
**Brasshh**!
Kepala itu putus dengan sekali tebasan. Menusuknya dibagian dada dan menggesernya dengan kuat.
Membelah dadanya, mengambil jantungnya, menyeset mukanya hingga ke kulit ari dan meremas jantungnya sampai hancur.
Memotong kaki dan tangannya dan mengeluarkan semua isi yang ada didalam tubuh itu.
Usus, daging hingga cairan merah keluar sederas air yang keluar dari keran.
Kemudian dia memasukkannya ke dalam kantong hitam berukuran besar dan melempar jauh kantong itu ke arah laut.
Memandang tangannya yang penuh darah dengan ekspresi yang menjijikan. Ia mencuci tangannya di tepi laut kemudian mencium bau tangannya.
"Masih sedikit bau" gumam pria itu mengerutkan keningnya
Bunyi Jam miliknya seperti detikkan bom yang ingin meledak.
Pria itu menekan tombol hijau seketika Jam-nya menunjukkan ke suatu tempat seperti GPS.
Berlari terpaku pada GPS itu ke suatu tempat tanpa melihat sekeliling. Langkahnya berhenti tepat ditepi sungai terpaku melihat gadis yang sempoyongan keluar dari sungai itu naik ke tepi.
Gadis itu batuk dan mengeluarkan cairan bening.
"Dia muntah air. Mungkin efek tenggelam tadi" gumamnya.
Gadis itu mendongak pada Pria yang melamun melihatnya, "Apa yang lu liat? Bantu gua berdiri, Bang" perintah Gadis itu.
"Santai Kei, gua akan melepasnya" ujar Pria itu, seraya berjalan menuju Gadis didepannya kemudian membantunya duduk bersandar dibawah pohon tepi sungai.
Keishy membuka Hoodie yang ia pakai. Terlihat disana, Pakaian yang dirancang anti peluru itu terpampang di tubuhnya.
Gadis itu membuka baju anti peluru kemudian
Menaruhnya di atas tanah setelah itu ia memukul baju itu dengan kapak yang tadinya dibawa oleh Vian, Kakaknya.
Ia membelah baju itu hingga jadi kepingan besi yang tidak berguna.
Kemudian Kapak itu Keishy lempar ke sembarang tempat.
"Sudah gua duga. Lo di tembak, 'kan? Sama ketiga Pembunuh bayaran itu? Untung gue kasi baju anti peluru itu Kei. Kalo nggak, pasti lu udah ma—"
Tuk!
Pukulan kepala sukses mendarat di kepala Vian.
"Bawel!" timpal Keishy.
"Lo adek Gua, makanya harus percaya ama Abang" ujar Vian seraya mengusap kepalanya yang tadi dipukul Keishy.
Keishy meludahkan cairan merah yang sebenarnya itu pewarna makanan yg dibalutnya dengan balon. Dan pada saatnya, Keishy menggigit balon itu sampai pecah kemudian batuk seakan-akan itu efek dari tembakan.
Vian mengamati apa yang Keishy lakukan kemudian mengambil peluru yang masih mulus di sisa puing puing baju anti peluru itu dan memasukkannya di saku.
"Abangg" Keishy beralih pandang ke Vian. Tangis Keishy pecah segera memeluk kakaknya.
"Eh lo kenapa, Kei?" tanya Vian panik mengusap punggung adiknya
Kei melepas pelukannya pelan "Mamah bang ... Mamah .. " ucapnya menyeka air mata
"Kenapa sama Mamah?" tanya Vian bingung
"Mamah ... hiks ... ma ... maahh .. hiks ... hikss"
__ADS_1
"Iya Kei, Mamah kenapaa?"
"Mamah ... ma ... maahh .. di ... huaaa ..." tangisan Keishy semakin menjadi-jadi.
"Mamah diapain, Kei?" Vian menghela napasnya mencoba sabar pada Adiknya itu.
"HUA ... ma ... maahh ... hiks ... hiks ... Mamahh ... hiks" rengek Keishy
"Kei, Mamah kenapa?" ucapnya menekankan kata 'kenapa'. Jujur Vian kesal dengan Keishy yang dari tadi menunda topik yang mereka bicarakan
"Ma .. mahh ... d-di .. di .. dibu—"
"NGOMONG YANG JELAS PE'A"
PLAK!
Tamparan itu mendarat di pipi mulus Vian.
"KAGET BIADAP! INI JUGA LAGI JAWAB"
"LU KELAMAAN DARI TADI JUGA!"
"YA BIASA AJA DONG SETAN"
"LU YANG SETAN"
"LUU!"
"ELU!"
"LUU!!!"
"ELU!"
"LUUUUUUUuuuuuuuuuUUUUUU!!" Timpal Keishy dengan 'u'-nya yang panjang.
Vian menggaruk tengkuk kepalanya bingung.
Ada apa dengan adiknya? Dari gadis cengeng hampir mirip dengan anak ayam sekarang berubah drastis menjadi singa liar.
"Se imut-imutnya cewek, se cantik-cantiknya cewek kalo lagi marah sumpah kek nelen orang. Contohnya ade gue, liat tu mukanya dah sebelas dua belas kayak tedmon. Seketika darahnya udah pindah haluan dari jantung ke otak" Pikir Vian dalam hati seraya menatap Adiknya itu dari atas sampai bawah.
"Apa Lu, liat liat? " tegur Keishy melihat Vian memandangnya dengan kening yang mengernyit.
"Kaga. Ngomong-ngomong, Mamah?"
"Gue benci om Revan" jawab Keishy meredakan emosi
Pletak!
"Gua nanya apa lu jawab apa" Ucap Vian yang tadinya menyentil pelipis Keishy pelan
"Ah iyaiya, mengutarakan perasaan aja dijitak" ujar Keishy mengusap kepalanya, "dasar tua."
"Hah?! Lu bilang apa?!"
"Ehh, ngga-ngga. ehe." Keishy segera mendadah kedua tangannya menolak
"lanjutin topik mamah." Ujar Vian dan Keishy mengangguk pasrah
"Mamah dibunuh sama Om Revan demi ngambil alih saham perusahaan mendiang Papah" jelas Keishy lemah
"Dasar sampah" gumam Vian
__ADS_1
"Gua gak nyangka bang. Om Revan yang selalu dukung Kei, rawat Kei dan selalu men-support Kei saat terpuruk bisa sekeji itu karna uang" Keishy menghela pelan.
"Seharusnya gua denger apa kata Om Revan waktu itu 'Orang disekitar belum tentu baik, apa kamu tau kei siapa yang bisa melukai hati yang paling terdalam' ?"
"Dan gua waktu itu menggeleng ya karna gua gak tau. Saat itu gue masih kelas 3 SMP, Bang. masih polos-polosnya" Keishy memandang kedepan dengan tatapan kosong dengan mata merahnya.
Vian mendengarkan apa yang diceritakan Keishy kepadanya. Sekilas niat untuk balas dendam Vian pada ibu kandungnya dan Revan kembali membara.
"dan Om Revan jawab 'Orang terdekat'. Dengan tidak langsung Om Revan kasih tau gua buat hati-hati sama dia"
"Dan sekarang dia bunuh mamah .." Keishy Memejamkan matanya menyeka air matanya yang kian menetes.
"Hey? Udah. cupcup." ucap Vian memeluk Keishy berusaha menenangkannya, "Liat aja, kita buat keluarga Andara tercengang" ujar Vian melepas Pelukannya.
"Kita juga keluarga Andara, Bang." Keishy mengusap matanya seraya mendongak menatap wajah Kakaknya.
"Kita bukan keluarga Andara"
"L-lo menghapus marga keluarga?! Inget bang! Orang tua kita juga Andara! Dan gua! Andara! dan Lu! Andara! Jangan karna alasan lu waktu itu dibuang Tante Leona jadi gini!" bentak Keishy.
"Bukan gitu jingan. Maksud gua, lo Keishy Arrabale Andara dan gue Viandra Gerralio Andara menjadi ..."
Vian menunjuk adiknya, "Keishy Arrabale Ralie, dan Gua," kemudian ia menunjuk dirinya sendiri, "Viandra Gerralio Ralie."
"Hah?" Keishy menatapnya bingung "lu ubah marga kita dengan nama mamah sama papah digabungin gitu?" tanya Keishy dan Vian mengangguk
"Ini buat identitas kita tersamarkan sama Om Revan sama mamah gua si Leona" jelas Vian kemudian Keishy mengangguk mengerti
"tapi gimana sama Om Revan?" tanya Keishy dengan tatapan sendu
"Lu tau kan? Bisnis gelapnya Om Revan?"
"Iya tau. Mutilasi orang, 'kan?" ucap Keishy enteng
"Duh bodohnya adikku ini. Dia bukan mutilasi, dia maksa Pembunuh bayaran buat ngambil jantung, ginjal, mata dan organ tubuh lainnya buat dijual ke oknum atau pihak yang tidak bertanggung jawab" jelas Vian.
"Apa jangan-jangan gua diserang Pembunuh bayaran juga, bang?" Keishy yang awalnya kesal dengan Vian pun kalah tarung dengan sifat ingin tahunya itu.
"Bisa jadi, pasti Om Revan maksa mereka buat kerja ke dia dan nawarin upah cukup besar buat gaji mereka"
"Eh. lu tau dari mana?"
"Gue tadi mergokin anak buah Om Revan yang mau nyulik cewek seumuran lu"
Mendengar itupun Keishy langsung mencium bau tangan Vian dan dia bisa menebaknya apa yang dilakukan Vian pada anak buah Revan.
"Lo bunuh, mutilasi trus dikantongin, 'kan? Kemudian lo buang tuh orang" jawab Keishy berhenti mencium bau tangan Vian
"Eh. tau dari mana?"
"Tangan Lu bau amis. Pasti gak pake sabun nyucinya, 'kan? " Tebak Keishy lagi.
"Hehehe, tau aja daki monyet" Keishy Memutar bola matanya malas dan Vian tertawa tanpa beban.
"Bang, mending kebiasaan Lu harus diberhentiin. Bunuh orang itu salah, Bang. Itu Dosa. Gua gak suka kalo saudara gua sendiri itu seorang pembunuh" jelasnya lembut
"Kei? Hm .. Abang minta maaf. Abang cuma gak suka aja Om Revan memperalat orang lain buat jadi bonekanya" Vian menghela berat
"Abang berusaha buat jadi Kakak yang baik buat lo" lanjutnya kemudian memeluk Keishy erat
"Gue pegang omongan lo, bang." Ucap Keishy membalas pelukan Vian
Tin! Tin! Tin!
__ADS_1
Mobil tiba tiba datang di hadapan kedua kakak beradik itu dengan pemilik di dalamnya.
"Ade rasa pacar ya Vi"