Paradoks

Paradoks
Perpisahan


__ADS_3

Naomi sudah tidak mampu menangis lagi, kali ini air matanya benar-benar sudah kering. Ia tidak ingat berapa lama ia terkapar di lantai menangisi apa yang telah diperbuat suaminya. Seisi tubuhnya terasa kebal, matanya yang sembab dan merah menunjukan kekosongan.


Ia tidak akan bercerai dengan Kuon, bagaimanapun pria itu menyakitinya, ia tidak akan membiarkan suaminya itu hidup bahagia dengan memulai hidup yang baru.. Jika ia harus hidup seperti di neraka, bukankah sudah seharusnya Kuon ikut menemaninya..? Ia rela untuk tidak bercerai dengan suaminya jika itu bisa membuat hidup Kuon merana seperti dirinya..


Hanya saja ia kembali teringat dengan ucapan Chikako yang hanya mempunyai dua pilihan. Hal ini yang membuatnya mempertimbangkan keputusannya. Walau saat ini ia sangat membenci Chikako dan Kuon, Naomi adalah perempuan yang baik pada dasarnya. Ia tidak akan tega membiarkan Chikako menggugurkan kandungannya..karena bagaimanapun..anak itu adalah adik Haruto.. Ia sudah kehilangan anaknya.. Mana mungkin ia harus membiarkan seorang anak lainnya juga harus kehilangan kesempatan untuk hidup..? Ia tidak bisa melakukannya. Walau membuat hidup Kuon merana dengan meneruskan pernikahan ini dengannya terdengar menggiurkan.. Ia bukan wanita egois yang rela melakukan apa saja untuk mewujudkan tujuannya. Ia sudah kehilangan semuanya..satu-satunya yang tersisa darinya adalah kemurahan hatinya.. Ia tidak boleh membiarkan rasa benci yang mengkonsumsinya saat ini menghancurkan satu-satunya yang masih ia miliki bukan? Bagaimanapun anak itu tidak boleh sampai di gugurkan..


Oleh karena itu Naomi sudah mengambil 1 keputusan bulat.. Ia akan bercerai dengan Kuon..


...*****...


Kuon baru saja tiba dirumah ketika jam menunjukan pukul 2 dini hari, ia kali ini pulang karena harus mengerjakan beberapa pekerjaannya yang telah ia abaikan selama beberapa minggu terakhir ini. Ia memilih malam hari untuk singgah agar ia bisa menyelinap keluar keesokan paginya tanpa perlu bertemu dengan Naomi.


Akan tetapi ketika ia memasuki ruang tengah, ia di kejutkan oleh satu sosok misterius yang sedang duduk di salah satu sofa. Ia segera menyalahkan lampu, dan ia melihat sosok misterius itu yang ternyata adalah Naomi.


Wajah Naomi pucat dan tidak berekspresi..ia menyadari jika berat badan istrinya terlihat berkurang banyak walau hanya beberapa saat tidak bertemu, melihat sosoknya yang terlihat rapuh membuat hati Kuon terasa sakit, namun ia memutuskan untuk mengabaikannya.


Menghela nafas, ia kemudian menggantung mantelnya dan berencana untuk segera menyelesaikan urusannya.


"..apa tidak ada yang ingin kamu katakan?" tanya Naomi tiba-tiba, membuat langkah kakinya terhenti.


".. Apa ada yang perlu dibicarakan?" Kuon balik bertanya, seraya menoleh kearahnya.


Naomi kemudian melempar sebuah amplop, penasaran ia lalu mengambil dan membukanya. Matanya terbelalak ketika ia melihat isi amplop itu adalah foto-foto intim dirinya dengan Chikako yang diambil secara diam-diam...


".. Darimana kamu mendapatkannya..?" tanya Kuon


"Apa itu penting? Kamu bahkan tidak membantahnya.."


"..Seperti yang kamu lihat dari foto ini, itulah kenyataannya. Tidak ada yang perlu kubantah.." Kuon tahu jika cepat atau lambat, Naomi akan mengetahui kebenarannya, percuma untuk menyangkalnya ketika ia sudah memiliki bukti solid berupa foto-foto ini.


".. Sudah berapa lama? " tanya Naomi dingin.


"... Sepanjang pernikahan ini.. "


".. Bahkan ketika aku hamil..?"


".. Jika kamu sudah selesai, aku akan mengambil barang-barang yang kubutuhkan" Kuon tidak ingin berdebat dengan Naomi, ia ingin segera mengambil apa yang ia perlukan dan keluar meninggalkan rumah itu.


"JAWAB KUON!!" tiba-tiba Naomi berteriak.


Prang!!! "MENGAPA?? MENGAPA KAMU LAKUKAN HAL SEPERTI INI KEPADAKU??! KAMU MEMFITNAHKU TELAH BERSELINGKUH, FAKTANYA TERNYATA KAMU LAH YANG MENGKHIANATI PERNIKAHAN KITA! MENGAPA??!!" teriak Naomi sembari menghancurkan semua yang ada di sekitarnya. Ia mengambil beberapa guci, gelas, dekorasi, dan apapun yang berada di jangkuannya, lalu melemparkannya ke lantai, dengan kaki telanjang ia tampak tidak peduli telah menginjak pecahan beling maupun gelas yang berserakan. Ia masih terus mengambil semua yang bisa ia ambil untuk ia hancurkan.


Melihat telapak kaki Naomi yang berdarah, Kuon segera menahan kedua tangannya.


"Apa yang kamu lakukan??! Apa kamu sudah gila??!"


"Ya!!! Aku memang sudah gilaaa!! Huhuhu mengapa Kuon??! Mengapa??!" tangis Naomi. Melihat Naomi mengalami mental breakdown membuat Kuon tidak mampu mengendalikan dirinya lagi, ia segera memeluk istrinya itu.. rasa bersalah kembali menghampirinya, hatinya benar - benar pilu melihat keadaan istrinya saat ini.


" Aku membencimu! Aku sangat membencimu huhuhu!!" tangis Naomi seraya memukul-mukul dada Kuon.


...****...


Kuon sedang membalut telapak kaki Naomi yang terluka dengan perban, tidak ada satupun di antara mereka yang berbicara.


Ia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Bukankah melihat Naomi menderita adalah tujuannya? Namun setelah melihat kondisi istrinya seperti itu, justru sangat menyiksa dirinya..ia akui jika ia masih membenci Naomi karena telah merampas miliknya yang berharga..namun sepertinya ia juga masih mencintai Naomi.. walau ia sudah berusaha keras untuk membunuh perasaannya sendiri..bagaimanapun ia menyangkal dan membohongi dirinya.. Ia tahu ia masih sangat mencintai istrinya itu.


Ia bahkan sudah tidak tahu.. Apakah yang ia lakukan selama ini sudah tepat.. Apakah dengan membenci Naomi, ia sudah melakukan hal yang baik kepada Haruto..? Bagaimana..bagaimana jika selama ini Naomi sudah mengatakan hal yang sebenarnya..kalau ia tidak pernah ingin menggugurkan kandungannya? Bagaimana jika ternyata memang dirinyalah yang sudah bersalah sudah memfitnah Naomi... Bisakah ia memaafkan dirinya sendiri??


".. Kuon.." panggil Naomi menyadarkan Kuon yang sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.

__ADS_1


"... Ayo kita bercerai.." lanjutnya tanpa melihat wajah Kuon. Ia tidak ingin menatapnya. Ia sudah terlalu jijik dengannya.


Mendengar ajakan tersebut membuat Kuon terkejut..setelah diam beberapa saat..ia akhirnya membuka mulutnya.


"... Kurasa..memang itu adalah jalan yang terbaik..aku...akan segera mengurusnya.." lidah Kuon terasa keluh saat mengucapkannya, dan ia merasa sulit untuk bernafas.. seolah-olah organ dalamnya telah di cabik-cabik..


Walau terasa sangat berat.. Ia setuju untuk bercerai karena ia juga merasa kalau mereka sudah melangkah terlalu jauh untuk kembali.. Mungkin dengan perceraian, mereka bisa memaafkan satu sama lain dan tidak perlu lagi saling menyakiti.. masing-masing dari mereka bisa membuka lembaran hidup yang baru.


Kisah hidup mereka bersama sudah lama berakhir...


Keduanya kembali dalam keheningan malam, tidak ada seorang pun dari mereka yang beranjak dari tempat mereka duduk. Mungkin saja mereka ingin menghabiskan waktu mereka seperti itu untuk yang terakhir kalinya..sebagai sepasang suami istri...


...***...


Hanya perlu waktu seminggu, ketika surat cerai sudah berada di tangan mereka.


Naomi berusia 24 tahun dan Kuon berusia 35 tahun ketika mereka resmi menyandang status mereka yang baru.


Walau Kuon memberikan Rumah dan seisinya kepada Naomi.. Ia sudah tidak ingin tinggal disitu lagi. Terlalu banyak yang telah terjadi dirumah itu, oleh karena itulah ia mengepak semua barang-barangnya kedalam mobil dan meminta Fujita untuk mengantarnya pergi.


Ia tidak tahu kemana ia harus pergi karena ia sudah tidak punya tempat untuk kembali lagi..ia tidak ingin menghubungi Ichirou karena ia tidak ingin memberikannya masalah baru.. Ia juga tidak bisa menemui Kenichi setelah baru saja bercerai.. atau itu hanya akan membenarkan fitnah yang dituduhkan oleh Kuon kepada mereka.. Dengan statusnya sekarang ia sudah tidak memiliki apa-apa lagi..baik teman, sahabat maupun keluarga..


"... Apa menurutmu air di laut terasa dingin..?" tanya Naomi tiba-tiba kepada Fujita ketika mereka melintasi pinggir laut..


".. Kurasa akan sangat dingin.." jawabnya.


Mendengar jawaban Fujita, Naomi tersenyum. Ia kemudian memintanya untuk menghentikan mobil.


" Ny, anda ingin kemana?" tanya Fujita


"Aku ingin menenangkan diri..ombak laut membuatku tenang.." ujar Naomi tersenyum.


"Tetapi.."


"..Baiklah kalau demikian..sampai kita bertemu lagi Ny Naka.. Maksudku.. Ny. Sato.. Jaga dirimu baik-baik" ucap Fujita pamit diri.


Melihat mobil Fujita sudah menghilang dari pandangannya, Naomi berjalan ke atas tebing.. Ia merasa pemandangan laut dari atas sana pasti jauh lebih indah.


...*****...


Kuon baru saja tiba di kantor ketika ia melihat Fujita sudah tiba.


"Bagaimana kamu bisa berada disini? Bukankah kamu pergi mengantar Naomi?" tanya Kuon.


"Ny memintaku untuk berhenti di tengah jalan.. Ia bilang ingin menenangkan dirinya sejenak.." jawab Fujita


"Oh.." mendengar jawaban Fujita, Kuon mengerti mengapa Naomi ingin butuh waktu sendiri, oleh sebab itulah ia langsung bekerja.. Menyibukkan diri agar ia bisa melupakan sejenak tentang perceraiannya..


".. Hanya saja Nyonya mengatakan hal yang aneh.. Ia bertanya padaku apa air laut terasa dingin.. Aku rasa pertanyaannya sedikit aneh..untuk apa beliau membayangkan suhu air laut dimusim seperti ini? " lanjut Fujita, wajahnya terlihat kebingungan.


Mendengar penjelasan Fujita membuat Jantung Kuon langsung berhenti berdetak, ia mempunyai firasat buruk, terutama setelah mengingat kembali bagaimana kondisi mental Naomi terakhir kalinya.


" Dimana ia sekarang bawa aku kesana sekarang juga " perintah Kuon mulai panik.


Sementara itu..


Naomi sedang berdiri menatapi lautan dibawahnya..rambutnya yang panjang dan hitam tergerai mengikuti arah angin yang menerpanya. Wajahnya terlihat damai walau sedikit pucat dan senyum terpatri di bibirnya.


Ia memang sudah memutuskan untuk mengakhiri hidupnya setelah perceraiannya dikabulkan. Ia kembali mengingat-ngingat..tidak banyak hal baik yang terjadi padanya selama ini. Sejak ia dilahirkan.. Keberadaannya sudah tidak diinginkan..tumbuh besar juga dalam lingkungan yang tidak sehat karena perlakuan orang tua serta kakak tirinya..bahkan ketika menikah.. Ia harus menikah demi keluarganya..dan ketika ia mengira akhirnya kebahagiaan datang menghampirinya melalui seorang anak.. Ia justru harus di hadapkan dengan kekecewaan dan patah hati..dan disaat ia menyadari jika ia telah jatuh cinta kepada mantan suaminya, hatinya justru di sakiti bahkan harga diri dan kehormatannya di injak-injak olehnya..dan ketika ia mengira ia sudah tidak mampu lagi menerima rasa sakit hati yang datang bertubi-tubi..ia justru mendapati fakta baru jika mantan suaminya tidak pernah mencintainya dan telah mengkhianatinya sepanjang pernikahan mereka..dan.. kini pria itu akan segera menjadi seorang ayah...sedangkan ia masih berada di satu titik yang sama.. tidak bergerak dan terperangkap.

__ADS_1


Ia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi..juga tidak ada orang yang akan merindukannya..namun ia yakin, Haruto sedang menantinya di sana..oleh karena itulah ia ingin segera menemui Haruto.. Agar ia bisa bersama dengan bayinya selamanya..


"Tunggu Mama.. Haruto..mama akan segera datang.. Maaf sudah membuatmu menunggu..." bisiknya..


Naomi kemudian melepaskan sepatunya, ia sudah meninggalkan sepucuk surat berjaga-jaga jika ada orang yang menemukan barang-barangnya disini.


...*****...


Kuon baru saja tiba di lokasi, wajahnya pucat ketika melihat Naomi berdiri di ujung tebing, dengan terburu-buru ia keluar dari mobil dan berlari menuju tebing.


"Tidak.. Tidak..jangan sampai terjadi.." Mohon Kuon sembari berlari, ia tidak peduli ketika ia terpeselet dan melukai kakinya, ia terus berlari hingga akhirnya ia tiba di atas.


Naomi baru saja akan meloncat ketika seseorang memanggilnya


"Naomi!!!"


Ia pun membalikkan badannya ketika mendengar namanya di panggil, disana ia melihat Kuon dengan nafas terengah-engah.


"..Kuon..?"


"Apa yang kamu lakukan??! Ayo kesini.., jangan berdiri di sana" rayu Kuon sembari mengulurkan kedua tangannya, ia tidak berani langsung jalan mendekati Naomi karena khawatir tindakannya justru akan membuat Naomi meloncat.


"..Aku tidak mengira akan melihatmu lagi.." ucap Naomi.


"Kumohon, kemarilah!" bujuk Kuon dan dengan sangat perlahan berjalan mendekati Naomi.


".. Terima kasih sudah datang menemuiku.." ucapnya lagi.


"Naomi, semua masih kita bicarakan lagi..kemarilah..aku mohon!"


Naomi menggeleng-gelengkan kepalanya, air mata terlihat mengalir dari kedua matanya.


".. Selama ini.. Aku tidak pernah mengatakannya padamu.. Aku pikir aku sangat membencimu atas segala perbuatan yang kamu lakukan padaku...akan tetapi..aku juga ingin kamu tahu... kalau aku mencintaimu Kuon.." ucapnya memaksakan diri untuk tersenyum.


"Naomi.. Aku tahu aku sudah bersalah kepadamu, aku akan melakukan apa saja untuk menebus kesalahanku.. Ayo..pegang tanganku.."


".. Maafkan aku.. dan selamat tinggal Kuon.." begitu ucapan itu ia layangkan, tanpa ragu ia langsung meloncat kebawah.


"Naomi!!!!!!!" teriak Kuon seraya berlari dan hampir saja meloncat untuk menyusul Naomi akan tetapi berhasil ditahan oleh Fujita.


"Jangan Tuan!!" mohon Fujita seraya memeluk Kuon dari belakang.


"Lepaskan aku, lepaskan aku!!... Naomi!!!" teriak Kuon, tangisnya pecah..


Wanita..satu - satunya wanita yang ia cintai terjun kelaut, tepat di depan matanya.. dan ia tidak mampu melakukan apa-apa.


Kuon jatuh tertelungkup menangis tersedu-sedu , kedua pipinya basah oleh air mata. Ia tidak percaya semua ini terjadi begitu cepat..seandainya saja ia tidak memojokkan Naomi hingga dititik terakhir..hal ini tidak akan terjadi..ia lah yang telah membuat Naomi terjun kebawah..


Tidak.. Tidak.. Semuanya masih belum terlambat.. Naomi akan baik-baik saja..


Ia akan melakukan apapun untuk menyelamatkan Naomi.


Dengan secercah harapan, ia segera menarik tangan Fujita.


" Hubungi.. Hubungi ambulance dan polisi sekarang juga, Cepat!! " perintahnya.


...*****...


Tidak berapa lama kemudian, Ambulance dan Polisi tiba dilokasi. Mereka segera menyusuri lokasi dimana Naomi terjun bebas, dan mereka menemukan darah disalah satu bebatuan. Tampaknya Naomi jatuh dan menghantam batu dibawahnya sebelum terseret oleh ombak.

__ADS_1


Melihat ketinggian tebing..tim penyelamat tidak yakin jika Naomi akan ditemukan dalam keadaan hidup.


...*****...


__ADS_2