
Yuk lanjut! Masih dengan keluarga Mahatma. Semoga kalian suka dengan cerita ini. Tidak ada unsur apapun, bila ada kata-kata yang tidak berkenan. Harap di maklum ya. Terima kasih. 🙏
"Lingga." Panggilnya dengan suara serak dan perlahan duduk di kursi yang ada di ruang baca itu.
Lingga lalu mengunci pintu ruangan itu, dan menekan remot gorden. Tirai itu bergerak ke samping. Ruangan menjadi gelap, hanya ada lampu dinding yang redup. Ruangan kedap suara dan Lingga merasa ada hal yang pribadi.
"Aku mau brankasku dibuka."
"Sudah yakin?!"
"Aku yakin!"
Lingga yang tampak bersedekap dan Limar hanya duduk dengan tatapan dingin. Lingga mulai membalikan badannya dan menatap Limar dengan teduh.
"Lalu?"
"Apa yang akan terjadi?"
Lingga yang menatapnya dengan tanya.
"Aku ingin balas dendam."
"Lalu aku, akan segera pergi."
Suara yang penuh keyakinan, dengan penuh luka mendalam. Rasa harapan manis untuk keluarganya kembali, itu hanya percuma.
Limar dengan penuh harap dan semua tidak sesuai harapannya. Mengetahui apa yang ada, dan dirinya sudah yakin. Mengharuskan dirinya untuk pergi dan menjauh dari Ayahnya, terutama pribadi sang Ayah.
"Berikan kode brankasku. Kamu pindah sahamku atas namamu. Jangan sampai wanita itu masuk ke dalam Mahatma Corporation. Aku sudah relakan Ayah dengannya, tapi aku tidak mau kita kalah. Kita sudah bekerja keras selama bertahun-tahun, aku mau posisi kamu ada di atas Ayah."
"Mbak Limar, kenapa harus begini?"
"Aku tidak mau lagi tinggal di kota ini."
Limar masih dengan tatapan dingin. Seolah padangan matanya hanya ada rasa benci dan emosi. Hanya dendam yang dia pikirkan. Rasanya ingin segera menghancurkan Siska.
"Mbak Limar. Aku tahu, apa yang Mbak Limar rasakan. Tapi pergi bukan hal yang akan membuat Mbak Limar bahagia. Mbak Limar masih akan merasakan luka."
"Pergi, bukan satu-satunya jalan untuk mengakhiri masalah Mbak Limar."
Limar yang masih duduk, dia membasuh wajahnya dengan kedua tangannya, dan mulai berdiri, lalu bertanya "Lalu aku harus bagaimana??!"
"Perusahaan masih membutuhkan Mbak Limar. Aku tidak sanggup menjalankannya sendiri. Mbak Limar sangat tahu bukan, walaupun Ayah presdir, siapa yang menjalankan perusahaan, selain kita berdua."
"Tapi aku."
Limar kembali ke sofa dan tampak mata yang berkaca-kaca. Kedua tangannya meremas sudut sofa yang dia duduki.
"Kemana Mbakku yang dulu?"
"Kemana Mbakku yang selalu semangat?"
"Kemana Mbakku yang penuh percaya diri?!"
"Yang aku tahu Limar Mahatma bukan seorang pengecut. Yang mengakhiri masalah dengan pergi begitu saja."
Limar yang mulai menangis, memang benar yang dikatakan Lingga, tapi hati Limar sudah terluka.
"Kamu benar, aku sudah berubah. Aku bukan lagi Limar Mahatma. Kemarin kamu juga bilang, aku pecundang dan aku_. Ayah tidak akan kembali lagi."
"Ayah masih hidup. Ayah tidak meninggal. Hanya saja, kehidupan Ayah sudah berbeda. Mbak Limar masih bisa bertemu Ayah, dan masih bisa seperti dulu."
Limar yang mulai sesenggukan berkata "Tapi aku tidak bisa, rasanya hatiku sakit."
Lingga perlahan memeluk Kakaknya dan mengelus rambut Limar, lalu dia berkata "Aku akan terus ada disisi Mbak Limar. Mbak Limar harus percaya diri. Aku ingin Mbak Limar tetap ada disini."
"Lingga, aku sudah kalah. Aku sudah menyerah."
"Tidak ada yang kalah atau menang Mbak Limar. Percaya sama aku."
"Aku juga tidak akan berdiam, bila dia bebas berkeliaran. Kalau dia masuk ke dalam perusahaan Mahatma, aku pastikan dia yang akan pergi, bukan Mbak Limar."
Lingga mulai melepas pelukannya. Perasaan sedih Limar mulai redam. Limar mulai tersenyum saat Lingga menggoda Kakaknya.
"Mbak Limar, mau kemana? Mau ke luar negeri?" Tanya Lingga dengan senyuman manisnya dan mengejek Limar.
Seolah mengingat hal lama, Limar pernah kabur ke luar negeri, tapi hanya bertahan sehari saja. Karena Limar tidak bisa tidur, akhirnya dia pulang. Itu dulu, waktu dia masih kuliah.
Limar dengan kesal mencubit lengan tangan Lingga.
"Sementara aku harus pergi." Ucap Limar dan berdiri.
Limar yang menghela nafasnya dengan pelan. Lalu mulai menghapus air matanya.
"Baik, kalau sementara aku tidak masalah. Itung-itung Mbak Limar liburan." Balas Lingga dan mendekati Limar.
"Apa kode brankasku?"
Lingga memenggang kedua lengan Limar. Lalu dia bertanya "Untuk apa?"
"Untuk membunuh dia."
__ADS_1
Lingga dengan tersenyum, lalu dia merangkul Limar.
"Jangan aneh-aneh."
"Mbak Limar pergi saja. Aku akan siapkan tempat tinggal. Mbak Limar mau tinggal dimana?"
"Entah, aku juga belum tahu. Yang jelas, aku harus pergi dulu dari kota ini. Aku ingin melepaskan semua pikiran negatif ini. Aku sudah terlalu naif, dan tidak ingin melihat kebahagiaan wanita itu."
Lingga tersenyum, lalu berkata "Aku mengerti, tapi jangan aneh-aneh. Aku tidak suka."
"Aku boleh pergi ke markas kamu?"
"Untuk apa?"
"Aku ingin bawa mobil kamu. Atau Heli mungkin."
"Iya, nanti Nat akan mengurusnya. Jangan buat aku cemas. Lupakan masalah itu. Bunda saja tidak masalah, dia malah banyak karya lukisan baru."
Lingga menyalakan lampu dalam ruang baca itu. Limar mulai melihat sebuah lukisan hati.
"Itu lukisan Bunda?"
"He'em, itu sebuah hati. Bunda memberikan itu padaku. Sebelum berangkat ke Jogja."
"Kata Bunda itu kita."
"Kita?" Limar mulai mendekati lukisan itu.
"Iya, kita yang selalu ada dalam sebuah hati."
"Hati yang ada di dalam jiwa dan raga Bunda."
"Walaupun saat ini kita jauh, tapi Bunda selalu membawa kita, kemanapun Bunda pergi."
"Aku jadi kangen sama Bunda." Ucap Limar yang masih memandangi lukisan itu.
Lukisan hati itu akhirnya selesai, di saat malam kepergian Limar. Sebuah hati dan perasaan seorang Bunda.
"Pergilah ke Jogja. Bunda disana sangat bahagia. Barusan Langit datang, dia juga ingin menyusul kesana."
"Emms, sepertinya aku harus ke Jogja dulu. Lalu aku bisa pergi."
Lingga kembali memeluk Kakaknya dan berkata "Mbakku cuma ada Mbak Limar. Jadi jangan aneh-aneh lagi."
"Jangan lama-lama perginya. Aku mau jadi Papa. Apa Mbak Limar tidak mau bantu aku merawat anakku?"
"Kamu sudah banyak pelayan dan pengawal, untuk apa aku membantumu. Apa kamu sanggup membayarku?"
"Apa tidak digratiskan untuk ponakan sendiri? Kenapa aku harus bayar?" Lingga menggeleng dan menggoda.
"Adikku sudah pandai menggoda, awas aja kalau kamu juga berani mendua. Aku akan menembak dadamu."
"Percuma, mana bisa? Kodenya cuma aku yang tahu."
"Bisa saja, aku ambil pistol yang ada di orang. Lalu aku pastikan kamu tidak berdaya."
Lingga berkata "Iya, aku juga takut. Aku tidak ingin melawan Ayah. Karena aku tidak tahu apa Ayah rasakan. Aku juga seorang pria. Bisa saja menjadi buta dan hilang akalnya. Tapi aku juga tidak bisa diam saja, kalau Ayah sudah mau mengusik perusahaan yang aku besarkan."
"Kamu benar."
"Mbak Limar, kita tetap saudara. Jangan lupakan aku. Cepatlah kembali."
Limar berjalan dan mendekati rak buku besar, tampak barisan buku yang tertata rapi. Limar mengambil satu buku. "Aku pinjam bukumu. Nanti aku akan kembalikan."
"Itu buku favoriteku."
"Jangan yang itu." Lingga merengek dengan suara kekanakan.
"Aku akan cepat kembalikan. Kamu mau aku pulang kan? Jadi aku harus bawa ini."
Lingga tampak kusut dan Limar mulai membuka pintu itu.
"Buka pintunya."
Lingga mulai menekan tombol di sisi kanan pintu itu "Hemz, ternyata Mbak Limar sama udiknya seperti Vava."
Limar menoleh ke adiknya dan tampak melotot bulat, wajahnya terlihat sangat kesal. "Kamu bilang aku udik?"
"Makanya modern Mbak."
"Mana aku tahu kuncinya beginian."
Limar yang keluar ruangan itu, lalu menghampiri Aldo yang ada di ruang tamu.
Vava dan Nat juga ada di ruang tamu. Mereka bertiga, menunggu yang ada di ruang baca. Tidak ada obrolan di ruang tamu itu. Hanya Vava mengatakan turut berbela sungkawa kepada Aldo.
Limar mendekati mereka "Vava, kamu ada jaket kulit?"
"Ada Mbak." Jawab Vava.
Vava mulai berdiri dan mengambilkan jaket untuk Kakak iparnya.
__ADS_1
Lingga yang bersedekap dan menatap Aldo, lalu dia bertanya "Aldo, apa kamu baik-baik saja?"
Aldo yang masih duduk, lalu berdiri dan menatap Lingga "Iya Bos."
Lingga melihat sorot mata Aldo yang masih tersirat kesedihan. Lalu berkata "Mbak Limar sebaiknya naik pesawat saja."
"Kenapa? Aku bisa sendiri."
Lingga berbisik ke telinga Limar "Aldo sepertinya masih tertekan. Aku cemas. Lebih baik Mbak Limar ke Jogja naik pesawat saja."
"Kalau gitu, beri aku uang. Aku tidak ada identitas apapun."
Lingga tampak melihat hal kacau, lalu pergi ke kamarnya.
"Mbak Limar, kemana dirimu yang dulu?? Masalah hati membuat kamu tidak bisa berfikir jernih. Memang, sepertinya kamu harus pergi dulu."
"Haahft"
Di ruang ganti Vava terkaget.
"Mas Lingga?!"
"Hems, kamu kenapa packing bajumu?"
"Buat Mbak Limar." Jawab Vava dengan santai.
Lingga mendekatkan badannya dan Vava merasa terpojok, lalu tangan Lingga menekan tombol lemari pakaian itu. Tampak pintu lemari putih itu bergeser ke kiri. Tapi tangan Lingga masih lurus dan menghalangi Vava. Tangan kiri Lingga menyentuh rambut Vava dengan lembut. Vava jadi semakin berdebar.
"Vava, tadi Mbak Limar minta apa?"
"Jaket kulit."
"Terus kenapa kamu menata baju untuknya?"
"Aku susah payah telah membelikan kamu baju, kamu memberikan kepada dia dengan percuma."
Vava tangannya tampak berpegang lemari itu, dan dia mulai menunduk.
"Mbak Limar tidak ada pakaian."
"Aku akan memberinya uang, biarkan dia membeli bajunya sendiri."
Vava memandangi sosok suaminya, "Mas Lingga pelit juga. Padahal cuma baju."
Vava menarik bibirnya ke kanan, lalu mengambil jaket, dan dia cepat-cepat keluar dari ruang gantinya.
Lingga menyiapkan semua baju baru, yang belum disentuh Vava. Malah Vava akan memberikan kepada Limar, dan membuat Lingga tersenyum lucu.
"Vava kamu memang unik." Ucap Lingga dan mengambil dokumen pribadi Limar.
Limar menatap Aldo yang masih dengan dirinya sendiri.
Nat sudah di luar, tampak bersandar mobil.
"Kita akan pergi kemana?" Tanya Ruk, lalu melihat ke jam tangannya.
"Ke markas Bos Lingga." Jawab Nat.
Ruk menoleh ke arah Nat, "Apa kita juga akan terus mengikuti Bos Limar?"
"Hanya untuk sementara."
Ruk menggangguk dan masih menatap Nat.
"Sudah, hentikan rokokmu."
"Untuk apa kamu peduli aku?"
"Nat, kamu semakin tua. Tidak bagus untuk fisikmu."
Nat melepas kacamata hitamnya, dan menatap Ruk "Kamu juga semakin tua."
"Tapi aku pria, kamu_"
"Bagiku wanita dan pria sama-sama manusia."
Ruk mulai meninggalkan Nat, dan mengambil botol mineral yang ada di mobil. Ruk meneguknya dengan cepat. Lalu Aldo keluar dan mendekati mereka.
"Kalian tidak perlu mengikuti kita. Aku yang akan menjaga Bos Limar."
Nat yang masih merokok, lalu berkata "Itu memang tugasmu. Tapi kita harus mematuhi perintah Bosku."
"Heeh, yang benar saja. Aku baik-baik saja. Tidak butuh penjagaan apapun."
Tampak kepulan asap putih yang keluar dari mulut manis Nat. Menatap Aldo dengan tatapan tegas, lalu berkata "Heh, kamu pikir aku mau menjaga kamu."
"Aku tahu Nat. Keahlian mana yang aku butuhkan darimu?"
Ruk menyela "Aldo, jangan kau anggap serius ocehan Nat. Yang jelas, kita ingin menjaga Bos Limar."
Aldo tersenyum tipis, tapi memang tampak tidak seperti biasanya. Baru saja Aldo merasakan luka yang amat dalam. Siapapun bisa melihatnya, sorot mata Aldo juga masih tersirat beban luka yang amat dalam.
__ADS_1
"Aldo."
Aldo yang berdiri dengan ketegaran dalam hatinya, perlahan menoleh ke arah suara itu.