
...☘Lelah hati untuk kembali luka,...
...tapi cinta ini akan jadi sempurna☘...
Tiga hari sudah berlalu, mulai sibuk dengan aktivitas.
Memulai dengan suasana rasa tak berujung. Kembali untuk sebuah kepastian.
"Kamu sangat pucat." Ucap sang Ayah yang masih menatap wajah putrinya.
"Limar baik-baik saja." Balasnya dengan senyuman manis.
Yuda menghela nafasnya, putrinya masih dengan egonya. Yuda sudah membawa pengacara kondang untuk membantunya keluar dari penjara. Tetapi putri kesayangannya menolak.
"Ayah sebaiknya pulang saja." Ucapnya, dengan tatapan yang tidak runtuh.
Yuda, yang duduk di hadapannya. Mulai berdiri, dan berkata "Kamu berbuat ini demi pria itu? Bahkan, sampai kamu berani menyerahkan hidupmu!"
"Tidak." Balasnya, dengan melirik ke arah wajah Ayah. Kemudian kembali dengan pandangan mata lurus ke depan.
Yuda membalikan badannya, dan seolah sudah ingin menyerah.
"Ayah sudah menceraikan Siska."
"Apa kamu tidak ingin pulang ke rumah Ayah?" Tanya Yuda, dengan suara yang sangat serius.
"Aku tahu. Aku sudah mendengarnya. Kemarin Lingga datang. Dia sudah cerita." Ucap Limar, dan tidak melihat ke Ayahnya.
Ayahnya tampak berdecak kesal, sangat tidak senang dan berkata "Limar, kamu pulang atau Ayah akan__?!
Belum selesai Ayahnya berkata, tetapi Limar sudah menyela. "Lebih baik Ayah memastikan Bunda untuk kembali ke rumah. Dari pada Ayah disini. Apa Ayah sudah meminta maaf kepada Bunda?!!"
Limar dengan segala kekesalan dalam dirinya, terhadap sang Ayah. Lalu dia berkata lagi. "Aku tahu, Ayah yang membuat Aldo pergi dari sini."
"Apa maksudmu? Kamu percaya pria bodoh itu. Yang tidak bisa menjaga kamu."
"Limar yakin, Ayah juga tahu apa yang terjadi di Villa. Kekasih Ayah sendiri yang ingin meleyapkan Lingga."
"Lalu, apakah Ayah percaya dengan ucapanku? Aku Limar Mahatma, Aku anakmu, tapi Ayah pasti tidak akan percaya padaku."
Yuda dengan mengepal, dan bertanya "Apa maksud ucapanmu?!"
Yuda kembali duduk di kursi, dan memperhatikan Limar, menatapnya tajam. Limar yang geram, berkata "Melinda."
"Melinda?"
"Melinda menyuruh orang, bahkan pakaian mereka sama seperti APMC. Mereka menyekap aku di Villa."
Limar dengan senyuman sinisnya, dan sangat tahu. Rekan kerja Ayah yang satu itu juga kekasih Ayahnya.
Yuda diam tanpa berkata.
"Tapi suruhan Melinda bukan penyebab Vava keguguran."
Yuda melonggarkan dasinya, rasanya sangat sesak.
"Waktu Limar sudah habis. Limar harus kembali ke tempat Limar."
Limar mulai berdiri dan tidak berkata lagi. Lalu wajah Ayahnya berubah memerah. Ada sesuatu yang membuat dirinya menjadi tidak nyaman. Lalu dia mengambil jasnya yang ada di meja hadapannya. Yuda mulai pergi dari ruangan itu.
"Melinda??"
Yuda dengan segera menghubungi seseorang.
Yuda yang masih menelfon seseorang, menoleh ke arah tempat itu, kemudian meninggalkan tempat dimana sang putri di tahan saat ini.
"Ayah, Limar rindu masa kecil Limar." Batinnya, dan mulai duduk bersandar tembok.
Limar sangat tahu sifat Yuda saat dekat dengan wanita. Limar yang sangat tidak menyukai Siska, karena Ayahnya berani menikahi Siska. Seandainya Ayahnya tidak sampai menikahinya. Limar tidak akan ikut campur urusan Ayahnya.
Yuda Mahatma sosok pria kaya, bahkan sangat berkarisma. Siapa yang tidak akan terpikat padanya. Dan pastinya menjadi sasaran empuk para wanita yang ada di sekelilinginya. Rekan bisnis, sekretaris, asisten istrinya dan masih banyak lagi. Tidak ada yang salah atau benar. Tapi Limar sangat tidak suka dengan Siska.
"Aldo kamu dimana?" Batin Limar, yang masih berharap untuk dia kembali lagi.
__ADS_1
Limar menatap gadis itu, yang berbaring di depannya. Susah diajak bicara. Limar sendiri yang ingin satu ruangan dengan gadis itu. Limar masih penasaran, siapa yang telah menyuruh gadis itu, untuk membuat Vava keguguran.
"Mir ist schlecht" Suara gadis itu yang tampak mengigau.
Limar mendekati dia dan bertanya "Ada apa denganmu?"
Limar membalik wajah gadis itu, karena dari tadi tidur menyamping menatap dinding.
"Kamu sangat dingin."
Nafasnya mulai tak beraturan dan mulai mengigau lagi "Mir ist schlecht."
Limar berfikir "Bahasa Jerman, kenapa dia bisa berbahasa Jerman."
"Badan kamu dingin." Limar berusaha memanggil petugas yang berjaga di tempat dirinya di tahan.
Ruangan yang sangat sempit dan lebih pengap dari kontrakan Aldo.
Limar yang sudah berhasil memanggil petugas, lalu berkata "Dia sakit. Badan dia dingin."
"Mir ist schlecht." Lirihnya saat matanya masih terpejam. Dia mengatakan bahwa "Aku merasa sakit."
Petugas lalu memeriksa dan membawa dia pergi dari ruangan itu, ke ruang medis, yang ada di tempat tahanan itu.
"Dia fasih berbahasa Jerman? Vava juga sempat tinggal di Jerman. Lingga juga pernah kuliah di Jerman. Jerman? Siapa? Jonathan?"
Limar yang masih menerka-nerka, tapi tatto itu sama persis, dengan seseorang yang dia kenal.
"Tidak mungkin."
Mata Limar yang berubah tajam dan sangat tidak senang. Gadis itu WNI, bahkan tidak ada wajah bulenya.
"Melinda, dia hanya menggertak Aku dan Lingga."
"Lalu siapa yang menyuruh dia. Lingga bilang, Vava sudah memberitahu ciri-ciri yang memberikannya minuman itu, dan Lingga juga memastikan. Benar gadis ini, tapi dia bisa berbahasa Indonesia."
Limar masih sulit untuk membuat gadis ini bicara padanya. Bahkan saat dia di interogasi tim penyelidik, dia tetap tidak mau mengatakan siapa orangnya.
"Siapa yang bisa bantu aku. Menyelidiki situasi di luar. Nat? Ruk? Lingga bahkan sampai sekarang belum bisa percaya siapapun."
Limar masih terus berfikir sendiri dan mulai berbaring, sambil jarinya seolah menulis di dinding itu.
Di Pondok Indah, sudah pukul 12.07 WIB. Suasana di kamar Vava saat ini.
Vanesa yang telah membawakan makan untuk putrinya, dan mulai menyuapinya. Vava duduk bersandar, dan dia enggan untuk melakukan apapun.
"Vava, kamu harus makan yang banyak. Biar kondisi kamu cepat pulih lagi."
"Vava masih males Mama."
Vanesa yang meletakan piring di meja samping tempat tidur Vava. Vanesa mulai mendekati Vava, dan mengelus rambutnya.
"Kamu kenapa?"
"Entahlah Ma."
Vanesa duduk di sebelah Vava. Lalu Vava mulai menyandarkan kepalanya, di bahu Mamanya.
"Cerita sama Mama." Ucap Vanesa, yang memegang tangan Vava.
Vanesa lebih memperhatikan Vava, saat setelah Vava bertemu Angga. Beberapa tahun yang lalu.
Vanesa sudah tidak seperti dulu, yang tidak peduli dengan anak semata wayangnya.
"Mama." Vava perlahan memegang lengan Vanesa, dan semakin bersandar nyaman.
"Sayang, apa Lingga dalam masalah?"
Vanesa yang tahunya, Vava hanya keguguran. Tidak tahu kalau ada seseorang, dengan sengaja meracuni Vava.
"Dia memang sibuk Ma."
"Mama mengerti."
__ADS_1
Vanesa lalu merangkul anaknya, dan mendekapnya.
"Vava kamu sudah menjadi istri. Mama bukannya ingin menasehati kamu. Tapi Mama tidak ingin putri Mama merasa terluka."
"Maksud Mama?"
Vanesa mengelus rambut Vava. Vava mulai berbaring di atas pangkuan Mama. Karena perutnya tiba-tiba merasa kaku dan mengencang.
"Kamu bertemu Mesti?"
Vava mengangguk, dan Vanesa berkata "Mama tahu, bahkan kamu sudah jadi bahan gosip di tempat dia berkumpul."
"Bahan gosip?"
"Emms."
"Apa tanggapan Mama?"
Vanesa tersenyum "Vava tidak bersalah. Putri Mama bukan gadis seperti itu. Papa kamu bisa menjaga kamu. Hanya saja, situasi yang membuat kalian bersalah."
Vava mulai berkaca-kaca. Vanesa juga mulai sendu.
"Kamu tidak perlu dengarkan apa kata Mesti. Dia tidak tahu apa-apa tentang Mama."
"Vava juga percaya sama Mama."
"Sayang, kamu sudah menikah. Kamu harus menurut sama suami kamu. Bahkan kamu harus selalu ada di sisinya. Saat ini suami kamu dalam masalah. Sebaiknya kamu lekas pulang ke rumah."
"Mama tidak suka Vava tinggal disini?"
"Bukannya Mama tidak suka. Kamu tahu kenapa Mama tidak mau menikah?"
Vava menggeleng dan masih menatap wajah Vanesa. "Dulu Mama memang mencintai Papa kamu. Tapi Mama tidak mau terikat pernikahan."
"Mama tidak suka diatur, Mama dari dulu selalu bebas. Bila Mama menikah, Mama akan terikat hubungan. Mama harus menjadi istri dan tugas istri tidaklah mudah."
"Lalu, apa Mama masih mencintai Papa?"
"Semuanya hanya kenangan, sudah ada kamu dalam cinta Mama untuk Papa kamu. Jadi, tidak perlu dibuktikan lagi."
"Terus Vava harus gimana?"
"Pulanglah, kamu harus menjadi istri yang baik. Apapun keadaan suami kamu, kamu harus menemaninya."
"Mas Lingga sibuk kerja Mama. Kadang dia hanya menyuruh Nat sama Ruk."
"Apa Vavanya Mama berubah?"
Vanesa dengan tersenyum, dan Vava berkata "Entahlah Ma, Vava juga bingung."
"Kamu harus percaya diri. Buktikan kepada Mesti. Kamu gadis tidak bersalah."
Vava mulai tersenyum, dan berkata "Mas Lingga memang suami yang baik. Tapi Vava takut Ma. Banyak hal yang Vava tidak mengerti."
"Mama mengerti, dunia bisnis memang keras. Lingga pasti juga banyak lika-liku dalam bisnisnya. Lalu, apa kamu akan diam saja? Bila suami kamu jatuh dan terluka."
Vava menggeleng, dan berkata "Nggak Mama. Vava juga sudah menyayangi Mas Lingga. Vava juga nggak mau lihat Mas Lingga sakit."
"Ems, Lingga kalau disini merasa tidak bebas. Mungkin dia berfikir, Mama akan keberatan bila ada pengawal menjaga di halaman depan."
"Mama tidak keberatan kamu akan terus disini. Tapi gimana dengan perasaan suami kamu?"
"Mama benar. Semalam, Mas Lingga juga banyak diam. Dia pulang larut malam dan langsung tidur. Vava juga nggak tega. Apalagi kantornya jauh dari sini."
"Mama sayang kamu. Kamu harus kuat seperti Vava yang Mama kenal. Jangan menyesali kejadian yang sudah berlalu, tapi kamu harus bisa menatap masa depan. Pasti, nanti kamu akan hamil lagi. Ayo, hapus kesedihanmu."
"Emmh... Mama."
Obrolan santai siang itu, tetapi ada tamu yang datang. Vanesa ke ruang tamu.
"Tante, apa Vava ada di sini?" Tanyanya dengan cemas.
Vanesa tampak tersenyum.
__ADS_1