masih berdiri di samping Lingga.
Lingga menatap Dito dan berkata "Dito kamu cari tahu tentang Siska dan bayi yang dia lahirkan itu. Kamu harus teliti, saya mau tahu semua tentangnya."
Dito dengan menunduk dan berkata "Baik Bos, saya akan segera mencari data pribadi Siska."
"Della Larasati."
"Siap, saya akan bergerak cepat."
Hallo semuanya, 🤗🤗
Maaf ya, ini hanya tulisan yang tak ada alur dan tidak bermakna.
Semoga kalian suka, dan tolong jejak jempolnya ya ✌😂.
Terima kasih buat yang setia, yang sudah like, komentar dan memberikan vote. 🤗🤗
Untuk kalian yang baru membaca "PANGGIL AKU MAS! Season 2"
Harap, baca lebih dulu tulisan, "PANGGIL AKU MAS!" yang season 1. ✌😎
__ADS_1