Paradoks

Paradoks
Puzzle.


__ADS_3

Para tamu dengan pakaian berkabung satu demi satu datang menghampiri Kuon dan Naomi, untuk menyampaikan belangsukawa.


Beberapa tamu terdengar berbisik dengan satu sama lain, membicarakan ketidak beruntung an keluarga mereka, sedangkan yang lainnya berusaha menguatkan pasangan tersebut.


Walau saat ini mereka sedang di kelilingi begitu banyak tamu, baik Kuon maupun Naomi tidak merasakan keramaian itu..mereka tenggelam dalam kesedihan yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang pernah berada di posisi mereka.


Naomi masih terlihat dengan mata yang sembab ketika mendengar untaian sutera yang di panjatkan biksu sepanjang upacara pemakaman.


Upacara berlangsung khusuk selama beberapa jam, setelah itu satu per satu tamu mulai meninggalkan rumah duka tersebut.


______________________________________________


Sudah 3 minggu berlalu sejak pemakaman Haruto, walau mereka masih merasakan kehilangan yang teramat dalam, mereka berusaha untuk melewati hari demi hari dengan tegar.


Keduanya menolak untuk membongkar kamar Haruto, karena dengan berada di kamar itu membuat mereka merasa kalau Haruto masih bersama mereka, aman dan nyaman di dalam rahim Naomi...


Kuon dan Naomi saat ini sedang berada di klinik Yamaguchi untuk melalukan pemeriksaan pasca 3 minggu persalinan. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Dr. Yamaguchi meminta untuk berbicara secara empat mata dengan Kuon. Oleh karena itu ketika Naomi sedang melakukan beberapa prosedur lainnya dengan di dampingi oleh asisten dokter, Kuon memasuki ruangan pribadi Dr. Yamaguchi.


"Aku sudah menerima laporan data dari rumah sakit.. penyebab Abortus Insipiens istri anda dicurigai karena mengkonsumsi obat X karena kadar kandungan X sangat tinggi didalam darah istri anda.." ucap dokter memulai pembicaraan ketika mereka sudah berada diruangan pribadi sang dokter.


"Obat X..??? Omong kosong.. untuk apa istriku mengkonsumsi obat itu?" Kuon bertanya. Ia tahu apa itu obat X, ia tidak melihat adanya alasan untuk Naomi mengkonsumsi obat tersebut.


"Aku juga tidak punya jawabannya..hanya saja inilah yang tertulis dari hasil lab pemeriksaan darah istri anda saat itu..masalahnya...obat itu hanya bisa didapatkan dengan resep dokter..dan obat itu sangat beresiko tinggi untuk ibu hamil..oleh karena itu..tidak ada dokter..yang akan memberikan resep tersebut tanpa memberitahu efek samping yang akan terjadi jika di konsumsi oleh wanita hamil.." ucap Dr. Yamaguchi, raut wajahnya terlihat rumit karena tidak tahu bagaimana ia harus menyampaikan penjelasannya tanpa menyudutkan pihak manapun .


Mendengar penjelasan dokter itu , membuat Kuon merasa mendapatkan pukulan di wajahnya..ia paham apa yang ingin disampaikan oleh dr. Yamaguchi.


"... Apa maksud anda..istriku dengan sengaja mengkonsumsi obat tersebut..?" tanya Kuon.


".. Entahlah.. aku tahu saat ini anda sedang berduka..tidak sepatutnya aku justru memberikan asumsi yang tidak-tidak..mungkin..mungkin saja dokter yang memberikan resep tersebut melakukan keteledoran.. ada baiknya anda coba tanyakan kepada istri anda.. dan jika memang dokter tersebut melakukan keteledoran, anda bisa menuntutnya ke pengadilan dan mencabut ijin praktek dokter tersebut karena sudah membahayakan pasien dan menyebabkan kalian kehilangan calon anak kalian" jawab Yamaguchi bersimpati.


"... Aku.. mengerti.." wajah Kuon terlihat dingin, jelas terlihat ia cukup terganggu dengan informasi yang baru saja ia dapatkan.


______________________________________________


Sepanjang perjalanan, Kuon terlihat sedang berpikir. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.


" Kuon..? Apa kamu baik-baik saja? " tanya Naomi karena melihat raut wajah suaminya yang tidak seperti biasanya setelah keluar dari ruangan dokter.


"mmh? Ya.. Aku tidak apa-apa, bagaimana denganmu?"


"Semuanya sudah membaik...ukuran rahimku juga sudah mengecil.." jawabnya.


"Baguslah kalau begitu.." tangan Kuon kemudian menggenggam tangan Naomi


"Apa kamu lapar..? Bagaimana jika kita berhenti sebentar untuk makan?" lanjutnya lagi


"Ya ide yang bagus..aku memang sedikit lapar.."


Kuon tersenyum mendengar jawaban Naomi..karena sejak hari itu, Naomi tidak punya nafsu makan bahkan kadang berhari-hari melewatkan makan malamnya, oleh karena itu mendengarnya mengatakan lapar membuatnya senang.


"Fujita, antar kami ke Matsuda.." perintah Kuon.


______________________________________________


Penjelasan dokter waktu itu masih tergiang-giang di pikiran Kuon, walau sudah lewat dari seminggu sejak pembicaraannya dengan dokter kandungan istrinya itu, Kuon masih belum menanyakannya kepada Naomi.

__ADS_1


Ia tidak ingin cara penyampaiannya justru membuat Naomi merasa bersalah, dilain pihak ia juga tidak akan diam saja jika ada dokter yang melakukan kesalahan fatal seperti itu... Oleh karenanya, hari ini ia harus menanyakan hal tersebut kepada Naomi.


Sementara itu..


Naomi sedang duduk di meja rias yang ada dikamar mereka, ia sedang menatapi suplemen-suplemen kehamilan yang tertata rapi di mejanya itu. Ia tahu jika ia kini sudah tidak lagi membutuhkan itu semua, namun ketika melihat botol-botol suplemen dan vitamin tersebut, ia tidak sanggup untuk membuangnya. Ia masih ingat bagaimana tiap malam ia akan berbicara dengan Haruto setelah mengkonsumsi vitamin tersebut.


Menghela nafas, ia kemudian memasukan botol - botol tersebut kedalam lacinya. Ia belum siap untuk membuangnya.


Saat sedang duduk termenung, pintu kamar mereka terbuka.


"Naomi?" panggil Kuon ketika ia memasuki kamar.


"Ya..?" jawab Naomi agak terkejut.


Kuon lalu berjalan menghampirinya.


"Kita..perlu bicara.." wajah Kuon terlihat tegang.


Naomi tahu ini artinya ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh Kuon. Oleh karena itu ia segera membenarkan postur tubuhnya.


"Apa kamu mengkonsumsi obat X selama.. Kehamilan kemarin..?" tanya Kuon.


"Obat X??? buat apa aku mengkonsumsinya??" Naomi balik bertanya, terkejut dengan pertanyaan Kuon.


"..Hasil pemeriksaan darahmu menunjukan kandungan obat tersebut yang tinggi.. sehingga menyebabkan persalinan prematur Haruto.. oleh karena itu aku menanyakan hal ini kepadamu.. Mungkin saja dokter yang memberikanmu resep obat itu melakukan keteledoran"


Mendengar penjelasan Kuon, jantung Naomi sempat berhenti. Kegugurannya kemarin karena obat???


".. Tidak mungkin, pasti ada yang salah dengan hasil lab saat itu.. Mungkin, mungkin saja pihak rumah sakit melakukan kesalahan? Aku tidak mengkonsumsi obat apapun selama kehamilan, aku sangat menjaga kehamilanku! " ucap Naomi mulai panic.


Mendengar jawaban Naomi juga membuat Kuon kebingungan, jika istrinya bersikeras tidak mengkonsumsi obat apapun, bagaimana dengan hasil lab tersebut yang menyatakan sebaliknya? Melihat Naomi yang terlihat stress, ia segera menenangkan Naomi


Oleh karena itu, ia dan Naomi kemudian pergi kerumah sakit dimana Naomi berada pada malam itu untuk menanyakannya secara langsung.


______________________________________________


"Apa ada kemungkinan adanya kekeliruan dalam pemeriksaan darah waktu itu?" tanya Kuon kepada perawat yang bertugas di laboratorium.


"Hal itu tidak mungkin terjadi Tn. Nakamura, sampel pasien begitu diambil akan langsung kami beri data diri pasien, tidak mungkin terjadi kekeliruan yang fatal seperti itu. Namun jika anda ingin memastikannya lagi, kami bisa melakukan prosedur pengambilan sampel darah, dan memberikan hasilnya minggu depan" jelas perawat tersebut.


Kuon kemudian menatap Naomi yang di sahut dengan anggukan kepala.


"Ya, kalau begitu tolong lakukan pemeriksaan darah sekali lagi untuk istriku" ucapnya.


Setelah itu perawat pun mengambil darah Naomi.


Seminggu kemudian..


Kuon seorang diri di dalam mobil, hasil pemeriksaan darah Naomi berada di tangannya dan hasil yang diberikan masih sama dengan hasil yang ia miliki sebelumnya, walau kandungan obat X sudah jauh menurun namun hasil pemeriksaan tersebut tetap menyatakan jika Naomi pernah mengkonsumsi obat itu.


"Bagaimana mungkin... Apa ini artinya Naomi yang berbohong..? Tapi mengapa..?"


Kuon masih mempertanyakan hasil tersebut, ia tidak yakin jika istrinya itu akan berbohong.. Apalagi ia juga dengan suka rela melakukan pemeriksaan sekali lagi, namun pihak RS tidak mungkin melakukan kesalahan berulang.. Ada yang tidak beres...


______________________________________________

__ADS_1


Kuon baru saja selesai menjamu beberapa investor lainnya makan malam disebuah restoran mewah, secara tidak sengaja ia juga bertemu dengan Seiji yang sedang bersama dengan kekasihnya itu.


"Seiji?" panggil Kuon


"Ah.. Kuon apa yang kamu lakukan disini?" walau Seiji membenci Naomi, ia menyukai Kuon karena Kuon telah banyak membantu keluarganya.. Ditambah karena Kuon adalah pria yang sukses. Siapa yang tidak menyukai sosok sukses dan berhasil?


"Aku baru saja selesai menjamu investor baru diperusahaanku, bagaimana jika kalian juga menemaniku?" ajak Kuon.


Ia kemudian memesan banyak jenis makanan laut untuk disuguhkan kepada Seiji dan kekasihnya itu.


"Jadi.. Apa aku akan segera mendapatkan undangan dari kalian?" tanya Kuon kepada Seiji dan kekasihnya itu ketika mereka baru saja selesai makan.


"Mungkin dalam waktu dekat.. iya kan Yuki?" jawab Seiji yang juga terlihat menggoda kekasihnya.


"Kuharap demikian.." jawab gadis itu malu-malu.


"Kamu sudah mendengar jawaban dari kekasihmu, aku dan adikmu akan menunggu kabar baik dari kalian" ucap Kuon tersenyum.


Mendengar adiknya disebut, membuat Seiji kesal seketika.


"Bicara soal Naomi, kamu perlu lebih keras lagi kepadanya" ucapnya tiba-tiba.


".. Oh? Mengapa?"


"Aku tidak sempat memberitahunya padamu karena kita jarang bertemu.. dan terakhir kita bertemu juga bukan tempat yang tepat untuk membicarakannya.."ucap Seiji mengacu pada pemakaman Haruto.


".. Memberitahuku soal apa..?" kini Kuon terlihat tertarik.


".. Istrimu.. masih suka menemui pria lain dibelakangmu, apalagi disaat kamu sedang berapa di luar negeri . Aku sebagai kakaknya merasa malu dengan kelaluannya! " ucap Seiji.


Duk.. Bunyi gelas jatuh, teh membasahi meja Kuon.


"Apa.. Maksudmu..?" tanya Kuon


"Kamu mungkin tidak tahu, tapi Naomi cukup dekat dengan 1 pria sejak dulu, dan sepertinya ia masih sering menemui pria itu walau sudah berstatus sebagai seorang istri. Kelakuannya sungguh membuatku sebagai kakaknya malu "


Kuon segera tahu siapa pria yang dimaksud oleh kakak iparnya itu, walau Seiji masih terus mengoceh, pendengaran Kuon menjadi sayup-sayup..


Sekarang ia mulai bisa menyatukan bagian puzzle yang terpisah, kenapa ada kandungan obat X dalam darah Naomi, mengapa ia harus kehilangan bayinya..ini semua karena Naomi ingin kembali kepada Kenichi..Naomi tidak menginginkan anak mereka..oleh karena itu ia sengaja mengkonsumsi obat tersebut.. untuk menyingkirkan anak mereka..


______________________________________________


Malam menunjukan pukul 11.45 ketika Kuon pulang, Naomi tahu hari ini Kuon akan menjamu investornya makan malam oleh karena itu, mengetahui pintu bel berbunyi, ia segera pergi menyambut Kuon. Ketika ia membukakan pintu, ia melihat Kuon dengan raut wajah yang sangat gelap seolah-olah kemarahan yang teramat sangat, menyelimuti Kuon.


"Kuon..kamu.." ucapan Naomi terhenti ketika Kuon melihatnya dengan tatapan dingin.


Naomi tidak pernah melihat ekspresi Kuon yang seperti itu selama kebersamaan mereka.


Memang betul awal pernikahan mereka di warnai dengan pertengkaran baik ringan maupun hebat, namun baru kali ini ia melihat Kuon menatapnya dengan begitu penuh kebencian.


Tiba-tiba Kuon menarik tangannya, menyeretnya dengan kuat sampai Naomi harus berlari kecil, dan begitu sampai di kamar mereka, ia menyeret dan "melempar" Naomi hingga ia terjatuh di samping tempat tidur mereka.


"Apa-apaan kamu Kuon! Apa kamu sudah gila??!" teriak Naomi memegang pergelangan tangannya yang sakit karena genggaman Kuon


"Diam perempuan Jal@ng!" ucapnya sembari melepas dasi dan membuka kancing kemejanya.

__ADS_1


______________________________________________


Ps, Obat X hanya obat fiksi dari author karena author gak mau menulis nama obat tertentu agar tidak ada yang menyalahgunakan informasi untuk hal yang tidak baik.


__ADS_2