Paradoks

Paradoks
Berdamai Dengan Masa Lalu


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari ketika Kuon sampai dirumah.


Ia menghabiskan waktunya di Bar setelah ia meninggalkan rumah Chikako. Ia tidak tahu bagaimana ia harus menghadapi Naomi, karena ia sadar kalau ia telah bersikap berlebihan. Kekhawatirannya mengalahkan akal sehatnya sehingga reaksi yang dikeluarkan justru menyakiti Naomi.


Ia tidak menyangka jika Chikako akan nekat menemui Naomi..ia tidak ingin kebenarannya terungkap dan diketahui oleh Naomi..oleh sebab itu ketika nama Chikako keluar dari mulut Naomi, panic segera menguasainya dan secara tidak sadar ia justru membentak Naomi padahal istrinya itu tidak tahu apa apa.


Dengan perlahan, Kuon membuka pintu kamar mereka dan masuk kedalam. Ia berjalan mendekati ranjang dimana biasanya mereka berbaring.


Naomi terlihat meringkuk didalam selimut dan matanya agak sembab, melihatnya seperti ini mengingatkan Kuon akan kejadian setahun yang lalu, ketika mereka baru saja menikah. Perasaan bersalah seketika menghantui Kuon.


Dengan pelan ia kemudian berbaring di samping Naomi, dan meletakan tangannya di pinggang istrinya itu.


"maafkan aku Naomi" bisiknya pelan.


Keesokan harinya, Naomi terbangun dan melihat Kuon sudah terbaring di sampingnya. Ia kira malam itu Kuon tidak pulang...namun tampaknya ia pulang ketika hari sudah larut.


Naomi sebenarnya masih kesal dengan sikap Kuon, ia tidak tahu kesalahan apa yang di perbuatnya sehingga Kuon harus bersikap seperti itu. Jika memang ia tidak boleh menemui Chikako lagi, itu tidak akan menjadi masalah untuknya. Ia hanya ingin Kuon menjelaskannya dengan baik-baik.


Melihat Kuon yang masih tertidur pulas, ia tidak ingin membangunkannya, oleh karena itu ia meninggalkan kamar mereka untuk memulai harinya.


Banyak yang harus ia lakukan hari ini.


Kuon terbangun ketika matahari sudah berada di atasnya. Kepalanya masih terasa berat, namun ia tetap memaksakan diri untuk segera bangkit dari tempat ia berbaring. Ia kemudian melihat jam di samping tempat tidurnya, angka digital menunjukan pukul 12.45 siang hari.


"Dimana Naomi? Aku tidak melihatnya dari tadi?" tanya Kuon kepada pelayan saat ia sudah berada di dapur.


"Selamat siang Tn... Kuharap anda beristirahat dengan baik.., nyonya baru saja pergi bersama Fujita untuk berbelanja" sahut wanita paruh baya itu.


"ckck..sudah tahu hamil begini masih keluar berbelanja, kenapa kamu tidak menemaninya?"


"Aku sudah mengatakannya kepada Nyonya biar aku yang berbelanja tetapi beliau tetap bersikeras untuk melakukannya sendiri"


"Mmmh" Kuon lalu berjalan ke ruang keluarga, karena di situlah ponselnya berada. Ia kemudian segera menghubungi Naomi.


+++++++++++++++++++++++++++++++++++++

__ADS_1


Naomi sedang berbelanja memilih buah ketika ponselnya berdering, ia kemudian melihat nama Kuon di layarnya.. Menggelengkan kepalanya, ia lalu mengangkat telepon tersebut.


"Aku sudah menduga kamu akan meneleponku" ucap Naomi mengangkat telepon sebelum Kuon sempat berbicara.


"... Dimana dirimu saat ini? Aku akan menyusulmu".


"Tidak usah, aku sebentar lagi selesai kok, aku hanya perlu membeli beberapa buah dan bahan makanan untuk menyiapkan kebutuhanmu besok, apa kamu lupa besok kamu ada perjalanan bisnis?" tanya Naomi.


"Kamu bisa meminta Miyata untuk melakukannya, apa kamu lupa saat ini sedang hamil?"


"Aku tidak sendiri, Fujita bersamaku. Jangan terlalu khawatir, ingat apa kata Dr. Yamaguchi. Aku harus lebih banyak bergerak, aku akan segera pulang kok" ujarnya.


".. Baiklah.. Ingat jangan terlalu lelah"


"ya ya ya, tenang saja..aku sibuk dulu.. Sampai nanti.." Naomi kemudian mematikan ponselnya dan kembali memilih-milih buah.


Disaat ia memilih buah Apel, seorang pria tidak sengaja menyenggolnya hingga buah-buah yang telah ia pilih terjatuh.


Pria itu segera memungut buah-buah yang telah berserakan itu.


Naomi tidak mempercayai matanya. Pria yang saat ini sedang memungut buah-buahan dilantai adalah Kenichi!! Sudah berapa lama sejak ia melihatnya? Lebih dari setahun yang lalu.


"Kenichi..?"


Mendengar suara yang familiar, Kenichi menengadah ke atas dan dengan mata terbelalak, ia melihat Naomi didepannya.


"Naomi..?"


"Sudah lama tidak bertemu..." sapa Naomi.


".. Ah..Ya..sudah sekitar setahun kita tidak bertemu.. maaf jika aku tidak sempat menghubungimu untuk mengucapkan selamat atas pernikahanmu." balas Kenichi dengan senyum yang gugup.


Situasi memang agak sedikit kaku untuk keduanya. Setelah diam beberapa saat, Naomi mengajaknya untuk duduk disebuah Kafe.


" Bagaimana kabar bibi Ayaka? " tanya Naomi saat mereka sudah duduk di Kafe.

__ADS_1


Seorang pelayan datang menghampiri meja dimana mereka duduk untuk mengantar pesanan yang telah mereka pesan sebelumnya, susu untuk Naomi dan Kopi untuk Kenichi.


".. Ibu baik-baik saja, bagaimana.. dengan kabarmu?" Kenichi balas bertanya.


".. Seperti yang kamu lihat, kabarku baik... aku... hanya ingin tahu kenapa kamu tidak memberitahuku soal bibi Ayaka..Kenichi..?"


"..... Sepertinya kamu juga sudah tahu soal Ibu. Keadaan ibu saat ini sudah jauh membaik..walau ia masih harus menjalani perawatan.. Maafkan.. aku.. karena sudah menutupinya darimu... " jawabnya tertunduk.


" Kenichi... jangan menundukan kepalamu..kamu tahu aku sudah menganggap bibi seperti ibuku sendiri, seharusnya kamu tidak menutupi keadaan bibi..terlepas.. bagaimana..hubungan kita dulu...aku mengajakmu duduk disini juga karena aku ingin membahas masa lalu kita.."


"... Kamu pasti membenciku bukan? " tanya Kenichi masih dengan kepala tertunduk, perasaan malu, hina dan bersalah masih menghantui Kenichi.


Satu hal yang menjadi perhatian Naomi, Kenichi terlihat kurus, jauh lebih kurus dibandingkan setahun yang lalu.


".. Aku tidak pernah membencimu..walau mungkin pada saat itu aku memiliki banyak sekali pertanyaan mengapa.." Naomi terlihat sedih ketika ia mencoba mengingat kenangan manis mereka.


"... Aku.."


"Tapi itu sudah menjadi masa lalu Kenichi, aku sekarang baik-baik saja, sebentar lagi aku juga akan segera menjadi seorang ibu,...oleh karena itu.. Aku juga ingin kamu hidup dengan baik. Jangan pikirkan apa yang pernah terjadi di antara kita.. Aku tidak ingin kamu merasa terbebani dan bersalah atas apa yang pernah terjadi....aku ingin kita masih bisa berteman seperti dulu, dan aku diijinkan bertemu dengan bibi Ayaka, hanya itu saja" tambahnya memotong pembicaraan Kenichi.


Kenichi yang tadinya ingin menjelaskan apa yang terjadi dulu kembali mengurungkan niatnya. Lagipula Naomi sekarang sudah menikah, kehidupannya saat ini sangat nyaman..untuk apa lagi dia mengungkit kisah lama? dia tidak boleh menganggu kehidupan perempuan itu, karena roda kehidupan sudah berputar, apapun yang pernah terjadi di masa lalu tetap berada dimasa lalu.


".. Ibu akan senang menemuimu" akhirnya ia berucap.


"Terima kasih, oh ya ini kartu namaku, tolong hubungi aku kapan aku bisa menemui bibi, jangan pernah ragu untuk menghubungiku jika kalian membutuhkan bantuanku" ujar Naomi seraya memberikan kartu nama kepada Kenichi.


Setelah itu mereka melanjutkan perbincangan sekitar 15 menit sebelum akhirnya Naomi pamit pulang.


Dalam perjalanan, Naomi hanya duduk termenung di dalam mobil.


Ia benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan Kenichi hari ini.


Dan ia juga cukup terkejut..karena ia bisa begitu tenang menghadapi pertemuan tak terduga itu. Ia sering mengira ia akan kehilangan kendali jika ia akan bertemu dengannya lagi..namun apa yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Semua berjalan secara alami. Kali ini..ia benar-benar merasa semuanya sudah selesai, tidak ada lagi perasaan yang tertinggal...


Dengan wajah tersenyum, Naomi mengelus perutnya.

__ADS_1


"Akhirnya.. tidak ada lagi penyesalan..."


__ADS_2