
Seluruh badan Kuon bergetar menahan amarah setelah mendengar semuanya dari Naomi.
Selama ini, ia berpikir ia sudah mengetahui semuanya, ia berpikir tidak ada yang mampu mengelabui seorang Kuon Nakamura, ia tidak sadar bagaimana menderitanya Naomi selama ia tinggal bersama keluarga yang seharusnya menjaga dan mencintainya.. Dulu ia bahkan mengira Naomi adalah perempuan manja dari keluarga kaya raya dan terpandang seperti Sato, perempuan licik dan serakah seperti Michiko, kebenciannya membutakan mata hatinya, ia bahkan menghukum seseorang yang tidak berdosa untuk membalas dendamnya.
Ia kembali mengingat bagaimana perlakuannya kepada Naomi baik di malam pertama mereka maupun saat mereka berbulan madu di Hawaii , dipikirannya saat itu hanya ingin membuat wanita itu menderita, hanya karena ia terlahir di keluarga itu... Ia juga kembali mengingat bagaimana Naomi baru melakukan perjalanan luar negeri untuk yang pertama kalinya, jika di tilik sekarang seharusnya ia sudah bisa melihat diskriminasi yang di alami oleh Naomi, Seandainya ia lebih peka pada saat itu, mungkin ia bisa mengetahui kebenarannya lebih awal..mungkin mereka tidak akan berada di situasi seperti ini.
Ia mengumpat dan mengutuk keluarga Sato yang telah meninggalkan begitu banyak luka pada Naomi..tapi tunggu.. Bukankah ia tidak lebih baik dari mereka? Balas dendam tidak seharusnya menjadi alasan baginya untuk menyakiti ibu dari anaknya itu, ia sudah tidak setia sepanjang pernikahan mereka.., pernah menyakitinya secara fisik, bahkan ia mengotori hari pernikahan mereka dengan Chikako..dengan berlindung di balik dendam. Dari semua tragedi ini, Naomi adalah satu-satunya korban.. Bagaimana... Bagaimana jika Naomi juga korban fitnah atas kejadian Haruto? Apa yang sudah ia perbuat...
"Oh Tuhan..." satu tangan Kuon masih memegang erat tangan Naomi, dan satu tangannya menopang kepalanya sendiri, tidak percaya apa yg sudah ia perbuat selama ini.
Rasa bersalah bertubi-tubi menghajarnya. Ia tahu jika ia tidak layak mendapatkan maaf dari Naomi, namun kini mendengar semuanya dari Naomi, membuatnya merasa sangat kotor dan hina. Ia bahkan tidak layak berada di ruangan yang sama dengan mantan istrinya itu. Apa yang harus ia lakukan untuk menebus kesalahannya? Melayani wanita itu sampai akhir hayatnya pun tidak mampu menebus semua dosa yang ia perbuat kepada Naomi.
Melihat expresi pria yang ada didepannya itu tertekan, membuat Naomi bersimpati kepadanya.
".. Aku.."
"Maafkan aku Naomi... Maaf.." ucap Kuon tiba-tiba memotong kalimat Naomi. Ia kemudian menggunakanya kedua tangannya untuk membawa kedua tangan Naomi ke bibirnya. Ia kemudian mengecupnya dan tertunduk.
Naomi tidak bisa melihat expresi Kuon, namun ia tahu Kuon sedang terpukul. Apa ia kini bersimpati padanya? Bukankah sudah sedikit terlambat untuk itu?
Perlahan, ia menarik tangannya dari genggaman Kuon.
".. Jika kamu merasa kasihan padaku.. Simpanlah itu kembali, aku tidak membutuhkannya..aku sudah melewati semua itu, bukankah sekarang aku baik-baik saja?" ucapnya.
Kuon menengadah dan menatapnya. Wajahnya merah dan terlihat seolah-olah sedang menahan tangis.
" Aiko akan segera turun, aku ingin menyiapkan sarapannya" Naomi mencoba mengubah suasana yang terasa berat itu.
"Naomi.."
__ADS_1
"Ingat, aku masih marah padamu karena sudah melakukan tindakan yang ceroboh semalam"
"... Aku"
"Sudahlah, apa yang sudah terjadi telah terjadi, aku ingin sarapan bersama dengan Aiko.. Jika kamu mau..kamu bisa bergabung dengan kami.."
...****...
Setelah menghabiskan sarapannya bersama dengan Naomi dan Aiko, ia pun berangkat ke perusahaannya.
Ia segera menghubungi Jun untuk menhadapnya begitu ia duduk di ruang kerjanya yang luas dan mewah.
" Apa ada yang bisa kulakukan Tuan?" tanya Jun setelah ia tiba di ruangan tersebut.
Kuon lalu mengeluarkan sebuah botol obat dan menyerahkannya kepada Jun.
"Aku ingin kamu menelusuri perusahaan mana yang membuat tablet tersebut dan di distribusikan kemana saja, dan aku perlu daftar nama dan data semua pasien yang pernah menebus obat ini. Aku tidak peduli berapapun biayanya, atau bagaimana caranya, temukan siapa yang menebus obat ini sekitar 4 tahun yang lalu" perintah Kuon.
Ia tidak rela membuangnya walau ia tahu, obat itulah yang membuat mereka harus kehilangan janin mereka, namun ia juga selalu merasa jika obat ini satu-satunya penghubung yang mengingatkannya pada Haruto, ia tidak mengerti mengapa. Namun hari ini ia akhirnya paham. Mungkin ini adalah petunjuk dari Haruto, jika memang benar Naomi adalah korban fitnah, ia akan menegakan keadilan untuk puteranya, Naomi dan dirinya. Ia tidak segan jika ia harus mengotori tangannya untuk mendapatkan pelaku yang sebenarnya.
"Baik Tuan" jawab Jun setelah menerima obat tersebut dan berjalan keluar dari ruangan itu.
Melihat Jun telah pergi, Kuon akhirnya duduk bersandar di kursinya seolah-olah baru terlepas dari beban yang berat. Ia kembali merenung. Bagaimana ia harus menghukum dirinya sendiri atas semua dosanya. Ia tidak berharap Naomi untuk memaafkannya, hanya saja ia berharap ia masih bisa sedikit layak untuk berada di sisinya.
...*****...
Pada hari minggu yang cerah, Kuon sedang membawa Aiko dan Yukio ke taman hiburan, lagi-lagi Naomi memilih untuk tidak ikut bergabung.
Yukio masih tidak menyukai Aiko, tapi setidaknya ia sudah tidak sevokal saat awal mereka bertemu. Ia masih suka sesekali memarahi Aiko tapi ia juga terlihat mulai menerimanya.
__ADS_1
Melihat hal itu membuat Kuon tersenyum. Ia benar-benar berharap Aiko dan Yukio bisa mengakrabkan diri. Andai saja ia tidak meminta mantan kekasihnya untuk menggugurkan kandungannya, dan Haruto tidak meninggalkan mereka..pastinya Ia kini sudah menjadi ayah dari 4 orang anak.
Ia bahkan bertanya-tanya apa janin dalam kandungan Sarah, mantan kekasihnya dulu adalah anak perempuan atau anak laki-laki. Jika anak perempuan, Aiko tentu saja saat ini sudah memiliki kakak perempuan tempat ia bisa berbagi rahasia.
Semakin ia mengingat masa lalunya, ia semakin membenci dirinya sendiri dan merasa jijik dengan semua perbuatannya...apa ia masih berhak mendapatkan kesempatan untuk hidup bahagia..? Hidupnya tidak berarti tanpa Naomi.. Namun ia sendiri yang telah menghancurkan sumber kebahagiannya, ia tidak layak mendapatkan wanita itu.. Jika sebelumnya ia berpikir untuk mendapatkan wanita itu kembali.. Ia kini berpikir mungkin memang sudah saatnya ia melepaskan mantan istrinya itu... Naomi layak mendapatkan pria yang jauh lebih baik darinya..dan Aiko.. Ia berhak untuk memiliki sesosok ayah yang tidak pernah menyakiti ibunya.. Dirinya sudah terlalu kotor untuk menempatkan dirinya sebagai ayah Aiko.. Ia tetap akan memastikan puteri kecil yang sangat ia cintai itu untuk tidak pernah mengalami kekurangan lagi, hanya saja..walau berat.. Ia juga harus melepaskan Aiko. Dengan demikian Naomi dan Aiko baru bisa bahagia.
Aiko yang sedang memakan eskrim melihat Kuon duduk dengan tatapannya yang kosong, punggungnya bungkuk seolah - olah tidak punya semangat. Aiko tidak mengerti apa yang ada dipikiran ayahnya itu..yang ia tahu, ia hanya ingin membuat Kuon merasa lebih baik.
Oleh karena itu, ia kemudian berjalan mendekati Kuon.
".. Papa" panggil Aiko
Mendengar panggilan Aiko yang ada di depannya, membuat Kuon tersadar dari lamunannya.
Ia mengira Aiko memanggilnya, ia pasti telah salah mendengar.. walau Aiko sudah menjalani terapi bicara, Aiko masih belum pernah memanggilnya dengan sebutan ayah / papa..
"Papa" panggil Aiko lagi, ia tersenyum memperlihatkan gigi kecilnya yang putih mencoba menghibur Kuon.
"Es klim mau?" tawar Aiko.
Mendengar Aiko akhirnya memanggilnya dengan sebutan Papa untuk yang pertama kalinya, mulutnya bergetar, Ia sudah tidak mampu untuk menahan air matanya lagi, ia pun memeluk Aiko erat.
Kuon menangis dalam sunyi, menyembunyikan wajahnya di pundak Aiko yang kecil.
"Maafkan papa Aiko..maafkan papa" tangisnya.
Bagaimana bisa ia berpikir untuk mengakhiri hidupnya jika semuanya sudah selesai... Aiko masih terlalu kecil, dan dunia ini begitu keras...bagaimana mungkin ia bisa berpikir hanya dengan harta yang akan ia tinggalkan untuk Aiko sudah cukup untuk menjaganya?
"Maafkan Papa Aiko.. Papa tidak akan meninggalkanmu" ucapnya mengeratkan pelukannya seakan-akan ia akan kehilangan anak itu
__ADS_1
...*****...