PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Sebuah Rasa Yang Berharga


__ADS_3

...☘Rasa pertemuan dua manusia,...


...saat cinta itu tak melihat dosa☘...


Berjalan dengan segenap rasa yang ada, rasa itu semakin dalam, bahkan saat mereka terpisah ruang dan harapan.


Sorot mata yang berkilau dengan rasa cinta yang tulus, langkah kaki yang ringan dan tangan yang akan menggapai.


Dia yang berdiri dan menunggu, untuk kedatangan pria itu yang akan segera menghampiri dirinya.


Aldo, pria duda yang hanya memiliki rasa cinta, tak tahu apa harapan itu ada untuknya. Yang ada, hanya rasa dalam hatinya.


"Aku kangen sama kamu." Ucapnya saat memeluk Limar.


"Aku juga kangen sama kamu." Balasnya, dan air mata Limar sudah menetesi pipi.


Aldo, dengan tersenyum memandangi Limar, dan berkata "Kamu sehat, kamu juga baik-baik."


"Kenapa? Mau bilang aku sekarang gemukan??!" Limar yang masih dengan air matanya, tapi tampak senyuman bahagia. Sangat terlihat jelas, kalau Limar saat ini memang sedang bahagia.


Aldo mengangguk, "Iya, kamu gemukan, tapi aku senang. Berarti kamu sangat sehat."


"Iya, aku bahkan doyan makan. Lingga sering menyuruh Nat datang bawa makanan."


"Bagus, kalau kamu doyan makan." Aldo yang masih menatapnya dengan rasa sayang.


"Bukan aku saja, tapi anak kita. Dia sangat kuat."


Aldo lalu menunduk, dan mengelus perut Limar.


Dua minggu sebelum HPL, Lingga sudah mengatur, agar Limar mendapat ijin melahirkan di rumah.


Lingga menyewa pengacara hebat, dan akhirnya mendapat surat tahanan luar untuk satu bulan di rumah.


Limar masih dalam hukuman, dan Lingga harus melakukan wajib lapor.


"Lingga dimana?" Tanya Limar yang tidak melihat Lingga.


Mereka berdua masih di depan kantor penjara perempuan.


"Lingga ada urusan, dia pergi. Aku hanya sendiri."


"Ayo kita pulang." Ajak Limar.


Aldo tersenyum "Kita harus jalan-jalan dulu berdua."


"Apa boleh? Aku masih dalam hukuman."


"Boleh, aku sudah mendapat surat ijin. Kamu hari ini, jadi tawananku."


"Emmh, menyebalkan." Ucap Limar dan tangan kanannya memegang pipi kanan Aldo.


Mereka berdua hanya manusia biasa, yang tak luput dari sebuah kesalahan. Limar yang dulunya gadis berkelas, glamour, dengan segala ego dan kesombongan dirinya.


Pernah di tahan beberapa tahun lalu, tapi dia bisa bebas karena pengacara bisa memenangkan kasusnya. Tapi kali ini, Limar ingin membayar semua perbuatan yang dia lakukan.


Walaupun Lingga juga menyewa pengacara hebat. Tapi, Limar tidak ingin bebas begitu saja. Limar ingin mentaati aturan dan pemeriksaan secara mendetail.


Papa kandung Nicholas juga masih ingin keadilan untuk putranya. Hukuman Limar bukan itu saja, karena dari awal dia sudah ditahan, tapi malah Limar melakukan penembakan lagi.


"Sayang, mau makan apa?" Tanya Aldo, dan tangan kirinya memegang perut Limar.


Limar berkata "Aku ingin makan mie instan. Di dalam sana, tidak bisa memasak mie instan."


"Baiklah, kali ini makan mie instan." Ucap Aldo dan Limar merasa senang.


"Tapi aku mau kamu yang buat, bukan beli."


Aldo dengan tersenyum berkata "Oke, kita akan pulang ke rumahku."


"Kamu punya rumah??" Tanya Limar.


"Kontrakanku masih berlanjut, jadi aku sudah bersih-bersih rumah itu. Eyang Dewi melarang aku, dan ingin aku tinggal di rumah kamu. Tapi aku tidak bisa tinggal disana."


"Aku juga tidak sanggup pulang kesana. Bolehkah aku ikut sama kamu??"


Dengan segala rasa yang ada, dan Aldo akan mengajak Limar untuk tinggal di rumahnya. Bukan hal yang mudah bagi Aldo. Tapi saat ini, hubungan mereka masih tidak jelas akan dibawa kemana.


"Limar, makan mienya."


"Emh, pasti enak. Tampilan, cukup menggoda lidahku."


"Sayang, kita makan mie buatan Ayah kamu dulu."

__ADS_1


Limar hanya wanita, yang ingin dicintai dan mendapatkan perhatian dari orang yang dicintainya.


Saat menyendok kuah mie itu, dan mulai makan mie, ada rasa yang begitu berharga. Seorang Limar, dimana dulu dirinya sangat termanjakan dengan segala kemewahan yang ada. Tapi saat ini, duduk di bangku plastik dan hanya ingin menikmati mie intans.


"Tuhan, terima kasih." Batinnya yang mulai mengingat akan Tuhan.


Limar akan menjadi ibu, dia tidak bisa membayangkan dirinya yang saat ini.


Yang jelas, rasa berharga itu sudah menghampiri hati dan pikirannya.


"Aku masih Limar Mahatma." Ucapnya.


Aldo yang masih memandanginya, lalu berkata "Kamu memang Limar Mahatma. Tidak ada yang berubah pada dirimu."


"Tapi rasanya aneh!"


"Mie buatanku memang aneh."


Aldo yang menggoda dan perlahan mengusap air mata Limar "Makanlah, aku tinggal dulu."


Aldo meninggalkanya, rasanya juga teramat berat. Aldo tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan, saat ini Limar telah mengandung anaknya. Sebagai laki-laki, Aldo merasa dirinya lemah, dan hanya seorang pengecut.


"Limar, kamu coba ini." Ucap Aldo yang memberikan gaun ibu hamil.


Limar yang sudah selesai makan, tampak merentangkan gaun ibu hamil itu, gaun dengan kerut di bagian bawah dada yang berwarna biru muda, dan ada renda di setiap disisi gaun itu. Sangat cantik dan sangat nyaman untuk dikenakan.


"Kamu tahu ukuran badanku." Ucapnya setelah memakai gaun itu.


"Ems, sepertinya aku harus membali lagi yang lebih besar."


"Kamu masih berani menggoda aku??"


"Ayo kita jalan-jalan."


Aldo dengan senyuman manis dan Limar memeluk lengan kanan Aldo. Mereka berdua sangat menggemaskan.


"Aldo."


"Apa?"


"Kenapa kamu kembali?"


Aldo yang mengendarai mobil dengan santai, dan sesekali mengelus rambut Limar. Bahkan dia juga memegang tangan Limar dan menciumnya.


"Aku tahu." Ucap Limar dan mulai menunduk, kedua tangannya memegang perutnya tampak besar, bahkan Limar merasakan tendangan dari bayi tampannya.


"Anak kita laki-laki, kamu harus menyiapkan namanya."


"Jagoanku, Ayah tidak pandai memilih nama. Kamu minta sama Bundamu." Aldo masih mengelus perut Limar.


"Ems, tapi aku bingung. Aku sudah lama tidak tahu dunia luar."


"Nanti kita sama-sama cari di internet, banyak referensi nama anak. Bahkan sangat modern, ada yang namanya Louis, Alex, Jackson, terus ada nama Bastian, ada juga nama islami Fahri, Fathan dan Hafiz. Tapi aku tidak tahu artinya. Nama sama saja, hanya saja orang tua kadang mau nama yang beda dan ada arti berharga dari nama itu."


"Emms, berharga. Iya, memang sangat berharga. Bahkan, kita harus di tempat yang tidak pernah terbayangkan." Ucap Limar dengan mengelus perutnya.


Mereka tiba di sebuah taman, suasana siang dan cukup menyengat, tapi Limar sangat senang. Duduk dibawah pohon dan menikmati es cincau.


Limar Mahatma merasakan nikmat dunia yang sangat berharga. Dia bisa merasakan dunia seolah memberikan kesempatan berharga untuk dirinya.


"Aku suka. Cincau ini, sangat mahal." Ucap Limar, dengan perasaan sendu.


"Limar." Ucap Aldo yang menggeleng dengan tersenyum.


Aldo tidak ingin melihat air mata Limar, makanya selama Limar dalam tahanan, Aldo tidak ingin membuat Limar menjadi sosok yang lemah.


"Iya, aku Limar. Aku bukan wanita lemah." Ucapnya dan lanjut menikmati sajian siang itu.


Dua hari kemudian.


Di sebuah rumah sakit swasta, yang sangat terkenal dengan nama Kasih Maria. Sebuah rumah sakit dimana tempat, yang biasa menjadi rujukan untuk keluarga Mahatma, melakukan cek up kesehatan dan perawatan dokter.


"Aldo, bawa anak kita pergi."


Limar yang semalam baru melahirkan bayi tampannya, masih tampak berbaring.


"Limar, apa yang kamu katakan."


"Aldo, aku akan segera kembali ke sana."


"Limar, masih ada waktu 27 hari. Untuk apa kamu begini."


Aldo yang duduk di samping Limar dan suasana menjadi sunyi.

__ADS_1


Pukul 21.40 WIB bayi itu lahir dengan sehat. Sangat tampan, dengan berat 3,6 kg dan pajangnya 50 cm. Bayi berjenis kelamin laki-laki itu, suaranya sangat nyaring bila menangis, bahkan baru lahir suaranya sudah terdengar dari luar.


Aldo, Bunda Hesti dan semua keluarga yang menantikan kelahiran bayi itu, juga mendengar suara tangisnya.


Bayi yang sangat tampan, dan sangat aktif. Gerakan tangan dan kakinya juga sudah lincah.


"Limar, apa kamu tidak ingin merawat bayimu dulu?"


"Aku cukup melihat bayi tampanku dan aku juga sudah menciumnya. Kamu pasti tahu perasaanku." Ucap Limar yang berusaha tegar.


"Tapi, bayi kita masih membutuhkan kamu."


"Aldo, percaya sama aku. Anak kita kuat tanpa aku. Kamu harus mengajaknya pergi bersamamu. Jaga dia untukku, aku mohon sama kamu."


"Aku mengerti." Aldo mengerti apa yang Limar rasakan saat ini.


Bila Limar merawat dan menjaganya, pasti akan terasa berat bila harus berpisah dengannya.


Cukup melihatnya sekali saja dan itu akan membuat Limar tenang, dan tidak akan merasakan sakit dalam perasaannya.


Bagaimanapun Limar seorang Ibu, dan pastinya akan sulit baginya, bila sudah terbiasa bersama.


"Nanti malam aku akan minta Lingga mengantar aku kembali. Aku juga sangat sehat, tidak ada yang sakit."


Aldo dengan tersenyum manis dan menyemati Limar. Aldo tidak ingin menunjukan rasa sedihnya dihadapan Limar, dan itu juga akan menyulitkan Limar nantinya.


"Aldo, aku ingin kamu saja yang merawat bayi kita. Aku sudah menyiapkan nama bayi kita."


Aldo mengangguk dan berkata "Iya, aku akan merawat jagoanku."


"Aldo, sementara bawa jagoan kita ke Jogja. Lingga akan mengaturnya, aku ingin dia merasakan rumah masa kecilku."


Aldo kembali mengangguk, dan berkata "Kamu tidak usah cemas. Aku tahu apa yang harus aku lakukan."


Obrolan panjang mereka di sore hari itu, cukup membuat Limar senang dan Aldo juga sudah memantabkan perasaannya.


Keesokan harinya, Aldo bersama bayinya.


"Aku akan menjaga anak kita." Ucap Aldo yang sudah membawa pergi anaknya.


Limar sudah kembali ke tempat hukumannya.


Kemarin setelah melahirkan putra tampannya, Limar melarang Bunda dan Lingga untuk membawa putranya. Yang berhak hanya Aldo. Karena dia Ayah putra tampannya.


"Aku yakin, Aldo bisa menjaganya. Sampai waktunya tiba." Ucap Limar yang duduk bersandar di tempat tidur dalam ruang tahanan.


Itulah kisah Limar Mahatma, putri dari Yuda Mahatma.


Yuda yang berarti Perang


Mahatma yang berarti Pemimpin berjiwa besar.


Limar yang berarti kain sutra


Lingga yang berarti lambang kekuasaan


Langit yang berarti ruang luas terbentang diatas bumi.


Seorang Ayah yang memiliki harapan untuk anak-anaknya.


Yuda yang telah tiada, membawa segenap cinta dan luka.


Putra-putri Yuda sudah mulai menyesuaikan diri tanpa sosok Ayahnya.


Ini hanya sebuah kisah dari keluarga Yuda Mahatma.


Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang special. Hanya ada cinta, luka dan air mata didalamnya.


Semoga Limar segera terbebas dari hukumannya, dan kelak anaknya menjadi laki-laki hebat.



Buat kalian yang ingin tahu gimana Limar dan Aldo kelak, serta putra tampannya, kalian bisa baca di kisah cinta ABYAZ. 😍


Selamat untuk Limar dan Aldo, sampai jumpa di cerita kisah kalian selanjutnya.


Hukuman Limar bisa 10 tahun, atau lebih dari itu. Entahlah, yang jelas Limar akan menerima hukumannya.


Untuk Serly sendiri, dia masih depresi. Apakah bertahan atau tidak, nggak ada yang tahu.


Siska, hidup tidak jelas. Mungkin saja dia juga meminta bantuan Aldo, atau mencari tempat untuk dia bertahan hidup.


Bye bye 😍πŸ₯°πŸ˜˜

__ADS_1


Terima kasih πŸ€—πŸ€—


__ADS_2