PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Mengusik Perasaan Aldo


__ADS_3

Lanjut ya, ada sedikit drama disini. Tapi ini bukan cerita bawang bombay ya. Harap tidak jadi masalah.


Hesti hanya seorang Bunda, dia juga tidak suka kalau Limar minum sampai mabuk. Bahkan akhir-akhir ini, setelah sang Ayah menikah lagi. Sering sekali menghabiskan waktu di luar dan suka mabuk-mabukan.


Hesti memberi pengawal khusus untuk menjaganya, tapi masih tetap saja Limar seperti itu.


"Aldo, saya tahu. Kamu hanya menuruti perintah Limar. Tapi lain kali, tolong ingatkan dia." Ucap Hesti.


"Baik Nyonya. Tadi saya juga baru tahu." Balas Aldo.


Hesti menatap tajam Aldo, lalu bertanya "Aldo, apa masalah perceraian kamu sudah selesai?"


"Sudah nyonya. Tadi pagi saya sudah menerima surat perceraian saya." Jawab Aldo.


"Maafkan suami saya." Ucap Hesti, dan Aldo mendengarkannya saja.


"Saya dulu tidak tahu kalau Siska sudah berkeluarga, bahkan sudah mempunyai anak. Saya pikir Siska hanya wanita lajang yang tidak memiliki siapapun, jadi jadi merestui hubungan suami saya." Ucap Hesti yang memang apa adanya.


Walaupun dalam hati dan perasaan Hesti, tidak ada satupun orang tahu. Hesti sangat pandai menutup dirinya.


"Nyonya, apa Della? Maksud saya, apa Nyonya Siska sudah memiliki putra?" Tanya Aldo dengan segenap luka yang ada dalam hatinya.


Hesti yang tampak meremas kedua telapak tangan. Menatap sosok Aldo dan berkata "Iya. Bayi laki-laki. Siska baru sebulan lalu melahirkan putranya dan mereka sempat tinggal disini."


"Anak laki-laki." Batin Aldo dengan rasa yang bergemuruh dan rasanya tidak adil untuknya. Apalagi sang istri tega sekali meninggalkan anaknya, yang masih membutuhkan kasih sayang ibunya.


"Aldo, kala itu kesalahan saya. Saya yang mempekerjakan Siska di sini. Hanya saja, saya terlalu iba dan saya tidak memastikan dulu identitas aslinya. Saya sendiri yang membawa prahara di rumah saya. Makanya sampai saat ini, anak-anak saya sangat menyalahkan sikap saya. Termasuk Lingga." Ucap Hesti yang berusaha tenang.


Aldo hanya menunduk dan tidak berkata apapun.


Siska adalah asisten pribadi Hesti sekitar satu tahun yang lalu. Kala itu identitas kerja adalah Siska dan bukan Della.


Lingga tadi pagi juga sudah tahu kebenarannya saat mendapat semua surat pemalsuan data diri dan juga akta lahir bayi itu.


Tapi bayi itu memang anak dari Yuda Mahatma. Tapi Lingga masih ingin test DNA, kalau menginginkan ada nama Mahatma dalam nama bayi itu. Yuda tadi pagi juga sempat bersikap keras terhadap Lingga, yang seolah ikut campur urusan Ayahnya.


Tapi saat ini, Lingga yang berkuasa. Apalagi, jika sang Ayah memasukan nama bayi itu ke dalam saham perusahaan Mahatma.

__ADS_1


"Aldo, saya percaya kamu bisa menjaga Limar. Saya harap kamu tidak akan mengecewakan saya." Ucap Hesti dengan rasa penuh harap.


Aldo yang tampak enggan berkata, karena dadanya terasa sangat sesak, perlahan mengangkat wajahnya dan berkata "Baik Nyonya Hesti, saya akan menjaga Bos Limar dengan baik."


"Aldo, kamu bisa membawa Limar pergi dari sini."


Aldo merasa berdebar dan jantungnya memacu cepat. Apa yang majikannya bilang kepadanya. Aldo tidak mengerti, dan masih mencerca tentang perkataan Hesti saat ini.


Aldo dengan tatapan nanar, dan sangat penuh luka yang tersirahat dalam hatinya itu, mata yang menggambarkan rasa kecewa yang mendalam, lalu bertanya "Maksud Nyonya?"


"Bawa Limar pergi dari kehidupan Ayahnya dan nikahilah dia. Saya hanya ingin melihat kebahagian putri saya." Jawab Hesti dengan perkataan yang begitu jelas.


Kedua tangan Aldo mengepal dan tidak bisa berkata apapun. Jantungnya masih berdebar, apa yang baru saja dia dengar. Sepertinya ini hanya mimpi buruk baginya.


"Menikahi Bos Limar?!" Tanya Aldo.


"Saya tahu ini akan sulit untuk kamu. Tapi saya mau kebahagiaan anak saya. Saya tahu, Limar menyukai kamu. Saya tahu ada perbedaan keyakinan kalian. Tapi saya rela melepaskan putri saya, kalau dia benar-benar bahagia." Ucap Hesti yang seakan runtuh dan merasa tidak berdaya.


Hesti yang membuat jarak antara anak dan Ayahnya. Hesti yang merasa dosa telah menghantui dirinya, dan Hesti merasa telah kalah, dan dia merasa bukan sosok Bunda yang bisa memberi kebahagiaan untuk anak-anaknya.


"Apa kamu bisa memberikan cinta untuk Limar? Apa kamu bisa memberikan kebahagiaan untuknya?"


"Kalau kamu bisa membahagiankannya, kamu bawa dia pergi dari sini sekarang juga." Ucap Hesti yang tersengal-sengal.


Butiran air mata bening itu mulai mengalir dengan lembut. Hatinya tidak lagi sejernih dahulu, rasanya hanya ada luka dan dia hanya ingin melihat anaknya bahagia.


"Saya tahu, kamu masih menata hidup dan mencoba melupakan masalalu kamu. Tapi saya tidak ada banyak waktu." Ucap Hesti.


Aldo seketika menjadi kaget, apa lagi ini. Kenapa rasanya sangat sesak, dan Aldo juga tidak kuat menahannya. Aldo dahulu menginginkan perhatian sang Ibu tapi dia malah terlunta-lunta dan pergi meninggalkan Ibunya karena tidak akur dengan Bapak tirinya. Tapi melihat Hesti yang akan penuh cinta untuk anaknya, Aldo seakan tak berdaya. Rasanya ingin sekali membantunya, tapi Aldo merasa tidak berdaya.


"Nyonya, saya__"


"Aldo, buktikan kamu pria yang hebat dihadapan Siska. Buktikan kamu suami dan Ayah yang hebat dihadapan mantan istri kamu."


Hesti dengan suara yang jelas, dengan air mata yang masih mengalir deras. Rasa luka dalam hatinya, seolah sudah mencair dan dengan segenap rasa cinta untuk putrinya.


"Tapi Nyonya, saya hanya sopir. Mana mampu saya menghidupi putri Nyonya."

__ADS_1


"Aldo, saya akan memberikan saham atas nama kamu. Tanpa keluarga saya tahu. Nanti kuasa hukum saya yang akan menyerahkannya untuk kamu. Asalkan kamu berjanji kepada saya, untuk menjaga Limar sepenuh hati."


Dalam ruangan lukis, dimana Hesti menghabiskan waktunya untuk menyalurkan hobby. Terdapat berbagai lukisan dalam ruangan itu. Aldo yang membalikan badan, dan air matanya juga tidak tertahan, perlahan mengusapnya, kembali menatap Hesti.


"Berjanjilah. Aldo saya mohon." Ucap Hesti.


Aldo masih belum mengerti, apa dia harus menerima tawaran ini. Sebuah perjanjian, dan menukarkan dengan cinta untuk seumur hidupnya.


"Nyonya Hesti. Saya tidak bisa." Jawab Aldo.


"Kamu tidak bisa?"


"Bagaimana mungkin saya menukar perasaan saya dengan sebuah saham. Saya tidak bisa Nyonya." Jawab Aldo.


Limar ternyata menguping pembicaraan sang Bunda dengan Aldo, Limar juga tidak bisa menahan tangisnya dan dia lari ke kamarnya. Dengan tangisan dan mulai memikirkan perkataan Bundanya.


"Apa maksud Bunda? Bunda tidak mau Limar ada disini? Apa Bunda tidak sayang lagi sama Limar?!" Batin Limar yang bergejolak dengan apa yang dia dengar barusan.


"Aldo, saya sakit. Waktu saya tidak lama." Hesti dengan rasa yang bergemuruh dalam hatinya. Hesti tampak meremas sisi dress yang dia kenakan.


Aldo mendengar hal itu, dengan tatapan sendu dan bertanya "Nyonya sakit?"


"Iya, saya sakit. Tapi tidak apa-apa. Saya ingin menghabiskan waktu saya disini. Di ruangan ini. Saya yakin Tuhan akan memberikan kebahagiaan untuk putri saya." Ucap Hesti dengan suara pelan dan Aldo melihat ke sekitar ruangan itu.


Lukisan penuh cinta dan hati. Rasanya Aldo juga tidak bisa mengatakan apapun, dia hanya mendengar sebuah cerita dari Hesti tentang anak-anaknya.


"Aldo, terima kasih."


"Nyonya, saya akan menjaga putri Nyonya dengan cara saya sendiri. Nyonya tidak perlu khawatir."


"Kamu boleh pergi."


"Baik Nyonya."


Hesti merasa lega setelah bercerita dengan Aldo. Rasa cinta dan kasih untuk anak-anaknya. Hesti sangat merasa bahagia. Tidak ada salahnya Hesti berusaha untuk membuat Limar menikah dengan Aldo.


"Kenapa Bunda ingin Limar pergi? Bunda tidak mau ada Limar disini?!" Batin Limar.

__ADS_1


Limar berbaring memeluk gulingnya. Air matanya masih mengalir deras.


Limar mendengar suara pintu kamarnya terbuka, dia memejamkan matanya.


__ADS_2