
lanjut ya. Ini bukan cerita action, othor hanya menghalu saja. Karena memang begini kisahnya Mas Pras dan keluarga besarnya. 🙏
Aldo menatap Limar dengan tenang, dan Aldo bisa membaca sorot mata Limar, saat mengarahkan pistol kepadanya. Bahkan gerakan tangan Limar, tidak tepat mengarah kepadanya.
Suara langkah kaki yang terdengar pelan, tapi Aldo bisa merasakan ada seseorang yang ada di dekatnya.
Dengan cepat Aldo memutarkan badan seakan terbang, memangkat kaki kanan dan menendangnya.
Daaassh!!
Seseorang yang hendak menusuk Aldo dari belakang, sudah tampak tersungkur menatap paving.
Tendangan Aldo mengenai rahangnya dan dia terjatuh dengan kerasnya. Saat dia hendak bangun, tetapi tangan Aldo dengan cepat menarik jaket orang itu, dan membekuknya.
Sungguh malang, sudah tertembak, tapi juga terkena tendangan kaki Aldo yang begitu kuat.
Untung saja Aldo menguasi beberapa teknik beladiri. Kalau tidak, bisa-bisa dia yang terkena peluru logam itu. Walaupun bidikan Limar selalu pas, tapi bisa saja itu terjadi.
"Aldo, tendanganmu lumayan juga." Ucap Limar kepada Aldo dengan tersenyum.
Limar perlahan membuka masker orang itu, dan menarik tudung jaketnya.
Aldo yang sudah membekuk orang itu. Cukup terbelalak dan berkata "Ternyata dia perempuan."
Aldo yang tampak menggeleng, dan Limar bertanya "Kalau dia perempuan kenapa? Apa kamu tidak tega?!"
"Limar sudahlah!" Aldo yang menatap Limar dengan terheran, dalam hati Aldo berfikir "Ternyata Limar Mahatma jago menembak."
"Bawa dia." Perintah Limar.
Halaman parkir mobil rumah sakit Mitra Surya, yang tadinya sepi perlahan mulai ramai.
Karena suara tembakan itu, cukup mengejutkan orang yang ada di sekitarnya.
"Ada apa?"
"Aku dengar letusan."
"Ada yang ketembak."
"Apa ada penjahat?"
Suara dari berbagai orang yang riuh, dan
yang ada di dalam rumah sakit itu, mereka langsung berhamburan keluar, untuk melihat apa yang telah terjadi.
Tidak lama suara sirene ambulan dari RS Kasih Maria sudah tiba.
Mobil polisi dan Ruk juga sudah sampai. Limar dan Aldo langsung meminta polisi untuk memborgol perempuan itu.
"Gadis yang cantik." Ucap Limar yang memegang dagu gadis itu.
__ADS_1
Tatapan gadis itu terhadap Limar tampak dingin, tidak ada kata apapun yang terucap darinya.
Aldo melihat Limar yang sangat sadis dan begitu cerdik.
Limar mengamatinya, saat dia juga mengawasi Lingga.
"Aku tidak akan menyakitimu." Ucap Limar yang memegang pipinya dan dia masih menatap Limar dengan rasa tidak bersalah.
Nat dan Ruk mendekat. Polisi sudah memborgol gadis itu.
Walaupun dari tadi tampak diam tanpa kata. Dia pasti merasakan sakit dibagian pahanya. Peluru logam yang menembus celana jeansnya.
Limar melihat darah yang ada di kakinya. "Kamu harus berobat dulu."
"Dan pastinya, tahanan sudah menantimu sayang."
Polisi yang bertugas mendekat "Selamat malam Nona Limar Mahatma."
"Selamat malam Pak Polisi yang terhormat." Balas Limar dengan suara yang manis dan cukup ramah.
"Karena surat ijin Nona Limar masih dalam penangguhan. Nona Limar juga akan kami tahan"
Limar masih memperhatikan polisi gagah itu dengan senyuman manisnya. Pak polisi yang tampan dan tampak berkumis manis, dan baru berusia 39 tahun.
"Nona Limar sudah dengan sengaja menembakan pistol bercode cxl05 dan membuat orang mengalami cedera, kerana luka tembak. Jadi Nona Limar Mahatma, harus ikut kami ke kantor polisi."
"Silakan Pak polisi, dengan senang hati." Ucap Limar dan tampak senyumnya yang manis.
"Nat, mana pesananku." Panggil Limar dan Nat segera mendekat.
Aldo juga harus datang ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
Senjata Aldo juga akan disita, karena sudah terdapat sidik jari Limar Mahatma.
Aldo juga akan mendapat sanksi dari APMC. Karena tidak mematuhi aturan, dan dengan sengaja meninggalkan perlahatan APMC di dalam tasnya.
"Aldo sorry." Ucap Limar dengan gaya menggemaskan. Perlahan mengunyah permen karet yang diberikan Nat.
Setiap Limar melakukan hal tak terduga, dia suka mengunyah permen karet, dan untuk menenangkan pikirannya yang cukup kacau akhir-akhir ini.
"Sungguh menyenangkan." Ucap Limar dan mulai masuk ke mobil polisi.
Surat ijin penggunan sejata api Limar tidak berlaku, atas penembakan yang Limar lakukan 5 tahun yang lalu. Orang yang dia tembak, waktu itu menuntut Limar. Limar juga sampai mendekam di penjara. Tapi dia tidak menyesal. Tidak masalah buatnya, karena menurut dia, tindakannya benar. Itulah yang selalu Lingga cemaskan. Makanya pistol Limar, ada pada Lingga. Sampai sekarang belum dia berikan.
"Lingga, maafkan mbakmu ini, aku akan mencari tahu siapa orang yang sengaja membunuh anakmu." Batinnya.
Limar menatap Aldo dari dalam mobil polisi. Aldo masih berbincang dengan polisi, dan beberapa petugas keamanan rumah sakit itu juga banyak bertanya kepada polisi, apa yang telah terjadi. Karena, hal ini juga menyangkut nama baik rumah sakit.
"Aldo suatu saat kamu akan mengerti." Gumam Limar.
Nat ikut di mobil polisi yang membawa Limar, dan mobil itu dengan cepat meninggalkan rumah sakit itu.
__ADS_1
Aldo menoleh ke arah mobil polisi yang telah membawa Limar "Limar kenapa kamu tidak membiarkan aku tertusuk? Kamu harus ada di penjara karena aku."
Beberapa petugas dari kepolisian yang tadi datang, masih menunggu gadis yang tertembak itu.
Gadis itu juga sangat pandai. Bahkan sudah tertembak, dia masih saja diam, tidak ada kata apapun. Tidak ada suara rintihan darinya.
"Dia juga lihai." Gumam Ruk yang mengikuti gadis itu, Ruk tidak henti memperhatikan gerak-geriknya.
Lingga yang di ruangan Vava, sudah memegang tangan Vava.
Ranjang pasien yang di dorong keluar, dan Vava tampak tertidur karena efek obat setelah tindakan kuret tadi.
"Sayang, maafkan aku." Batin Lingga.
Lingga sangat menyesal, dan tidak henti menyalahkan dirinya sendiri. Limar yang tadi menemani, terus menasehati sang Adik yang tampak menyesal. Agar tidak membelenggu dirinya. Tapi Limar sudah berjanji akan menemukan, siapa dalang dari kekejian ini. Limar menganggap ini sangat keji, karena bayi yang belum sampai lahir ke dunia, sudah menjadi incarannya dan bahkan membunuhnya.
Lingga tidak melepas tangan istrinya. Ada satu mobil pengawal APMC yang baru tiba, dan mulai tampak barisan pengawal dari tim markas.
"Selamat malam Bos, maaf kami terlambat." Ucap ketua tim markas.
Lingga mengangguk saja dan tanpa berkata apapun.
Lalu Ruk mendekati mereka, dan berkata "Kalian kawal Bos Lingga saja."
"Ruk, kamu masih akan disini?" Tanya ketua tim markas
"Aku masih mengurus gadis sialan itu."
Ketua tim markas lalu pergi, dan segera mengatur para pengawal untuk selalu mengawal Lingga dan Vava.
Gadis itu mulai masuk ke ruang operasi. Polisi memborgolnya dan menyatukan pada pegangan ranjang pasien.
"Pak polisi yang terhormat. Dia kenapa harus di operasi dulu? Kenapa tidak langsung dibawa ke ruang interogasi saja?"
"Tadi Nona Limar yang menyarankan, agar dia diobati dulu."
Ruk lalu duduk dan tampak kedinginan, suara petir menggelegar, angin yang berhembus kencang, rintik air dari atas tampak berjatuhan.
Aldo yang tadinya masih di halaman parkir, lalu dia masuk ke lobby rumah sakit.
Lingga yang sudah ada dalam mobil ambulan, tampak sendu dan terus menatap sang istri.
"Sayang, kamu harus sembuh."
Lingga juga mengingat janin yang sudah tumbuh dan berkembang. Padahal baru kemarin saat Vava muntah-muntah, dokter mengatakan kalau keadaan janin sangat sehat. Walaupun kandungan Vava cukup rawan.
Tapi takdir berkata lain, seolah semua ini, ada yang merencanakannya.
"Siapa yang mengetahui kalau aku pergi dan hanya berdua?"
"Apa dia selalu mengintai Vava atau aku?"
__ADS_1
"Atau dia dari para pekerjaku sendiri?"