
Lanjut ya pembaca setia Mas Pras. Semoga masalah ini, segera selesai. Dan menjadi happy ending nantinya 🤗.
"Sayang." Pras yang meraih tubuh istrinya dan memeluknya erat.
"Mas, maafin aku."
"Iya, kamu salah."
Tangan Britney memeluknya erat, dan merasakan cinta suaminya.
"Harusnya kamu bilang dulu sama aku." Ucap dengan rasa tidak senang. Tapi dia mengerti kekhawatiran istrinya, dan ini menyangkut Adiknya yang Britney sayang.
Britney hanya diam, perlahan mulai tenang.
"Sayang, tadi aku sudah bilang. Tugas kamu hanya memikiran kandungan kamu, buatlah dirimu bahagia. Kasihan jagoanku, pasti ikut merasakan rasa sedihmu."
Britney mulai cemberut dan menatap suaminya. Pras yang mengusap air mata istrinya dan mengecup bibir sensual Britney yang menggemaskan, apalagi saat cemberut, sangat menarik.
"Memangnya, anak kita laki-laki? Kamu mengatakan kalau jagoanku."
"Perasaanku bilang begitu." Ucap Pras dengan gayanya yang tengil.
Pras memeluknya erat dan berkata lagi "Hems, kamu pasti tidak meminum susu hamil."
"Mas tahu dari mana?"
"Aku tanya Alishba."
"Aku minum kok, tapi cuma sekali."
"Kalau gitu, aku mau buat susu dulu. Kamu cuci muka, aku nggak suka lihat kamu menangis."
"Emmh, Mas Pras gitu." Britney yang menghapus air matanya dan masih cemberut saja.
"Kecuali aku main serong, atau aku tiada. Kamu boleh menangis, aku aja ngggak pernah buat kamu nangis, hanya karena Vava, kamu seperti kehilangan aku saja."
"Iihh, kamu gitu. Vava adik aku."
Pras yang tadinya sudah melepas tangannya, mulai memeluknya lagi.
"Aku tahu dia Adik kamu. Tapi, aku tadi sudah bilang sama Lingga. Dia suaminya, pasti dia bisa mengurusnya."
"Sayang, aku cuma mau kita. Aku mau, kamu hanya memikirkan aku dan anak kita saja."
"Emm,"
"Sudah, jangan memikirkan hal yang belum terjadi. Dia juga tidak akan menyakiti Vava lebih dari yang kamu bayangkan."
"Tapi dia juga mengancam kamu Mas."
"Iya, makanya sudah. Jangan ikut campur. Biarkan Lingga, yang mengurus dia. Kita tidak bisa melaporkan dia, aku takutnya, dia akan semakin menjadi."
"Tapi aku harus bilang sama Tante Vanesa dan Om Angga, Mas."
"Lingga sudah aku kasih tahu. Dia yang berhak mengatakannya, biarkan saja Lingga sendiri yang mengurus masalah istrinya. Aku tahu, Bu Serly memang keji. Tapi, aku tidak mau terlibat masalah ini lebih jauh lagi."
"Aku sayang kamu, aku juga mengerti apa yang kamu pikirkan. Aku mohon, lupakan. Aku mau, kamu hanya memikirkan anak kita. Jangan pikirkan hal lainnya. Mana istriku yang pintar??"
__ADS_1
"Emms, iya Mas. Aku tahu. Kalau gitu mana susunya??"
Pras dengan gemas, ingin rasanya mengigit istrinya yang sudah manyun itu. Pras berkata "Aku buatkan, dengan cinta untuk jagoanku."
Pras lalu keluar dari kamarnya.
"Jagoan??" Britney yang tersenyum, lalu memegang perutnya.
"Lingga, Bu Serly, Vava." Batin Pras.
Pras dengan gemasnya mengaduk susu hamil rasa coklat. Bahkan terkadang dia mencicip dari sendok itu.
"Rasanya pas." Ucapnya dengan tengil.
Di tempat lain, seseorang dengan hati yang masih bertanya-tanya dan luka dalam hatinya. Menatap jauh ke ujung, seolah tak terlihat batas ujungnya.
Suara deburan ombak menggulung, dan hembusan angin malam menabraknya.
Aldo yang duduk di pinggir pantai, dan masih bingung jalan yang akan dia tempuh.
Perlahan mengambil ponselnya, dan dia kembali menulis sebuah pesan kepada seseorang.
[Sudah saya laksanakan perintah anda. Lalu apa yang harus saya lakukan?]
Pesan itu sudah terbaca dan belum ada balasan darinya.
Setelah 10 menit, pesan balasan.
[~~```````
Pergilah ke alamat ini. Aku sudah siapkan tempat untuk kamu, Aldo.]
Aldo yang saat ini, tinggal di sebuah rumah temannya. Kota yang terkenal dengan bahasa ngapaknya, dan Aldo sudah beberapa hari disana.
"Angin malam. Aku merindukannya." Ucapnya dan tersenyum manis.
Limar yang tidur hanya beralas kasur tipis. Ruangan yang pengap dan hanya keheningan yang menemaninya. Gadis bertatto akhirnya dalam perawatan medis. Dia memiliki penyakit serius, jadi dalam tahanan rumah sakit kepolisian.
"Haaah." Limar terbangun dari mimpi buruknya. Darah, yang mengalir dan itu seseorang yang dia kenal.
Nafasnya tak beraturan, sangat dingin. Rasanya seperti dirinya telah mati.
"Aldo," Ucap Limar dan nafasnya masih terengah-engah seperti orang yang lelah berlari.
"Aku harus keluar dari sini. Aku harus mencari Aldo. Pasti ada yang tidak beres dengannya. Aku harus segera keluar dari sini." Gumamnya.
Limar yang tadi bermimpi, seolah Aldo dalam bahaya. Limar tidak mengerti kenapa bisa memimpikan Aldo, yang tidak peduli padanya.
"Ini hanya mimpi. Dia pasti baik-baik saja. Aku hanya terlalu memikirkannya."
Limar yang seolah mempercayai ini hanya sekedar mimpi buruk, tak ada hal semacam itu. Aldo hanya orang biasa, siapa yang mencoba melenyapkannya.
"Aku yakin dia pasti baik-baik saja."
Limar yang terbangun, lalu bersandar dinding, kulitnya sangat sensitif. Tampak ruam-ruam merah di bagian lengan tangan dan kakinya.
"Lingga, aku membutuhkanmu. Apa yang telah terjadi. Disini aku tidak tahu apa-apa."
__ADS_1
Limar yang tadinya ingin mengorek tentang gadis bertatto itu. Malah dirinya sendirian, dan tidak tahu apa yang telah terjadi dengan Lingga dan juga Aldo.
Saat ini Lingga yang ada di kamarnya.
"Sayang, aku pergi dulu."
"Maafkan aku. Kamu malam ini aku tinggal dulu." Ucapnya.
Lingga mengenakan jaket kulitnya sambil berjalan cepat.
Vanesa yang terbangun melihat Lingga yang tampak tergesa-gesa.
"Lingga."
"Mama. Mama sudah bangun." Ucap Lingga dengan santai.
"Kamu mau kemana? Ini jam 2 pagi." Ucap Vanesa.
"Lingga ada urusan Ma. Ada hal penting yang Lingga harus kerjakan."
"Tapi ini masih gelap. Apa tidak besok pagi saja." Ucap Vanesa yang merasa cemas.
"Nggak apa-apa Ma. Lingga sudah terbiasa kerja malam."
Venesa lalu mengangguk dan mengerti kalau sang menantu, memang banyak kesibukan.
"Mama, Lingga titip Vava sebentar. Kalau pagi nanti Lingga belum pulang, Mama bilang sama Vava kalau Lingga ada urusan kerja sama Ayah."
"Iya, Mama paham."
"Terima kasih Ma."
"Kamu hati-hati ya."
"Iya Ma."
Lingga yang menuruni tangga rumah itu dengan cepat, dan setelah sampai di lantai bawah, ada panggilan dari orang yang dia kenal.
"Bos, saya sudah siap."
"Bagus, lakukan tugasmu. Aku akan berangkat ke titik lokasi.
"Baik Bos."
Lingga dengan cepat, keluar dari rumah itu. Dua pengawal sudah siap menemani Lingga.
"Jalan!" Perintahnya.
"Ayah, mengacaukan semuanya. Aku Anakmu atau Musuhmu?!"
Yuda ternyata menemui Serly, setelah tadi meninggalkan Hotel Mewah itu. Yuda juga mengamati gerak-gerik Lingga, tapi dia tidak tahu bagaimana kelihaian Serly.
Dulu Serly memang gadis yang manis dan tak pernah berbuat hal buruk. Tapi sekarang ini sudah berbeda, dia jadi keji dan itu juga karena Yuda Mahatma.
"Mbak Limar."
Lingga dengan rasa gelisah dan sangat takut. Apa yang akan terjadi dengan Kakaknya saat ini. Pikirannya untuk istri dan anaknya masih menghantuinya. Tapi ada masalah baru lagi.
__ADS_1
"Bos kita terlambat." Ucap Nat yang menggeleng dan Ruk hanya diam saja.
Lingga lemas seketika dan merasa tak berdaya.