
Lanjut lagi ya pembaca setia Mas Pras.
Semoga kalian suka, jangan lupa like dan komentarnya ya. Terima kasih. 🙏
Limar yang sudah berbicara dengan Rendy, dan cukup lega perasaannya. Setelah dia tahu pribadi Aldo, saat tinggal di Semarang.
Rendy lalu mengikuti Limar ke ruangan Pras, dan Aldo hanya terdiam.
"Mas Pras, gimana?"
Pras hanya menyeryitkan dahinya, lalu merenggangkan kedua tangannya, dan kedua telapak tangannya menempel di atas meja kerjanya.
Limar tangan kirinya menarik rambut indahnya ke arah belakang, dengan gayanya yang selalu tampak berkelas.
"Emm, dia pasti sudah cerita sama Mas Pras?!" Limar yang menunjuk Aldo, dan Pras dengan tersenyum mengangguk saja.
Rendy menatap Pras dengan senyuman aneh. Pras hanya mengode Rendy dengan matanya.
Aldo masih duduk di kursi itu, dan dia tampak menuduk. Perlahan dia berdiri dan berkata "Limar, bicaralah sama Pras. Aku mau keluar dulu."
Aldo yang tersenyum datar dan pergi dari ruangan itu, lalu Rendy mengikuti Aldo.
Pras menghebuskan nafasnya dengan pelan, dan Limar mulai duduk di depan Pras, menatapnya dengan senyuman.
"Begini Limar." Ucap Pras dengan suara pelan.
Tampak wajah yang serius, dan Limar juga menatap Pras dengan tatapan serius.
"Kalau soal mualaf. Kamu bisa tanya sama Pak Ustadz Amir. Aldo sudah aku kasih nomor telfonnya, kamu bisa tanya sama beliau."
"Untuk pernikahan kamu sama Aldo. Aku tidak bisa jadi wali kamu. Hal itu sangat sakral. Apalagi, dalam hukum agama, harus orang tua atau saudara kamu yang menikahkan kamu. Nanti lebih jelasnya, kamu bisa tanya-tanya sama Pak Ustadz Amir."
Limar cukup mendengarkan hal itu. Lalu dia berkata "Iya, Mas Pras."
Pras masih dengan wajah serius, lalu dia berkata lagi "Alangkah baiknya, kamu bertemu Ayah kamu."
Limar bingung, dan perlahan memasang senyuman datar. Ada rasa yang aneh, saat dirinya mendengar kata Ayah.
"Limar, setidaknya kamu meminta restu dan do'a dari Ayah kamu. Walaupun nantinya, beliau tidak bisa menjadi wali nikah kamu."
Pras cukup bergetar, Pras juga tidak banyak tahu soal pernikahan. Apalagi tentang wali nikah yang berbeda keyakinan.
"Aldo bisa telfon Pak Ustadz Amir lebih dulu, dan kalian bisa berkunjung ke rumah beliau."
"Aku cuma bisa berkata itu saja."
Limar tersenyum, walaupun rasanya sangat gelisah.
"Aku turut prihatin, atas apa yang menimpa keluarga kamu."
Limar dengan wajah yang sudah berubah sendu, kemudian menatap wajah Pras, dan dia berkata "Mas Pras, terima kasih."
"Kalau soal kamu yang mau mualaf. Coba yakinkan perasaan kamu dulu. Terutama, hati kamu Limar."
Mata Limar tampak berkaca-kaca. Dia berkata "Iya Mas Pras, aku mengerti."
Pras mulai tersenyum, berkata "Kalau sudah yakin, dan kalian siap menikah. Kalian bisa menghubungi aku. Aku bisa jadi saksi pernikahan kalian berdua."
"Baik Mas Pras." Limar dengan deraian air matanya, tapi dia juga tampak tersenyum. Walaupun situasi ini cukup menyulitkan dia, dan rasanya sangat gelisah. Tapi dirinya perlahan menjadi tenang dan cukup mengerti, dengan perkataan Pras barusan.
Pras mulai melihat Limar yang tampak berbeda. Lalu dia berfikir "Sepertinya Limar bersungguh-sungguh. Semoga Limar dan Aldo memang berjodoh."
Suasana sejenak menjadi sunyi, hanya ada suara detakan jarum jam dinding yang bergerak.
Limar yang sempat menunduk, dia kembali menatap Pras yang ada dihadapannya.
"Mas Pras."
Limar dengan tersenyum bertanya" Apa Mbak Britney dulu sempat kesulitan saat awal berumah tangga?"
Pras mengerti dengan perasaan Limar dan berkata "Tidak."
Pras memasang senyuman manis, dan berkata "Britney bisa menempatkan dirinya dengan baik. Dia tidak kesulitan. Bahkan Britney sosok istri yang sabar dan penurut."
Limar tersenyum melihat ekspresi Pras yang apa adanya. Lalu Limar berkata "Sepertinya aku harus belajar dari Mbak Britney."
"Iya, kamu bisa menghubungi Britney."
"Biasanya kalau perempuan, malah bisa memberi saran dan saling berbagi cerita."
Pras tersenyum manis dan Limar mulai mengambil tisue yang ada di meja kerja Pras. Mengusap air matanya, perlahan merasa tenang.
"Mas Pras, kalau gitu, aku permisi dulu. Terima kasih."
__ADS_1
"Iya, silakan."
"Nanti aku akan telfon Mbak Britney."
Limar dengan senyuman manis, lalu dia pergi. Perasaannya mulai tenang, ada banyak hal yang dia tahu dari Rendy soal Aldo. Ada ketenangan dalam dirinya, setelah mendapat saran dari Pras.
"Sepertinya aku harus menemui Ayah." Batinnya.
Limar memang terkenal tidak sabaran, dia selalu dengan egonya sendiri. Tapi dia juga sangat keras kepala, apalagi bila ada yang membuat pikirannya menjadi sensitif. Dia tidak segan-segan berkata ketus dengan rasa emosi.
Pras mengetuk-ngetuk mejanya, dengan bolpoin. "Tadi aku sudah lupa jambu air saat mengobrol dengan Aldo dan Limar. Tapi sekarang, aku kepikiran lagi."
"Mas Rendy, terima kasih."
Limar yang tersenyum mendekati Rendy yang mengobrol dengan Aldo. Rendy menatap Limar, mereka ada di lobby kantor RM Property.
Rendy, berkata "Iya, sama-sama."
"Rend, suwun ya."
(Rend, makasih ya.)
(~ Suwun terkadang dipakai untuk mengucap kata terima kasih. Walaupun bukan kata yang sebenernya atau dipakai dalam kalimat bahasa Jawa.)
Rendy menepuk pundak Aldo "He'em, podo-podo."
(He'em, sama-sama.)
"Mas Rendy, kita pergi dulu."
"Iya, silakan." Balas Rendy dan tesenyum.
"Rend pamit sik..." Aldo menjabat tangannya tangannya, dan Rendy mengangguk.
(Rend pamit dulu...)
Rendy masih melihat ke arah Aldo dan Limar, yang berjalan pergi. Lalu Rendy kembali ke lantai atas.
"Ngendi sing ono wit jambu air. Anakku iso ngiler goro-goro ora entuk jambu air." Gumam Pras.
(Dimana yang ada pohon jambu air. Anakku bisa ileran gara-gara tidak dapat jambu air.)
Rendy mendekati Pras dan bersandar di meja kerja Pras, lalu Pras berdiri.
"Aldo wis lungo?"
(Aldo sudah pergi?)
"He'em, lagi wae."
(He'em, baru saja.)
Pras berjalan dan berpindah ke sofa, dan dengan gayanya, tangan kanannya berada di atas sandaran sofa. Lalu Pras hanya menatap Rendy yang bersandar meja, yang tampak bersedekap.
"Aku ora iso wenehi saran. Tak kon takon Pak Ustadz Amir."
(Aku tidak bisa kasih saran. Tak suruh tanya Pak Ustadz Amir.)
"Apik nek ngono. Mau Limar yo gur takon-takon. Piye Aldo neng Semarang, jenenge wong tuwone. Sedulure sopo wae. Sifate Aldo piye."
(Bagus kalau gitu. Tadi Limar juga cuma tanya-tanya. Gimana Aldo di Semarang, nama orang tuanya. Saudaranya saipa saja. Sifatnya Aldo gimana.)
"Teros? Kowe ngomong opo?"
(Terus? Kamu bilang apa?)
"Tak jawab opo onone. Aku kenal Aldo kaet jaman SMA, Aldo STM. Pras, kowe barang yo melu dolan Aldo.)
(Aku jawab apa adanya. Aku kenal Aldo dari masa SMA, Aldo STM. Pras, kamu juga ikut main Aldo.
Pras hanya mengangguk dengan tengilnya.
"Teros aku yo ngomong, nek Aldo kui ngrokok, yo wani ngombe. Tapi kan mbiyen, saiki ora."
(Terus aku juga bilang, kalau Aldo itu ngerokok, juga berani minum. Tapi kan dulu, sekarang tidak.)
"He'em. Gur pelarian." Ucap Pras.
(He'em. Cuma pelarian.)
"Iyo."
__ADS_1
(Iya.)
Rendy menatap Pras dan bertanya "Teros kowe, kaet mau raimu peteng. Merengerut wae. Ono opo?"
(Terus kamu, dari tadi wajahmu gelap. Cemberut saja. Ada apa?)
Pras menjawab santai "Nyidam."
(Ngidam.)
"Nyidam opo meneh?" Tanya Rendy yang tahu kalau Pras akhir-akhir ini banyak maunya.
(Ngidam apa lagi?)
"Jambu air."
"Tuku wae neng tukang rujak ono."
(Beli aja di penjual rujak ada.)
Pras dengan tengil berkata "Pengen sing neng wit. Aku pengen menek wit jambu air."
(Ingin yang di pohon. Aku ingin manjat pohon jambu air.)
Rendy tampak tertawa, dan dia berkata "Kui gur pikiranmu dewe. Almeera wae, nyatane ora nyidam opo-opo. Gur ora tau mangan sego. Senenge gur mangan kentang kukus."
(Itu cuma pikiranmu sendiri. Almeera saja, nyatanya tidak ngidam apa-apa. Cuma tidak makan nasi. Sukanya cuma makan kentang kukus.)
"Aku wis kemecer kaet esok mau."
(Aku sudah terliur dari pagi tadi.)
Rendy mulai mengingat, "Ono wit jambu air. Tapi adoh soko kene."
(Ada pohon jambu air. Tapi jauh dari sini.)
"Neng ngendi? Uwoh ora?"
(Di mana? Berbuah tidak?)
"Neng Bogor. Gone mertuoku."
(Di Bogor. Tempat mertuaku.)
Pras yang tadinya sudah bersemangat, tapi mendengar kata Bogor, jadi dia berfikir itu juga jauh.
"Kadohan. Aku pengen sak iki."
(Kejauhan. Aku ingin sekarang.)
"Tak eling-eling sik."
(Aku ingat-ingat dulu.)
Rendy sepertinya, pernah melihat pohon jambu air, dan ada juga jambu jamaika yang berbuah. Dan itu baru beberapa hari lalu dia melihatnya.
"Pras, aku eling. Ono sing cedak. Ayo rono."
(Pras, aku ingat. Ada yang dekat. Ayo kesana.)
Semburat wajah Papa muda itu seketika merona cerah, matanya berbinar-binar dan tersirat senyuman manis.
Ada rasa manis dalam perasaannya, seolah ingin segera bertemu pohon jambu air yang dia idam-idamkan.
Setengah jam kemudian, tampak rumah berpagar coklat. Bangunan rumah dengan gaya minimalis modern, dan sebelah rumah ada pohon jambu air yang berbuah. Juga ada pohon jambu jamaika.
Rumah di daerah perkampungan, dan itu tidak jauh dari rumah Rendy.
"Omahe anyar."
(Rumahnya baru.)
"Iyo, tapi kui gone Pak RT. Aku kenal. Tak nembung karo Pak RT sik."
(Iya, tapi itu punya Pak RT. Aku kenal. Aku bilang sama Pak RT dulu.)
Rendy kemudian berjalan ke rumah yang bersebelahan dengan rumah minimalis itu. Ternyata rumah baru itu milik Pak RT, dan bangunan rumah itu terlihat masih sangat baru.
Rendy sempat melihat pohon jambu air, waktu acara pengajian rumah baru itu.
"Bro...." Suara yang tidak asing.
Pras yang masih bersandar mobilnya, perlahan menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
__ADS_1