PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Ini Bukan Film Action Aldo


__ADS_3

Lanjutan dari bab sebelumnya ya. Hanya haluan yang tidak ada alurnya. Tapi ini bukan film atau drama. Terima kasih 🙏.


Halaman parkiran rumah sakit Mitra Surya, Limar mencari Aldo, tapi dia tidak menemukan Aldo. Lalu dia kembali ke dalam untuk meminjam ponsel Lingga.


Aldo yang duduk di bangku taman rumah sakit.


Tangan kanan Aldo tampak memegang gelas plastik yang berisi kopi, lalu dia menghubungi seorang teman dekatnya.


"Assalamu'alaikum Pras."


"Waalaikumsalam, Do."


"Pras, kamu dimana?" Tanya Aldo dengan suara yang terdengar sendu.


"Aku di Jogja." Jawab Pras, yang begitu apa adanya.


"Pras, disini menegangkan." Ucap Aldo yang seolah mengadu.


"Apanya Do yang menegangkan?" Tanya Pras.


Pras sendiri juga sangat sibuk, dia juga lagi mengurus pemindahan kamar inap Candra, yang tadi menjalani operasi.


"Pras, kamu yang kasih aku lowongan. Kenapa nggak cari tahu dulu detailnya?"


"Maksudnya gimana, Do?" Tanya Pras yang belum tahu maksud Aldo.


Aldo tampak diam, lalu berkata "Aku bingung Pras, sama pekerjaanku."


"Memangnya kenapa Do? Gajimu lebih besar dari aku." Ujar Pras yang suaranya begitulah. Tengil menggoda dan seakan menenangkan temannya.


Memang benar, sebelum Aldo kerja, dia sudah mendapat gaji, setelah dia teken kontrak dengan APMC.


Tapi kesalahan Aldo tidak melihat detail kesepakatan kerja itu. Pras juga hanya tahu pengawal. Bukan seperti yang ada di film-film dengan adegan adu tembak.


Pikirnya hanya bodyguard biasa yang menemani atasannya bepergian, dan bisa dibilang asisten pribadi.


Sebenarnya mereka mengobrol dengan bahasa Jawa ala Mas Pras dan Aldo, tapi othornya lagi malas tulis translate.


"Kalau aku sampai mati. Kamu harus ingat aku Pras." Ucap Aldo dengan polosnya dan dia memang merasa gelisah.


Pras yang tidak mengerti, apa yang terjadi dengan temannya, lalu berkata "Jangan bilang begitu. Nikmati saja pekerjaanmu Do. Kerja itu juga ibadah, kamu jangan mengeluh."


Pras belum tahu apa yang terjadi saat ini. Kalau dia tahu, pasti sudah bingung.


"Aldo, cari kerja itu susah." Sambungnya, dan dia juga sedang di ruang admintrasi rumah sakit swasta yang ada di Jogja.


"Iya cari kerja susah, aku tahu Pras. Tapi kalau aku nanti sampai masuk penjara gimana Pras?"


"Maksudmu apa Do?" Tanya Pras yang tidak tahu menahu, apa yang telah terjadi sama temannya. Karena Pras tidak mengerti situasi Aldo saat ini.


"Disini banyak tragedi Pras." Ucap Aldo.

__ADS_1


"Sabar Do. Kamu pasti bisa mengatasi pekerjaanmu. Kamu harus percaya diri." Ucap Pras, dan dia juga sedang tanda tangan untuk administrasi operasinya Candra.


"Tapi Pras, situasinya beda. Nggak kayak waktu aku jadi satpam."


"Aldo sudah dulu ya. Aku mau ke Masjid. Aku belum sholat isya'."


"Aldo kamu juga, jangan lupa sholat. Aku juga mau pulang ke Semarang ini, nanti aku telfon kamu." Sambung Pras dengan santainya, dan tidak lama Aldo menutup panggilannya.


"Pras tidak bisa diajak ngobrol."


Sudah jam 19.48 WIB, Pras juga sangat sibuk. Padahal biasanya Pras mau mendengar keluh kesah Aldo, tapi di Jogja bukan untuk bersantai, dia juga sibuk. Bahkan disana dia juga masih ada urusan klien yang dari tadi telfon, dan Pras harus meeting dan melakukan negosiasi lewat online. Walaupun ada Pandu dan Rendy, tapi kliennya ingin negosiasi dan membuat kesempakatan langsung dengan Pras.


"Pras lagi sibuk." Gumam Aldo.


Aldo menatap jauh entah kemana, dan masih merasa gelisah.


Aldo yang ingin cerita, tetapi temannya tidak mau mendengarnya. Padahal saat ini, Aldo sangat bingung. Ada rasa takut dalam dirinya. Pernah gabung pelatihan di arena tembak, dan itu sudah lama. Kemarin masuk APMC, itu gara-gara Pras yang mengatakan kepada Lingga, kalau ada temannya yang jago beladiri dan pasti bisa mengawal Limar di segala kondisi dan situasi.


"Pras kamu menggiring aku ke kandang singa. Bahkan aku sudah masuk ke kandangnya. Dua minggu singanya tidur aku masih tenang. Sekarang singanya bangun Pras." Gumam Aldo, yang sudah pasrah.


"Aku harus gimana?" Desisnya dengan bingung.


Pistol yang ada di dalam mobil, sudah ada dalam genggaman Limar, dan dia sangat kesal. Tidak henti mengerutuki Aldo dengan cacian.


"Aldo, kenapa ini malah disimpan lagi!!"


"Apa dia pikir ini cuma pajangan?"


Limar lalu menghubungi Nat.


"Nat, sampai dimana?" Tanya Limar yang geregetan, sudah satu jam lebih kenapa juga ambulan RS Kasih Maria tidak kunjung datang.


"Sebentar lagi Bos. Ini yang arah ke Megamendung ada kecelakaan Bos."


"Berapa lama lagi?" Tanya Limar yang semakin kesal. Adiknya dalam bahaya, kenapa tidak ada satupun pengawal yang cepat datang.


Bahkan yang bertugas di markas hari ini diliburkan semua sama Lingga.


"5 menit Bos." Ucap Nat, karena sudah berhasil melewati kecelakaan itu.


Limar langsung menutup ponsel itu. Ingin menghubungi Aldo, tapi dari seseorang sudah mengamati gerak-geriknya.


Limar akhirnya masuk ke dalam mobil lagi. Ada sesuatu yang dia ambil dari tas Aldo.


"Aldo, kamu harus tahu apa yang aku lalukan sama kamu." Desusnya dengan rasa geram.


Aldo yang masih bingung harus berbuat apa. Perlahan dia mengingat sesuatu. Dia mulai ingat akan janjinya kepada Hesti Maheswari untuk menjaga Limar Mahatma.


Dengan perasaan tenang, Aldo akan coba menjadi sosok yang nekat. Tidak ada yang salahnya mencoba nekat.


Bila tidak nekat, dia akan kehilangan pekerjaannya, dan pastinya dia seperti pecundang yang tidak bisa menepati janjinya.

__ADS_1


"Aldo kamu pasti bisa." Batinnya, yang seolah akan menggunakan pistol hitam yang bercode cxl05 itu, disaat urgent dan demi tugasnya menjaga Limar.


Aldo tidak tahu kalau sang tuan putri Mahatma, sedang ada di mobil dan dia mulai berjalan ke arah mobil.


Tiba-tiba Limar yang keluar dari mobil langsung menodongkan pistol ke arahnya.


Tidak ada satupun orang lain di tempat parkir itu. Sangat sepi, yang ada hanya Aldo yang berjalan ke arah mobilnya.


"Limar." Batin Aldo, saat Limar menodongkan pistol ke arah dirinya.


Seolah apa yang terjadi saat ini bagai mimpi di siang bolong.


Tidak pernah terbayangkan, bahwa dirinya akan mengalami situasi yang menegangkan ini.


Raut wajah Limar yang sangat ganas, terlihat dari cara memandang ke arahnya.


"Aldo." Batin Limar.


Malam yang mencekam, kedua orang dengan perasaan bergetar. Aldo yang masih memegang gelas plastik itu, menatap Limar.


Udara malam di puncak yang sangat dingin, suara-suara dari serangga hutan berbunyi nyaring. Seolah ini adalah detik terakhirnya.


"Limar mau menembak aku?" Batin Aldo.


Limar dengan wajahnya yang kejam menarik pelatuk pistol itu.


Dor!!!


Hanya hitungan detik, pistol hitam yang diarahkan ke Aldo. Berhasil menembak tepat sasaran.


Limar masih menatapnya dengan kejam.


Peluru logam, melesat tepat mengenai paha kaki.


Darah hangat yang mulai mengalir, dan Limar merasa puas.



Duh. . . maaf ya, pembaca yang budiman. Ini bukan cerita action. Memang begini ceritanya. 🙏.


Maafkan Mas Pras yang tengil Aldo, dia hanya kasian sama kamu. Katanya ingin pekerjaan gaji besar. Ya begitulah resiko kerjanya. Harusnya dibaca detail. Ya semoga Aldo baik-baik saja, saat menjaga Limar.


Mas Pras sih!


Eitss


Mas Pras numpang lewat dulu ya.



Gimana mau lanjut nggak ini ceritanya? 🤭.. Mas Pras, nah loh. Kasian Aldo kan jadinya. Gimana itu?!

__ADS_1


Othor kan cuma nulis. ✌😂


__ADS_2