Paradoks

Paradoks
Desa Kagawa


__ADS_3

"Happy Birthday to you.. Happy birthday to you... Happy birthday dear Aiko.. Happy birthday to you ~~"


"Ayo di tiup lilinnya nak" bujuk Naomi.


Hari ini Aiko merayakan ulang tahunnya yang kedua, dan dengan semangat ia pun meniup lilin kecil yang ada di kue ulang tahunnya.


Hanya saja bagaimanapun ia meniup, lilin itu tidak padam, melihat hal itu membuat orang-orang di sekitarnya tertawa.


"Ayo, sini Mama bantu" Naomi lalu ikut meniup lilin tersebut hingga padam dan setelah itu orang-orang bertepuk tangan.


Aiko yang melihat lilin itu telah padam ikut bertepuk tangan.


"Wah, sekarang Aiko sudah berusia 2 tahun, ini hadiah dari kami.." ucap Wakana, wanita paruh baya yang juga pemilik restoran Ramen dimana Naomi bekerja.


"Aiko adalah cucu yang tidak pernah kami miliki, tumbuh dengan sehat ya" ucap Tetsuhiko, suami dari Wakana yang juga bekerja sebagai juru masak di restoran itu.


"Dan ini adalah hadiah dari kami berdua, kami harap Aiko menyukainya" Megumi, rekan kerja Naomi yang juga menjadi teman Naomi selama ini menyerahkan sebuah kado yang sudah dihias dengan begitu menggemaskan.


"Aku dan Megumi memilihnya cukup lama, kuharap pilihan kami tidak salah" sambung Kenji, yang merupakan kekasih Megumi.


"Terima kasih semuanya, ayo Aiko..bilang terima kasih"


"kasih..!" ucap Aiko gembira seraya menepuk tangannya.


"Manisnya Aiko kita" ucap Wakana sambil mengusap pipi Aiko dengan lembut.

__ADS_1


"Oh ya kapan Arata akan tiba?" tanya Megumi lagi.


"Ia bilang akan segera tiba sebentar lagi.. Ah itu dia!" Naomi melihat sebuah mobil terparkir di depan restoran kecil dimana mereka saat ini berada, dan seorang pria tampan dengan rambut terikat keluar dari mobil itu.


Di satu tangannya memeluk sebuah boneka beruang yang sangat besar, dan di satu tangannya yang lain memegang 1 kotak besar yang dibungkus dengan Kado, pria itu kemudian memasuki restoran tersebut.


"Selamat ulang tahun Aiko anak manisku" sapa Arata.


Melihat Arata memasuki ruangan, Aiko segera berlari ke arah Arata dan memeluk Arata.


"Papa!" panggilnya.


"Wah..anak manisku sekarang sudah besar, ini hadiah untuk Aiko manis, liat beruang besar ini..dan masih ada lagi.."


Ya Aiko memanggil Arata dengan sebutan papa walau ia dan Naomi tidak memiliki hubungan spesial sama sekali, Naomi juga tidak pernah mengajari Aiko untuk memanggil Arata dengan sebutan seorang ayah, hanya saja ketika Aiko baru belajar berbicara, itulah kata pertama yang terucap.


Di lain pihak, Naomi benar-benar bersyukur karena bertemu dengan Arata, berkatnya ia kini bisa memiliki kehidupan yang begitu hangat. Ia yang tadinya hanya memiliki Ichirou dan di kelilingi oleh orang-orang yang membencinya kini justru di kelilingi orang-orang yang begitu baik dan mau menerima dirinya serta Aiko dengan tangan terbuka, walau kehidupan mereka saat ini jauh dari sempurna karena kondisi keuangan mereka yang sangat sederhana, ia tetap bersyukur karena memiliki tempat tinggal untuknya dan putri kecilnya serta ia bisa memiliki pekerjaan untuk menghidupi Aiko.


Ia juga di karuniai putri yang sangat pengertian melebihi anak seusianya.


Diusianya yang sangat muda, Aiko tidak pernah rewel, ia mengerti jika ibunya harus bekerja di lantai bawah, jika ibunya harus bekerja melayani tamu restoran, ia hanya akan diam di kamar dengan menonton acara anak atau bermain dengan bonekanya, jika lelah ia akan tertidur sendiri.


Tentu saja walaupun sibuk, Naomi sering bolak balik ke lantai dua dimana ia dan Aiko tinggal, untuk melihat apa saja yang di lakukan oleh putri kecilnya itu, memastikan dia baik-baik saja.


Sebenarnya terlepas bagaimana ia bersyukur dengan kehidupannya saat ini, rasa sedih masih terus menyelinap ketika ia melihat Aiko tertidur pulas. Ia merasa gagal sebagai seorang ibu, karena Aiko harus lebih sering kali menghabiskan waktunya seorang diri terutama di sore hari menjelang malam ketika tempat penitipan anak sudah di tutup, dan yang membuatnya jauh lebih sedih adalah ketika anak itu mencari sosok Arata setiap malam ia akan tidur..sedangkan Arata bukanlah ayah Aiko maupun suaminya..ia juga tidak ingin jika mereka menjadi penghalang untuk Arata memulai keluarganya sendiri suatu hari nanti.

__ADS_1


Ia menyesali karena Aiko tidak akan pernah mengenal ayah kandungnya..bagaimana ia harus menjawab kelak ketika Aiko bertanya mengapa warna matanya berbeda dengan yang lain..


Apa yang harus ia lakukan jika suatu saat nanti Aiko tahu kalau Arata bukanlah ayahnya? Apa Aiko akan membencinya..dan..bagaimana reaksi.. Kuon..jika ia tahu..ia memiliki seorang anak darinya...


Lucu, walau sudah hampir 3 tahun.. Ia masih belum mampu melupakan Kuon, walau pria itu sudah mengkhianati dan menyakitinya sedemikian rupa, ia masih belum bisa melupakan mantan suaminya itu.


Dan yang membuatnya paling sakit hati adalah ketika ia baru saja melahirkan Aiko, Kuon justru menikahi Chikako.. Ia mengetahui hal itu tentunya dari berita yang ia lihat ketika masih berada di rumah sakit setelah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan Aiko. Ia tahu jika Kuon tidak benar-benar mencintainya.. hanya saja ia tidak menyangka secepat itu ia akan melupakannya.. Pria itu bahkan tidak membuang waktu dengan segera menikahi selingkuhannya..padahal mantan istrinya baru saja "meninggal, kurang dari setahun sebelumnya".. oleh sebab itulah ia berjanji untuk tidak akan pernah menampakkan dirinya kepada Kuon untuk selamanya..Naomi Sato yang juga mantan istri dari Kuon Nakamura sudah tewas pada hari itu..., hanya saja ia merasa bersalah kepada bayi yang baru saja di lahirkannya dengan susah payah.. dengan memutuskan untuk mengubur masa lalunya itu juga berarti bayi mereka tidak akan pernah ada di mata Kuon..keberadaan Aiko selamanya tidak akan diketahui oleh Kuon..ia tidak tahu apa ia sudah mengambil keputusan yang tepat.. Yang jelas ia sudah tidak bisa menggunakan nama Naomi Sato lagi karena ia sudah dinyatakan meninggal.. Beruntung Naomi bisa mendapatkan identitas baru dengan bantuan Arata. Kehidupannya saat ini adalah pemberian Arata.


".. Mi,.. Naomi.." panggil Arata membuyarkan lamunan Naomi


"Ah ya? Maaf aku sedang memikirkan hal yang lain.. Ngomong-ngomong semua sudah ada disini, ayo kita makan!!" ajak Naomi.


Acara ulang tahun Aiko di rayakan dengan sederhana, namun di kelilingi oleh orang-orang yang mengasihi mereka.


...****...


Sementara itu...


" Kita sudah berhasil mendapatkan tanah di desa Kagawa, proyek bisa langsung di jalankan" ucap Jun.


Kuon yang sedang duduk di mejanya, dengan segelas whiskey di salah satu tangannya sedang mengamati peta yang dibawa oleh Jun.


Ia berencana untuk membangun resort di desa Kagawa, desa yang terletak lumayan jauh dari Tokyo. Walau desa itu sudah berdiri lama dan terdiri dari kurang lebih 2000 penduduk, tidak banyak perusahaan yang berencana untuk melakukan proyek di desa itu, menurut mereka desa Kagawa tidak bisa memberikan keuntungan meski dijadikan tempat pariwisata karena lokasinya yang jauh dan akses jalan yang tidak begitu bagus. Sedangkan Kuon melihat potensi lokasi dimana desa itu didirikan, melalui peta itu ia melihat desa tersebut dilalui beberapa jalur gunung berapi yang berarti daerah itu mempunyai potensi untuk wisata pemandian air panas, di tambah dengan pemandangan yang indah.. Ia yakin proyeknya akan berhasil.. Walau memang biaya yang harus di keluarkannya akan memakan jumlah yang besar karena perlu melakukan perluasan jalan dan pembuatan akses keluar masuk yang baru untuk memudahkan wisatawan mengunjungi desa itu, tetapi pengamatannya akan suatu potensi tidak pernah meleset..selain itu ada suatu hal yang membuatnya bagaimanapun harus mendapatkan tanah di desa itu seolah-olah ada sesuatu yang sedang menantinya disana.


".. Kalau begitu..siapkan perjalananku untuk hari minggu besok, aku akan pergi memantaunya langsung.." ucap Kuon.

__ADS_1


"Baik.."


...****...


__ADS_2