PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Ada Yang Takut Di Racun


__ADS_3

Kelanjutan dari cerita sebelumnya. Drama romance Vava dan Lingga, eh ada Langit yang datang. 😝


Di ruang baca, Vava yang ada dalam pangkuan sang suami. Memandangi suaminya. Walaupun mereka berdua sepasang suami istri, tapi mereka baru memulai hubungan manis. Selayaknya orang berpacaran dan memadu kasih dengan perasaan manja.


"Mas Lingga." Ucap Vava dan jarinya meraba ke wajah Lingga.


Posisi yang sangat nyaman bagi keduanya, Lingga yang hendak membaca buku. Tidak merasa terganggu atas tindakan Vava. Melainkan dia merasa senang.


"Hem, apa sayang?" Tanya Lingga, lalu menatap wajah istrinya.


Vava yang masih berada diatas pangkuan Lingga, lalu melingkarkan kedua tangannya.


"Aku mau kita jalan-jalan. Tapi berdua aja." Pinta Vava.


Lingga dengan mendekatkan wajahnya, dan Vava memundurkan kepalanya, tampak Vava yang menggeleng.


"Kenapa menjauh?" Tanya Lingga, lalu tangan kanannya menarik kepala Vava.


Vava tampak merapatkan bibirnya dan Lingga semakin senang, berkata "Aku tidak akan melakukannya."


Vava tampak tersenyum malu, langsung menyembunyikan kepalanya di dada bidang Lingga Mahatma.


"Uwuh.., pagi-pagi udah bikin baper." Seloroh Langit yang tersenyum manis.


Vava langsung berdiri, dan memasang raut wajah malu-malu. Lingga tampak menggeleng dan menatap sang Adik.


"Langit, apa kamu tidak tahu aturan?!"


"Siapa yang tidak tahu aturan. Aku bahkan sudah mengetuk pintu. Kalian saja yang terlalu sibuk. Sampai-sampai tidak mendengar suara pintu yang diketuk."


Vava berdiri di samping Lingga, dan Lingga menarik Vava kembali ke dalam pangkuan.


"Benar, kita memang terlalu sibuk."


"Bukankah begitu, sayang?"


Vava mencubit pinggang Lingga dan mulai beranjak pergi.


"Mbak Vava mau kemana? Disini aja. Lagian aku cuma sebentar."


Vava yang hendak pergi, tapi dia mulai menghentikan langkah kakinya.


"Kenapa cuma sebentar?" Tanya Vava.


Langit lalu menarik sebuah kursi yang ada di ruangan itu, dan duduk di depan sang Kakak.


"Mas, Mbak Limar dimana? Semalam aku telfon Nat. Katanya dia ada disini."


Lingga menutup bukunya, lalu dia dengan wajah datar berkata "Memang semalam Mbak Limar disini. Tapi dia lagi pergi."


Vava perlahan duduk di sebelah sang suami. Bibi Rumi mulai masuk ke ruang baca itu, dan meletakan minuman untuk Langit.


"Terima kasih Bi Rumi."


"Sama-sama Den Langit."


Tadi Bibi Rumi, sudah menawari minuman ke Langit. Lalu Langit mengatakan ingin minum jus jeruk. Padahal biasanya, dia tidak suka minuman dingin.


"Mbak Vava kenapa? Sakit?" Tanya Langit yang sudah selesai minum, dan kembali meletakan gelas bening itu di atas meja.


"Cuma nggak enak badan. Biasalah hamil muda. Sering mual dan pusing."


Langit yang masih memperhatikannya, lalu bertanya "Memangnya tadi ada tamu? Aku pikir Mas Lingga pergi. Tapi kata Bi Rumi, Dito sama tamunya Mbak Vava."


Vava dengan tersenyum berkata "Iya, saudara. Adiknya Kak Britney."


"Mbak Vava banyak saudaranya?"


"Aku anak tunggal. Cuma sepupuku banyak. Mereka tinggal di Depok."


Langit yang belum tahu tentang keluarga Vava. Dia hanya pernah bertemu Evan yang kala itu di Jerman.


"Bang Evan itu?"


"Iya, Bang Evan cucu pertama Kakek. Terus ada Kak Britney. Ada lagi Kak Maeva, Adiknya Bang Evan."


Langit mulai mengerti, dan tampak tersenyum manis lalu dia berkata "Kalau sepupu kita banyak. Apalagi dari Bunda. Anaknya Budhe banyak, ada 7."


Vava menganggguk, lalu berkata "Iya, kalau saudara dari Papa juga banyak. Cuma aku nggak terlalu dekat. Soalnya dari kecil, aku cuma dekat sama Kak Britney. Apalagi kita tinggal serumah."


"Ems, terus Kak Britney itu saudara dari mana?"


"Kak Britney, anaknya Paman Martin. Kakaknya Mama."


"Kita tadinya tiga bersaudara, tapi sekarang ada tambahan."


Lingga yang membaca buku, tadi hanya mendengarkan Langit dan Vava yang mengobrol. Lalu Lingga berkata "Dia bukan anaknya Ayah."


Langit menatap Lingga dengan wajah serius, dan bertanya "Tapi Ayah kemarin menunjukan test DNA sama aku. Bunda juga melihat itu."


"Iya, anak yang dilahirkan Siska memang anak Ayah. Tapi meninggal setelah dilahirkan. Mungkin Siska menyuruh orang, mengambil bayi panti asuhan dan memberikan bukti DNA anaknya."


"Bukannya waktu itu Bunda juga ikut ke rumah sakit? Sebulan sebelumnya, dia tinggal bersama keluarga kita."

__ADS_1


"Hems, Adik kita sudah meninggal. Dan tadi pagi yang meninggal di rumah sakit, bukan Adik kita. Aku sudah mendapat buktinya."


Vava menoleh ke Lingga dan Langit tampak syok. Kedua orang tertegun, walaupun Lingga banyak diam, tapi selalu mengetahui dengan apa yang terjadi.


"Baru beberapa hari lalu Ayah debat sama aku gara-gara saham. Ayah menunjukan test DNA bayi itu. Tapi aku masih yakin, dia bukan Adikku. Jadi untuk apa, Ayah memberi nama Mahatma? Untuk Saham? Jangan bermimpi."


Langit menatap Lingga dengan serius "Ayah tahu? Tapi tidak mungkin Ayah begitu."


"Entah. Sepertinya kecelakaan kemarin juga ada yang janggal. Kenapa Siska membawa anaknya Aldo? Dua anaknya sampai tiada, dan dia bisa selamat. Aku masih menunggu penyelidikan itu."


Vava menatap sang suami yang selalu tampak diam, tapi dia begitu misterius. "Mas Lingga, memangnya test DNA bisa dibuat-buat?"


Lingga merangkul Vava dan berkata "Tidak sayang, tapi itu test DNA waktu bayinya Siska lahir, dan memang itu anaknya Ayah. Tapi waktu itu, anaknya tidak berumur lama, hanya sehari. Lalu entah kenapa, ada bayi yang dia bawa pulang."


"Tapi Ayah tidak percaya aku. Ya sudah, biarkan saja. Seberapa lama, bau busuk akan bertahan. Kecuali, Ayahku sudah tidak bisa mencium aroma busuk."


Vava mulai mengerti.


Langit menjadi resah, tampak kebingungan dalam dirinya, lalu bertanya "Mas Lingga, lalu gimana Mbak Limar? Apa dia tahu?"


Lingga yang tangan kirinya masih merangkul Vava, perlahan melepasnya dan mulai berdiri, dan dia berkata "Aku tidak akan bilang sama Mbak Limar. Biarkan dia dengan suasana hatinya. Kamu tahu bagaimana sifat Mbak Limar, dia selalu pakai perasaan. Aku takutnya, bila Ayah masih membela Siska. Dia yang akan terluka. Jadi aku biarkan saja."


Lingga mulai meletakan bukunya, dan mengambil buku yang lain.


"Mas Lingga, lalu Bunda??" Tanya Langit yang semakin gelisah.


Lingga tampak mematung, dan tangan kanannya berpegang buku, dia menoleh ke arah Langit. Lalu berkata "Bunda juga sudah tahu. Tapi Bunda memilih diam."


Langit mulai mangambil minumannya, dan dengan cepat dia menghabiskan jus jeruk itu. Lalu berkata "Aku harus kasih tahu Ayah."


Lingga dengan cepat menggetok kepala Langit dengan buku yang di pegang "Aku kasih tahu kamu, biar kamu paham. Tapi kamu seperti Mbak Limar, yang main perasaan."


Langit menatap Lingga dan berkata "Terus kita harus diam saja Mas? Apa Mas Lingga tidak kasihan sama Bunda dan Mbak Limar?"


Lingga tersenyum manis, dan menggeleng "Percuma aku menguliahkan kamu di Jerman."


"Makanya pakai ini."


Lingga menujuk kepalanya sendiri dengan jarinya, dan berkata "Paham?!"


Bibir Langit mengerucut, dan dia kembali duduk.


Vava berbisik "Langit, kamu ikuti saja aturan Mas Lingga."


Langit tampak mengusap rambutnya ke belakang. Pancaran mata yang amat emosi dan rasanya sangat kesal. Ingin rasanya segera memberitahu sang Ayah. Tapi sepertinya benar yang dikatakan Kakaknya. Ayahnya sudah terikat perempuan itu. Apapun perkataan anak-anaknya tidak akan mempan.


Lingga mulai duduk dan berkata "Makanya Bunda benar. Dia ingin Mbak Limar pergi. Dengan begitu, Ayah akan membawa Siska kembali ke rumah. Kita lihat, apa yang akan terjadi."


Lingga dengan senyuman manis ala Lingga. Menatap bukunya dan kembali membaca buku.


Lingga yang sudah membaca buku, tapi tersenyum mendengar hal itu, lalu berkata "Kita belum pernah merasakan tinggal bersama Ibu tiri."


"Vava, kita akan tinggal dengan mereka."


Vava berkata "Aku juga punya Ibu tiri, tapi Bundaku sangat sayang sama aku."


Langit menatap Vava dengan bingung, lalu bertanya "Memang Ibu tiri Mbak Vava gimana?"


"Bunda Zahra baik, bahkan aku tinggal di Jerman sama Papa dan Bunda, juga Adik-adikku. Mereka sayang aku."


Langit menggeleng "Mas Lingga, jangan biarkan Ibu tiriku datang ke rumah. Aku mohon. Aku hanya sebulan di rumah, aku tidak mau mati sia-sia. Dia pasti sudah menyiapkan racun untukku."


Lingga menutup bukunya, dan memandangi Adiknya.


"Sangat disayangkan."


"Tapi kita harus mencoba tinggal bersamanya."


"Mbak Vava jangan mau diajak Mas Lingga. Kalau perlu, aku akan tinggal disini."


Lingga berkata "Langit, kamu sama Siska siapa yang lebih dulu tinggal di rumah itu?"


"Ya akulah. Dia kan baru."


"Nah, dia baru. Otomatis siapa yang akan berkuasa. Sekalian kamu bisa mengerjai dia. Kalau perlu, kamu suruh-suruh dia."


"Ogah, mending aku tinggal disini."


"Mbak Limar pernah bilang, dulu dia cuma piguran di rumah Ayah. Soalnya Ayah juga tidur di kamar Bunda, dia tidak berani berkutik." Ucap Lingga dan kembali dengan bukunya.


Langit masih bingung dan berkata "Tapi aku nggak mau tinggal sama dia. Aku lebih baik cepat-cepat pergi ke Jogja, dan setelah itu balik ke Jerman."


"Aku masih ingin hidup. Aku nggak mau mati konyol. Dia aja berani memalsukan indentitasnya, dan tadi kata Mas Lingga, kecelakaan dia janggal."


Langit merasa tidak tenang.


"Gimana kalau perempuan itu ngeracun aku? Lebih baik aku secepatnya nyusul Bunda ke rumah Eyang."


"Vava, gimana kalau kita nanti malam pindah ke rumah Ayah?"


Vava memilin kaos suaminya, berkata "Lebih baik, kita nggak usah kesana Mas. Aku juga takut. Waktu dia datang di acara Natal aja matanya dia natap aku serem. Aku juga takut diapa-apain sama dia."


Vava lalu berkata lagi "Masih mending kalau racun, pastinya ninggal jejak. Kalau sampai disantet online gimana?"

__ADS_1


Lingga menggeleng, kedua orang yang kuliah di luar negeri, tapi pikiran mereka merancu kemana-mana.


"Siapa yang berani nyakitin kamu sayang?!" Lingga mencubit bibir Vava dengan gemas.


Langit menatap Vava dan dia tampak menggeleng, agar Vava tidak mau pergi kesana.


"Mendingan kita ke Pondok Indah, ada Alishba disana."


Bibi Rumi mengetuk pintu ruangan itu, dan memegang sebuah jaket jeans.


"Nyonya ini sepertinya milik Non Pamela."


Vava menerima jaket itu dan berkata "Owh Iya Bi. Tadi kan Pamela mau nginep, eh malah nggak jadi. Ya udah, nanti aku kasih ke Kak Britney."


"Pamela? Sepertinya tidak asing." Batin Langit.


Bibi Rumi lalu bergegas pergi.


"Ya udah, kita ke akan ke Pondok Indah, biarkan Langit sendirian, bersama Ibu barunya."


Langit berkata "Mas Lingga ternyata lebih kejam dari Ibu tiri."


"Ya udah, kamu pergi ke Jogja. Apa mau jalan-jalan?"


Saat Vava merentangkan jaket itu, Langit tampak pernah melihatnya, lalu bertanya "Mbak Vava, Pamela itu siapa?"


"Ems, saudara aku yang tadi kesini. Dia Adik iparnya Kak Britney. Tadi dia buru-buru pulang. Soalnya Kakaknya yang di Semarang kecelakaan."


"Tunggu dulu, Semarang? Apa Pamela yang itu?"


"Apa Mbak Vava ada fotonya Pamela?"


Lingga menatap heran Adiknya, tidak biasanya Langit penasaran dengan gadis. Lalu Vava mengambil ponselnya, tadi memang mereka sempat berselfie di halaman belakang rumah.


"Ini, Pamela."


"Cantikkan?!"


"Mbak Vava tahu alamat rumahnya? Nomor handphonenya?!"


Lingga tidak menghiraukan Adiknya, dan Vava berkata "Itu alamatnya yang di Semarang."


Langit yang sudah menerima alamat dari chat Vava, lalu berkata "Thank you Mbak Vava."


"Mas Lingga aku pergi dulu. Mau nyusul Bunda ke rumah Eyang."


Langit yang bergegas, dengan cepat meninggalkan ruangan itu.


Vava menatap Lingga, berkata "Mas Lingga, ayo jalan-jalan. Terus ke rumah Mama."


"He'em, tapi cium dulu." Ucap Lingga dan mendekatkan pipinya.


Vava yang masih merasa malu. Dia mulai mencium pipi suaminya, tapi Lingga sangat jitu, saat dia menoleh ke arah wajah istrinya. Jadi kecupan itu tepat mengenai bibirnya.


Senandung romance di pagi menjelang siang, dua insan yang baru menjejaki hubungan manis. Dengan rasa bergetar dan dalam kehangatan. Vava yang dalam dekapan Lingga Mahatma, perlahan mulai menatap Vava dengan senyuman manis.


"Apa kita perlu bulan madu?"


Vava menatap dengan matanya berkedip-kedip dan berkata "Emms, tapi apa bisa kita pergi? Masalah keluarga aja belum selesai."


"Mmh, kita hanya kita. Biarkan saja mereka dengan masalah mereka."


"Tapi aku lagi hamil. Apa boleh pergi jauh?"


Lingga mengangguk dan berkata "Kita bisa ke Villa berdua. Malam ini, kita ke Villa. Baru besok aku antar kamu ke rumah Mama."


"Mmh, ide yang bagus. Aku juga mau udara segar."


Mereka dengan rasa manis, dan Vava dengan gemas mencubit pipi Lingga.


"Lingga."


Suara yang cukup membuat mereka terkaget.


Lagi-lagi, tidak ada aturan, padahal rumahnya sangat aman. Kenapa bisa tamu silih berganti, dan mengganggu keuwuhan mereka berdua.


Vava tampak menyengir dan mengedipkan sebelah matanya.


Lingga yang ada di posisi atas lalu berdiri dan mendekati tamunya.


Vava dengan tersenyum mulai beranjak pergi dari ruangan itu, dan hanya melambaikan tangan kirinya.



🌼🌼🌼🌼🌼


Buat yang belum pernah membaca cerita Mas Pras di season 1. Silakan ke kenalan dulu ya sama Mas Pras, Britney dan juga Vava. πŸ€— Mas Pras baik kok, dia nggak gigit. Palingan gigit istrinya, soalnya dia suka nakalin istrinya.


O ya, ternyata ceritanya jadi panjang begini ya. Padahal niat othor hanya akan sampai 50 episode saja. Eh, nggak tahunya jadi kaya kereta.


Semoga kalian suka, tolong katakan. Othornya harus lanjut atau hanya di episode 50 ya? hehehe.


Salam kenal, untuk kalian yang belum kenal othor gesrek ini. Bila berkenan, kasih like, komentar dan vote.

__ADS_1


Salam manis untuk kalian πŸ€—


__ADS_2