
Masih kalanjutan bab sebelumnya ya. Tolong baca dengan perasaan santai saja ya✌😂. Tenang ya, Limar bukan pelakor.
Seorang gadis yang berusia dewasa, dengan menatap ke sebuah cermin. Touch up wajah dan memoleskan lips gloss pada bibirnya yang sudah merah merona.
"Bos, terlalu menyala."
Sosok manis yang menatapnya dari sebuah kaca spion yang ada dalam mobil itu, sorot mata coklat yang cukup menawan dengan tatapan teduh.
"Apa aku tidak cantik?"
Limar yang sangat percaya diri, untuk apa bertanya lagi, bahwa dia cantik atau tidak.
Suara Limar yang terdengar merdu, dan siapa yang tidak mengetahui akan kecantikan Limar, sang pimpinan yang tekenal dalam perusahaan Mahatma.
"Bos sangat cantik, tapi..."
Lelaki yang mengendarai mobil itu, masih melirikan matanya, dan memandang dari spion atas. Tapi kenapa dari tadi pandangannya tertuju pada bosnya yang cantik. Seorang pengawal sekaligus sopir ini juga manusia, yang memiliki rasa suka dan mengagumi.
"Tapi? Tapi apa?" Tanya Limar, lalu dia meletakan lips glossnya ke dalam tasnya.
"Tapi, Bos lebih cantik tanpa bermake-up."
Limar lalu menutup cerminnya, dan tampak tersenyum manis. Sang sopir manis itu, juga cukup tersenyum manis.
Aldo Pratama adalah sosok manis, yang dikagumi oleh Limar Mahatma. Tapi Limar sudah berjanji untuk melepaskan perasaannya itu.
"Aldo, kemarin itu siapa? Anak kamu?!"
Kemarin adalah hari libur untuk Aldo, dan dia berkesempatan untuk menyenangkan anaknya yang masih balita.
"Iya Bos, dia anak saya." Ucap Aldo dengan santai.
"Anak kamu cantik."
Aldo tahu kalau bosnya kamarin lewat taman itu, Aldo sangat hafal plat nomor Limar. Apalagi Aldo juga menyimpan daftar kegiatan Bosnya.
"Terima kasih Bos."
Limar menoleh ke arah jalanan ibukota di pagi yang cerah ini. Suasana hatinya lebih tenang dan santai. Sudah lebih dari satu minggu menjadi pengawal Limar, tapi Limar tidak tahu sosok pengawal barunya.
"Pasti istri kamu sangat cantik."
Aldo tampak memiringkan bibirnya, dan berkata "Iya cantik, tapi cantik saja tidak cukup Bos."
Mendengar hal itu, Limar jadi terkaget dan menatap ke arah depan. Melihat sosok yang sedang menyetir mobilnya.
"Apa maksud kamu cantik saja tidak cukup?!"
Limar cukup syok, baru tadi dia bilang kalau sosok Limar adalah Bos yang cantik, tapi cantik saja tidak cukup. Walaupun perkataan itu tidak tertuju pada dirinya, tapi Limar tampak penasaran.
__ADS_1
"Istri saya sudah pergi, saya tidak tahu dia pergi kemana?!"
"Pergi? Lalu anak kamu?!"
"Sudah lebih dari satu tahun saya menunggu, tapi dia tidak kunjung pulang."
"Kamu sudah mencarinya?!"
"Iya, tapi sepertinya dia sudah bahagia."
"Kalian berpisah? Cerai?!"
"Saya sedang mengurus itu Bos."
Limar semakin penasaran tentang sosok Aldo dan keluarganya, apalagi tentang istrinya.
"Terus anak kamu? Dia masih kecil, siapa yang mengurusnya?!"
"Ada Ibu saya. Tepatnya Ibu mertua saya."
Limar tidak habis pikir, Ibu mertuanya yang mengurus anaknya. Bagaimana bisa, hal sangat aneh.
"Terus kedua orang tua kamu?!"
"Ada, mereka tinggal dikampung. Saya disini masih tinggal di rumah mertua saya. Nanti setelah mengurus perceraian saya, sepertinya saya harus pergi. Agar dia mau kembali."
"Lalu apa Ibu mertua kamu tidak keberatan?!"
"Beliau juga keberatan. Tapi mau gimana lagi, yang jelas Allen cucu kandungnya, dan masih tetap akan bersamanya. Walaupun status saya dan putrinya sudah berbeda."
Limar masih bingung dengan rumah tangga Aldo, ternyata ada hal yang seperti itu. Sungguh menyakitkan, tapi Limar hanya memendam perasaannya.
"Semoga ada jalan yang baik untuk kamu dan anak kamu."
Suara Limar berubah sendu, Aldo juga sangat tidak percaya. Bahkan banyak gosip beredar tentang sosok Limar, yang angkuh dan terkenal tegas saat di kantor. Tapi ternyata cukup perhatian terhadap dirinya.
"Iya Bos, terima kasih atas perhatiannya."
"Iya..." Suara Limar terdengar pelan dan mengambil ponselnya, lalu mengirim pesan kepada Nat, untuk mencaritahu tentang sosok Aldo Pratama.
Nat sangat detail dalam pekerjaannya, dia juga memegang arsip pekerja Mahatma, baik pengawal maupun staff. Dia seperti mata kucing yang dapat melihat situasi yang ada dalam kantor Mahatma.
Bukan hanya patuh terhadap perintah Hesti dan juga Lingga. Tapi Nat sangat patuh terhadap Limar, bila diminta untuk mencari informasi penting, tentang staff dan pekerja Mahatma Corporation.
[Baik Bos, nanti saya kirim data lengkapnya ke e-mail Bos Limar.]
Limar tampak menatap jalanan lagi, dan tidak lama, dia sudah tiba di kantor Mahatma.
"Silahkan Bos."
"Terima kasih."
__ADS_1
Aldo yang telah membuka pintu mobil untuk Limar, dan Limar membalasnya dengan manis.
Menatap arah ke depan tanpa menoleh ke belakang. Limar dengan segala wibawa yang melekat pada dirinya. Tidak ada kata menundukan kepalanya, dia bukan wanita yang lemah. Apalagi hanya karena sebuah perasaan, waktu itu hanya sedang mabuk, jadi tidak masalah dia berbuat hal aneh.
"Aldo, aku hanya kagum. Tidak lebih dari hal itu."
Limar tetap pada dirinya sendiri, yang angkuh dan tidak ingin lebih dari rasa menganggumi saja.
"Bos tetaplah Bos. Semangat Bos."
Aldo kembali ke mobil itu dan berjalan ke arah parkiran mobil, yang ada di dalam gedung Mahatma Corporation.
Tadi Aldo hanya menghentikan mobilnya di depan lobby. Sebenarnya bodyguard sudah bersiap membukakan pintu untuk Limar, tapi Aldo sudah mengkodenya.
Aldo baru berkerja dua minggu di kantor itu, tapi dia sudah mendapat julukan nama Bang Jago. Entah, apa yang telah dia perbuat. Yang jelas, dia lebih mudah akrab dan tidak basa basi.
"Selamat pagi Bos."
"Pagi Mila."
Setiba di lobby, Limar sudah disapa oleh Mila, asisten pribadi Limar khusus di kantor. Mila sangat manis, penampilan yang cukup modis, dan rambutnya yang pendek juga tertata rapi.
Mila mengikuti langkah kaki Limar, dia ada di samping kiri Limar. Banyak mata yang tertuju kepada dua perempuan itu.
Tidak lama mereka masuk ke lift utama. Para staff yang lain, tampak melihat Limar yang sangat berwibawa dan sorot matanya yang begitu tegas. Aura yang sangat menunjukan sosok pemimpin.
Setibanya di ruangan Limar, Mila membuka tablet dan memberitahu apa saja jadwal Limar selama di kantor.
"Nanti jam 9 pagi, Bos Limar ada meeting dengan Pak Yuda dan para petinggi lainnya. Bos Lingga juga sudah datang, tadi Dito juga sudah kesini, memberikan arsip ini untuk Bos Limar."
"Iya Mila, terima kasih." Ucap Limar dengan suara tegas, lalu dia bertanya "Apa ada lagi yang lain?"
"Hanya itu saja Bos." Balas Mila.
"Mmh, kamu boleh pergi ke ruangan kamu. Nanti kalau semua sudah hadir, kamu panggil saya."
"Baik Bos." Balas Mila dengan senyuman manis, dan dia bergegas meninggalkan ruangan Limar, sang Bos wanita yang cukup berkuasa di kantor ini.
Limar membuka tabletnya, ada sebuah e-mail yang masuk dan itu dari Nat.
Aldo Pratama, lelaki berusia 31 tahun, dengan tinggi badan 182 centimeter, pria kelahiran Surakarta.
Banyak pengalaman kerja dari bidang keamanan. Aldo pernah bekerja menjadi satpam di sebuah bank swasta, sempat bekerja di team pemadam kebakaran, dan terakhir menjadi pekerja di bengkel mobil.
Aldo Pratama hanya lulusan SMK dibidang otomotif. Pria apa adanya, yang tidak kenal lelah, segala bidang ia jalani sampai sekarang ini.
Keahlian beladiri yang mendapat nilai + (plus), pada saat menjalani ujian test masuk, untuk team pengawalan Mahatma Corporation.
"Apa hanya ini saja? Rekomendasi Mas Pras? Emms, Lingga pasti tahu ini."
__ADS_1