PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Vava Yang Pergi Sendirian


__ADS_3

Kelanjutan dari bab sebelumnya ya. Masih tentang Vava dan Lingga. Semoga kalian suka, dan jangan lupa sematkan jempol kalian ya. Karena ini haluan othornya saja.


Mobil sedan hitam yang mewah, mulai berhenti di depan pagar rumah Pondok Indah. Vava menatap rumah itu dari dalam mobil dan masih dalam perasaan akan mengingat sosok Kakeknya yang telah tiada. Bagaimanapun, Vava juga sangat menyayangi Kakeknya. Hanya Kakeknya, sosok laki-laki yang menuntun dirinya dari waktu kecil, dari Vava mulai bisa berjalan, berbicara dan mengenal akan Tuhan-Nya, hanya sang Kakek yang mengajarinya. Dan selalu memberikan apa saja yang dia minta. Bahkan, sang Kakek juga sangat memanjakannya.


"Kalian pergi saja. Lagian ada Mama dan yang lain." Ucap Vava yang masih duduk di kursi belakang.


"Tapi Nyonya_" Nat yang menoleh ke arah Vava yang perlahan membuka pintu mobil itu sendiri.


Mesin mobil yang masih menyala, Ruk juga bisa melihat ekspresi kesedihan Vava.


Nat langsung keluar dari mobil dan berkata "Nyonya, tapi Tuan mau datang. Saya harus menemani Nyonya."


"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Disini juga ada bibi, kamu pulang saja. Nanti aku bisa pulang sama Mas Lingga."


Mendengar hal itu, Nat mulai tenang dan berkata "Baik Nyonya, saya akan pulang."


Vava dengan tersenyum melambaikan tangan kanannya, dan tangan kirinya memegang tali tas selempang yang dia bawa saat ini.


Penampilan Vava cukup casual, dia tidak terlalu glamour ketika memilih pakaian.


"Ems, lagian ini rumahku. Siapa yang akan mengganggu aku." Ucapnya dan membalikan badannya.


Berjalan dengan santai dan perlahan membuka pintu pagar yang ukurannya begitu besar. Pagarnya saja sangat tinggi, jadi tidak bisa melihat ke arah tetangga.


Deretan rumah mewah, dan depan jalan umum. Kediaman itu memang akan dimiliki Vanesa, sebagai ahli waris dari Kakek Restu Mahendra.


"Uh, dikunci. Pak Sakir sama Bibi kemana?" Gumam Vava dan dia menekan bel dari tadi, tetapi tidak satupun orang membuka pintu itu.


"Apa semua orang pergi?" Batin Vava yang mulai tidak senang.


Setelah sekitar 5 menit, Vava akhirnya menyerah. "Huft, mana Hpku masih di bawa sama Nat."


Vava tampak menatap ke arah rumah itu. Lalu menoleh ke arah sekitar yang tampak sepi. Hanya terlihat jalanan yang ramai kendaraan berlalu-lalang.


Vava berkacak pinggang, menatap pagar itu, lalu berkata dengan suara manja "Emm, Mama! Vava pulang. Mama malah nggak di rumah."


Vava tidak tahu kalau Vanesa pergi ke RM, karena baru saja mendapat kabar dari ahli kuasa hukum, mengenai akta perusahaan dan juga saham. Britney yang mau pulang saja, dihentikan oleh Evan, padahal dia sudah sangat rindu Alishba.


"Bibi sama Pak Sakir kenapa tidak di rumah? Kenapa mereka jadi kompak gini perginya. Huft!" Ketus Vava.


Vava masih menatap rumah itu, dengan wajah kesal dan tampak cemberut.


"Uuh, pasti mereka lagi belanja."


Semenjak seminggu lalu, kepergian Kakek Restu, rumah itu memang masih berkabung, tidak ada aktivitas apapun. Kemarin, para pembantu baru mulai bersih-bersih rumah, mungkin hari ini belanja ke supermarket. Itulah yang ada dipikiran Vava.


"Kak Ghea pasti juga ke Restoran."

__ADS_1


Vava melihat ke arah jam tangan, sudah jam 13.18 WIB. Menoleh ke kanan, lalu dia tersenyum dan berjalan ke sisi jalan.


Vava menghentikan taxi, lalu dia tersenyum manis.


"Aku bisa jalan-jalan sendiri. Emms, udah lama nggak ke rumah Hanny."


"Pak, tolong ke jalan Kartika Alam." Ucap Vava kepada sopir taxi.


"Baik, Mbak."


Vava tampak tersenyum, sudah lama tidak menemui sahabatnya. Hanny, Jihan dan Nicholas.


"Mmh, pasti Hanny di rumah."


Mengingat sang sahabat baru lulus kuliahnya dan kuliahnya masih di kota Jakarta. Kalau Jihan kuliahnya di kota Semarang bahkan mengenal Pamela. Itu juga karena Vava, yang memberi tahu alamat rumah Mas Pras kepada Jihan.


Tidak lama, Lingga tiba di rumah Pondok Indah. Melihat keadaan rumah yang cukup sepi, lalu dia menghubungi Vanesa. Tapi ternyata sang Mama mertua tidak di rumah, bahkan Vanesa bilang kalau sopir dan pembantunya juga baru pulang ke Bogor, lalu kemana sang istri saat ini.


"Nat, kalian dimana?"


"Tuan Lingga. Kita masih dijalan."


Lingga yang menghubungi nomor Vava.


Lingga berkata "Aku mau bicara sama Vava."


"Tuan, Nyonya ada di rumah Pondok Indah."


Nat melotot dan jantungnya tidak beraturan. Ruk menoleh ke arah Nat.


"Tadi Nyonya meminta kita untuk pulang, dan kita meninggalnya Nyonya sendirian Tuan."


"Harusnya kamu tunggu sampai Vava masuk ke dalam rumah. Ini rumah nggak ada siapa-siapa."


"Baik Tuan Lingga, saya akan mencari Nyonya."


Ruk mendengar hal itu, tanpa diminta langsung memutar mobilnya.


Lingga memutus telfonnya, dan berkata "Dito, cari Vava. Dia pergi sendirian."


"Siap Bos."


Lingga lalu masuk ke dalam mobil itu, dan Dito juga mengikuti Lingga. Dito dengan cepat melacak keberadaan Vava.


"Bos, Nyonya di jalan Kartika Alam."


Nat juga sudah menemukan Vava dengan alat lacaknya. Seperti tawanan, yang pergi bisa dilacak. Vava juga tahu hal itu, tapi dia tidak masalah.

__ADS_1


"Hanny. Gue kangen banget sama loe."


"Em, Nyonya Lingga. Gue juga kangen."


Mereka berdua saling memeluk, dan Hanny memang sahabat yang sangat imut, pipinya yang cubby, rambutnya yang pendek, bibirnya yang terlihat imut, dan wajahnya tidak jauh beda dengan Vava.


"Sssttth jangan panggil gue gitu. Gue Vava, oke."


"Oke... My Vava."


"Om sama Tante kerja, loe di rumah ngapain?"


Hanny merangkul Vava, dan berkata "Menikmati masa single."


Perlahan memegang tangan Vava, dan mengandengnya, mengajak ke kamarnya.


"Wow, sepertinya ada kemajuan ya."


"Ini cuma hiburan di masa single gue."


"Tapi gue nggak suka loe jadi gamer."


"Apa salahnya?"


Vava yang melihat ke arah komputer, dan perlahan duduk.


"Tapi gue juga suka. Gue kangen main PS bareng kalian."


"Oke, gue telfon Nicholas."


Vava menoleh, lalu berkata "Jangan! Suami gue nggak suka sama dia."


"Apa masalah?"


"Masalahnya, ada yang akan datang kesini. Kalau Nicholas disini, suami gue bakal gitu lah."


"Cemburu?" Tanya Hanny, dan dia mulai menepuk-nepuk bahu Vava.


"Entah, yang jelas suami gue, selalu larang gue main sama cowok. Ponsel gue aja yang pegang Nat. Makanya sekarang gue, jarang ngobrol sama kalian semua."


Hanny tersenyum, berkata "Tapi loe hidup mewah, bahkan sampai 7 turunan."


"Apa artinya mewah kalau nggak bahagia?!" Ketus Vava dan memegang mouse, dia sudah mulai bermain game.


"Iya juga sih."


Hanny lalu keluar dari kamarnya, dan meminta pembantunya untuk membuatkan jus jeruk.

__ADS_1


Kedua orang itu bermain game dengan asyik, dan tidak lama kemudian ada seseorang yang datang ke rumah itu.


Sosok pria yang manis, dengan wajah yang tersenyum, turun dari mobil.


__ADS_2