
"Jadi ia sudah mengambil langkah pertama..awasi ia terus.." pesan Chikako kepada sosok yang sedang berbicara dengannya di telepon.
Ia kini sudah mengetahui semuanya. Kuon memang sudah memiliki wanita lain, bahkan sudah membawanya ke Tokyo. Ia tidak akan tinggal diam. Dia sudah sudah tidak sabar untuk memberi wanita itu pelajaran karena sudah berani menggoda miliknya.
Hanya saja, ia tidak tahu wanita seperti apa yang sudah berhasil mengambil perhatian Kuon. Ia ingin sekali segera menemui wanita itu dan melihatnya langsung...
...*****...
Keesokan paginya, Kuon sudah berada di Mansion. Ia sengaja pergi pagi-pagi sekali karena ingin mereka sarapan bersama.
Saat ini, mereka semua sedang diduduk di ruang makan. Di depannya ada wanita yang ia cintai dan di sampingnya ada buah hatinya yang ia sayangi.
Pemandangan yang sudah ia impikan sejak dulu.
Semua ini terasa begitu alami. Ia merasa saat ini mereka adalah gambaran keluarga yang sempurna.
"Hari ini Papa sudah meminta Mei untuk menyiapkan sarapan kesukaanmu" ucap Kuon secara memotong telur dan sosis untuk Aiko dan menyuapnya.
Melihat anaknya memakan dengan lahap membuat Kuon senang.
"mmh! enyak! Cuka!" pekik Aiko girang
Naomi yang melihat adegan di depannya juga merasa terharu, karena tidak di pungkiri olehnya, ia berharap Aiko bisa memiliki keluarga yang lengkap dan normal seperti keluarga yang lainnya. Jika dulu ia berpikir Aiko hanya perlu dirinya, ia kini merasa ia sudah mengambil keputusan yang tepat. Ia tetap bisa memberikan keluarga yang lengkap untuk Aiko sepanjang ia mau mengesampingkan egonya. Pemandangan yang ada di depannya bukanlah pemandangan yang buruk. Selama ia tidak mencampur urusan pribadinya maupun hubungannya dengan Kuon, ia merasa ia akan baik-baik saja.
Ia tahu Kuon kini sudah memiliki keluarga yang baru, oleh karena itu Naomi tidak ingin hubungan mereka di salah artikan hingga menciptakan skandal yang baru.
Melihat Naomi yang tidak memulai sarapannya membuat Kuon penasaran.
"..apa kamu tidak menyukainya?" tanya Kuon tiba-tiba membuyarkan apa yang sedang dipikirkan oleh Naomi.
Dengan gugup, Naomi segera mengambil garpu dan pisaunya
" Ah, aku hanya berpikir sarapan ini terlalu banyak" jawabnya separuh berbohong dan segera memotong sosis yang ada di depannya itu.
" Sudah cukup lama sejak kita makan bersama, aku ingat kamu menyukai sosis dari perusahaan ini, dan kupikir akan sulit mendapatkannya di Kagawa. Oleh karena itu aku meminta Mei untuk menyiapkannya agar kamu bisa makan sepuasnya. Jangan lupa dengan roti ini.. " Kuon kemudian mengambil sebuah roti yang sudah ia oles dengan mentega dan menaruhnya di piring Naomi.
Tindakan Kuon yang mungkin tidak bermaksud apa-apa membuat Naomi merasa tidak nyaman.
__ADS_1
" Aku akan mengambil nya sendiri " potongnya ketika Kuon akan mengambil makanan yang lain untuk Naomi.
Melihat penolakan secara halus oleh Naomi, Kuon pun mengurungkan niatnya.
".. Baiklah.. Ayo dimakan.. " ujarnya lagi.
Setelah itu mereka pun makan dalam keheningan.
...*****...
"Pada jam makan siang nanti, aku akan kembali untuk membawa Aiko menemui Dokter yang akan menanganinya.. Dan setelah itu mungkin kami akan berbelanja sebentar. Apa kamu tertarik untuk menemani kami?" tanya Kuon yang sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
".. Masih ada yang harus kukerjakan, ada beberapa barangku yang harus kurapikan sendiri" tolak Naomi
".. Kalau begitu, aku akan menjemput Aiko pukul 12 siang nanti" ujarnya.
Ia kemudian mengambil langkah dan pergi meninggalkan Mansion yang mewah itu.
...*****...
Tidak memakan waktu yang lama untuk melakukan berbagai administrasi.
Setelah itu, Kuon membawa Aiko ke salah satu pusat perbelanjaan. Hanya saja ketika ditengah perjalanan, ia teringat akan Yukio. Ia pun menghubungi salah satu asistennya untuk membawa Yukio kepadanya.
Ini adalah pemikiran yang spontan, dan ia sadar ia juga belum bertanya kepada Naomi..jadi mungkin reaksi Naomi tidak akan sebaik yang dia harapkan jika wanita itu mengetahui apa yang sudah di lakukannya.. Hanya saja Aiko juga merupakan puterinya, bukan milik Naomi seorang.. Oleh karena itu, ia merasa ia berhak mempertemukan Aiko dengan anaknya yang lain, yakni Yukio. Ia yakin ini adalah perbuatan yang tepat. Lagipula ia sudah cukup lama tidak menghabiskan waktunya dengan Yukio. Rasanya tidak adil jika ia hanya menyenangkan Aiko.
...****...
Kuon sedang memperhatikan Aiko yang sedang bermain dikolam bola, playground yang disediakan oleh pengelola pusat perbelanjaan, ketika seorang anak laki-laki berlari ke arahnya dengan kencang.
"Ayah!!!" panggil Yukio dengan lantang dan segera memeluk ayahnya itu. Di belakangannya seorang pria yang juga asisten pribadi Kuon, berlari kecil menyusul anak itu.
Tidak menyia-nyiakan kehadiran anaknya, Kuon segera mengendongnya.
"Akhirnya kamu tiba juga... belakangan ini ayah sibuk.. Bagaimana dengan harimu? Tanyanya.
"Kio rindu ayah" balas Yukio seraya memeluk leher Kuon.
__ADS_1
"Ayah juga rindu padamu.. Dan hari ini ayah akan menemanimu bermain sepuasnya!! oh ya, ada yang ingin ayah kenalkan kepadamu" ujar Kuon yang kemudian berjalan ke arah Aiko. Ia lalu menurunkan Yukio agar berdiri sejajar dengan Aiko.
"Ini adalah Aiko" sambung Kuon memperkenalkan Yukio kepada Aiko.
Aiko tersenyum begitu melihat Yukio, dan mencoba untuk memeluknya, namun Yukio tidak menyukainya. Ia mendorong Aiko dan kemudian bersembunyi dibalik Kuon.
"Kio tidak suka!"
"Yukio!" Kuon tampak bingung dengan kelakuan Yukio, biasanya anak itu tidak bersikap demikian, di satu sisi ia merasa bersalah karena Yukio telah mendorong Aiko hingga terjatuh, untunglah mereka masih di area permainan anak sehingga tidak berakibat fatal.
Ia segera mendirikan Aiko, dan memastikan ia tidak terluka.
"Yukio, kamu tidak boleh mendorong Aiko lagi. Ia bisa terluka" Kuon mencoba untuk memberi pengertian kepada puteranya itu.
"Kio tidak suka, Kio mau ayah.. Huwaa.." tiba-tiba Yukio menangis kencang.
"Yukio.."
Melihat Yukio yang tengah menangis, Aiko juga menangis.
"Huweee..."
"A..aiko.." ia semakin kelabakan karena harus berhadapan dengan dua anak yang sedang menangis secara bersamaan, dan ketika ia ingin mengendong Aiko, tiba-tiba Yukio menangis lebih keras lagi.
"Ayah Kio! Ini ayah Kio!" tangisnya.
Melihat itu, Jun, asisten pribadi Kuon yang sedari tadi berdiri di belakangnya segera mengetahui penyebabnya.
"Tampaknya tuan muda Yukio cemburu, lebih baik Tuan menghiburnya, aku akan menemani nona muda Aiko" Jun menawarkan diri.
Sadar jika ia telah lama tidak ada untuk putranya itu selama beberapa minggu terakhir ini, ia pun menerima masukan dari Jun.
Ia lalu mengendong Yukio, dan berusaha menenangkanya, dan secara ajaib.. Tangisan Yukio berhenti, begitu pula dengan Aiko.
Ia pun kemudian menjulurkan lidahnya untuk mengejek Aiko dan mengeratkan pelukannya di leher Kuon, seolah-olah mengumumkan jika pria itu adalah miliknya.
...*****...
__ADS_1