PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Kondisi Vava Yang Mengkhawatirkan


__ADS_3

Lanjut lagi ya, pembaca setia Mas Pras. Bukan cerita action. Bukan juga cerita drama, tapi ini hanya haluan suka-suka othos gesrek saja. Terima kasih 🙏.


Golden Mansion sekitar jam 18.29 WIB. Nat yang melakukan treadmill, tampak mengelap keringat. Baru sepuluh menit dia melakukan treadmill lalu Ruk datang mendekatinya.


"Ponselmu dimana?"


"Masih di kamar."


"Kamu mematikannya?


"Ada apa? Kita lagi libur."


Ruk menggeleng, dan berkata "Lekas bersiap. Ada tugas. Bos kita dalam bahaya."


Nat menoleh ke Ruk dan langsung mematikan alat treadmillnya.


Mengambil handuk kecil, dan mengelap keringat dengan cepat. Ke kamar dan berganti baju dengan cepat. Tampak mengenakan celana jeans hitam, kaos tengtop putih dan jaket jeans hitam.


"Aku sudah lama, tidak melihat darah." Batinnya, yang seakan haus akan darah yang mengalir.


Nat sudah terlatih, sudah lama menjadi pengawal kebanggaan APMC (Anggota Pengawal Mahatma Corporation.)


Ruk yang sudah lebih dulu ada di mobil, menghidupkan mesin mobil, Ruk yang berkacamata hitam. Lalu menoleh Nat yang begitu cantik. Rambutnya yang bergelombang, terikat seperti ekor kuda dan memakai kacamata hitam.


"Jalan Ruk."


Di rumah sakit swasta dan tidak jauh dari kawasan puncak.


Lingga yang duduk di ruang tunggu. Tampak melirik seseorang yang mencurigakan.


"Sudah berani menyentuh milikku. Kalau sampai Vava dan bayiku terluka. Aku tidak segan menghabisinya." Batinnya yang begemuruh, Lingga hanya bersedekap.


Duduk menunggu hasil pemeriksaan dokter. Mulai memejakamkan matanya, dan Lingga tahu dari tadi sudah ada orang yang mengawasinya.


"Untuk apa? Siapa dia?"


"Siska?"


"Tidak mungkin dia."


Pikiran Lingga semakin merancu, ada seseorang yang menginginkan dirinya. Semakin memikirkan hal itu.


"Dokter." Ucap Lingga mendekati dokter yang baru keluar dari ruangan.


"Bagaimana keadaan istri saya?"


Dokter itu menatap Lingga. Dari sorot matanya, ada hal yang kurang baik. Lingga sudah tahu apa yang terjadi.


"Maaf Pak. Saya harus melakukan kuret pada istri Bapak. Karena kandungannya sangat lemah, dan janinnya tidak akan bertahan lama. Keadaan istri Bapak juga semakin melemah, kalau tidak segera dilakukan tindakan kuret, akan terjadi keracunan pada tubuh istri Bapak."


Vava sudah mengalami pendarahan saat tadi tiba di rumah sakit.


Lingga juga melihat, ada darah yang merembes, menembus pakaian Vava. Bahkan tadi mengenai tangannya, saat mengangkat Vava ke ruang IGD.


Lingga berusaha tenang, lalu berkata "Tolong lalukan yang terbaik untuk istri saya dokter."


"Kalau begitu, silakan ikut perawat ini ke ruang administrasi, untuk tanda tangan persetujuan tindakan kuret."


"Baik dokter."


Lingga mengikuti perawat yang berjilbab putih ke ruang administrasi.


Di tempat lain, Limar sudah mulai dalam kondisi stabil. Dia sudah tampak segar, tidak seperti tadi yang begitu pucat dan lemah.


"Aldo, gimana Lingga?"


"Dia tadi mematikan telfon. Sepertinya ada sesuatu sama istrinya."


"Maksud kamu?"


"Entah, tadi Bos Lingga sepertinya panik dan mematikan telfonku."


"Terus kamu nggak bangunin aku?"


Limar tampak kesal dan segera melepas selang yang masih menempel di hidung, dan jarum infusnya dia tarik begitu saja.


"Kamu tidak becus." Ucap Limar yang tampak kesal.


Limar bangkit dari ranjang pasien, dan Aldo masih menatapnya.


"Kamu mau pergi?"


"Iya, Lingga dalam bahaya."


"Bagaimana aku bisa tenang."


Seorang perawat yang masuk ke dalam kamar itu, hendak mengecek kondisi Limar, tetapi Limar sudah beranjak dari tempat dia berbaring.


"Suster, maaf. Saya sudah melepas infus saya."


"Terima kasih Sus." Ucapnya, saat perawat mengecek bekas infusnya.


Limar pergi ke ruang administrasi.


Aldo menggeleng dan tidak tahu harus berbuat apa. Yang jelas dia hanya tahu kalau tugasnya menjaga Limar. Tapi dia malah disalahkan.


"Bayar obatnya."

__ADS_1


"Iya."


Aldo lalu membayar semua biaya untuk perawatan Limar.


Limar segera ke mobilnya dan memakai jaketnya. Aldo yang ada di sebelahnya, hanya memandanginya.


"Buruan jalan."


"Kemana?"


"Bukannya kamu tahu posisi Lingga dimana?"


Aldo tampak menggeleng. Limar sangat kesal. Saat ini Limar menilai Aldo sosok pengawal yang tidak bisa diandalkan.


"Kamu APMC. Kenapa nggak ngerti juga Aldo!!" Limar tampak geregetan melihat wajah polos Aldo, yang seolah tidak tahu apa-apa.


"Mana ponsel kamu?"


Aldo menyalakan mesin mobilnya, dan masih belum tahu dia harus berjalan ke arah mana.


Limar yang sudah mendapat kode dari Nat, lalu mengatakan "Ambil arah ke Megamendung."


Limar dengan cepat mengatur semua team APMC. Aldo melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi, jalanan yang berkelok dan menukik tajam tidak menjadi halangan untuknya.


"Dimana peralatan kamu?"


"Peralatan?"


"Iya, yang diberikan ketua APMC saat penempatan kerja kamu."


"Jangan bilang kamu nggak bawa!!" Suara Limar begitu terdengar tajam.


"Owh, kotak itu. Ada didalam tas ransel."


"Kamu cuma bilang owh!"


"Terus aku harus bilang apa?"


"Kalau aku jadi ketua kamu. Kamu sudah aku pecat."


Limar yang masih mengomel, melepas seatbelt, lalu melangkahkan kakinya ke kursi belakang, untuk mengambil tas ransel Aldo.


Aldo paham apa yang terjadi saat ini. Tapi dia masih berfikir kalau dirinya hanya diberi tugas untuk mengawal Limar, sebagai tuan putri keluarga Mahatma. Jadi Aldo tidak berfikir untuk mengatasi masalah lainnya.


Limar membuka kotak hitam dengan logo inisial APMC dan dengan cepat mengambil pistol bercode cxl05.


Pistol buatan luar negeri, tapi sudah ada surat resmi dan perijinan penggunaan senjata itu.


"Limar kamu main-main?!" Tanya Aldo yang melirik Limar dari kaca spion mobilnya.


"Simpanlah, jangan buat aku takut."


Limar sudah memasukan peluru ke dalam pistol hitam itu. Aldo menjadi panik, semuanya ini mengejutkannya.


"Rumah sakit Mitra Surya."


Aldo melihat dari navigasi mobilnya, dan mereka menuju ke rumah sakit itu. Aldo masih memikirkan kalau kejadian ini nyata baginya.


"Apa seperti di film-film?" Batinya yang sebenarnya masih bingung. Hatinya masih rapuh akan kehilangan putrinya, apa nantinya dia akan berperang. Hal yang tidak terbayangkan sebelumnya.


Limar masih duduk di belakang, dan dengan sengaja melihat isi tas Aldo.


"Aldo." Batinnya dengan rasa tidak nyaman.


Mereka sudah tiba di rumah sakit itu.


"Aldo, kamu disini saja."


Aldo mengangguk, lalu Limar menyerahkan pistolnya.


"Bawa ini. Kamu harus waspada!"


"Baik."


Aldo juga menerima ponselnya. Sudah banyak pesan bercode dan Aldo bisa melihatnya. Limar ternyata juga banyak rahasia.


Lingga yang dari tadi, menunggu sang istri tampak duduk bersandar kursi, dan memejamkan matanya.


Suasana yang tidak ada dalam benak Lingga. Dia harus kehilangan bayinya, hari dimana dirinya ingin mengajak sang istri untuk bersenang-senang, tapi ada hal yang membuat mereka menjadi luka.


"Lingga." Panggil Limar yang ada di depannya.


Lingga perlahan membuka matanya, dan ada gurat pahit dalam senyuman Lingga untuk menyapa Kakaknya.


"Mbak Limar." Ucapnya, dengan suara pelan.


Limar duduk di sebelahnya, dan langsung menepuk pundak Lingga.


"Gimana Vava?"


"Masih di dalam."


"Apa yang terjadi?"


Lingga tampak menggeleng dan rasanya enggan berbicara.


Limar mengerti dan dia tidak bertanya lagi.

__ADS_1


Sudah sekitar 35 menit, dokter dan beberapa perawat sudah melalukan tindakan kuret terhadap kandungan Vava. Janjinnya sudah tiada sesaat sebelum tindakan kuret, dan kondisi Vava sangat lemah, dari tadi belum sadarkan diri.


"Lingga."


"Mbak Limar tahu dari mana aku di sini?"


Limar dengan tatapan sendu, berkata "Tadi perasaanku nggak enak, waktu mengambil mobil di Mahatma. Aku melihat Madam Melinda di kantor sama Ayah."


"Entah apa yang terjadi, tapi filing aku nggak enak. Aku ingat, Vava bilang kalau kalian mau ke Villa. Jadi aku lebih dulu tiba disana. Saat aku masuk ke dalam, sudah ada dua orang yang membekap aku."


"Melinda??" Batin Lingga.


Bukan hanya Melinda yang merasa telah disingkirkan oleh Lingga, tapi beberapa petinggi memang tidak suka dengan Lingga.


Lingga selalu berusaha menghalagi jalan mereka, untuk menjalin kerjasama dengan Yuda Mahatma.


"Siska? Melinda?" Atau__" Batin Lingga yang masih berfikir, siapa dalang dibalik kejadian yang menimpa istri, dan bayi yang tidak bersalah itu.


"Aldo ada diluar. Apa ada sesuatu?" Tanya Limar. Dari tindakan Lingga yang sepertinya dia tahu, kalau ada penjahat yang mengikuti mereka.


"Hems,"


Limar juga merasa cemas, apalagi saat ini kondisi Adik iparnya sangat lemah, lalu bertanya "Lingga, apa kamu sudah menghubungi keluarga Vava?"


"Nanti saja Mbak, kalau sudah dipindah ke RS Kasih Maria."


"Kamu akan membawa pulang Vava?"


"Mbak disana aman, ada banyak pengawal kita."


Nat dan Ruk yang sudah menuju ke rumah sakit ini. Mereka di kawal dari pihak kepolisian untuk memberikan jalan, dan mereka juga membawa team medis dari RS Kasih Maria.


"Ya sudah, nanti aku saja yang kabarin Tante Vanesa."


Lingga terdiam, dia teringat kalau Vava menginginkan pulang ke rumah. Andai saja dia bisa memutar waktu. Pasti ini tidak akan terjadi. Biasanya pergi ada yang mengawal dan mengawasinya, tapi kenapa hari ini rasanya seolah memberi kesempatan, untuk semua orang yang ingin melenyapkan Lingga.


"Mbak Limar."


"Iya."


"Aku beri kode brankas Mbak Limar."


Limar menoleh dengan rasa gemetar, tidak biasanya Lingga begini, dan dia dengan cuma-cuma memberi kode brankas Limar.


"Aku akan memberitahu Mbak Limar, tapi aku minta imbalan."


Limar yang masih memandangi wajah Adiknya, dan memegang punggung tangan Lingga.


"Apa imbalan yang harus aku berikan?"


"Aku mau dia, yang membunuh anakku. Aku mau dia." Ucapnya dengan suara pelan, tapi sangat tajam.


Limar memalingkan wajahnya, dan berkata "Baik, aku akan membawa dia kehadapanmu."


"Jangan bunuh dia, aku mau bikin dia hancur dengan caraku sendiri."


Sudah lebih dari satu jam, Limar masih menemani Lingga, yang menunggu di ruang tunggu depan kamar operasi.


Dokter sudah keluar dari ruangan itu, dan satu perawat mendekati Lingga.


"Pak, nanti pasien akan segera dipindah ke ruang inap."


"Biarkan di ruang operasi dulu suster. Sebentar lagi, saya akan memindahkan Adik saya." Jawab Limar yang melihat Lingga masih terdiam. Kalau di ruang rawat akan lebih bahaya untuk Vava. Apalagi Lingga merasa, dari tadi ada yang membututi dia.


Perawat itu mulai meninggalkan Limar, dan Lingga masih terdiam. Vava masih dalam perawatan medis.


Dua orang perawat masih di dalam. Bahkan janin yang sudah berumur 15 minggu itu, sudah siap untuk di makamkan.


"Suster, bagaimana keadaan Adik saya?" Tanya Limar yang mendekati suster yang baru keluar dari ruangan itu.


"Kondisinya sudah stabil. Pasien sudah kembali sadar, tapi memang untuk saat ini harus istirahat dulu."


Limar lalu ke ruang administrasi, untuk mengurus semua biaya dan akan di lakukan pemindahan pasien.


Limar juga mendapat surat dari laborat. Limar yang tidak mengerti hasilnya, lalu dia segera menemui dokter.


"Gimana kondisi Adik saya dokter?"


"Adik anda, kandungannya sangat lemah."


Limar juga sudah tahu. Saat di Jerman, waktu itu Lingga mendapat informasi dari surat medis, soal kandungan Vava yang cukup lemah.


"Iya dokter."


"Apa ada penyebab lain? Sampai Adik saya mengalami keguguran?"


Dokter yang tampak usia 49 tahun, dan memakai kacamata. Wajahnya bulat dan tampak berambut pendek. Kulitnya yang bersih dan terlihat begitu sabar.


"Hasil cek darah menyatakan ada zat aktif dengan kadar tinggi, biasa ada di obat keras, yang bisa menggugurkan kandungan Adik anda."


Limar mulai mengerti, dan dia sangat tahu kalau Vava tidak minum obat apapun, kecuali vitamin dari dokter, bahkan dokternya Vava, dokter pribadi Lingga.


Tadi Lingga sudah mengatakan ada yang membututi dia. Limar dengan segera menuju ke mobil.


"Aldo." Panggil Limar.


Tapi Aldo tidak ada di dalam mobil itu. Limar yang tampak kesal, langsung melihat ke arah seseorang yang begitu mencurigakan.

__ADS_1


__ADS_2