
Masih lanjut ya. Bukan hareudang, atau cerita bawang. Yang jelas masih tentang keluarga Mahatma.
Sudah jam 11 malam, seorang Ayah yang mulai memikirkan anak perempuannya.
Yuda yang baru pulang dari tempat ngopi bersama sang putra tampannya. Tampak berbaring di sebelah istrinya yang sudah tidur. Tapi perasaannya jadi gelisah, ketika mengingat sang putri kesayangannya.
"Dimana Limar?"
Yuda menoleh ke wajah istrinya dan dia semakin penasaran. Lalu beranjak dari tempat tidurnya, dan berjalan ke kamar Limar.
Menaiki tangga dengan perasaan gusar, dan hatinya begitu gelisah.
"Aldo? Kenapa harus dia?!" Batin Yuda yang tampak tidak senang.
Kedua tangannya masuk ke saku celana dan berjalan ke kamar putrinya. Saat dia membuka pintu kamar itu. Tampak kegusaran dan mengembuskan nafasnya.
Yuda yang tidak percaya, kalau putrinya sudah meninggalkan rumahnya. Tidak biasanya Limar begitu mudahnya pergi. Kuliah saja tetap di Jakarta, karena tidak mau jauh dari Ayah dan Bunda.
Sekarang Limar benar-benar telah pergi.
"Limar, ternyata kamu sudah berani meninggalkan rumah Ayah?!" Ucap Yuda saat memegang foto yang ada dalam bingkai putih.
Yuda meletakan kembali foto Limar di atas meja.
Yuda berjalan ke tempat tidur Limar, yang tampak berantakan. Ada aroma alkohol dan bantalnya basah.
"Limar minum?" Batin Yuda.
Yuda yang tidak tahu tentang putrinya. Semenjak menikah lagi, memang ada jarak antara Yuda dan keluarganya. Tapi hati dan perasaan Yuda tidak berubah terhadap putri kesayangannya.
Yuda tetap mencintai anak-anaknya, terutama Limar. Walaupun dia bukan lagi Ayah yang baik di mata keluarganya, tapi untuk kasih sayangnya, dia tidak berubah. Apalagi terhadap Limar, anak pertamanya.
Yuda yang mulai berkaca-kaca, lalu menatap bingkai besar, terdapat foto keluarga yang utuh. Yuda bisa melihat senyuman manis Limar.
"Kamu tetap putrinya Ayah. Kenapa kamu harus pergi." Ucap Yuda yang masih memandangi foto itu.
"Iya, Ayah salah. Tapi kenapa kamu harus pergi?" Keluh Yuda dan mulai menyusap air matanya yang terjatuh.
Yuda juga melihat tasnya Limar di atas meja. Berjalan ke ruang ganti putrinya, melihat semua baju-baju dan koleksi putrinya. Semua masih ada, ternyata putrinya tidak membawa apapun.
"Bagaimana kamu bisa hidup dengan pria itu? Kamu dimana Limar?" Batin Yuda.
Bahkan tadi saat di garasi mobil, Yuda melihat mobil pribadi Limar masih ada di tempatnya. Rupanya Aldo memakai mobil sedan, dan itu mobil perusahaan Mahatma yang sering Aldo pakai, untuk mengantar dan menjemput Limar saat bekerja.
Yuda keluar kamar itu dan mendengar suara tangisan dari sang Ibunda, saat Yuda melewati kamar Ibundanya, yang cukup dekat dengan kamar Limar.
Yuda membuka pintu kamar itu, lalu mendekati sang Ibunda. "Ibu belum tidur?"
"Besok aku akan pulang ke Jogja."
Yuda mendekati sang Ibundanya dan memeluk erat "Kenapa harus pulang? Yuda ada disini."
"Ibu sudah tua. Ibu tidak ada gunanya disini. Ibu akan pulang dan tidak akan kesini lagi." Ucapnya dengan jelas.
"Ibu masih marah sama Yuda?"
"Kamu sudah janji sama Kakaknya Hesti. Kamu bilang akan menjaganya. Tapi kamu hanya bisa menyakiti perasaannya." Ujar Ibunda, memegang kain putih lalu mengelap air matanya.
__ADS_1
"Yuda tahu. Tapi Yuda sudah kembali." Ucap Yuda dan berusaha menenangkan Ibundanya.
"Perempuan itu?"
"Siska tinggal di apartemen. Banyak yang menjaganya."
"Pokoke aku sesok bali neng Jogja."
(Pokoknya aku besok pulang ke Jogja.)
Mendengar Ibundanya sudah memakai bahasa jawa, Yuda tampak mengerti. Ibundanya berarti memang masih marah kepadanya.
"Inggih Ibu. Benjing enjing Yuda siapaken pengawalan."
(Iya Ibu. Besok pagi Yuda siapkan pengawalan.)
Yuda melepas pelukannya dan sang Ibunda mulai menata bantalnya. Lalu berbaring dan tidak mau melihat ke arah putranya.
Eyang Dewi memiliki dua anak, yang nomor 2 anak perempuan dan tinggal di Jogja. Seorang dokter dan sangat menawan.
Keluarga Hesti juga di Jogja, tapi hanya ada Kakaknya, yang biasa di panggil Budhe Wati. Karena dari kecil Hesti tidak memiliki siapapun kecuali Kakaknya.
Dari situ, dulu sang Eyang Kakung mengenalkan Yuda dengan Hesti.
Eyang Dewi menangis, karena rasa malu terhadap suaminya. Dulu sudah berjanji, akan selalu menasehati sang putra, tapi saat ini beliau merasa gagal. Sang putra tetap tidak bisa dinasehati.
Yuda dengan berat hati, besok akan mengantarkan Ibundanya ke bandara. Yuda juga memikirkan tentang Limar.
Di Golden Mansion, Lingga sudah tahu apa yang telah terjadi di kediaman Ayahnya.
"Eyang mau pulang ke Jogja, Mbak Limar juga sudah pergi. Apa Ayah akan membawa istri mudanya?" Batin Lingga.
Tadi Lingga sudah tidur bersama Vava, tapi Dito membangunkannya, dan saat ini Lingga masih memikirkan perkataan Eyangnya.
"Bunda sakit apa?!" Batin Lingga.
Lingga lalu menghubungi Dito agar ke ruang tengah. Lingga masih tidak tahu apa yang telah terjadi dengan sang Bunda.
Tidak lama, Dito yang tinggal di paviliun belakang datang, dan mendekati Lingga.
"Bos, ada apa?"
"Kamu cari tahu tentang Bunda."
"Nyonya Hesti?"
"Memangnya siapa lagi Bundaku?"
Dito merasa dirinya salah berucap, dan dia berkata "Baik Bos."
"Kamu cari tahu, dimana tempat Bunda periksa dan cari tahu tentang penyakit Bunda."
"Siap Bos."
Dito lalu menerima ponsel Lingga, dan meninggalkan Lingga.
Lingga kembali ke kamarnya, ada rasa cemas dalam perasaannya. Setiap hari bertemu Bundanya, tidak ada hal yang aneh. Setiap pagi, sebelum ke kantor Lingga menyempatkan bertemu Bunda. Apalagi setelah Natal itu. Bunda sudah memaafkan Lingga dan semakin dekat seperti dulu. Tidak ada hal yang aneh terhadap Bundanya.
__ADS_1
"Aldo? Apa dia tahu sesuatu, sampai berani mengajak Mbak Limar pergi." Batin Lingga.
Ternyata Eyang Dewi juga melihat Limar yang pergi, tapi diam saja. Eyang Dewi juga sudah tahu kalau Hesti sakit, dan dari situ, Eyang berfikir untuk mengajak Hesti pulang ke Jogja.
Lingga yang sudah di kamar, lalu melihat ke arah wajah Vava yang cukup tenang.
"Vava, aku akan berusaha jadi suami yang baik." Batin Lingga dan mengecup kening Vava.
Lingga kembali menarik selimutnya. Tidur menyamping dan masih melihat ke wajah Vava.
Tangan kanannya memegang tangan istrinya. Lingga mulai memejamkan matanya, tapi dia mulai tenang dengan masalah keluarganya. Karena dia selalu yakin akan Kasih Tuhan.
Di sebuah rumah bercat abu-abu muda dan ada kesan putih. Limar menatap langit-langit kamar tidurnya. Dia tidak bisa tidur. Rasanya sangat aneh buatnya.
"Aldo, aku nggak bisa tidur." Ucap Limar, dan Aldo yang tidur di bawah, tidak jauh dari tempat tidur itu.
Limar tidak mau ditinggal jauh oleh Aldo, tadi dia merasa takut. Aldo yang tadinya mau tidur di sofa ruang tamu, akhirnya menggelar karpet di samping tempat tidur.
"Huft, nyamuk banyak sekali."
Rumah dengan type 36, luas tanahnya sekitar 80 meter persegi. Rumah yang bagi Limar sangat sederhana, dan kondisinya sekarang belum rapi.
Kemarin Aldo baru membersihkan lantai rumahnya, dan dia hanya menata perabotan. Perabotannya juga tidak banyak.
Limar yang terbiasa hidup dalam kemewahan, bahkan dari kecil.
Semasa tinggal di Jogja juga tidak pernah tidur di rumah yang kecil, dan menurutnya rumah ini masih pengap, karena lama tidak ditempati.
"Aldo, bangun dong. Aku mau ke kamar mandi." Ucapnya sambil menarik tangan Aldo.
"Aldo bangun!"
"Kamu tidur kayak kebo!"
Limar bingung, karena Aldo susah dibangunkan.
Limar keluar kamar itu, pintu kamar yang dari tadi terbuka, jadi dia keluar tanpa ada suara.
"Bos Limar, maaf. Bos harus bisa hidup sederhana." Batin Aldo.
Sebenarnya Aldo juga tidak tidur.
Limar yang berjalan ke kamar mandi, sambil menggaruk lengan tangannya.
"Eyang, teng mriki kathah lemut." Batin Limar seolah mengadu.
(Nenek, disini banyak nyamuk.)
Ternyata bukan Bunda yang melekatan tas Limar di bagasi mobilnya.
Melainkan Eyang yang memberi baju batik, dan kain jarik untuk Limar.
Eyang Dewi bahkan sudah menulis surat untuk Limar, sewaktu-waktu Eyang akan pulang ke Jogja dan tidak ingin kembali ke Jakarta.
Ini hanya visual saja ya, dan Limar pasti akan kesusahan hidup sederhana.
__ADS_1
Bagaimana kelanjutan Limar nanti, othor juga tidak tahu.