
Lanjutan dari bab sebelumnya ya. Harap tenang ya, tidak ingin membuat salah prasangka. Semoga kalian menerima apa yang ada. Karena ini, hanya haluan othor gesrek saja.
"Hai,." Limar melambaikan tangan kirinya dan tersenyum manis. Pandu yang membuka pintu cukup terpana.
"Mbak Limar." Balas Pandu.
"Apa, Mas Pras ada?"
Limar sambil jarinya seolah mengarah ke lantai bawah. "Tadi aku udah ijin resepsionis depan."
Pandu tersenyum manis, lalu berkata "Silahkan, Mas Pras baru saja datang."
Limar dengan wajah malu dan tampak tersenyum. Pandu melihat Limar yang terlihat berbeda. Dia memakai atasan batik dan celana jeans.
Saat tadi mau berganti gaunnya yang kemarin, ternyata bau minuman alkohol. Jadi, dia terpaksa memakai baju batik yang dia mode sendiri, lalu dia juga meminjam celana jeans Aldo.
"Ada apa dengan Mbak Limar?!" Batin Pandu yang cukup mengenal Limar. Sosok Bos yang arogan dan sangat perfect. Tapi kali ini Limar sangat tampak berbeda dari sebelumnya.
Saat terakhir Pandu bertemu Limar, masih sangat glamour.
"Pagi Mas Pras."
Pras juga tampak kaget dengan apa yang Limar kenakan pagi ini. Atasan batik santung yang sebenarnya seperti baju tidur Britney, tapi Limar berani memakainya di tempat formal.
Pras yang masih tertegun "Silahkan duduk."
"Mas Pras aku datang tidak formal. Karena ini pribadi."
Aldo dari tadi ada di belakang Limar. Kemudian ikut masuk, dan sejenak menyapa Pandu.
Pras yang belum mengerti maksud dan tujuan Limar datang. Hanya tersenyum aneh dan memandangi Limar yang unik pagi ini.
"Pagi Bos Pras."
"Aldo...." Balas Pras.
Pandu menutup pintunya dan melihat keanehan yang ada. Aldo juga tampak santai dengan kaos pendek warna biru dongker.
"Ada apa ini? Tumben." Ucap Pras yang masih duduk di kursinya, dan dengan santai dia masih menatap Limar yang berbeda.
"Mas Pras aku datang kesini, atas rekomendasi Lingga."
"...." Pras masih bingung.
"Emhh, jadi begini Mas Pras. Aku butuh orang yang bisa menikahkan aku sama dia."
"Hemms." Pras memasang mimik wajah bingung.
Limar menoleh ke Pandu dan bertanya "Pandu, kamu tetangga Aldo?"
Pandu mendekati Limar, dan berkata "Bukan Mbak, dulu dia tetangga Rahma. Sekarang udah lama di Jakarta."
"Kamu kenal siapa Aldo?"
"Kenal, kan rumahnya yang di Semarang, dekat rumah mertuaku." Jawab Pandu.
Pras hanya melihat ke arah Aldo yang tampak menatap Pras. Seolah Aldo sedang menggeleng dan berharap kepada Pras, untuk tidak mendengar omongan Limar saat ini.
"Mas Pras, aku sudah di culik dia."
"Di culik?" Ekspresi Pras terkaget, tapi tengil.
Limar berdiri dan menunjuk ke Aldo, "Mas Pras, aku mau mualaf, dan mau menikah sama dia."
Pras yang menatap kedua orang itu, dengan bingung. Pras tidak mengerti, Pandu juga heran dengan sikap Limar.
__ADS_1
Pras masih dengan rasa heran,
"Tunggu!"
"Aku masih bingung." Ucap Pras dengan santai.
"Mas Pras, jadi begini. Aku kesini atas sarannya Lingga, untuk pernikahan aku. Aku sekarang ini nggak ada keluarga. Aku udah tidak tinggal di rumah lagi. Terus aku harus menikah dengan dia. Siapa yang akan menikahkan aku?"
"Ayahmu."
"Ayahku? Dia__"
Pras lupa kalau Limar dan Aldo berbeda keyakinan. Lalu dia berkata "Aku tidak tahu, coba kamu tanya saudara kamu."
"Bukannya Mbak Britney dulu juga mualaf? Lingga tadi bilang begitu, makanya aku disuruh kesini sama Lingga buat tanya sama Mas Pras."
Pras mulai mengerti situasi ini. Pras menatap Aldo.
"Aldo, kamu melamarnya?"
"Belum! Aku baru resmi cerai."
"Terus?"
"Ntahlah, aku sendiri juga bingung. Yang jelas, aku harus menjaga Limar."
Limar kembali duduk dan menatap Pras "Nah, Mas Pras dengar sendiri kan?! Semalam bahkan kita tinggal bersama. Bukannya kita harus menikah. Dia bahkan berani bawa aku pergi dari rumah Ayahku."
"Emms, kalian sudah tinggal bersama. Ya.... Kalau gitu, kalian harus menikah." Ucap Pras dengan santai, tapi Pras juga masih bingung harus memberi saran bagaimana.
"Pandu, Mas Rendy mana? Aku mau tanya-tanya sama dia soal Aldo."
"Mas Rendy ada di ruangannya. Mau aku antar kesana?"
Limar berdiri dan berkata "Aldo, aku harus tahu tentang kamu!!"
Pras dengan wajah yang penasaran menatap Aldo, yang ada di depannya.
"Pras." Aldo tampak menggeleng.
"Bajinduul." Seloroh Pras yang sama seperti Rendy, ketika berkata kotor dan saling memberi candaan. Tapi itu hanya ejekan para cowok ketika bersama.
Kedua orang yang saling menatap, Pras mulai penasaran dan Aldo perlahan tampak wajah yang serius.
Aldo dengan sendu, berkata "Pras, aku wis ketemu Della."
(Pras, aku sudah bertemu Della.)
Pras dengan tatapan normal, dia bertanya "Teros? Kowe dijak balen?"
(Terus? Kamu diajak balikan?)
"Aku wis resmi cerai, atiku wis kadung loro Pras."
(Aku sudah resmi cerai, hatiku sudah terlanjur sakit Pras.)
Kedua tangan Pras saling meremas di atas meja kerjanya, dan sedikit menggigit bibir. Ada rasa yang tidak nyaman, kalau mendengar kisah hidup Aldo.
"Pras."
Aldo yang berusaha tegar, dan lanjut berkata lagi, "Bojo enom'e Pak Yuda kui Della."
(Istri mudanya Pak Yuda itu Della.)
Pras tahu kalau Pak Yuda memiliki istri muda, tapi namanya Siska. Saat Lingga pertama bertemu Pras, Lingga juga cerita itu, kalau Ayahnya telah menikah lagi.
__ADS_1
Britney juga tahu dari Vava sebelum pernikahan Vava dan Lingga. Tapi Pras dan Britney tidak tahu kalau itu Della. Pada waktu itu, Della yang dikenal Siska juga tidak tampak hadir di pernikahan Vava dan Lingga.
"Teros, kowe arep balas dendam?! Saiki nyulik Limar?"
(Terus, kamu mau balas dendam?!Sekarang culik Limar?)
Aldo dengan tatapan serius berkata "Ora mungkin aku wani Pras. Anakke uwong, ora ngono maksudku. Tapi Bundane Limar wis pasrah. Titip Limar neng aku."
(Tidak mungkin aku berani Pras. Anaknya orang, tidak begitu maksudku. Tapi Bundanya Limar sudah berserah. Titip Limar ke aku.)
Pras mendengarkan saja, dan menatap Aldo dengan teduh.
"Aku yo bingung, tapi aku iso opo? Aku krungu ceritone Bundane Limar neng ati loro Pras. Malah Bundane njaluk ngapura karo aku, soal Pak Yuda wis ngrabi mantan bojoku. Ndekben urung mantan, saiki wis mantan."
(Aku juga bingung, tapi aku bisa apa? Aku dengar ceritanya Bundanya Limar di hati sakit Pras. Malah Bundanya minta maaf sama aku, soal Pak Yuda udah menikahi mantan istriku. Dulu belum mantan, sekarang sudah mantan.)
Pras memalingkan wajahnya, ada rasa yang membuatnya berfikir tentang sosok Ibu.
Pras juga mengenal Hesti Maheswari saat pernikahan Lingga dan Vava, Pras bahkan mendekati Hesti, yang kala itu hanya berdiam saja dan masih tidak suka dengan perbuatan Lingga.
"Teros, kowe arep ngrabi anakke Pak Yuda Mahatma?"
(Terus, kamu mau menikahi anaknya Pak Yuda Mahatma?)
"Aku isih bingung Pras. Tapi aku wis janji, karo Bundane Limar. Aku kudu njogo Limar sak lawase."
(Aku masih bingung Pras. Tapi aku sudah janji, sama Bundanya Limar. Aku harus menjaga Limar selamanya.)
Aldo tampak berkaca-kaca dan Pras mulai mengerti dengan keadaan ini.
"Bundane Limar, sakit kanker stadium akhir Pras. Nek iso aku kudu cepet ijab, teros budal neng Jogja."
(Bundanya Limar, sakit kanker stadium akhir Pras. Kalau bisa aku harus cepat akad nikah, terus berangkat ke Jogja.)
Pras merasakan apa yang Aldo rasakan saat ini. Pras mengingat kata-kata Hesti saat acara pernikahan Lingga dan Vava.
"Hidup hanya sekali, menikah hanya sekali, sampai maut memisahkan." Ucap Hesti saat melihat Vava dan Lingga.
Pras dan Britney, saat itu juga mendengar ucapan Bunda Hesti.
Tampak dari raut wajah yang gusar, sepertinya Bunda Hesti memang menyembunyikan sesuatu.
"Limar wis reti?"
(Limar sudah tahu?)
Aldo hanya mengangguk dengan raut wajah yang sedih, dan sorot matanya juga sangat terlihat jelas. Pras juga ikut merasakan, bagaimana perasaan Aldo saat ini.
Aldo menceritakan apa yang ada, saat Bunda Hesti bercerita kepadanya.
"Bu Hesti mengidap kanker."
Sebenarnya Bunda Hesti juga sudah berjuang melawan penyakitnya, tapi sekarang sudah mulai pasrah. Keadaan yang memaksanya untuk berserah diri.
Hanya satu yang dia harapkan, bukan kesembuhan dirinya. Melainkan melihat anak-anaknya hidup bahagia.
Terutama kebahagiaan Limar Mahatma, karena anak perempuan satu-satunya. Kalau Lingga dan Langit, Bunda Hesti tidak terlalu memikirkannya.
Sudah lama Bunda Hesti ingin Limar menikah, tapi Limar selalu mengatakan, kalau dia tidak ingin menikah, dan akan terus tinggal bersama sang Bunda.
Pras tampak menghela nafasnya, rasanya juga ikut berdebar.
Hal yang Pras pikirkan adalah seorang Ibu, yang berharap melihat anaknya bahagia. Pras jadi teringat sama Bu'e.
"Pak Yuda?"
__ADS_1
Aldo tampak menggeleng, dan tidak bisa berkata apapun. Aldo bercerita, sebatas yang dia tahu.