
"Apa-apaan ini Kuon?!" teriak Chikako
"Apa kamu sudah kehilangan akal sehatm..uggh" belum sempat Chikako menyelesaikan kalimatnya, Kuon mencengkeram lehernya dan mendorongnya hingga jatuh ke rerumputan.
"A..apa yang .." dengan nafas terengah-engah sambil memegang lehernya dengan tangannya yang gemetar berusaha untuk memproteksi dirinya, namun belum usai, Kuon menariknya untuk kembali berdiri dan memberikan t*mparan di kedua belah pipinya tanpa henti
"Kyaaaa!!! huhuhu hentikan!!" mohon Chikako berteriak, terlihat darah mengalir di sudut bibirnya itu.
"Aku akan menghab*si dirimu hari ini juga" ujar Kuon tanpa henti melakukan aksinya.
Para pelayan yang melihat hal itu segera berlari mendekati mereka dan berusaha menahan tubuh Kuon yang tinggi tegap itu.
"T-tolong hentikan Tuan, atau anda akan memb*nuh nyonya! " mohon Tomoki, supir keluarga mereka yang juga ikut menahan tubuh Kuon.
"Lepaskan aku!" teriak Kuon
"Kumohon Tuan, bagaimana keadaan Tn.Muda Yukio jika ia melihat hal ini?" pintanya.
Ia pun kembali menghempaskan tubuh Chikako seperti sebuah boneka rusak ke tanah.
Dan baru saja namanya di sebut, Yukio yang kebetulan melihat keramaian di taman belakang mansion, segera berlari mendekati mereka. Ia tidak mengerti mengapa ibunya menangis di rerumputan itu.
"Tn Yukio!" panggil Reina, pengasuhnya yang berusaha mengejar anak berusia hampir 4 tahun itu.
"Mama!!" teriaknya, ia pun segera menghampiri Chikako
"Ayah! kenapa Mama menangis?" tanya Yukio yang terlihat marah dan juga sedih. Yukio memang sangat dekat dengan ibunya, oleh karena itu diusianya yang sangat muda, jiwa protektifnya sudah terlihat.
"Huhuhu Yukio" tangis Chikako memeluk Yukio
"Reina! bawa Yukio pergi dari sini" perintah Kuon
Tanpa menunggu lebih lama, Reina segera menggendong Yukio dan berjalan meninggalkan mereka dengan tergesa-gesa. Tangis Yukio pun semakin pelan seiring menjauhnya mereka.
"Huhuhu" masih terus menangis, Ia memegang pipinya yang tampak membengkak hingga ke area matanya yang tampak kebiruan.
Baru kali ini Chikako merasa ketakutan dan khawatir dengan keselamatannya. Ia merasa tidak mengenal Kuon yang berada didepan matanya sekarang, walau ia tahu Kuon tidak menyukainya, ia juga tidak pernah berpikir akan tiba hari ini dimana Kuon akan memperlakukannya seperti ini.
Disatu sisi, Kuon merasa menyesal, bukan karena ia telah menyakiti istrinya itu, melainkan ia menyesal mengapa Ia bisa bertemu dengan wanita jahat ini. Seandainya saat itu ia tidak terobsesi untuk membalas dendam.. seandainya ia tidak pernah mengkhianati pernikahannya .. dan seandainya saja Ia lebih mempercayai Naomi...
__ADS_1
Masih jelas dibenaknya bagaimana perasaannya ketika ia mengira Naomi dengan sengaja menggugurkan kandungannya, rasa cinta yang ia miliki sempat menjadi benci..dan disaat ia sibuk berpikir ia adalah orang yang paling menderita, bagaimana dengan Naomi? tidak hanya kehilangan seorang anak.. ia juga kehilangan suaminya...dan harus menerima kekerasan darinya....belum cukup, wanita yang seharusnya ia lindungi, masih harus menerima tuduhan yang tidak bertanggung jawab darinya..
Naomi mungkin saat itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya... namun dirinya lah yang mendorong hal tersebut. Jika ia harus mencari kesalahan, bukankah ia yang harusnya paling bertanggung jawab untuk itu?
"Lepaskan aku" ujar Kuon lirih, mendengar suara Kuon yang terdengar lebih tenang, mereka pun melepaskan pegangan mereka.
"...Aku akan mengirim surat cerai kita, segera tanda tangani dan enyahlah dari hadapanku, aku sudah tidak ingin melihatmu lagi" Sambung Kuon, yang kemudian berjalan meninggalkan mereka semua, namun hanya beberapa langkah, ia kembali berhenti.
Chikako yang mengira Kuon akan kembali mem*kulinya reflek mengangkat lengannya berusaha untuk melindungi dirinya sendiri..namun tangan yang ia kira akan kembali menghaj*rnya tidak kunjung datang.
"...Yukio akan hidup bersama ku, anak itu berhak mendapatkan ibu yang lebih baik...oleh karena itu jangan lagi menampakan batang hidungmu didepan Yukio" ucap Kuon, yang kemudian melanjutkan langkah kakinya, meninggalkan taman dan keluar dari Mansion tersebut.
Chikako tentu saja tidak menerimanya, bagaimana mungkin pria itu berharap untuk memisahkannya dari Yukio? tidak ada wanita lain yang layak untuk menjadi ibu Yukio, apa pria itu berpikir Naomi layak menjadi ibu dari Yukio? jangan bermimpi, langkahi dulu mayatnya sebelum berpikir untuk merebut Yukio dari hidupnya!
Melihat Chikako yang masih terus menangis, para pelayan memutuskan untuk meninggalkan tempat itu, memberi majikan mereka ruang untuk meratapi keadaannya, mereka tidak ingin membuat majikan mereka merasa lebih terhina lagi.
Setelah tinggal ia seorang, Chikako segera mengeluarkan ponselnya dan mengetik nomor yang ada di layar telepon genggamnya itu, tidak berapa lama kemudian suara pria terdengar dari seberang telepon.
"Chikako sayang? mengapa kamu menangis?" tanyanya khawatir ketika mendengar isak tangis Chikako..
"Aku ingin kamu segera menghab*si wanita murahan dan anak h*ramnya itu Tetsu... segera!!" ucapnya setengah berteriak.
"Aku tidak akan memaafkanmu jika kamu gagal lagi!!" potong Chikako yang kemudian langsung mematikan teleponnya..
"huhuhu, lihat saja Naomi..jika Tetsu gagal meng*khiri hidupmu.. aku yang akan melakukannya dengan kedua tanganku...."
...****...
Naomi sedang menyiapkan makan malam mereka, sedangkan Aiko sedang bermain dengan pelayan kesayangannya dekat penghangat ruangan yang berada di ruang keluarga mereka.
Ia tidak menduga jika Kuon akan datang mengunjungi mereka tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
Oleh sebab itu ia terkejut ketika mendapati Kuon sedang berdiri di pintu menuju ruang makan mereka. Pria itu terlihat agak pucat, rambutnya tidak tersisir rapi seperti biasanya, dan kemejanya pun tampak agak berantakan.
Melihat penampilan mantan suaminya seperti itu, membuat Naomi merasa khawatir.
Ia pun segera menuntun Kuon untuk duduk di salah satu kursi yang ada diruang makan tersebut.
"K-kuon? apa kamu baik-baik saja? apa perlu kubua.." belum selesai ia berbicara, Kuon tiba-tiba memeluk pinggangnya..
__ADS_1
Semakin khawatir, Ia pun mencoba kembali bertanya kepadanya.
"Kuon...?"
"...Aku ...sudah menemukan pelakunya..." jawab Kuon
"Eh?" Naomi tampak kebingungan, ia tidak mengerti maksud Kuon.
"..Maafkan aku Naomi... maafkan aku" ucapnya yang kemudian bergetar, ia membenamkan wajahnya ke perut Naomi.
"Apa maksudmu Kuon?"
"...Pel*cur itulah yang menyebabkan dirimu keguguran..." jawabnya lagi.
Dan sekarang Naomi mengerti apa dan siapa yang di maksud oleh Kuon.
"..Aku.. sudah membalaskan dendam Haruto... aku..tahu itu tidak cukup dan tidak akan mengembalikan Haruto kepada kita..."
Naomi diam seribu bahasa, ia tidak tahu bagaimana harus merespon.
Tidak peduli berapa lama waktu telah berjalan, kepergian anak pertama mereka akan selalu menjadi luka yang mengiringi seumur hidup mereka, jika orang berpikir waktu bisa menyembuhkan segalanya, hal itu tidak mungkin terjadi pada orang tua yang kehilangan anaknya, separuh hidup mereka sudah berhenti pada hari itu.
Haruto menjadi topic yang sensitif di antara mereka, mereka pikir mereka sudah berdamai dan menutup buku atas kejadian 4 tahun silam dan mencoba untuk menyimpan rasa sakit mereka dengan tidak membicarakannya lagi, namun malam ini, pertahanannya runtuh.
Selama ini, dari lubuk hati terdalam, Naomi masih menyimpan perasaan bersalah dan percaya jika ia lah yang menyebabkan keguguran itu terjadi. Ia menganggap karena keteledorannya lah, Ia harus kehilangan janinnya...ia tidak pernah mengira jika kejadian itu adalah hasil sabotase Chikako. Bagaimana ia bisa memaafkan wanita itu? dan pria yang di depannya.. pria itu tidak jauh lebih baik dari Chikako.
Bukankah ia juga punya andil dalam peristiwa itu? jika saja ia tidak pernah menyeretnya dalam hubungan segitiga, jika saja ia bisa setia dalam pernikahannya, jika saja ... Ia tidak pernah bertemu dengannya, hal itu tidak akan pernah terjadi bukan?
Namun kini, melihat sosok pria rapuh yang ada didepannya, perasaan ingin membencinya perlahan-lahan sirna.
Naomi tahu, membenci ayah dari anak-anaknya tidak akan mengembalikan semua waktu yang telah berlalu, membencinya tidak akan membuatnya merasa lebih baik, dan ia yakin Kuon juga menyesali semua hal yang telah terjadi...oleh karena itu yang bisa ia lakukan adalah berdamai dengan masa lalu mereka, ia percaya inilah yang diinginkan oleh Haruto.
Naomi kemudian mengelus dan mendekap kepala Kuon.
"Terima kasih..." bisik Naomi.
Mendengar ucapan Naomi, tangis Kuon pun semakin kuat, karena ia mengerti maksud dibalik terima kasih yang diucapkan oleh Naomi.. wanita itu telah memaafkannya...
Aiko yang melihat kedua orang tuanya berpelukan kemudian mendatangi mereka dan memeluk keduanya.
__ADS_1
Ketika mereka merasakan pelukan dari Aiko, keduanya menoleh ke arah Aiko dan secara otomatis mendekap Aiko dalam pelukan mereka, secara ajaib mereka seolah-olah merasakan kehadiran Haruto bersama dengan mereka.