PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Ada Yang Tidak Beres


__ADS_3

Masih lanjut ya. Masih bersama dengan keluarga Mahatma. Soalnya Mas Pras pulang kampung sementara. Jadi lanjut ke masalah Lingga dan juga Limar.


"Limar kita ada dimana?" Tanya Aldo yang baru terbangun dari tidurnya. Sudah pukul 5 sore. Aldo yang tertidur pulas, sampai tidak tahu kalau mobilnya sudah berhenti.


"Sudah jam segini. Aku belum sholat ashar." Ucap Aldo.


Kaca mobil yang sedikit terbuka, tapi Limar tidak mengunci mobilnya. Sebuah Villa bak istana. Aldo mengucek-ngucek matanya yang perlahan terbuka lebar, menatap bangunan megah dengan tiang besar dan tampak sangat kokoh.


"Villa? Puncak?"


Aldo masih bingung, padahal tadi Limar mengatakan akan pergi ke Jogja. Tetapi kenapa saat Aldo bangun, dia berada di halaman Villa mewah.


Aldo yang memandangi Villa, bertemu seorang pria yang tampak seperti tukang kebun.


"Punten kang." Ucap Aldo dan pria itu mendekati Aldo.


"Iya Den, ada apa?"


"Ini Villa siapa ya kang?"


Pria yang tampak berkumis tipis dan memakai peci, lalu berkata "Milik Pak Yuda."


"Pak Yuda?"


"Iya, orang Jakarta."


Aldo mulai mengerti, berarti Limar tidak jadi pergi ke Jogja, melainkan pergi ke Villa Ayahnya.


"Atur nuhun kang."


Pria itu lalu pergi, tampak halaman yang luas, dan pemandangan kebun teh, sangat menyegarkan matanya.


"Aku harus sholat dulu." Batin Aldo dan bergegas masuk dalam Villa itu.


Setelah Aldo masuk, tampak sepi. Tidak ada siapapun di Villa itu. Aldo melihat isian perabot yang sama seperti di kediaman Yuda Mahatma.


"Orang kaya, di mana-mana ada rumah." Ucap Aldo, lalu mencari kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Sekitar 10 menit, Aldo menunaikan ibadahnya. Tidak lupa, do'a dia panjatkan untuk putri kecilnya.


"Limar ada dimana?"


"Semua lampu dari tadi menyala. Tapi kenapa sepi begini?"


Aldo menaiki tangga dan ada sebuah kamar yang tampak terbuka. Pintu yang lain tertutup rapat. Ada 6 kamar di Villa itu, dua di lantai atas dan 4 di lantai bawah. Bangunan dengan nuansa putih, tampak klasik dan interior di dalam Villa ini memang tampak lux. Saat melihat ke arah dinding dibagian tangga itu, ada lukisan karya Bunda Hesti. Tampak menempel di dinding itu. Sangat indah dan terkesan mahal.


Aldo yang berada di lantai dua, lalu memanggil "Limar, kamu dimana?"


Suara terdengar menggema, ada pantulan. Karena keheningan dan luasnya Villa itu.


"Limar kamu dimana?"


Aldo mendekati pintu yang terbuka itu, dan mulai masuk ke dalam. Aldo yang masuk langsung terkaget saat melihat Limar.


"Mmmhh."


"Limar." Teriak Aldo, dengan cepat Aldo meraih tubuh Limar.


Limar yang tampak terikat, dan di sekap mulutnya. Aldo dengan panik, rasanya sangat susah melepas tali itu.


"Hah, Hah." Suara nafas Limar yang terengah-engah.


Rasanya sudah terkecik, karena kehabisan oksigen dalam mulutnya. Kain yang menutup mulut Limar tadi seketika dilempar Aldo, dan mulai melepas ikatan yang ada di tangan juga kaki Limar.


"Haaah... Al-do." Suara Limar yang masih susah untuk bicara.


"Ling-ga, Ling-ga."


"Apa maksud kamu?"


"Al-do, tel-fon Ling-ga." Suara Limar yang terdengar terbata-bata. Tapi Aldo juga mengerti.


Aldo dengan cepat menghubungi Lingga, tapi panggilan dialihkan.


"Ssehhh!!"


Aldo berganti menelfon Nat, tapi tidak aktif.


"Limar ayo kita pergi dari sini."


Aldo mengangkat Limar dan rasanya ini seperti mimpi baginya. Apa karena ini, sangat banyak pengawal di perusahaan Mahatma.


Aldo yang pernah menjadi security, tapi tidak seperti ini situasinya. Ini hal yang berbeda. Sangat nyata dan dia dengan perasaan berdebar, harus bisa menghadapi situasi ini.


"Limar, minumlah." Ucap Aldo setelah di dalam mobil.


Aldo mulai bertanya kepada pria tadi, dan pria itu mengatakan kalau ada dua orang yang datang. Yang berpakaian seperti pengawal Pak Yuda.


"Sial, apa ada orang dalam?"


"Limar, tadi siapa yang menyekap kamu?"

__ADS_1


"Aldo, cepatlah telfon Lingga." Lirihnya.


Aldo dengan cepat memutar mobil itu, dan melajukan dengan kencang.


Limar duduk bersandar, tampak pucat.


"Limar, kita harus ke rumah sakit."


"Tidak perlu, mereka cuma menyekap aku. Mereka ingin Lingga." Suara Limar dengan pelan.


Limar lalu mengambil botol air mineral yang ada di sampingnya. Lalu dia mulai minum dengan perlahan.


Aldo menoleh ke arah Limar, "Kamu tidur saja. Istirahatlah."


"Mana ponsel kamu." Ucap Limar yang masih lemas, tapi dia cemas dengan adiknya.


Limar masih lemas, pandangannya juga semakin buram.


Aldo menghentikan mobilnya, di sebuah klinik yang ada di area kawasan puncak. Sudah hampir maghrib, kondisi Limar semakin memburuk.


"Limar, kamu harus kuat." Ucap Aldo yang melepas seatbelt Limar.


"Lingga." Lirihnya.


Aldo yang sudah menenangkan hatinya, perlahan mengakat Limar dari mobil.


Bertuliskan klinik 24 jam, dan rawat inap. Bangunan klinik yang tampak minimalis, dengan cat warna hijau. Suasana yang tampak sepi, di kala sore menjelang maghrib.


"Bagaimana keadaan teman saya Bu dokter? Apa harus diopname?" Tanya Aldo, dengan sangat polos.


Aldo tidak begitu mengerti tentang medis. Yang dia tahu, kalau Limar sangat membutuhkan oksigen dan segera mendapat penangan dokter.


Sekitar setengah jam Limar di sekap. Aldo bersyukur, Limar masih bertahan untuk bernafas.


"Iya, kondisinya sudah stabil. Hanya perlu istirahat."


Aldo tadi mengatakan kalau temannya, mengalami syok. Aldo juga tidak bilang, kalau tadi Limar di sekap.


"Limar, aku tinggal sholat dulu. Sudah adzan maghrib."


Limar yang membuka mata, tangan kanannya menarik lengan Aldo, dan penglihatannya masih terasa buram, kemudian, dia bertanya "Aldo, dimana Lingga?"


Hidung Limar yang tepasang selang oksigen. Punggung tangan kirinya, juga sudah terpasang jarum infus. Cairan infus yang menetes, dan Limar yang tadi sangat pucat, perlahan sudah membaik.


"Iya, aku akan telfon Bos Lingga."


Aldo menghampiri perawat yang ada di ruang depan, lalu berkata "Bu suster, saya titip teman saya dulu. Saya mau sholat."


"Iya Pak, silakan. Di sebelah juga ada mushola."


"Mas Lingga, percuma bawa mobil sport. Aku pikir 2 jam nyampe. Nggak tahunya kita masih disini."


Lingga yang saat ini sedang menelfon seseorang, tampak berdiri jauh dari Vava.


"Maaf, saya tidak sengaja."


"Iya tidak apa-apa."


Seorang wanita, yang memakai jaket sporty, begitu cantik. Rambut panjang yang tampak di curly, dan memakai topi.


"Saya ganti ya."


"Owh, nggak usah. Saya tidak apa-apa."


Vava yang masih berdiri di dekat mini market, karena minuman hangatnya terjatuh saat tersenggol wanita tadi, tas dan jaketnya kena tumpahan coklat hangat.


Vava ke toilet umum yang ada di rest area itu. Lalu berkata "Hems, aku bosan. Mas Lingga tetap saja sibuk sendiri."


Vava yang membersihkan tas dan jaketnya di wastafel, lalu menatap cermin. Melihat dirinya yang pucat tanpa riasan wajah, dengan cepat mengambil lip tint. Memoles bibir imutnya, menjadi kemerahan.


"Mas Lingga menyebalkan." Keluhnya, yang memandangi suaminya dari kejauhan.


Seorang wanita mendekat "Hei. Saya mencari-cari anda dari tadi. Ini saya ganti minumannya."


"Saya nggak apa-apa. Lagian tadi juga udah mau habis." Ucap Vava yang menolak halus.


"Tapi saya sudah membelikannya. Saya buru-buru. Maaf tadi sudah tidak sengaja." Ucapnya dan Vava melihat sorot matanya sangat berharap, pasti merasa tidak enak.


Vava lalu mengambil minuman itu. "Iya, nggak apa-apa, terima kasih."


Wanita itu pergi, Vava lalu mencari tempat untuk duduk. Lalu dia menelfon Britney dan kali ini Vava merasa dia bebas. Tidak seperti biasanya, ponsel yang memegang Nat. Apa-apa harus Nat dan Ruk. Mau jajan juga tidak bisa, pergi kemana-mana, harus dikawal.


"Oke Kak. Pastilah. Kak, udah dulu ya. Mas Lingga udah nyamperin."


"Miss you Kakakku sayang, mmuach."


Lingga mendengar itu, "Kak Britney aja yang dicium. Tapi suami kamu?"


"Suami aku? Dia nyebelin."


"Nyebelin?"

__ADS_1


"Iya menyebalkan. Aku dari tadi ditinggal telfon."


"Sayang, dari pagi aku nggak ke kantor. Ini ada laporan dari pabrik, ada klien juga, terus ada masalah kantor juga. Apalagi Mbak Limar pergi. Dito pasti pusing sendiri."


"Ya udah, nggak perlu dijelasin." Ketus Vava dan pergi begitu saja.


Lingga menggeleng melihat tingkah Vava, yang terkadang masih kekanakan.


Sepuluh menit kemudian.


"Masih jauh?"


"Lumayan."


Lingga yang masih menyetir mobilnya dan ada suara telfon berbunyi. Lingga yang sudah kena omelan istrinya, dan dia mengaktifkan air pods. Tidak biasa dia memegang ponsel sendiri, rasanya begitu risih kalau ada panggilan masuk. Tapi ini dari Aldo, Lingga juga ingin tahu kabar tentang Kakaknya.


"Hemms, iya."


"Terus?"


"Aku baik."


"Kita ke mau ke Villa."


Lingga akhirnya cukup mendengarkan perkataan Aldo. Ada rasa yang aneh, Lingga melihat ke spion mobilnya, dan memang sepertinya dari tadi ada yang membuntuti dia.


"Iya, aku baik-baik saja."


Lingga menekan tombol navigasinya. Lalu mencari jalan lain.


Vava yang di sebelahnya, mulai merasakan yang tidak enak pada dirinya.


"Mas Lingga." Ucap Vava yang sudah berkeringat.


Lingga yang masih mendengarkan Aldo, dan dia menoleh ke istrinya.


"Sayang, kamu kenapa?"


Vava yang memegang perutnya dan tangan kanannya meremas lengan Lingga.


"Perut aku sakit banget, Mas."


Lingga yang tampak panik.


"Aldo hubungi Nat. Ada sesuatu terjadi."


Lingga mematikan ponselnya, dan dengan segera memutar mobilnya.


"Mas perutku sakit banget."


"Sayang tahan."


Lingga berfikir tidak ada yang aneh hari ini, Vava hanya bertemu Mesti. Siapa yang berani mengusiknya.


"Sayang, tadi kamu makan apa?"


Vava yang berkeringat dingin, dan berkata "Aku nggak makan apa-apa."


"Barusan sayang?"


"Tadi aku minum coklat hangat."


"Hanya coklat hangat?" Pikir Lingga tidak jadi masalah.


"Mas Lingga." Lirih Vava yang mulai gemetaran.


"Apa tadi kamu bertemu seseorang?"


"Mas perutku sakit, malah ditanya macem-macem."


"Kamu bertemu siapa selain Tante Mesti?"


Lingga semakin panik, mobil sedan hitam masih mengikuti dia.


"Ada tadi perempuan. Dia nyenggol aku. Terus coklat aku tumpah. Aku ke toilet. Habis itu ketemu dia lagi, terus kasih minuman coklat."


Lingga tidak senang mendengar hal itu.


"Siiaal!! Aku kecolongan."


Lingga menginjak pedal gas dan dengan cepat melajukan mobilnya. Perasaan Lingga sudah panik. Apalagi istrinya saat ini sudah mengandung anaknya.


"Sayang, kamu tahan ya."


Vava yang merintih, keringat dingin. Rasanya tidak kuat menahan perutnya yang sudah panas, seakan ada sesuatu yang membuat perutnya semakin nyeri.


"Mas." Rintih Vava dan matanya mulai menyipit.


"Sayang, sayang."


Lingga dengan segera membawa sang istri ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1


Vava yang sudah tidak kuat menahan rasa sakit dalam perutnya, semakin lemah, keringat dingin yang bercucuran di kening dan leher.


Perlahan tangan yang berpegang lengan Lingga, mulai melemas.


__ADS_2