
Ini kelanjutan dari bab sebelumnya ya. Maaf, kalau ceritanya semakin ambyar. Othornya tidak tahu kenapa jadi begini. Perasaan semakin bertele-tele. 😌
Ruang tamu di rumah Pondok Indah. Waktu menunjukkan pukul 12.52 WIB. Setelah Vanesa mengobrol dengan putrinya, lalu ada tamu yang datang.
"Nicholas, kamu sendirian. Hanny mana?"
Vanesa sangat mengenal Nicholas, biasanya ada Hanny yang menemani Nicholas, bila berkunjung ke rumah Pondok Indah itu.
Apalagi setelah Vava menikah, belum pernah Nicholas datang sendirian, dia juga tidak enak hati dengan suami Vava.
"Apa Vava ada, Tante?" Tanya Nicholas yang masih berdiri saja.
Tangan Vanesa tampak mengisyaratkan agar Nicholas duduk, lalu dia berkata "Vava ada, baru saja dia tidur."
"Emm, iya Tante." Ucap Nicholas.
Cukup berbasa-basi, apalagi Nicholas sahabat putrinya. Vanesa juga sudah lama mengenal baik Nicholas.
"Gimana kabar kamu?" Tanya Vanesa
"Baik Tante." Jawab Nicholas dengan senyuman unyunya. Tidak ada yang berubah dari diri Nicholas, bahkan wajahnya yang baby face masih unyu dan semakin tampan.
Vanesa tersenyum, lalu bertanya "Kamu mau minum apa?"
"Nggak usah Tante, ini Nicholas cuma mampir aja. Soalnya kata Hanny Vava lagi di rumah sini. Makanya ini tadi jam istirahat, Nicholas sempatin kesini."
"Emm, tapi Vava baru aja tidur. Kamu pasti juga tahu dari Hanny, kalau Vava lagi sakit."
"Iya Tante, Hanny yang cerita sama Nicholas." Ucap Nicholas, tapi kakinya tampak bergoyang, ada rasa cemas. Yang terus menyelimuti pikirannya.
"Kamu mau menemui Vava?" Tanya Vanesa, yang duduk di depan Nicholas.
"Nggak usah Tante, Nicholas juga mau balik kerja lagi."
Vanesa cukup memperhatikan Nicholas. Tapi Vanesa mengerti perasaan Nicholas, yang peduli dengan sahabatnya.
Nicholas, berkata "Kalau gitu Nicholas permisi dulu Tante. Salam untuk Vava. Semoga lekas sehat lagi."
"Iya, nanti Tante sampaikan salam kamu untuk Vava."
Nicholas yang mulai berdiri tampak menghembuskan nafas pelan, lalu berjalan ke luar rumah, dan Vanesa mengantarkan Nicholas sampai ke depan rumah.
"Lingga memang keren."Batin Nicholas.
Banyak bodyguard di rumah itu. Bahkan sebelum Nicholas masuk, dilakukan pemeriksaan pada badannya.
Apa Nicholas membawa senjata tajam atau tidak. Bahkan, selain keluarga Vava yang datang ke rumah itu, pasti di tanya macam-macam.
Dari namanya, apa tujuannya datang ke rumah itu, dan lain sebagainya.
Nicholas yang sudah mengendarai mobil porsche warna silver, dan saat ini perasaannya masih bingung.
"Aku harus gimana?" Perasaan Nicholas yang semakin cemas.
Nicholas yang melajukan mobilnya dengan kencang, dan dia tidak tahu, siapa orang yang akan membantunya. Bertemu Lingga rasanya tidak akan mungkin baginya.
"Pasti dia bisa bantuin aku." Ucap Nicholas, lalu dia mengambil ponselnya, dan menanyakan keberadaan dia saat ini.
Mahatma Corporation jam 16.00 WIB.
"Prasetya." Panggilnya, saat di tempat parkiran mobil, depan kantor Mahatma.
Pras yang baru keluar mobil dan masih memakai kacamata hitamnya. Tetapi wanita itu matanya sangat jeli. Bahkan masih mengenalnya dengan jelas.
"Hai, Ellenor. Apa kabar?"
"Hai, ternyata masih ingat namaku. Aku baik."
Elleanor memandangi Pras dengan senyuman manisnya, Elleanor yang tadinya hendak masuk ke mobilnya, tidak tahunya akan bertemu Pras. Bahkan mobil mereka tampak bersebelahan.
"Siapa yang tidak mengenal nama model terkenal." Ucap Pras yang memang benar adanya.
"Apa kamu sedang menggodaku?" Senyuman Elleanor yang manis dan memang dia sexy dan cantik.
"Mana aku berani." Ucap Pras, lalu membuka kacamata hitamnya dan menyematkan di saku kemejanya.
Pras yang mengenakan kemeja slim warna biru dongker dan tampak badan kekarnya.
Semakin hari, ototnya Pras semakin terbentuk. Tidak kalah dengan Oppa Korea yang baru booming saat ini.
"Pasti, masih takut dengan istri kamu ya?" Ledek Elleanor yang sangat tahu kalau dulu Pras, takut dengan istrinya.
Pras tersenyum manis dan berkata, "Saat ini bukan hanya istri, tapi anakku sangat cerdik."
"Emms, benar. Pasti anak kamu sudah besar."
Pras yang masih berdiri di depannya, bertanya "Anak kamu pasti juga sudah besar."
__ADS_1
Elleanor tertawa, sambil tangannya menutup mulut. Lalu berkata "Anak dari mana? Aku aja belum menikah."
"Bukannya dulu??" Setahu Pras dulu Elleanor sudah punya pria yang sangat serius dengannya. Pras juga baca di sosmed, soal berita dirinya yang sudah foto prewed.
"Itu, nggak jadi. Aku masih single."
Pras yang menatapnya dengan senyum, lalu berkata "Hems, iya. Aku mengerti. Model terkenal, pasti lebih tinggi patokannya."
Elleanor membalas "Patokan apanya? Mana ada level tinggi yang mau sama aku."
Keduanya cukup tersenyum saja.
Elleanor bertanya "Kamu kesini ngapain?"
"Aku mau menemui saudaraku."
Elleanor berfikir, ternyata saudaranya Prasetya ada yang kerja di Mahatma Corporation.
"Oke, ya udah. Aku mau ada urusan lain. Aku duluan ya."
"Iya, silakan. Aku juga sudah ada janji."
Pras lalu berjalan ke pintu utama kantor Mahatma, dan Elleanor masih melihat ke arah Pras.
"Siapa saudaranya?" Gumam Elleanor, lalu dia memakai kacamata warna, dan perlahan mobilnya meninggalkan area parkir itu.
Pras yang datang disambut Dito, dan mereka langsung ke ruang kerja Lingga.
"Mas Pras, silakan duduk."
Pras baru kali ini ke ruang kerja Lingga.
"Ruang kerja kamu. Unik juga."
Pras duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Dito lalu keluar dan Lingga sudah menyiapkan minuman di atas meja.
"Di minum Mas."
Pras mengangguk dan langsung mengambil cangkir keramik hitam.
"Kopi yang nikmat."
Pras yang tidak ingin basa basi, lalu meletakan cangkir itu kembali ke atas meja.
"Lingga, ini soal Vava."
"Iya Mas Pras."
"Tadi Nicholas datang ke rumah. Kamu pasti tahu, aku tadi pagi baru tiba dari Semarang, tadi aku lagi tidur siang. Lalu Nicholas menceritakan tentang Vava."
"Nicholas?"
"Iya."
Lingga yang sebenarnya ingin menutupi masalah kejadian Vava. Tapi sepertinya Mas Pras sudah tahu hal itu.
"Aku sudah tahu apa yang terjadi sama Vava."
Lingga lalu menunduk, rasanya sangat tidak nyaman. Dia sebenernya tidak bermaksud menutupi masalah ini. Tapi Lingga belum berhasil menemukan dalang dari masalah ini.
"Maafkan saya Mas Pras. Sebenarnya memang saya ada masalah. Dan Vava yang jadi korbannya."
Pras tampak serius dan berkata "Vava bukan korban. Tapi Vava sasaran utama orang itu."
Lingga seketika menjadi kaget, dan rasa aneh menghampiri perasaannya. Lalu, kenapa seolah Mas Pras tahu siapa tersangka utamanya.
"Mas Pras, tahu?"
Pras mengambil ponselnya dan ada VN dari Nicholas mengenai orang itu.
Lingga mendengarkan suara itu, dan perkataan orang itu. Tampak kedua tangannya mengepal, matanya yang tampak terkejut. Sangat tidak disangka, bahwa suara itu, Lingga ternyata begitu mengenalnya.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Pras.
Lingga masih berdebar "Bagaimana dia masih hidup?"
"Aku tidak tahu. Nicholas hanya tahu sebatas itu saja."
Lingga dengan dada yang berdebar kencang, rasanya mustahil.
Apa yang akan Lingga lakukan untuk istrinya. Bahkan dia juga yang menjebak Vava di malam pesta itu. Lalu dia juga yang membuat Vava keguguran.
"Mas Pras, apa Nicholas tahu dia ada dimana?"
Pras mengangguk dan berkata "Lebih baik, kamu cari tahu sendiri. Nicholas tidak ingin terlibat lebih jauh."
Lingga mengerti dan berkata "Iya Mas. Tapi aku tidak_"
__ADS_1
"Kamu masih tidak yakin?"
"Bukan begitu."
"Aku juga bingung, aku juga tidak kenal. Tapi dari obrolannya, memang serius. Bagaimanapun, Vava adik iparku. Aku tidak mau melihat istriku sedih. Aku kesini juga menyangkut keluarga istriku."
Lingga yang masih gelisah, berkata "Iya Mas Pras. Aku akan mengurusnya."
Lingga lalu menceritakan detail kejadian dirinya dengan Vava, saat pesta malam di Paris beberapa bulan lalu.
Pras mengerti dan Lingga juga mulai cerita soal kejadian kemarin di puncak.
"Aku mulai mengerti, tapi masalah Limar?" Pras yang mendengar kejadian di puncak. Pantas saja temannya, resah dan mengatakan hal mengenai situasi yang menegangkan.
"Berarti, tujuan gadis bertato itu adalah Aldo." Ucap Lingga.
Pras seketika merasa gelisah. Sampai dia lupa untuk menelfonnya. Ketika Pras ingin menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif. Pras mengira kalau Aldo sibuk bekerja.
"Terus Limar?"
"Masih ada dalam tahanan." Ucap Lingga.
Tak terasa waktu begitu cepat. Menjadi obrolan panjang antara mereka berdua. Sudah mau maghrib Pras lalu pamit.
Lingga mengerti dan Pras berdiri hendak pulang.
"Mas Pras, terima kasih."
Pras mengangguk dan pergi. Pras mulai memikirkan Aldo.
"Aldo kamu dimana?"
Flashback On
Ini pertemuan Nicholas dan Mas Pras di rumah Depok.
"Makanya waktu itu aku tahu Vava hamil. Terus aku ke Jerman, mau menikahinya. Ternyata, Lingga tahu itu anaknya."
"Hems, kenapa kamu baru bilang sekarang." Pras yang memakai kaos oblong putih. Lalu berdiri, dan mengambil ponselnya.
Di rumah, hanya ada mereka berdua.
"Bang Pras mau ngapain?"
"Telfon Lingga lah. Masak telfon kamu."
Nicholas masih gelisah "Bang Pras kesana aja. Pasti Lingga juga nggak percaya kalau cuma ngomong di telfon."
"Ini buat janji dulu sama asistennya. Dia itu kayak Presiden, susah nemenuin dia kalau nggak buat janji dulu."
Nicholas yang duduk di sofa. Kakinya tampak bergoyang. Lalu mengambil minuman kaleng, yang disiapkan Pras untuknya.
Pras yang sudah menelfon ke nomor Lingga.
Seperti biasa Dito yang menjawab telfonnya. Lalu membuat janji bertemu.
"Gimana Bang? Bisa?"
"Bisa. Nanti jam 4."
"Iya ini baru setengah 3."
"Aku mau siap-siap dulu."
"Terus aku?"
"Terserah kamu. Mau ikut aku mandi?"
Nicholas meremas kaleng minuman itu.
"Sepertinya aku memilih orang yang tepat, tapi aku jadi takut pulang."
"Bang Pras buruan mandinya, aku takut sendirian."
"Makanya cari pasangan, biar nggak sendirian." Ucap Pras dengan tengil, bergegas ke kamarnya.
Nicholas yang berjalan dan melihat ke sekeliling ruang tamu, melihat beberapa foto keluarga Pras.
"Bang Pras, semoga bisa bicara sama Lingga. Aku nggak mau, kalau Vava sampai terluka lagi."
Nicholas menceritakan hal kejadian Vava waktu di Paris.
Vava jadi keguguran karena seseorang, yang saat ini masih tinggal bersama Nicholas.
"Apa aku akan jadi durhaka??"
Flashback Off.
__ADS_1
Siapa dia? Kenapa Vava? Apa tujuannya? Kalian akan segera tahu siapa dalang sebenarnya.