Paradoks

Paradoks
Terluka


__ADS_3

Naomi mengira jika sikap gila Kuon akan berakhir setelah beberapa hari, namun sudah 2 bulan, perlakuannya kepada Naomi tidak juga kunjung berubah menjadi lebih baik, yang terjadi justru sebaliknya.


Ia sudah berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka, berusaha untuk memahami apa yang telah terjadi.. mengapa suaminya bersikap demikian, namun setiap kali ketika ia memberanikan diri untuk memulai pembicaraan dengan Kuon, suaminya tidak mengubrisnya, bahkan menganggapnya seakan-akan ia tidak nyata, dan ada saatnya Kuon hanya melihatnya dengan tatapan jijik seolah-olah ia hanyalah seekor serangga yang kotor, dan setelah itu berjalan meninggalkan Naomi tanpa sepatah kata pun.


Ia baru saja kehilangan anaknya..namun seperti nya sekarang ia juga mulai kehilangan suaminya... Ia merindukan sosok Kuon yang selalu memperlakukannya dengan lembut.. Namun kini pria itu sudah tiada..


...****...


Kuon sedang sibuk mengerjakan dan menandatangani berkas proyek diruang kerjanya, ketika Naomi memasuki ruangan kerjanya. Ia membawa sebuah nampan, dengan secangkir kopi dan sandwich di atasnya.


Sadar dengan kehadiran istrinya itu, ia tetap sibuk dengan aktifitasnya.


Melihat suaminya masih sibuk dengan pekerjaannya, Naomi meletakan makanan yang ia bawa di atas meja Kuon.


"... Istirahatlah sejenak,.. Kamu sudah 5 jam berada diruangan ini, aku membawakanmu kopi dan sandwich.." ucap Naomi memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.


Kuon tetap tidak mengubrisnya, bahkan tidak menoleh kearahnya.


"Kuon.."


"Keluar." sahut Kuon tiba-tiba.


".. Kita harus.."


PRANG!! bunyi cangkir dan piring yang pecah mengejutkan Naomi, serpihan keramik berserakan di lantai marmer mereka yang mewah.


"Keluar dari ruangan ini!" teriak Kuon.


Melihat sikap suaminya yang tidak beralasan seperti itu, Naomi tidak tahan lagi. Ia tidak peduli apa yang akan terjadi padanya, kali ini ia tidak akan mengalah pada ketakutannya

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum kamu menjelaskan apa yang telah terjadi!" balas Naomi setengah berteriak.


Melihat Naomi yang mulai berani membantah membuat Kuon semakin marah. Mengkhianatinya belum cukup dan sekarang ia harus bersikap seolah-olah ia adalah pihak yang tersakiti??


" Apa kamu tuli? Keluar dari ruanganku ini selagi aku masih bisa bersabar, aku tidak ingin melihat wajahmu, perempuan jalang" ucap Kuon dengan tatapan jijik. Di matanya hanya tersorot kebencian.


Mendengar ucapan itu keluar dari mulut suaminya, membuat hati Naomi terasa di cabik-cabik.


Ia memang sudah terbiasa menerima perkataan yang menyakitkan dan kasar, terutama ketika ia hanyalah seorang anak diluar nikah dari keluarga Sato.. Namun mendengar kata hinaan itu secara langsung dari mulut Kuon, jauh lebih menyakitkan dibandingkan saat itu.


Ia berusaha menahan air mata yang sudah menggenang dikedua bola matanya yang indah itu. Ia mengigit bibirnya, dan kemudian mengedipkan matanya berharap air matanya tidak jadi keluar. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan.


"Apa aku semenjijikan itu di matamu..? Apa yang.. Sudah kuperbuat sehingga kamu begitu membenciku?" tanyanya dengan mata memerah dan berkaca-kaca.


"Tanyakan saja pada dirimu"


Jawaban Kuon membuat Naomi berhenti sejenak, sikapnya berubah tidak lama setelah Haruto tiada..


Mendengar nama Haruto di sebut oleh wanita yang ia benci saat ini, wanita yang menyebabkan Haruto meninggal dengan sengaja, membuat Kuon naik pitam, wanita itu tidak layak menyebut nama Haruto!


" Jangan pernah sebut nama Haruto kamu tidak layak !!! " bisik Kuon dengan penuh kebencian seraya menunjuk Naomi.


Ia lalu membuka laci yang ada di mejanya dan mengeluarkan sebotol suplemen kehamilan.


".. Kehilangan huh? Coba kamu jelaskan apa ini?? Huh?? Apa ini???!! " teriak Kuon seraya melemparkan botol itu di lantai, menyebabkan tablet-tablet yang ada didalamnya berserakan.


Naomi kemudian melihat tablet-tablet itu, tanda tanya masih memenuhi pikirannya. Apa yang aneh dengan obat itu.


" Bukankah itu hanya suplemen kehamilan?"

__ADS_1


"Masih mau berpura-pura huh? Bukankah kamu sendiri yang paling tahu apa isi obat itu, jika aku tidak memeriksanya ke laboratorium mungkin aku akan mempercayaimu, tapi fakta berkata lain!! Kamu sengaja mengkonsumsi obat X untuk menyingkirkan anak kita.. Semua hanya demi seorang bajingan.. Kenapa.. Kenapa harus Haruto??! " teriak Kuon mencengkeram kedua bahu Naomi seraya mengguncang-guncang tubuh istrinya itu.


Mendengar ucapan Kuon, hati Naomi juga hancur berkeping-keping. Tidak mungkin. Ini semua adalah bohong. Bagaimana mungkin ia mengkonsumsi obat X?


" Apa maksudmu? Sudah kukatakan kalau aku tidak pernah mengkonsumsi obat X!! Aku juga tidak tahu siapa bajingan yang kamu maksud! Aku rasa kamu sudah gila!!"


"Oh hentikan omong kosong ini Naomi, berhentilah bersikap seolah-olah dirimu adalah wanita yang lugu! Bahkan Kenichi sudah mengakui kalian bertemu di belakangku!!!!"


"Aku memang menemui Kenichi! Tapi itu karena aku ingin menemui bibi Ayaka! Tidak ada hubungannya dengan Haruto maupun obat X! Aku tidak mengkonsumsinya! Jika kamu ingin mencari tahu soal obat X yang ada di botol suplemenku bukankah seharusnya itu kamu tanyakan pada dirimu sendiri??? Apa kamu sudah lupa jika kamulah yang membelikannya untukku??! "


" Haha! Jadi maksudmu aku yang sengaja memberikanmu obat itu?"


" Mungkin saja bukan??? Kamu bersikap seolah-olah kamu yang paling kehilangan Haruto, bagaimana denganku? Aku sudah kehilangan anakku dan sekarang harus di fitnah oleh suamiku sendiri! Sudahkah kamu mengaca? Kamu tidak pantas menyebut Kenichi sebagai pria bajingan ketika dirimulah yang bersikap seperti seorang bajingan.. Kamu ti.. !!"


Plak!! Sebuah tamparan melayang di pipi Naomi. Amarahnya memuncak ketika mendengar jawaban Naomi terutama ketika ia membandingkannya dengan Kenichi, sehingga sebelum ia menyadari tindakannya, tangannya sudah bergerak duluan.


Kuon sendiri merasa terkejut ketika menyadari bahwa baru saja ia melayangkan tamparan yang kuat di pipi Naomi. Ia telah kehilangan akal sehatnya.


Pipi hingga telinga Naomi berdengung dan terasa panas setelah tamparan itu mendarat di wajahnya, masih dalam keadaan shock.. Ia tidak mampu berpikir apa yang baru saja terjadi..


".. Kamu.. baru saja...menamparku..?" tangan Naomi menyentuh pipinya yang merah membengkak, kedua matanya menatap tajam Kuon dan tanpa ia sadari air matanya menetes, ia sudah tidak mampu lagi menahan air matanya.


" Kamu sudah melewati batas.." ucap Kuon membuang muka, mengepal kedua tangannya dengan kuat , penyesalan terlihat di wajahnya.


"... Aku..mengerti..sepertinya tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi" ucap Naomi dengan suara yang serak, ia kemudian mengedip-ngedipkan matanya seraya menghapus air matanya yang mengalir. Ia tidak ingin Kuon merasa puas dengan apa yang sudah ia lakukan padanya, ia tidak akan terlihat lemah di depannya. Semuanya sudah cukup.. Ia kemudian berbalik dan meninggalkan ruangan itu.


Melihat Naomi berjalan meninggalkannya dengan hati yang terluka, hampir saja membuat Kuon ingin memeluknya dan meminta maaf.. Mengapa ia harus merasakan kepedihan di hatinya juga ketika ia melihat keadaan Naomi yang seperti itu? Bukankah Naomi pantas mendapatkannya?


"Aaarrgh!!!!!" teriak Kuon seraya membanting semua barang yang ada di atas mejanya.

__ADS_1


Dengan nafas terengah-engah ia kemudian terduduk di kursinya, melihat telapak tangan yang sudah melukai Naomi..


...****...


__ADS_2