
Semua pasukan yang Vian panggil sudah terkumpul. Sangat banyak, mereka berbaris rapi di lahan depan Rumah penyiksa itu. Keishy pun mengerutkan keningnya heran, ada apa dengan Vian?
Mia menepuk pundak Keishy, "Coba Lu baca" Ucapnya seraya memberi kertas surat dari Sena yang dibuang oleh Vian tadi.
Keishy menerimanya kemudian ia membacanya. Saat Keishy membacanya, tak ada yang aneh sama sekali dipikirannya, "Sena kabur dari sini?" tanyanya pada Mia memastikan
Mendengarnya pun Mia memutar bola matanya dengan malas, "Baca huruf awal ke bawah" Ucap Mia seraya menunjuk huruf L hingga A. Kei membelalak kaget saat melihat pesan rahasia dari Sena, kemudian ia menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Dari mana lu tau?" Tanya Keishy tidak percaya
Mia menghela napasnya, kini ia harus cerita dan mengulangnya dari awal hingga Keishy mengerti, "saat Lu koma, Vian, Gua, dan anak anak yang lain udah bujuk Sena agar dia percaya bahwa kita orang baik. Kami pun udah buat strategi untuk berhadapan dengan Leona, mimik wajah Sena sangat meyakinkan saat itu, dia pun rela ngambil posisi paling depan untuk melawan Leona. Dan sekarang dia meninggalkan surat gak jelas kaya gini? coba Lu pikirin" Jelas Mia detail
Sedangkan saat Mia menjelaskan Kei masih terpaku dengan surat itu, "Dia .. Dipaksa nulis surat ini, Mi" Kata kata itu terlontar dari mulut Keishy yang masih terpaku dengan kertas itu
"Iya Kei, lu bener. Dia diculik dan sebelumnya juga dia dipaksa nulis surat itu, bagaimana gua tau? Karna dia menyebut dirinya sendiri dengan kata 'aku' di akhir kalimat padahal dari awal dia menyebut dirinya sendiri dengan kata 'Gua'. Do you know why?"
"Karna dia gugup?" Ucap Keishy menatap mata Mia dengan keningnya yang mengernyit.
"Yup. Untungnya Vian telah memberitahu Sena bahwa jika ada sesuatu yang terjadi, beri kami petunjuk dan Sena pun mengerti. Makanya Vian membutuhkan waktu yang singkat saja untuk mengerti isi inti dari surat itu" Jelas Mia kemudian dibalas Keishy dengan anggukkan tanda mengerti
"Kei!" Seru Zen yang tiba datang menemui mereka di teras Rumah, "ada apa?" tanya Keishy seraya menoleh ke arah Zen seraya menyaku surat dari Sena
Zen mengayuhkan jarinya menyuruh kedua bodyguard itu menahan tangan Keishy, ia pun kaget dengan perlakuan Zen yang aneh itu dan memberontak untuk dilepaskan, "Lepasin gua! Aneh Lu blegug! Ngapain Lu nahan Gua hah!" Ucap Keishy emosi
Zen menghela napasnya kasar, "ikut Gua kembali ke Jakarta" Ucapnya langsung ke inti
"kenapa?"
__ADS_1
"Karna Lu gabisa ikut misi ini Kei, lu adalah target utama Leona dan Vian gamau kehilangan Lu" Ujar Mia padanya, Keishy hanya menghela napasnya kasar dan berusaha melepas genggaman dari tangan besar milik bodyguard itu tapi ia tak bisa.
"Gabisa! Gua yakin! Gua bisa melawan mereka, Mia! Lu gatau! Gua udah nunggu waktu yang tepat buat ketemu sama tante Leona! Dan .. Lu ... Gatau .. PERASAAN GUA KAYAK GIMANA!—"
PLAK!
"LU PIKIR GUA GATAU ?! PAPAH GUA JUGA DIBUNUH SAMA DIA KEI!" Bentak Mia dengan napasnya yang terputus tak lama pun air mata menetes melewati pipinya.
"KALO LU NGERTI BUJUK BANG VIAN AGAR DIA NGAJAK GUA MI! GUA ... gua capek ... Sumpah mi ... Gua capek ... "Keishy pun tak tahan memendung tangisannya dengan matanya yang memerah. Zen hanya diam disana sebagai saksi perdebatan mereka.
"Kei ..." Mia merintih seraya memejamkan matanya dan menghela gusar. Benar, apa yang dikatakan Keishy itu memang benar. Mia berpikir, dia harus membantunya, Mia tau apa yang dirasakan Keishy, sungguh sesak didalam sana.
Mia mendekat ke arah Keishy kemudian meraih pergelangan tangannya dan mengayuh kuat ke arah pipinya seolah-olah itu adalah sebuah tamparan keras dari Keishy, Keishy kaget dengan tindakan Mia kemudian menarik paksa tangannya kembali, "APA YANG LU LAKUIN HAH?! GILA NI ANAK!"
"MAAF GUA GABISA!" Ucap Mia dengan air matanya yang menggenang, Mia semgaja menampar pipinya dengan kuat untuk menyadarkan bahwa dia tidak boleh membiarkan Keishy ikut dalam misi ini. Setelah itu pun Mia segera pergi dari sana berlari meninggalkan mereka di sana.
Keishy menghela napasnya berat kemudian memutar bola matanya malas, ia melihat bodyguard dan Zen bergantian. Zen membalas lirikkan itu, "Apa Lu, liat liat!" tegur Keishy dengan nada tak suka dan Zen pun segera mengalihkan pandangannya yang tadinya melihat raut wajahnya memerah marah.
"Lepasin Gua" Ucap Keishy pada Vian yang baru saja datang kemudian Vian menatap mata kedua bodyguard itu mengisyaratkan untuk melepaskan Keishy, "Norak, Lu!" Ucap Keishy mengusap tangannya yang memerah karna genggaman tangan bodyguard itu yang terlalu kuat.
"Gua takut lu kabur" Ucap Vian kemudian ia berjalan mendekati Keishy, "maaf udah kasar ya. Ini demi kebaikan Lu, Lu bukan gaboleh ikut. Tepatnya jangan dulu ikut. Berpikir yang jernih." Ucap Vian lembut seraya mengusap kepala Keishy pelan
Kei memandang Vian dengan penuh harapan padanya bukannya memberi idzin untuk ikut malah Vian memasang muka datarnya pada Keishy, "Hadeh. Iya Gua nurut" Ucapnya mengalah dengan nada yang super malas.
Vian pun hanya terkekeh pelan kemudian menyentil kening Keishy keras, "Apaan sih, Bang! Sakit bodoh!" Keishy meringis kesakitan kemudian geram dan membalas perlakuan kakaknya, Vian tak meringis sama sekali, ia mengusap pelan keningnya seraya tertawa, "Zen bawa dia" Ucap Vian kemudian Zen segera meraih pergelangan Keishy pergi dari hadapan Vian
"Lepasin!" Protes Keishy pada Zen, Zen bukan menuntunnya tapi ia menyeretnya, "Ntar Lu kabur Gua yang susah" Ucap Zen berjalan dengan langkah kakinya yang begitu lebar membuat Keishy berjalan cepat
__ADS_1
Keishy geram dengan perlakuan Zen dan menghempaskan tangan nya agar genggaman Zen lepas, "Bodo! Gua mau ke mobil! CD gua ketinggalan!" Ucapnya pergi meninggalkan Zen di lahan kosong itu.
CD? Celana dalam apa CD blank?. Batin Zen.
Keishy berlari ke arah mobil Vian, kemudian ia berhenti didepannya, membuka ponselnya untuk mengirim pesan pada Vian.
...Chat...
Keishy
Eh! mobil yang Lu pake, boleh gak Gua bawa ke jkt?
Blegug
Gak! Mbil ny mo gw bwa.
Keishy
Yahh:((
Seen
"Bagus!" Gumamnya dalam hati.
Keishy menyalakan kamera pengintai super kecil dan menaruhnya di dalam mobil bagian atap, setelahnya ia menaruh kamera itu di bagian depan mobil dan kamera yang ke tiga ditempelkan di pintu mobil.
Setelah itu Keishy pergi dari sana kemudian berjalan santai melewati tempat parkir mobil pasukan utama seraya melempar kamera pengintai itu dengan santai, saat jatuh pun kamera melekat dengan sempurna.
__ADS_1
Maaf. Emang Lu ngelarang Gua. Tapi rasa kepo gak bisa Gua tahan lagi, Stupid ...
Keishy pulang ke rumah begitu saja? Ingat! Rasa keponya itu lebih tinggi daripada tinggi tubuh milik Vian. Apalagi Mia tadi menceritakan kebenaran di balik surat yang Sena tinggalkan pada Keishy. Sayang sekali jika Keishy melewatkan hal sebesar ini.