PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Perasaan Manis Berubah Sendu


__ADS_3

Masih berlanjut dengan Mas Pras dan Britney. Please, no baper.


Berbaring dan memeluk sang suami, dengan rasa hangat, mereka dengan perasaan yang sama. Britney tampak menikmati posisinya yang uwenak.


"Mmh, aku udah PW Mas."


"Iya Sayang, aku yang bukain pintunya."


"He'em Mas, mungkin Alishba rewel."


Sudah memadu kasih dengan segala perasaan, dan masih mengobrol santai. Padahal sudah jam 11 malam. Ada yang mengetuk pintu kamar mereka. Pras mulai beranjak dari tempat tidur, dan membuka pintu kamarnya.


"Bang Evan."


Pras dengan tersenyum tengil, lalu bertanya "Bang Evan, ada apa?"


"Kamu tadi sudah tidur?"


"Emh, baru mau tidur." Pras tadi sudah setengah tidur, hampir ketiduran dalam belaian sang istri. Apalagi saat istrinya bercerita, dan merasa seperti dibacakan dongeng.


"Pras, kita harus ke rumah sakit."


"Rumah sakit? Siapa yang sakit?"


Mata Pras seketika menjadi terang, setelah mendengar kata rumah sakit.


Britney yang mendengar suara Evan, lalu dia mendekati sang Kakak yang ada depan pintu kamar itu.


"Britney." Suara Evan tampak sendu.


"Bang Evan, ada masalah apa?"


Kedua orang itu menatap Evan, yang masih berdiri di depan pintu kamar mereka berdua, lalu Evan berkata "Pras kita harus ke rumah sakit. Kakek sakit, barusan Tante Vanesa telfon. Kalau Kakek di rawat di rumah sakit Harapan Kasih."


Britney menjadi tegang dan bertanya "Kakek sakit? Bang, Bang Evan."


Pras langsung memeluk istrinya dan berkata "Sayang, kamu yang tenang. Aku akan pergi sama Bang Evan. Kamu di rumah saja."


"Mas, aku ikut."


"Britney, kamu lagi hamil. Kamu di rumah saja." Ucap Evan dengan tenang.


"Sayang, aku saja yang pergi. Kamu di rumah saja. Kamu jangan cemas."


Pras mengelus rambut istrinya dengan perasaan sendu, Britney yang tidak kuat menahan dirinya, sudah gemetar dan tangannya menjadi dingin.


"Britney sayang." Suara Mamah Sarah, saat menghanpiri Britney dan Pras.


"Mamah, Kakek sakit."


"Iya, sayang. Mamah sama Abah mau ke rumah sakit. Evan dan Pras biar ikut, kamu di rumah saja sayang."


"Mah, Britney ikut ya."


Pras melepas tangannya, dan bergegas mengambil jaket yang ada di gantungan baju.


Evan juga sudah bergegas pergi, dan Mamah Sarah masih menenangkan Britney.

__ADS_1


"Sayang, kamu berdo'a saja. Semoga semuanya baik-baik saja. Kakek pasti sembuh, sayang."


"Tapi Mah, Britney mau lihat keadaan Kakek."


"Britney, kamu yang tenang ya. Mamah pergi dulu."


Britney melihat ke arah Mamah Sarah, yang sudah berjalan pergi dari kamar itu. Pras menatap istrinya dengan rasa sayang, dan mengelus rambutnya, lalu berkata "Sayang, pikirkan hal positif. Berdo'a untuk kesembuhan Kakek. Aku pergi dulu."


Pras yang sudah mengenakan jaket dan mengecup kening istrinya. Britney lalu mengikuti suaminya sampai ke lantai bawah. Ternyata Ghea, Maeva, dan Aksa sudah berkumpul di ruang depan. Mereka juga tampak sendu.


Ghea yang mendekati Britney, lalu memeluknya. "Britney, kamu jangan sedih."


"Ghea,.." Lirihnya


"Kalian jangan nangis dong, Kakek pasti akan sembuh." Ucap Maeva, tapi dalam hatinya yang terdalam, Maeva tidak bisa menahan diri.


Britney yang sudah menangis dan tampak cemberut. Tapi, Maeva tidak ingin melihat adiknya bersedih hati.


"Emm, Kakak." Lirih Britney dan Maeva memeluknya dengan perasaan sedih.


Maeva walaupun rada judes bila dengan Britney, tapi dia tetap menyayangi adik sepupunya. Usia boleh lebih tua Britney setahun, tapi tetap saja Maeva bertindak sebagai Kakak sepupu yang sok dewasa.


"Sayang, aku berangkat dulu. Kamu cepatlah tidur." Ucap Pras berpamitan dengan Britney.


Evan sudah ada di mobil. Abah Ferdi dan Mamah Sarah sudah bersiap untuk segera berangkat.


Mereka semua berjalan ke teras rumah. Britney dan Ghea mengantarkan mereka, sampai mobil itu berangkat dan hilang dari pandangannya.


Maeva dan Aksa kembali ke kamar saat mendengar suara Arvez menangis. Lalu Alishba jadi terbangun dari tidurnya.


"Mama... Mama..." Rengek Alishba dan Maeva lalu menggendongnya, mengajak keluar dari kamar.


"Mama." Suara Alishba yang hampir menangis.


Britney sudah berjalan masuk ke ruang tengah, dan langsung mendekati putri kecilnya.


"Sayangnya Mama." Britney mengambil Alishba dari gendongan Maeva.


"Britney, kamu cepat tidur. Kamu jangan banyak pikiran dulu." Ucap Maeva.


Ghea mendekati Britney, dan berkata "Britney, ayo tidur. Kakek akan sembuh. Jangan banyak pikiran, ingat anak kamu yang ada di dalam perut."


"He'em, aku ajak Alishba ke kamar." Balas Britney dan Alishba yang dengan rasa kantuknya, bersandar di dalam dekapan Mamanya.


Baru saja Britney merasakan perasaan senang, ketika mengingat moment manis bersama suaminya. Tapi, dalam beberapa waktu kemudian, dia menjadi sendu. Bagaimanapun, Britney sangat menyayangi sang Kakek. Karena dari kecil, dia hanya tahu, kalau sosok yang selalu ada untuk dirinya, hanyalah Kakek Restu. Ya hampir seusia Alishba, saat dirinya menjadi anak yatim piatu.


"Sayang, kamu bobok ya." Britney yang sudah di atas tempat tidur, dan memeluk erat putri kecilnya.


Alishba juga membuat dirinya menjadi sosok Mama yang kuat, dan Pras juga selalu menguatkan dirinya, dengan cinta dan kasih sayang.


"Ka-kek,," Suara hati Britney, dengan rasa gelisah dan perasaannya sangat sedih. Batinnya masih menangis, dan Alishba masih menatap Britney.


"Mama."


"Iya sayang."


"Mama, Alishba haus. Alishba mau minum susu kotak."

__ADS_1


Britney lalu tersenyum, dan mengelus rambut Alishba. Perlahan mulai beranjak dari tempat tidur.


"Alishba tunggu disini, Mama ambil susu kotak buat Alishba."


Alishba yang masih memeluk guling, dia hanya mengangguk. Britney yang keluar dari kamar itu, dan saat membuka pintu, masih melihat ke arah sang putri kecilnya.


Di Golden Mansion.


Lingga yang sudah mendapat kabar dari Pras, hanya menatap Vava yang sudah tidur nyenyak.


"Haruskah aku bangunan Vava?" Tanya dalam hati Lingga. Yang tidak tega, untuk membangunkan istrinya yang tampak tidur nyenyak.


Lingga mengelus rambut Vava, dan Vava perlahan merasakan belaian tangan sang suami.


"Emmz, Mas Lingga." Lirih Vava dan memeluk erat gulingnya. Matanya masih terpejam, tapi dia tahu, kalau tangan suaminya sudah mengelus rambutnya.


Lingga yang masih sibuk, dari tadi belum tidur. Hanya bersandar, dan seperti biasa memegang tangan Vava sampai tertidur pulas. Kebiasaan Vava saat ini, hanya itu. Dia tidak bisa tidur, kalau belum memegang erat tangan suaminya.


"Vava..." Ucap Lingga dengan pelan.


Vava yang masih dalam kantuknya, lalu dia perlahan membuka matanya.


"Mas Lingga, ayo bobok."


"Vava..., aku harus pergi."


Vava yang mendengar kata itu, lalu dia perlahan manarik tangan suaminya.


"Jangan pergi, aku takut."


Lingga mendekatkan wajahnya, jari tangannya, masih menyetuh rambut Vava dengan lembut.


Senyuman tipis tersirat dari wajahnya, lalu berkata "Sayang, kamu sangat manis."


"Aaa, Mas Lingga mulai deh!" Rengek Vava dengan suara pelan.


Lingga dengan perasaan tidak enak, lalu berkata "Vava, ada kabar dari Mas Pras. Kalau Kakek sakit. Tadi Mama Vanesa sudah membawa Kakek ke rumah sakit."


Vava tamapk terdiam, hanya saja raut wajahnya berubah sendu. Perasaannya menjadi tidak tenang, dan menatap suaminya dengan tidak senang.


"Vava, maafkan aku. Aku juga baru dapat kabar. Barusan Dito kesini, Mas Pras baru berangkat ke rumah sakit, sama Bang Evan, Mamah Sarah dan Abah Ferdi. Makanya, aku sama Dito mau kesana."


"Aku ikut." Ucap Vava dengan sendu.


"Sudah malam, kamu di rumah saja. Nanti Nat, biar kesini."


"Aku mau ikut."


Lingga tidak bisa menahan perasaan, dia memeluk Vava yang sudah semakin sendu.


"Aku mau lihat kondisi Kakek. Aku harus ikut ke rumah sakit." Rengek Vava dan menangis kencang.


"Ems, baiklah. Tapi, aku nggak suka melihat kamu menangis."


🥀🥀🥀🥀


Yang mau melihat ketengilan Mas Pras bisa datang ke ig othor ya : @vie_gv05

__ADS_1


Ada sebagian video yang bikin traveling. eittss, itu hanya haluan 😂.


Maaf ya, othor updatenya tidak menentu. ✌☺


__ADS_2