PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Obrolan Adik Dan Kakak


__ADS_3

Masih berlanjut dari bab sebelumnya ya guys! Uups, santuy. Ini hanya haluan othor saja. Selamat membaca, jangan lupa angkat jempolnya ya. Terima kasih.


Malam yang sama, tapi suasana dan tempat yang berbeda. Pras yang lagi berbaring di sofa, tampak memegang ponselnya dan bermain game.


"Mas Pras, isih seneng dolanan game?!."


(Mas Pras, masih suka main game?!)


"Hiburan nduk. Alishba wis bobok?"


(Hiburan dek. Alishba udah tidur?)


"He'em, tapi Mbak Britney isih kangen."


(Iya, tapi Mbak Britney masih rindu.)


Pras yang mendengar hal itu, tampak tersenyum manis.


Sang istri yang beberapa hari tidak bertemu dengan anaknya, sekarang sedang mengobati rasa rindunya.


"Mas, aku sabtu balik karo Bu'e."


(Mas, aku sabtu pulang sama Ibu.)


"Iyo, engko tak terke."


(Iya, nanti aku antar.)


Pamela lalu duduk dan mengangkat kaki Kakaknya, menopangkan kaki sang Kakak pada pangkuannya.


"Pijiti nduk!" Perintah Pras dan dia masih sibuk bermain game.


(Pijitin dek!)


Pamela mulai memijit kaki Kakaknya yang sedang asyik bermain game.


"Emange Mas Pras ameh neng Semarang? Teros Mbak Britney piye? Lagi lekasan, mesakke ora ono koncone." Ucap Pamela yang menonton acara TV tapi sambil memijit kaki sang Kakak.


(Memangnya Mas Pras akan ke Semarang? Terus Mbak Britney gimana? Baru hamil muda, kasian nggak ada temannya.)


Pras yang masih menatap layar ponsel, lalu berkata "Aku wis rencana cuti telung dino. Mengko sabtu-minggu prei, senen toko rebo aku cuti."


(Aku sudah rencana cuti tiga hari. Nanti sabtu-minggu libur, senin sampai rabu aku cuti.)


"Teros Mbak Britney karo Alishba, melu?"


(Terus Mbak Britney sama Alishba, ikut?)


"Britney karo Alishba, arep neng Pondok Indah." Jawab Pras.


(Britney sama Alishba, mau ke Pondok Indah.)


"Owh, dadi Mas Pras neng Semarang, Mbake neng Pondok Indah. Tapi kowe balikke neng Jakarta dewean?!"


(Owh, jadi Mas Pras ke Semarang, Mbake ke Pondok Indah. Tapi kamu kembali ke Jakarta sendirian?!)


"Aku karo Rendy. Wonge arep ono urusan neng Semarang."


(Aku sama Rendy. Dia mau ada urusan di Semarang.)


Pamela menjadi lega, lalu teringat tadi waktu kejadian di mall. Pamela mulai berfikir, kalau nama belakang Langit sama seperti Lingga.


"Mas Pras, kenal bojone Vava?"


(Mas Pras, kenal suaminya Vava?)


Pras merasa aneh, tumben sekali sang Adik menanyakan tentang lelaki.


"Lingga? Ngopo? Kowe seneng?!"


(Lingga? apa? Kamu suka?!)


"Hust! Aku takon opo, dijawab opo."


(Hust! Aku tanya apa, dijawab apa.)


"La dengaren, kowe takon wong lanang."

__ADS_1


(Kan tidak biasanya, kamu tanya lelaki.)


Pamela merasa jengkel, setiap ada pembahasan tentang cowok. Sang Kakak yang mengomel.


"Mas Pras sing nglarang aku pacaran." Ucap Pamela, dan sedikit ketus.


(Mas Pras yang melarang aku pacaran.)


Pras hanya mendengar ocehan Adiknya.


"Aku mau ketemu karo cowok. Tapi kok jenenge Mahatma."


(Aku tadi bertemu sama cowok. Tapi kenapa namanya Mahatma.)


Pras lalu meletakan ponselnya, dan dia mulai duduk. Pras kemudian tampak bersila di atas sofa, dan menatap Pamela dengan serius.


"Mahatma? Sopo jenenge?"


(Mahatam? Siapa namanya?)


Pamela lalu menatap Pras dan berkata "Raimu ojo ngono kui. Aku wedi."


(Wajahmu jangan seperti itu. Aku takut.)


"Aku gur takon. Opo sing mbok wedeni?"


(Aku cuma tanya. Apa yang kamu takuti?)


"Mas Pras mesem sik. Ojo serius ngono."


(Mas Pras senyum dulu. Jangan serius begitu.)


Pras mulai memasang senyuman manis, mengelus rambut Adikknya, lalu mulai bertanya "Cah ayu, cowok kui jenenge sopo?"


(Anak cantik, cowok itu namanya siapa?)


"Emms, jenenge Langit Mahatma."


(Emms, namanya Langit Mahatma.)


Pras mulai mengingat, memang Lingga punya saudara laki-laki. Tapi dia belum pernah bertemu Langit. Hanya Limar yang Pras kenal. Pada waktu Vava dan Lingga menikah, Langit juga tidak ada. Jadi Pras sama sekali belum bertemu.


(Tanya Vava. Aku tahunya Lingga punya Adik. Tapi aku belum kenal.)


"Piye aku takonnne. Isin aku."


(Gimana aku tanyanya. Malu aku.)


Pras menatap aneh Adiknya dan berkata "Isin??! Koyok meh ditembung rabi wae."


(Malu??! Seperti mau diminta nikah aja.)


Pamela memukul tangan Pras dan berkata "Aku urung tau pacaran, Mas Pras! Iki goro-goro kowe Mas."


(Aku belum pernah pacaran, Mas Pras! Ini gara-gara kamu Mas.)


Pras tertawa dan berkata "Teros saiki meh pacaran?!"


(Terus sekarang mau pacaran?!)


Pamela dengan ekspresi malu-malu, lalu berkata "Ora, aku gur ngomong tok."


(Tidak, aku cuma bilang aja.)


Pamela berdiri dan beranjak pergi. Pras merasa ada sesuatu yang aneh. Lalu dia mengambil ponselnya kembali dan mulai bermain lagi.


"Langit? Langit Mahatma?! Gantenge koyok opo nduk?! Kowe koyok wong lagi kasmaran."


(Langit? Langit Mahatma?! Tampannya seperti apa dek?! Kamu seperti orang baru jatuh cinta.)


Pras yang tersenyum tengil dan asyik bermain game.


Pamela yang ada di kamar tamu. Tampak duduk, menatap tas ranselnya yang ada di atas meja.


"Ngopo aku kudu telfon wonge?" Batin Pamela dan berganti mengambil ponselnya.


(Kenapa aku harus telfon orangnya?)

__ADS_1


Kartu nama yang masih di dalam tas. Pamela, lalu keluar dari kamar itu. Dan kembali duduk di dekat sang Kakak.


"Mas, geser sikilmu."


(Mas, geser kakimu.)


Pras menarik kakinya dan Pamela mulai duduk. Lalu Pras menopangkan kembali kakinya diatas pangkuan Pamela.


"Mas, sesok aku neng omah dewean?!"


(Mas, besok aku di rumah sendirian?!)


"Ono Britney, sesok Britney neng omah."


(Ada Britney, besok Britney di rumah.)


"Owh, yowes nek ngono."


(Owh, ya sudah kalau begitu.)


"Ngopo? Wedi neng omah dewean?!"


(Kenapa? Takut di rumah sendirian?!)


Pamela yang sedang chat di grup teman kampus, lalu dia berkata "Ora, kan aku iso dolan neng omahe Mamah Sarah."


(Tidak, kan aku bisa main ke rumah Mamah Sarah.)


Pamela sudah sering ke rumah Pras dan ketika semua sibuk kerja. Pamela lebih memilih ke rumah Mamah Sarah yang tidak begitu jauh dari rumah Pras.


"Iyo, neng kono ono Maeva karo Arvez." Ucap Pras dengan santai.


(Iya, disana ada Maeva sama Arvez.)


"Mbak Maeva emange ora neng gone Mas Aksa?"


(Mbak Maeva memangnya tidak di tempatnya Mas Aksa?)


"Jarang neng kene. Aksa sing neng kono."


(Jarang kesini. Aksa yang disana.)


Pamela berfikir, kalau sudah menikah dan menjadi satu keluarga. Tetap ada yang tinggal dekat dengan orang tua. Seperti Putri dan Candra yang tidak jauh dari Pak Heru dan Bu Ningsih.


"Opo aku engko nek wis rabi, bakal koyo Mbak Putri?" Batin Pamela.


(Apa aku nanti kalau sudah nikah, akan seperti Mbak Putri?)


Britney keluar dari kamar Alishba dan sudah pukul 9 malam.


Britney yang mendekati suaminya, dan mengelus rambutnya, lalu bertanya "Mas, kamu mau wedang jahe?"


"Emh, boleh juga."


Britney menatap Pamela dan bertanya "Pamela kamu mau minuman apa? Jahe, coklat? Apa teh?"


"Aku, mau buat sendiri aja Mbak."


Pamela lalu beranjak dari sofa dan ikut Britney ke dapur. Britney mengambil cangkir yang ada di lemari kitchen set atas.


Pamela lalu meletekan ponselnya di atas meja makan, yang tidak jauh dari dapur itu.


"Mbak Britney besok libur?"


"Iya, masih ingin di rumah. Seminggu rumah di tinggal, kotor semua. Besok mau bersih-bersih rumah."


"O iya Mbak, kalau rumah Vava jauh nggak dari sini? Kapan itu Vava telfon, kalau aku masih di Jakarta, disuruh main kesana. Katanya mau dijemput sopirnya."


"Satu jam, tapi kalau macet bisa lebih."


Pamela berfikir lumayan jauh juga dari rumah Kakaknya. Memang beberapa hari lalu, Vava menghubungi Pamela.


Pada saat di Pondok Indah, Vava hanya dengan dirinya. Dia tidak menghiraukan orang di sekitarnya, pada waktu dia di kamar, Pamela dan Bu'e juga sempat mendekati Vava dan membuat Vava tenang. Tapi Vava tahunya, setelah beberapa hari, saat Nat cerita kalau ada saudara Pras, yang datang ke kamarnya saat hari berkabung itu.


"Kamu mau kesana?"


"Iya Mbak, besok aku telfon Vava dulu." Jawab Pamela dengan tersenyum manis.

__ADS_1


Britney sudah membuatkan minuman jahe yang di rebus. Dan Pamela juga tampak membuat coklat hangat.



__ADS_2