PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Perasaan Britney Saat Ini


__ADS_3

...☘Hati menepi untuk mengiringi,...


...dengan cinta saat kepergiannya☘...


Satu minggu kemudian, di Pondok Indah. Waktu menunjukan jam 7 pagi, tapi Britney hanya duduk dan menatap cermin.


Satu minggu sudah berlalu, kepergian sang Kakek tercinta, membuat Britney menjadi sosok yang pendiam.


"Sayang."


Britney hanya diam, dengan perasaan yang tidak senang.


"Kamu masih marah sama aku?"


"Sayang, maafin aku. Aku tahu, aku salah. Tapi aku suamimu, aku juga nggak mau, kamu jadi sakit."


Britney masih menyesal, seandainya malam itu dia ikut ke rumah sakit. Pasti dia masih bisa melihat Kakek untuk yang terakhir kalinya. Tapi semua orang melarang dia untuk ikut pergi, dan saat ini Britney juga masih tampak terdiam. Padahal sudah satu minggu berlalu, dan sang suami juga masih membujuknya.


Dua hari setelah kepergian Kakek, Britney juga mendapat perawatan dokter di rumah sakit Cinta Bunda. Kondisinya menurun dan sangat lemah. Apalagi dirinya sedang mengandung. Walaupun biasanya dia sangat kuat, tapi karena hatinya dalam kesedihan, dan merasa kecewa, dia tidak mau makan, tampak diam saja, dan dia tidak mau berbicara dengan siapapun, bahkan dengan sang suami.


"Aku mau ke kantor Mas." Lirih Britney dengan suara pelan.


"Iya, tapi kamu_"


Pras dengan segala perasaannya, dia tahu kalau Britney masih menyimpan rasa kecewa terhadap dirinya, dari sorot mata dan sikap istrinya saat ini, sangat terlihat jelas, kalau istrinya memendam rasa kecewa padanya.


"Tapi apa Mas?" Tanya Britney dengan suara yang datar.


"Iya, kamu boleh ke kantor. Nanti aku yang antar kamu."


Britney hanya diam, kembali menatap cermin, dia mulai mengambil cream wajahnya, perlahan sudah mulai memoles wajahnya. Raut wajah yang tidak enak dipandang, dan perlahan senyuman kecil tersirat pada wajah cantiknya. Pras yang melihat itu, rasanya sangat berdebar, dan Pras masih berusaha untuk membuat istrinya kembali sehat.


Pras sudah melihat senyuman itu, tapi dia masih khawatir dengan kondisi istrinya yang masih belum stabil.


"Mas, nanti kita pulang ke rumah. Aku kangen Alishba."


Pras mendengar perkataan itu, hatinya sedikit lega. Akhirnya sang istri sudah mulai kembali, tidak dalam hati dan perasaannya sendiri.


"He'em, nanti kita pulang. Alishba juga kangen sama kamu." Ucap Pras yang berdiri disisi kiri Britney, tangan kanan Pras mengelus rambut lebat istrinya.


Selama satu minggu, Alishba bersama Maeva dan Mamah Sarah, mereka yang mengurus Alishba. Selama Britney masih belum stabil, dari kondisinya, Alishba cukup dijauhkan dari Britney. Apalagi Pras juga sangat sibuk mengurus istrinya, dan kemarin mengurus surat-surat kantornya.


Semenjak kepergian Kakek Restu, sang pemilik perusahaan RM. Pras dan Evan yang mengurus segala aset perusahaan dan dibantu oleh kuasa hukum pribadi Kakek Restu. Banyak hal yang harus di selesaikan, dan semuanya masih dalam proses.


Tidak hanya tentang perusahaan, tapi juga aset pribadi Kakek Restu, yang masih atas nama Kakek. Semua sudah dalam proses penyelesaian.


Vanesa juga masih dalam dirinya, tapi Evan dengan cepat mengurus segala sesuatu tentang surat-surat yang ada, tidak ada hal kecil yang tertinggal, dan Vanesa tidak masalah tentang itu.


"Mas, apa masalah kantor sudah selesai?"


"Belum sayang, masih diproses. Bang Evan yang mengurusnya."


"Terus, apa akta perusahaan itu akan dibagi?"


"Iya, sesuai dari wasiat yang ditulis Kakek."


Britney yang tadinya memegang lipstik, lalu meletakan kembali dan menatap suaminya dari cermin itu. "Aku nggak setuju. Kenapa, harus dipecah. Harusnya atas nama Abah saja."


"Aku juga nggak tahu soal itu, aku cuma mengurus surat-surat yang ada di cabang, sama Om Jonny, kalau itu urusan Bang Evan. Itu semua juga sesuai wasiat itu, Lingga juga ikut melihat, kalau itu memang tulisan tangan Kakek."

__ADS_1


Lima bulan yang lalu, Kakek Restu, sudah memilih kuasa hukum untuk perusahaan, dan sudah menulis nama ahli waris perusahaan. Bukan hanya nama Abah Ferdi dan Evan, tapi ada nama Britney dan Vanesa yang mendapat saham dari perusahaannya.


Britney tampak meremas sisi dress yang dia kenakan, nafas dengan jantung yang berdetak cepat, ada rasa yang tidak nyaman. Rasanya Britney ingin menangis dan berteriak, tapi dia cukup menahannya.


Pras yang melihat itu, dan dia mulai mendekatkan wajahnya.


"Sayang, menangislah. Jangan kamu tahan, aku tahu apa yang kamu rasakan. Kamu juga bisa marah sama aku."


Britney memang tidak bisa menangis kala itu, dia tidak bisa meluapkan rasa sedih yang ada dalam perasaannya.


"Mas."


Suara Britney terdengar pelan, matanya semakin memerah, perlahan air mata itu mulai menetes, rasa berdebar dalam dadanya memang tidak tertahan lagi.


"Mas Pras,..." Britney berdiri kursinya membalikan bandannya, dan langsung meraih tangan suaminya.


Pras mulai memeluk istrinya yang sudah mulai menangis tersedu-sedu.


Suara tangisan Britney sangat pilu dan tersengal-sengal, Pras juga tidak kuat menahan dirinya, Pras juga menyesal, kenapa malam itu dia tidak mengajak istrinya, dan malah melarangnya pergi. Pagi subuh itu membuat Britney menjadi lemas, kabar duka itu membuat Britney tersungkur di atas sajadahnya.


"Sayang, maafin aku."


"Mas, Mas Pras. Kakek sudah pergi Mas." Britney memeluk erat suaminya. Suara tangis Britney yang sangat kencang.


Kedua orang yang dalam kerapuhan, dan kesedihan itu mereka berdua rasakan.


Suara tangisan Britney membuat Ghea yang tinggal dikamar sebelahnya, menjadi ikut menangis.


"Sayang, Britney menangis."


Evan yang masih berada di kamar juga mendengar suara tangisan dari adiknya, dan dia berkata "Biarkan saja, biar dia lega."


"Mas, maafin aku." Perlahan Britney sudah merasa lega.


Pras mengelus rambut istrinya dan masih memeluknya erat.


"Ems, kamu tidak salah. Aku yang salah."


Britney melihat jelas raut wajah suaminya, dan perasaan Britney perlahan menjadi tenang.


"Mas, aku kangen Alishba."


"He'em, kita pulang ya. Kita jemput Alishba."


"Tapi, Alishba pasti ke sekolah."


"Iya, tadi Maeva sudah telfon. Dia bilang, mereka mau berangkat ke sekolah."


Pras mencium kening istrinya, dan Britney merasakan ketulusan kasih sayang suaminya.


"Ya, udah. Kita ke kantor dulu. Nanti sore pulang ke rumah." Suara Britney pelan dengan air mata yang masih mengalir.


"Iya, nanti kita pulang ke rumah." Ucap Pras.


Pras perlahan melepas pelukannya dan Britney menunduk, lalu mengelus perut yang masih terlihat datar itu.


"Sayang, maafin Mama."


Pras tersenyum melihat istrinya yang telah kembali sehat. Bagaimanapun Britney sempat terpuruk dalam kesedihannya. Dan membuat Britney sakit, bukan hanya sakit fisiknya, tapi batin Britney juga sakit.

__ADS_1


Pras kembali memeluk dan mencium kening istrinya "Mama yang hebat."


Britney yang menangis, perlahan mulai tersenyum, lalu berkata "Ini juga berkat Papa yang keren."


Pras berkata "Nah gitu dong, kamu harus ngobrol sama aku, masak aku dicuekin terus."


Britney menunduk dan berkata "Ems, suamiku bikin aku kecewa."


"Iya sayang, aku tahu."


"Jahat!"


"Iya aku jahat."


Pras yang tersenyum dan memeluk erat gemas istrinya. Briteny masih dalam tangisannya, tapi perlahan hatinya juga merasa lega, bahkan dia merasa nyaman dalam cinta dan kasih sayang suaminya.


Pras yang masih memeluknya dengan gemas dan Britney mencubit pipi suaminya, "Mmh, Mas Pras nakal."


"Iya, aku nakal. Kalau aku nggak nakal, kamu masih diam saja. Lebih baik kamu ngomel seperti biasanya, dari pada diam saja, aku malah kepikiran terus."


"Iya, aku akan bawel lagi."


"He'em, lebih baik kamu bawel."


"Ya udah, Mas buruan siap-siap."


"Aku sudah siap."


Britney menatap suaminya dan berkata "Apa ke kantor mau pakai kaos dan celana jeans?!"


"Mmh, tidak masalah. Soalnya nggak ada yang nyiapin kemejaku."


Britney mendengar itu, mencubit pinggang suaminya dan tampak senang melihat ekspresi suaminya.


"Sayang, ampun."


"Mmh, ampun. Ya udah, Mas jadi sopir aku aja hari ini. Aku mau ke makam Kakek dulu, baru ke kantor, terus siang jemput Alishba, aku udah kangen Alishba."


"Siap Bu Britney. Saya tidak hanya jadi sopir, kalau perlu saya akan mengawal Bu Britney."


Satu jam kemudian.


Britney yang duduk dekat sisi batu nisan dan menatap batu nisan yang bertulisan nama Restu Mahendra.


"Kakek, maafin Britney."


Batin Britney dengan penuh penyesalan, dan dia masih menatap batu itu, dan perlahan dia meletakan bunga, lalu dia berkata "Kakek, terima kasih untuk semua cinta dan kasih sayang yang Kakek berikan untum Britney."


Perlahan air mata bening, luruh dan jatuh membahasi pipinya. Lalu berkata "Britney sayang Kakek, Britney akan terus mengingat nasehat Kakek untuk Britney. Britney janji, akan terus bekerja di RM. Britney akan berusaha, Britney akan menjaga hasil kerja keras Kakek selama ini."


Pras yang tadinya memberikan waktu untuk istrinya sendiri, perlahan dia mendekat, duduk disebelah isrinya, dan tangan kanannya merangkul sang istri.


"Kakek, Britney sayang Kakek."


Britney cukup lama terdiam, dan entah apa yang ada dalam hatinya terdalam, Pras turut larut dalam kesedihan sang istri. Britney mulai mengelus nama yang ada dibatu nisan itu.


"Kakek, Britney pulang dulu. Britney pasti akan kesini lagi. Britney sayang Kakek."


__ADS_1


__ADS_2