
Masih kelanjutan dari bab sebelumnya. Tidak ada alur yang rapi dalam cerita ini, tetapi Mas Pras selalu kembali dengan cerita yang begitu unik. π
Suasana malam setelah listrik menyala, tadi hampir 2 jam mati lampu. Tapi tidak membuat Alishba merasa jenuh, malahan bisa bermain bayang-bayang dengan sang Papa.
Sekarang di ruang TV, Alishba tampak bersandar pada dada sang Papa, merasa sangat nyaman. Papa muda itu tampak asyik menonton film kartun bersama putri kecilnya.
"Papa, Alishba sudah ngantuk." Lirih Alishba dan matanya mulai meredup.
Pras mengelus rambut putri kecilnya dan Alishba mulai memeluk sang Papa.
Britney yang baru selesai membuat susu untuk putri kecilnya mendekati ke arah mereka berdua, tapi Alishba sudah memejamkan matanya.
"Mas, Alishba sudah tidur?!"
"Hems, barusan masih bicara." Pras lalu menatap putri kecilnya yang sudah memejamkan matanya.
"Tadi minta susu, baru dibuat sudah bobok." Ucap Britney dengan suara pelan. Britney yang tampak tersenyum manis, dan masih memegang gelas susu untuk Alishba.
Pras menggendong anaknya dan mengajaknya ke kamar Alishba. Kamar yang sangat nyaman untuk Alishba, Britney kembali ke dapur dan meletakan susunya coklat yang tadi di minta oleh Alishba.
"Sayang, kamu bobo ya." Pras mencium kening anaknya dan tidak lupa dia memanjatkan sebuah do'a untuk putri kecilnya.
Pras hanya seorang Papa, yang masih banyak kekurangan, dia hanya bisa berdo'a, memohon agar putrinya kecilnya sehat, dan selalu dalam lindungan Allah SWT.
"Papa sayang Alishba."
Pras menarik selimut pink bergambar hellokitty. Britney yang ke kamar itu, melihat sang Papa muda itu memperhatikan putri kecilnya dengan kasih sayang.
"Mas, kamu kenapa?" Tanya Britney yang melihat Pras begitu sendu, saat mengelus rambut Alishba.
"Sayang, aku cuma khawatir. Anak kita ternyata cepat besar. Sebentar lagi, masuk Sekolah Dasar. Perlahan akan jadi remaja." Ucap Pras dengan senyuman manis, tapi dalam hatinya sangat gelisah.
Seorang Papa yang cukup khawatir, ternyata sang waktu telah berjalan cepat. Anaknya sudah besar, malah akan punya adik. Tidak terasa hal itu akan terjadi dengan dirinya, begitu cepat berlalu dan semua terasa seperti hanya lewat saja.
Padahal Pras baru saja seperti sedang menimang Alishba, tahu-tahu anaknya sudah besar, dan akan memasuki jenjang Sekolah Dasar.
"Iya Mas, waktu begitu cepat. Aku juga merasakan hal yang sama. Aku, selalu merasa Alishba masih seperti balita. Tapi ternyata aku salah, anak kita sudah besar, bahkan dia sangat cerdas, apalagi setiap bicara, aku kadang bingung menjelaskan kepada Alishba." Ucap Britney dan mendekati putri kecilnya itu.
Kedua orang tua yang begitu menyayangi putri kecilnya, dan penuh kekhawatiran tentang masa depan putri kecilnya.
"Sayang, kamu bobok ya."
Pras kembali mengecup kening putri kecilnya, Alishba mulai memeluk gulingnya, dan Pras beranjak dari tempat tidur Alishba.
"Sayangnya Mama, bobok ya sayang. Mama sayang banget sama Alishba." Britney juga melakukan hal sama, bahkan sorot matanya penuh cinta dan kasih sayang untuk putri kecilnya itu.
Britney mulai mematikan lampu dan hanya menyalakan lampu tidur yang ada disisi kanan tempat tidur itu. Alishba sudah terbiasa tidur sendiri, tapi terkadang juga ingin tidur bersama Papa dan Mamanya. Malahan Britney yang terkadang masih tidak tega, kalau malam setelah sang suami tidur, Britney pergi ke kamar anaknya.
__ADS_1
Mungkin perasaan sang Mama yang masih gelisah, saat melepas anaknya untuk belajar tidur sendiri di kamarnya, dan itu sekitar dua tahun yang lalu.
"Sayang, kamu sudah minum susu hamil?"
"Mmh, Mas Pras, aku masih tidak suka."
Selalu begitu, dari kehamilan pertama dan sekarang kehamilan kedua, Britney paling susah untuk meminum susu hamil.
"Aku buatkan, dan kamu harus meminumnya sampai habis."
Britney tampak berubah, raut wajahnya merasa dilema, entah kenapa dia tidak suka minum susu hamil. Padahal itu sangat penting untuk janin dan juga kesehatannya.
Britney mengikuti suaminya yang berjalan ke arah dapur. Dapur yang tidak begitu luas, tapi sangat modern dengan suasana yang cukup nyaman, dan ruang makan yang ada di sebelahnya, serta ada mini bar yang juga tidak jauh dari dapur itu.
Britney mulai duduk di sebuah kursi bar yang ada di dekat dapur itu. Mini bar, tempat Pras membuat kopi, dan tempat itu sangat unik.
"Kamu harus minum susu ini." Ucap saat Pras memegang toples kotak yang berisi bubuk susu hamil berwarna coklat.
"Emm, Mas Pras gelasnya yang kecil aja."
Pras tadinya mengambil cangkir yang besar, tapi saat melihat ekspresi istrinya, akhirnya dia tidak jadi mengambil cangkir yang besar itu.
Britney tampak menyangga dagunya, bibirnya cemberut saat melihat suaminya mengaduk susu hangat untuk dirinya.
"Sayang, ayo minum susunya." Pras meletakan diatas meja mini bar itu. Kedua mata itu saling menatap, Pras yang tengilnya minta ampun dan Britney masih mengerucutkan bibirnya.
"Nggak perlu, aku bisa sendiri." Britney langsung mengambil susunya itu, dan minum dengan perlahan.
Kalau suaminya yang pegang cangkirnya, yang ada dia harus segera menghabiskan susu yang ada dalam cangkir itu.
Pras berjalan mendekati sang istri yang duduk itu, dan Pras menarik kursi itu perlahan memutarnya, lalu semakin dekat dan Britney masih meminum susu coklat yang hangat itu.
Britney menatap suaminya dan memegang cangkir itu. Pras tersenyum tengil dan kedua tangannya memegang sisi kursi itu.
"Kamu seperti bayi, mau aku bantu bersihkan bekasnya?!"
Britney dengan cepat tangan kanannya meraih tisue yang ada di sisi kanan meja itu. Menyeka mulutnya dengan cepat dan Pras dengan nakal menatap tajam, tengilnya kelewat maksimal.
"Mmh, Mas Pras...ini baru jam 8 Mas."
"Apa maksud kamu baru jam 8 malam."
"Bukan gitu maksud aku. Aku mau ke atas dulu, ada pekerjaan yang mau aku selesaikan Mas."
Pras tidak berhenti begitu saja, suasana masih gerimis, dan udara begitu menusuk, rasanya ada perasaan lain yang tidak bisa menghentikannya.
"Nanti aku bantuin, tapi kamu harus membantu aku dulu sayang."
__ADS_1
"Tapi Mas, nanti aku keburu ngantuk."
Entah, kenapa kehamilan istrinya yang kedua ini, membuat Pras semakin agresif. Bahkan dia selalu berkeinginan yang aneh-aneh, dengan alasan dia yang mengidam.
"Ayo sayang, temani aku bermain dulu. Sebentar saja. Aku mohon sama kamu."
Britney menyungging bibirnya ke kanan, dan Pras dengan tengil telah berhasil membujuk istrinya.
Pras menyalakan layar dan playstasion, Britney dengan terpaksa menuruti suami nakalnya. Cukup bermain PS di malam hari dan Britney sangat jenuh, hampir setiap hari dia bermain itu.
"Kamu kalah lagi, kenapa sayang?"
"Aku nggak bisa. Aku nggak bisa main PS Mas Pras!"
Pras mengecup bibir sensual istrinya "Satu kali lagi sayang."
"Mas Pras!!"
Setiap sang istri kalah dalam permaianan itu, hukumannya lebih mendebarkan, bukan hanya ciuman, tapi lebih dari itu.
"Mas, sudah tiga 3 ronde aku kalah. Aku tidak berbakat."
Pras menoleh ke arah wajah istrinya yang ada di sebelah kanan, dan kedua wajah itu semakin dekat. Sorot matanya Pras yang sangat tajam, tapi penuh arti dan Britney menatapnya dengan raut wajah yang berbinar.
Pras mengelus rambut istrinya dan mencium kening istrinya, lalu berkata "Aku bantuin kerjaan kamu. Kamu tidur saja, sudah malam sayang."
Britney mengangguk dengan senyuman manisnya, dan pergi meninggalkan suaminya dari ruang TV itu.
"Istriku, aku akan segera menyusulmu."
Britney yang berjalan ke kamar, masih bergumam "Bojoku tambah nakal."
Eittss lebih baik nakalin istri sendiri ya Britney π dari pada nakalin orang lain kan bahaya π π€«
lanjutkan kenakalanmu Mas Pras, othornya tak mau ikut campur yak βπ
πΈπΈπΈπΈπΈ
Hallo semuanya, apa kabar? π₯°π€
Maaf ya, othor lama updatenya. π€
Semoga kalian masih suka ya, π€
Selamat tahun baru 2021 π₯°π
__ADS_1