
Yuk lanjut, masih dengan kelanjutan cerita sebelumnya. Mohon koreksi bila, ada salah penulisan ini. Karena ini hanya haluan suka-suka othor. π
Anak dan cucu Kakek Restu sudah tiba di rumah sakit Harapan Kasih. Tidak hanya Vanesa yang sudah menemani Kakek Restu, tapi Angga dan Zahra juga datang lebih dulu, setelah di hubungi Pak Sakir, sopir yang bekerja di rumah Kakek Restu.
"Vanesa, bagaimana keadaan Papa?" Tanya Abah Ferdi, dengan segala rasa cemas dalam pikirannya.
Ferdi yang baru tiba langsung menemui Vanesa. Sang Adik yang selama ini, telah menemani dan merawat Papanya.
Vanesa dengan raut wajah yang sedih dan kedua tangannya tampak saling meremas. Vanesa juga sangat panik, ketika tadi dirinya mendatangi kamar Kakek Restu, dan hendak memberikan obat untuk Papanya, tapi Kakek Restu sudah tidak sadarkan diri, dan badannya sudah melemas.
"Kak, tadi aku ke kamar Papa. Tapi Papa sudah tidak sadar, aku juga panik. Terus aku sama Pak Sakir, langsung bawa Papa kesini."
Sementara ini, Kakek Restu masih ruang ICU, dalam pengawasan dokter dan perawat. Hasil pemeriksaan saat ini, memang menunjukan kalau Kakek Restu, kondisinya sudah kritis.
Pras tampak terdiam, Evan sedang bertanya tentang kondisi Kakeknya kepada dokter secara mendetail.
Sarah, hanya bisa melihat dari sebuah ruangan, yang ada di sebelah ruangan ICU. Dari balik kaca itu bisa melihat sang mertua yang terbaring dalam keadaan tidak sadar. Sarah saat ini juga di dampingi seorang perawat wanita.
Di sisi lain, di ruang tunggu dekat ruangan itu.
"Om Angga, sudah lama disini?"
"Iya Pras, tadi Om juga langsung kesini."
Pras mulai duduk di sebelah Angga yang masih menunggu dengan perasaan khawatir. Mereka duduk di kursi tunggu dekat ruangan ICU.
"Om belum memberitahu Vava. Kata Vanesa, biarkan saja."
Pras menoleh ke arah wajah Angga, dan berkata "Lingga sudah tahu Om. Tadi, Pras yang telfon Lingga, mereka juga harus tahu kondisi Kakek."
Angga lalu memegang bahu Pras dan berkata "Iya Pras. Om tadi juga bingung. Om tidak bisa mengatakan sama Vava."
Pras lalu tampak terdiam, Zahra juga duduk di sebelah suaminya. Vanesa yang ada di ruang tunggu, juga masih bersama sang Kakak dalam kecemasannya.
"Kak, padahal tadi jam 7 kita masih makan malam. Pak Sakir sama Bibi juga ikut makan sama kita. Terus, ngobrol sama aku, soal kehamilan Vava dan Britney. Sebentar lagi, mau tambah buyut. Kita semua, ngobrol biasa saja Kak. Tapi, tadi waktu di kamar, Papa sudah__"
Vanesa tidak kuat menahan kesedihan, dan Ferdi mulai memeluk Adiknya.
"Kak, tapi kemarin. Papa pergi ke makam Kak Martin. Tidak biasanya, Papa kesana. Aku juga yang mengantar, tapi aku nggak bilang sama Britney."
"Vanesa, sudahlah. Jangan menangis, kita harus yakin. Papa pasti kembali sehat." Ucap Ferdi, tapi dalam hatinya dia sudah sangat sedih.
"Kak, kalau Papa tiada. Aku harus gimana?"
"Hust, apa yang kamu katakan Vanesa!"
__ADS_1
"Kak, aku tidak sanggup kalau Papa sampai pergi ninggalin aku."
"Vanesa, tenanglah. Kamu harus yakin, kalau Papa akan sehat lagi.
Vanesa dengan segala kerapuhan yang ada dalam dirinya, dan dia semakin takut akan rasa kehilangan. Dulu ketika Mamanya meninggal, dirinya masih remaja. Tapi Vanesa cenderung lebih dekat dengan Papanya. Bahkan dari kecil, dia anak yang paling dekat dengan Papanya, apalagi dia anak perempuan satu-satunya. Bahkan segala perilaku dan perbuatannya, sang Papa juga tidak mempermasalahkan, dan selalu memberi dukungan kepadanya.
"Mama." Suara nyaring Vava, dengan cepat menghampiri Vanesa.
Lingga dan Dito ada dibelakang Vava, dan Pras mulai berdiri dari tempat dia duduk, lalu mendekati Lingga yang berjalan ke arahnya.
Angga dan Zahra juga bangkit dari kursinya, saat melihat Vava yang datang sudah dalam keadaan menangis.
"Vava, kamu datang sayang."
"Mama, Kakek. Bagaimana keadaan Kakek, Ma?"
Vanesa dengan air mata yang mengalir, mengelus rambut Vava dan berkata "Kakek, masih belum sadar. Kakek masih di ruang ICU sayang."
Tidak lama, Sarah keluar dari ruangan tadi, dan mendekati Vava yang bersama Vanesa dan Ferdi.
"Vava, apa kamu mau melihat Kakek, sayang?" Ucap Sarah.
"Boleh Mah?" Tanya Vava ke arah Sarah yang mengelus rambutnya.
Vava dengan rasa kesedihannya, dan perlahan berjalan ke ruangan itu ditemani Vanesa.
"Mas Pras, sudah lama?" Tanya Lingga.
"He'em, tadi kita datang langsung lihat keadaan Kakek, sama Bang Evan. Tapi sekarang Bang Evan masih di ruangan dokter." Jawab Pras dengan tenang.
"Ems, tadi Mas Pras telfon. Aku baru mau tidur. Untung aja, Dito juga belum tidur."
"Iya, tadi Dito juga cepat angkat telfonnya."
Dito hanya terdiam di dekat mereka berdua. Sarah dan Ferdi, tampak berbincang dengan Pak Sakir yang baru datang. Tadi setelah Angga datang, Pak Sakir pulang untuk mengambil surat kesehatan dari pemeriksaan terakhir.
Karena saat ini, tempat perawatan Kekek tidak di rumah sakit tempat biasanya Kakek Restu, untuk check-up kondisi kesehatannya. Jadi dokter juga meminta surat riwayat kesehatannya.
Kakek Restu sudah lama menderita pengapuran pada kakinya, dan sudah lama hanya duduk di kursi roda. Untuk kondisi kesehatannya, biasanya hanya tekanan darah yang tiba-tiba naik dan itu memang biasa terjadi. Vanesa juga selalu mengontrol, dan melihat kondisi Papanya.
Britney yang masih berada di rumah Abah Ferdi, dia terbangun dari tidurnya. Alishba tampak memeluk erat sang Mama. Sudah jam 1 dini hari, tapi pikirannya tidak tenang, dan rasa kekhawatiran yang mendalam, membuat dia tadi hanya tidur sesaat.
Perlahan mengambil ponselnya, dan Britney menekan nomor sang suami.
"Assalamu'alaikum Mas," Suara Britney dengan rasa berdebar.
__ADS_1
Pras yang mengangkat panggilan itu, membalas salamnya dengan raut wajah yang gusar. Pras yang masih berdiri di dekat Lingga dan Dito.
"Mas, gimana kondisi Kakek?" Tanya Britney dengan perasaan cemas, suaranya begitu terdengar gelisah.
"Sayang, kenapa kamu belum tidur?" Pras tidak menjawab pertanyaan istrinya, tapi dia malah menanyakan tentang istrinya.
"Mas, cerita dong sama aku, aku gelisah Mas."
Pras mulai menjauh dari Lingga dan Dito, perasaan Pras juga tidak tenang. Sama seperti sang istri, begitu juga dengan yang lain. Semua merasa cemas, dan semakin larut dalam kesedihan.
"Kakek masih di ICU."
Britney hanya mendengarkan dan Pras mulai berkata lagi "Sayang, dokter juga masih mengawasi keadaan Kakek."
"Mas, tidurku nggak tenang. Aku nggak bisa tenang Mas. Aku pengen kesana, aku mau melihat kondisi Kakek."
"Britney, aku tahu apa yang kamu rasakan sayang. Kamu berdo'a saja untuk kesembuhan Kakek."
"Mas, tapi aku nggak tenang, aku harus kesana."
"Sayang, kamu percaya Allah, kamu percaya apapun takdir yang Allah berikan?" Pras dengan suara yang sabar, dan Britney masih mendengarkannya.
"Sayang, mendingan kamu sholat. Kamu do'akan Kakek. Kamu juga harus tenang, kamu lagi hamil. Apa kamu nggak mau menurut sama suami kamu?"
Britney hanya diam, dan tidak membalas perkataan suaminya.
"Sayang, kamu ambil air wudhu dan segera sholat. Kamu do'akan Kakek." Ucap Pras dan Britney masih diam.
"Aku sayang kamu, aku juga nggak mau nantinya kamu jadi sakit."
Britney lalu berkata "Iya Mas, aku tahu. Tapi, Mas jangan lupa kasih kabar aku."
"Iya sayang, kamu nanti cepat tidur ya."
"Iya Mas."
Tidak lama Britney memutus panggilan itu, dan mulai beranjak dari tempat tidur. Dengan segera dia mengambil wudhu dan menunaikan sholat malam.
πΌπΌπΌπΌ
Maaf para pembaca setiaku. Ini hanya secuil cerita dalam bab ini, semoga kalian suka. π€
Terima kasih untuk like, komentar dan vote yang kalian berikan. π
Besok akan diusahakan untuk update kembali π€.
__ADS_1