PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Dalang Dari Semua Kejadian Vava


__ADS_3

Lanjut dari bab sebelumnya ya. Semua akan terbongkar. Ini hanya cerita, bila suka lanjutkan bacanya. Bila tidak, othor tidak memaksa🤭🤗.


Pertemuan di hotel mewah yang ada di kota Jakarta. Waktu sudah menunjukan pukul 19.10 WIB.


"Lingga Mahatma, akhirnya kita bertemu juga." Ucapnya dengan sangat elegan.


Wanita yang begitu menawan, rambut kecoklatan panjang sebahu, kulit putih glowing bak aktris korea. Mata yang bulat dengan bulu mata yang lentik. Bibirnya yang tampak merah merona.


Lingga yang menunduk, dan perlahan menatap ke wajahnya.


"Saya datang untuk istri saya."


Wanita itu mengambil gelas wine, dan mengangkatnya dengan senyuman manis. Mengisyaratkan perjamuan makan malam mereka berdua telah dimulai.


"Silakan dinikmati."


Lingga yang enggan menatapnya, dan semakin geram "Apa mau Tante Serly?"


"Apa mauku?"


Lingga menatap sosok seorang Tante yang berusia sebaya dengan Bunda Hesti. Tapi dia memang menawan, memakai gaun merah dan sangat cantik.


"Aku mau mengambil cinta putriku. Dia telah merampasnya." Ucapnya dengan senyuman tipis tapi sangat berbisa.


Lingga menghembuskan nafasnya, ada rasa sesak dalam dadanya.


"Saya kira Tante sudah tiada. Bahkan Tante sendiri yang meninggalkan Evellyn."


Serly Agretta adalah Mamanya Evellyn dan dia cinta pertama Yuda Mahatma.


Sebelum pertemuan ini, Lingga sudah mencari informasi tentangnya. Akhirnya segera mungkin bertemu. Walaupun cukup berat bagi Lingga Mahatma, untuk menghadapinya.


"Ternyata kamu sangat pandai. Bahkan sangat cepat menemukan aku." Tangan Serly tampak kembali memegang gelas wine, dan menggoyangkannya dengan pelan. Senyuman penuh manis dan sangat misterius.


"Saya tahu dari putra Tante."


"Anak bodoh." Desisnya.


Serly menatap Lingga dengan senyuman manis, aura misteri begitu terpancar.


"Nicholas buta, dia tidak mengerti. Untuk apa dia mencintai gadis yang telah membunuh Kakaknya."


"Bukan Vava yang membunuh Evellyn. Tapi Evellyn sendiri yang menginginkan kepergiaannya."


Serly tampak bertepuk tangan dengan sangat elegan. Lagi-lagi senyuman bak aktris yang memenangkan piala oscar. Tersirat di wajah cantiknya.


"Wow... Putra Mas Yuda memang sangat mirip dengan Mas Yuda."


Lingga mengempalkan tangan kanannya, yang berada diatas paha. Kemudian menatap Serly dengan tatapan tajam.


"Jangan samakan saya."


"Cinta memang sudah membutakan. Dulu kamu yang mencintai Evellyn. Kamu juga ingin balas dendam. Tetapi sekarang, tidak begitu lagi."


"Bahkan kamu sudah terperangkap cinta lainnya, jadi kamu lupa sama apa yang ada dalam hati kamu yang dulu, Lingga Mahatma."


"Saya kehilangan anak saya." Ucap Lingga yang menyudutkannya, dan dia tampak tidak bersalah sedikitpun.


"Memang, aku membuat kekacauan di Paris. Aku pikir akan ada pria hidung belang. Ternyata kamu pria hidung belang itu, Lingga."


"Bahkan aku tidak henti tertawa karena kamu. Kamu sama persis dengan Mas Yuda." Ucapnya dengan tertawa kecil, dan hal itu membuat Lingga terdiam.


Lingga yang merasa kesalahan berawal darinya. Semua tidak terpikirkan oleh Lingga. Vava yang diberi obat saat di Paris, ternyata sudah di atur oleh Serly, bahkan semua ini, seperti digiring oleh Serly.


"Tante, Evellyn meninggal itu karena Jonathan. Bukan karena Vava." Ucap Lingga dengan geram, dan rasanya sudah ingin menghentikan pertemuan ini. Tapi Serly memang berbeda, dia dari dulu lebih lihai dan tidak meninggalkan jejak.


Lingga selama ini menganggapnya telah tiada. Bahkan Ayahnya sendiri, yang mengatakan kepada Hesti dan anaknya, agar mau menjaga Evellyn, karena Mamanya Evellyn sudah tiada.


"Lingga. Kamu tahu, ada rahasia apa aku dengan Ayahmu??"


"Ayahmu tidak tahu aku masih hidup. Evellyn, dia adikmu. Dia adikmu, Lingga Mahatma."


Lingga tampak berkaca-kaca, dari dulu memang mencintai Evellyn, tapi saat ini istrinya tidak bersalah. Jonathan yang membuat Evellyn bunuh diri.

__ADS_1


"Apa yang akan kamu perbuat??"


Lingga memegang gelas wine, dan langsung meneguk dengan cepat.


"Tapi Tante, juga membunuh anakku!"


"Soal itu, aku hanya memberi obat biasa. Dia saja yang terlalu lemah."


Air mata Lingga luruh dengan lembut, rasanya begitu sesak buatnya. Lingga masih menghafal suara Serly dan itu dulu dia masih kecil. Bahkan Serly dulu sempat ribut besar dengan Ayahnya.


Makanya tadi ini dipikiran Lingga, dia memang mengenal suara itu, karena dari dulu Lingga sudah hafal suara Serly.


Akhirnya Lingga mencari tahu. Benar, Serly masih hidup, bahkan sangat sehat dan tidak kekurangan apapun.


"Lingga, Evellyn. Adik kamu. Kamu tidak mau membantu Adik kamu?"


"Dia bukan Adikku." Ucap Lingga dengan menggeleng, dan air matanya tidak henti membasahi pipinya.


"Nicholas juga sama bodohnya seperti kamu." Ucapnya,


"Kamu nikmati saja makan malammu sendiri."


"Kalau kamu mau menuntut Tante, silakan. Tante akan tunggu surat pemanggilannya."


"Kita akan bertemu di pengadilan."


"Kalau sampai semua orang tahu siapa Evellyn, itu karena kamu yang ingin membawa kasus ini ke ranah hukum."


Serly mulai berdiri dengan senyuman sinisnya, dan mulai pergi dari ruang privasi itu.


Lingga masih dengan pikirannya. Semua ternyata karena Evellyn. Sempat Lingga ingin menghancurkan kehidupan Vava seketika itu. Tapi dia mengurungkan niatnya, agar Evellyn merasa damai di tempat terakhirnya.


Saat ini semua menjadi sulit baginya. Bahkan Serly sangat terang-terangan, ingin merenggut kehidupan Vava.


"Lagi-lagi Ayah, apa yang Ayah berikan untuk kita semua."


Lingga merasa dirinya memang bodoh, selama ini dia masih percaya dengan perkataan Ayahnya, bahwa Serly sudah tiada.


Serly hidup di luar negeri, sesekali dia pulang untuk menemui putra manisnya. Nicholas dan juga ada adiknya Nicholas.


"Vava, maafkan aku." Lirih Lingga, yang kembali meminum anggur.


Rasanya sulit baginya. Lingga yang tidak berdaya. Lingga yang menjadi rapuh dan bahkan rasanya sangat menyakitkan.


"Tuhan, aku bersalah." Batin Lingga.


Lingga menangis, dan tidak tahu harus berbuat apa. Rasanya tidak sanggup untuk bertemu Vava.


Dirinya yang membuat masalah. Bagaimana nanti bila istrinya tahu akan kebenaran ini. Lingga tidak akan sanggup memberitahunya.


Pukul 22.07 WIB, di rumah Pondok Indah. Lingga yang berusaha tegar, dan saat ini dia sudah tiba di rumah.


"Mas Lingga."


Lingga memasang senyuman manis di hadapan istrinya.


Vava mendekatinya dan Lingga masih tersenyum.


"Mas Lingga minum? Wine??"


Aroma mulutnya tetap tercium, meskipun Lingga tidak mabuk.


Hanya saja penampilan Lingga sudah tidak rapi lagi, bahkan berbeda dari malam-malam biasanya.


Vava perlahan mulai melepaskan jas suami, dan Lingga masih tersenyum.


"Sayang, kamu kenapa belum tidur?"


"Aku nungguin Mas Lingga."


"Kenapa?"


"Ingin aja."

__ADS_1


Vava yang berusaha melepas kancing kemeja suaminya, yang sudah beraroma wine, lalu dengan cepat Lingga meraih tubuh Vava dan mendekapnya erat-erat.


"Mas Lingga."


"Sebentar saja."


Vava yang ada dalam dekapan suami, dan Lingga merasakan bersalah kepada istrinya.


"Sayang, maafin aku."


"Emm, untuk apa meminta maaf?"


Kedua tangan Lingga memegang wajah Vava dan berkata "Untuk semuanya. Untuk kejadian yang sering menimpa kamu."


"Mas Lingga kemarin bilang, kita harus lupain. Kenapa jadi begini?"


"Iya, aku yang salah."


Vava memeluk erat suaminya dan berkata "Aku juga salah. Aku nggak nurut sama Mas Lingga."


"Sayang, aku ke kamar mandi dulu."


Sekitar 10 menit berlalu, Lingga sudah mengenakan piyama abu-abu tua.


"Kamu kenapa belum tidur juga? Apa jangan-jangan kamu belum minum obat?"


"Ems, aku udah minum obat. Cuma aku belum merasa ngantuk. Entah, aku masih ingin nungguin Mas Lingga."


Lingga mengelus rambut Vava, dan dia pergi memeluk istrinya.


"Sayang, ayo tidur." Ucapnya dengan tersenyum.


Di tempat yang lain, ada sebuah rumah yang tampak biasa dari luar, tapi sangat kesan modern di dalamnya.


"Kamu masih berani menantap Mama?"


"Mama, Nicholas hanya."


Serly dengan senyuman manis mengelus rambut Nicholas.


Nicholas yang tampak murung, ingin rasanya memaki dan mengatakan agar tidak menyakiti Vava, tapi rasanya sulit baginya.


"Nicholas mohon sama Mama, hentikan Ma. Vava tidak bersalah."


Di kamar Nicholas, dan Serly menatap teduh putra manisnya. Sorot mata Nicholas yang berkaca-kaca, sangat memohon kepada Mamanya.


"Untuk apa kamu seperti itu?".


Nicholas adalah anak Serly dengan seorang pria Jepang. Ayah Nicholas masih tinggal di Jepang. Karena itu, Nicholas pernah kuliah dan tinggal bersama Papanya.


Tapi Serly menikah lagi dengan seorang pengusaha, dan mempunyai anak laki-laki. Masih kecil, tapi suaminya meninggal dua tahun lalu.


Jadi Serly pulang untuk meneruskan usaha suaminya. Padahal tadinya Serly menetap di luar negeri.


"Jangan harap kamu bisa meyakinkan Mama."


"Mama, Nicholas kenal Vava. Nicholas sudah sangat mengenalnya."


Serly mencium kening Nicholas lalu berkata "Tidurlah. Mama tidak mau membicarakan dia."


Serly akhirnya pergi meninggalkan kamar putrnya. Dulu Serly sangat antusias ketika Nicholas bercerita tentang Vava dan dirinya di Sekolah. Tetapi setelah beberapa tahun lalu, tentang putrinya yang meninggal.


Akhirnya Serly tidak tinggal diam.


Nicholas duduk di tempat tidur, dan berkata "Lingga sepertinya tidak akan bisa membuat Mama jera. Tapi kalau Mama masih begitu. Nicholas sendiri yang akan menghentikan Mama."


Semburat wajah yang manis dan dalam hati gelisah. Nicholas tahu benar, Vava tidak begitu. Walaupun Nicholas belum pernah bertemu Evellyn. Nicholas yakin, semua hanya salah prasangka. Tapi hati Mamanya, sudah dikendalikan nafsu.



hayoo.... yang main tebak-tebakan benar siapa?? hemms si emaknya Nicholas memang begitu ya, 😌.


Bukan kebal hukum, tapi ya gitu.

__ADS_1


Visualnya Serly, tidak othor kasih. Wajahnya lebih cantik dari Evellyn. Anak-anaknya tampan-tampan. Bayangin aja gimana cantiknya.


Semoga saja dia jera dan tidak lagi berbuat hal keji terhadap Vava.


__ADS_2