
Lanjutan dari bab sebelumnya ya, masih tentang Limar Mahatma. Tolong pahami tulisan ini baik-baik.
Suasana malam di rumah sakit, dan Yuda Mahatma, mulai melihat ke arah wajah putrinya. Sorot mata yang teduh, dan tangan kanannya mengusap lembut rambut Limar.
Sudah pukul 8 malam. Limar yang tidur mulai mengeluarkan air matanya. Walau masih terpejam, tapi Limar merasakan kesedihan dalam hatinya.
"Limar, kamu menangis. Apa kamu masih menyalahkan Ayah?!"
Yuda mendapat penjelasan dari sang dokter tentang kondisi putrinya saat ini. Langit tadi juga bercerita tentang Limar yang memangil Ayahnya.
"Kamu rindu Ayah? Ayah ada disini. Limar, Ayah ada di dekat kamu."
Kedua tangan Yuda mulai memegang tangan kiri Limar. Perlahan jari-jari Limar bergerak, dan Yuda menatap wajah Limar saat merasakan gerakan jari tangan kiri Limar.
"Limar, kamu sudah bangun? Ini Ayah."
Perlahan kelopak mata itu bergerak, tapi air mata Limar semakin mengalir. Langit juga melihat hal itu, lalu mengambilkan tisue dan menyeka air mata Kakaknya.
"Mbak Limar, apa yang membuat kamu menangis?" Tanya Langit dengan rasa yang tidak senang. Dalam hati Langit, dia ingin sekali menemui pria yang disukai Limar. Tapi Langit tidak tahu, siapa pria yang tega menyakiti perasaan Kakaknya.
Sang Bunda yang baru dari luar, lalu mendekati Limar dan menatapnya dengan sendu. Sepertinya Hesti sudah tahu apa yang tadi terjadi pada putrinya.
"Mas, kamu tahu apa yang terjadi pada anak kita?"
Yuda yang menatap Limar dan berkata "Apa maksud kamu Hesti, aku tidak mengerti."
Hesti dengan tatapan sendu, dan mata sang Bunda sudah mulai berkaca-kaca. Langit melihat hal itu, dan mendekati sang Bunda, lalu memeluknya.
"Bunda, kenapa menangis? Apa yang terjadi dengan Mbak Limar? Apa yang membuat Bunda sedih?"
Hesti yang tidak bisa menahan dirinya dan memeluk Langit dengan perasaan sedih. Kali ini Hesti tidak bisa menahan dirinya, dan Langit merasakan perasaan sang Bunda, yang benar-benar sudah terluka.
"Langit, kamu anak laki-laki. Jadilah pria yang baik dan bertanggungjawab. Kelak, kalau kamu sudah menikah, jaga istri dan anak-anak kamu dengan baik."
Hesti yang menangis dan memeluk erat Langit, mengelus punggung Langit. Dan perlahan Langit mengerti akan hal itu. Yang membuat Limar dan Hesti terluka adalah Ayahnya.
Karena ulah Ayahnya, sampai-sampai Kakaknya terbaring sakit, dan membuat Bunda merasakan kesedihan dalam hatinya.
"Bunda, Langit paham. Bunda jangan menangis lagi, ada Langit yang selalu ada untuk Bunda."
Hesti mendengar itu, lebih tak kuasa menahan dirinya, hanya sosok anak-anaknya yang menguatkan dirinya saat ini.
Bagaimanapun Hesti adalah seorang istri dan juga ibu. Terlebih lagi, saat ini putrinya terbaring sakit dan itu juga akibat dari ulah sang Ayah.
"A-yah." Lirih Limar dan perlahan dia membuka matanya. Mata yang masih sulit untuk terbuka lebar, tapi Limar mulai melihat, ada sosok sang Ayah yang telah menemaninya.
"Limar, Ayah ada disini."
Yuda mulai berdiri dan memeluk Limar, hatinya juga seperti diiris saat melihat kondisi putrinya satu-satunya, tetap saja Limar perempuan yang begitu dicintai Yuda, sosok yang dari dulu mendapat cinta yang lebih darinya.
"Ayah ada disini. Ayah ada disini." Ucapnya dan entah apa saja yang dia rasakan. Yuda tampak sendu dan Langit perlahan melepas pelukan sang Bunda, lalu melihat kondisi Kakaknya yang telah bangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Mbak Limar, aku juga ada disini. Mbak Limar lihat aku." Ucap Langit dan Limar mulai tersenyum saat melihat Adiknya.
Yuda menatap Limar dengan senyuman, Langit dan Hesti mendekati Limar.
Limar melihat ke arah Hesti, dan memanggilnya "Bunda."
"Iya sayang, Bunda ada disini."
"Bunda." Limar mulai menangis saat Bunda mendekati dirinya dan mencium keningnya Limar.
Isak tangis Limar pecah seketika. Rasa di hatinya begitu sakit, ada kekecewaan yang begitu mendalam. Limar yang tidak kuat akan perasaan terluka, sangat menyiksa batinnya.
"Bunda." Tangisan Limar membuat Yuda bangkit dari tempat duduknya, perlahan pergi menjauh darinya dan keluar dari ruangan itu.
Langit mengikuti Ayahnya, dan pergi meninggalkan sang Kakak yang bersama Bundanya.
"Ayah, apa yang terjadi dengan Mbak Limar? Apa semua ini karena perbuatan Ayah?" Tanya Langit.
Aldo yang ada di situ juga mendengar soal pertanyaan Langit. Aldo sangat tahu sosok yang ada di depannya adalah Yuda Mahatma. Sosok Presdir Mahatma Corporation. Tapi Aldo tidak menyangka, bahwa istrinya pergi dan sudah menikah dengan Yuda Mahatma.
Aldo juga menahan dirinya dan dia hanya menatap Yuda dan Langit dari tempat dia berdiri, bersama para pengawal lainnya.
Kedua tangannya mengepal dengan rasa gelisah, tapi dia harus profesional, ini bukan saatnya untuk memikirkan Della sang istri yang pergi meninggalkannya. Tapi Aldo harus memikirkan pekerjaannya.
"Apa Bos Limar sudah sadar?" Batin Aldo dengan perasaan yang masih cemas.
Di ruangan utama itu, Limar mulai tenang, saat sang Bunda memberikan semangat untuk Limar.
"Mmh, Bunda."
"Hanya karena masalah Ayah kamu, kamu jadi kalah?"
"Mmh, Bunda."
Hesti tersenyum melihat sang putri, yang sudah tampak merengek padanya.
"Limar, apa Bunda mengajarkan padamu, tentang pria untuk berdiri di atasmu?"
Limar mulai duduk bersandar dan Hesti memberikan minum untuknya, lalu Limar bertanya "Apa Bunda sedang menasehati Limar?"
Hesti tersenyum dan berkata "Untuk apa Bunda menasehati kamu. Kamu bahkan lebih kuat dari Bunda. Yang jelas Bunda tidak suka melihat putri hebatnya Bunda berubah jadi gadis yang cengeng, hanya karena masalah pria."
"Aaa... Bunda, stop! Limar tidak cengeng."
"Aldo sudah cerita, apa kamu masih mengelak."
Limar menunduk dan tersenyum manis, lalu berkata "Bukan karena dia, tapi Limar memang sedang pusing saja."
"Hemm, Bunda tahu. Kamu tidak perlu menjelaskannya."
"Limar serius Bunda, bukan masalah itu. Tapi Limar memang tidak enak badan."
__ADS_1
Kedua tangan Limar memegang tangan sang Bunda, dan Hesti yang menatap Limar dengan sorot mata penuh cinta, membuat Limar menjadi bahagia.
"Bunda tahu sayang, kamu bukan gadis yang lemah. Kamu harus segera pergi dari sini, Bunda tidak suka mencium aroma rumah sakit."
"Bunda benar, sepertinya Limar harus kabur."
"Apa Bunda perlu membantumu kabur dari para pengawal Mahatma?"
"Mmh, tidak perlu. Biarkan saja mereka nantinya mencari Limar."
"Gadis nakal. Kamu membuat Ayahmu menderita."
"Apa Ayah lama disini?"
"Cukup lama, dia hanya menatapmu."
"Siapa dokter yang merawat Limar?"
"Dokter Ghani, dia banyak memberikan obat tidur."
"Dia pasti sengaja membuat aku tidur lebih lama."
"Apa kamu tidak ingin bertemu Aldo?"
Limar menatap Bunda dengan senyuman manis, lalu berkata "Bunda, Limar cukup kasihan sama dia, ternyata dia lebih terluka. Bunda harusnya melihat kejadian tadi. Pasti Bunda tidak bisa menahan diri, saat melihat ekspresi wanita licik itu."
"Limar, sudahlah. Jangan diungkit lagi. Kamu pergilah, Bunda akan disini. Tidak ada yang akan tahu kalau kamu sudah pergi."
"Tapi Ayah dan Langit bagaimana?"
"Tidak perlu cemas, Bunda yang akan mengurusnya. Bunda hanya tidak mau melihat kamu bersedih lagi. Bunda harap, kamu tidak sakit lagi."
"Bunda, Limar hanya kurang istirahat. Besok pagi, Limar ada tanding sama Lingga. Limar mau tidur nyenyak di rumah saja. Tidak suka disini."
"Cepatah pergi, keburu Ayahmu datang."
Limar menatap sang Bunda, lalu berkata "Bunda, bukannya sebaiknya Limar tidur disini saja. Bunda kasih tahu Ayah, kalau Limar masih sakit, pasti Ayah tidak akan pergi, pasti Ayah akan menamani Limar."
"Kamu jangan mengada-ada sayang. Bunda nggak suka kamu berpura-pura lemah."
"Sekali ini saja Bunda. Limar mohon."
"Kamu ingin menguji kesabaran Ayahmu?"
"Limar mohon, kali ini saja. Lagian Limar memang butuh istirahat. Ayah harus ada disini untuk Limar."
Hesti memeluk putrinya dan berkata "Ayahmu masih mencintaimu."
Menurut kalian, apa Yuda Mahatma yang bersalah?
__ADS_1
Apa sang ulat bulu kegatelan, yang menenpelkan dirinya? ✌😂