
Seorang pria baru saja memasuki ruang kerja Kuon, begitu melihatnya.. Kuon yang tadinya sedang duduk segera berdiri seolah-olah sedang menanti kehadirannya.
"Bagaimana?! Apa mereka sudah mendapatkan informasi apapun terkait Naomi??!" tanya Kuon tidak sabar seraya memegang kedua pundak pria itu
Sudah 4 bulan sejak kejadian naas itu, namun tidak banyak informasi yang di dapatkan dari pihak kepolisian, dan ini membuat Kuon semakin tidak sabar.
Melihat pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya membuat Kuon melepaskan tangannya..
"... Sama seperti sebelumnya..apa saja yang telah mereka lakukan!!!" teriak Kuon tiba-tiba seraya mendorong benda-benda yang ada di mejanya ke lantai dengan kasar.
Ia kemudian berjalan terhuyung-huyung lalu terjatuh duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Kedua tangannya memegang kepalanya.
Kuon juga tampak kurus dan raut wajahnya pucat. Sejak ia melihat mantan istrinya meloncat dari atas tebing, ia tidak pernah lagi bisa tidur dengan nyenyak.
Hari-harinya di penuhi dengan rasa penyesalan yang teramat dalam dan juga rasa kehilangan yang besar.. Ia bahkan sampai harus mengunjungi psikiater untuk mendapatkan obat tidur agar ia bisa setidaknya beristirahat walau hanya untuk 1-2 jam saja.
Jun.. Asisten pribadi yang juga orang kepercayaan Kuon sebenarnya membawa laporan terbaru.. Namun ia tahu Kuon tidak akan menyukainya.
".. Sebenarnya aku membawa laporan dari pihak kepolisian.. Tn.Nakamura.."
Mendengar ucapan Jun, Kuon lalu mengalihkan perhatiannya ke amplop besar yang ada di tangan Jun. Ia segera mengambilnya dan membukanya. Didalamnya terdapat beberapa helai kertas laporan, ia pun segera membacanya.
".. Ini.. Apa maksudnya ini??!! "
Persis seperti dugaan Jun, Kuon tidak bisa menerima kabar tersebut dengan baik. Raut wajahnya berubah menjadi bengis.
"Kepolisian memutuskan untuk mengakhiri pencarian Ny. Sato... Kasusnya akan di tutup.."
"Omong kosong apa ini??!!!!" teriaknya.
".. Inspektur Kawamoto juga tidak dapat berbuat apa-apa.. Ini merupakan keputusan dari pengadilan.. Ny. Sato jatuh ke dalam Laut..sangat kecil kemungkinan beliau akan bertahan hidup.. apalagi ini sudah 4 bulan berlalu.. Bagaimana mungkin kita tidak bisa mendapatkan kabarnya jika beliau masih hidup? Bukankah keluarga Sato juga tidak mendapatkan kabar apapun terkait dirinya?.. Maaf aku sudah lancang Tn. Nakamura..tetapi sebagai asisten anda, aku harus mengatakan yang sebenarnya.., Ny. Sato sudah tiada Tn. Nakamura...keluarga Sato juga sudah mendapatkan laporan ini..dan aku telah mendapatkan kabar mereka akan segera mengadakan upacara pemakaman.. " ucap Jun.
" Aku tidak ingin mempercayainya!! Sebelum aku menemukan jasad Naomi aku tidak percaya ia sudah tiada!! "
" Sadarlah Tn. Nakamura! Lautan begitu luas!! Kemana kita akan menemukan jasadnya?.. Biarkanlah Ny. beristirahat dengan tenang.." pinta Jun.
Kuon kembali jatuh terduduk di sofa.. Dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
".. Keluarlah.. " perintah Kuon
Jun yang tadinya sedikit ragu, kemudian memutuskan untuk menaati perintah Kuon, ia kemudian berjalan keluar dan menutupi pintu, memberikan ruang privasi kepada Kuon.
Melihat Jun yang telah keluar dari ruangannya, tangis Kuon pun pecah.
Ia selalu berharap ia akan mendapatkan kabar baik walau kemungkinannya sangat kecil.. Namun kini harapan itu sudah pupus. Kepolisian sudah menghentikan pencarian..dan pengadilan juga sudah memutuskan untuk menutup kasus tersebut.
Ia benar-benar tidak akan bertemu lagi dengan Naomi..apapun yang ia lakukan, itu tidak akan membuat Naomi kembali lagi..
Mengingat kembali perlakuan yang ia perbuat kepada Naomi membuatnya semakin membenci dirinya sendiri..andai saja waktu terulang kembali..ia ingin memperbaiki segalanya..Namun semua itu sudah terlalu terlambat.. Ia tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk melakukannya. Wanita itu tidak akan pernah kembali lagi..
Tangisnya semakin keras ketika ia sadar jika Naomi benar-benar sudah tiada. Ketika memutuskan untuk bercerai.. Ia sempat berpikir semua akan baik-baik saja.. Walau sudah tidak bersama.. Setidaknya ia masih bisa melihatnya dari kejauhan.. Namun kali ini walau ia mencari hingga ke ujung dunia, sosok wanita itu tidak akan pernah ada lagi..
...****...
2 setengah tahun kemudian...
__ADS_1
Seorang anak laki-laki berusia sekitar 2 tahun lebih sedang memperhatikan ikan koi yang ada dikolam restoran mewah di Kyoto.
"Ayah.. Ikan!!" ucap bocah itu seraya menunjuk ikan-ikan koi yang tengah berebut makanan.
"Apa Yukio ingin mencoba memberi makan ikan-ikan ini?" tanyanya seraya menyebarkan lebih banyak makanan ikan ke dalam kolam
"mmh!! Kio ingin ikan makan" ucapnya belum terlalu lancar.
Pria itu lalu memberikan beberapa makanan ikan tersebut ke tangan mungil anak laki-lakinya dan bocah itu segera melemparnya kekolam dan tertawa geli ketika melihat ikan - ikan itu segera merebutnya dari satu sama lain.
"Yukio, jangan terlalu dekat dengan kolam" ucap wanita yang datang menghampiri mereka.
Yukio yang mendengar suara wanita itu segera berbalik dan berlari ke arahnya.
"Mama!!"
"Apa kamu sudah menjadi anak baik hari ini?" tanyanya
"Mmh!! Kio dan ayah main ikan!" jawab anak itu antusias.
Melihat wanita itu sudah tiba, pria itu kemudian berdiri.
"Mamamu sudah tiba, sekarang papa harus pergi kerja, kamu harus jadi anak yang baik ya" ucapnya.
"Kio mau Ayah!"
"Ayah janji, ayah akan menemanimu minggu depan" ucap pria itu lagi berusaha membujuk anak lelakinya seraya mengusap kepalanya.
"Tidak, Kio mau ayah.. Huwaaaa" anak itu mulai menangis.
"Sst.. Ayahmu kan sudah bilang ia akan menemanimu minggu depan, Kamu harus jadi anak yang baik ya kan ada mama disini menemanimu.." bujuk wanita itu
"Huwaaa huwaaaa" tangisnya makin kencang
Melihat anaknya yang menangis semakin keras membuat wanita itu luluh..
".. Kuon.. Bisakah kamu pulang malam ini? Yukio merindukanmu..bukankah kamu baru saja tiba di Jepang setelah 2 minggu melakukan perjalanan bisnis?" bujuk wanita itu yang ternyata adalah Chikako.
Raut wajah Kuon seketika berubah menjadi dingin ketika berhadapan dengan Chikako.
Yukio adalah anak yang di kandung Chikako ketika ia masih berstatus sebagai suami Naomi.
Dulu ia berpikir ia bisa membesarkan anak itu dengan Naomi, tidak di sangka pada akhirnya ia bercerai dan harus kehilangan Naomi dengan cara yang naas, dan kini ia justru menjadi suami Chikako.
Sebenarnya ia tidak punya sedikitpun rencana untuk menikahi Chikako.. terutama ketika Naomi sudah di nyatakan meninggal ia hampir ingin mengikuti langkah Naomi, hanya saja ketika Yukio lahir.. Ia merasa ia berutang kepada Yukio.. Ia sudah gagal melindungi buah hatinya.. Haruto, ia tidak bisa membiarkan Yukio tumbuh tanpa seorang ayah..oleh karena itulah ia terpaksa menikahi Chikako demi memberikan status yang jelas kepada anak itu..ia juga sedang menghukum dirinya sendiri dengan hidup bersama orang yang tidak ia cintai.
Status pernikahan mereka tidak berarti apa-apa, murni platonik, yang ia butuhkan hanya status yang jelas untuk Yukio agar ia bisa bertumbuh menjadi anak seperti pada keluarga umum lainnya dan kelak siap mewarisi Group Nakamura.
".. Kalau begitu aku akan coba untuk pulang lebih awal.." ucapnya singkat dan segera pergi meninggalkan Chikako dan anak mereka.
...****...
Malamnya ketika Kuon tiba dirumah, hari sudah larut. Ia memasuki kamar Yukio dan mengusap kepalanya. Wajahnya tersenyum lembut.. Ia tidak menyangka jika ia akan mencintai Yukio.. Ia berpikir ia tidak akan mampu mencintai Yukio sepenuhnya mengingat siapa wanita yang telah melahirkannya..hanya saja tampaknya cinta seorang ayah mengalahkan segalanya.
Ia kemudian mencium kening anak itu dan membisikan selamat malam, setelah itu dengan perlahan berjalan keluar dari kamar Yukio, dan memasuki kamarnya sendiri.
__ADS_1
Sejak menikah dengan Chikako, mereka tidak pernah berbagi kamar yang sama, oleh sebab itulah ia terkejut ketika mendapati Chikako berada di atas tempat tidurnya dengan gaun yang menggoda.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanyanya dingin.
".. Kuon..aku merindukanmu.." ucapnya seraya beranjak dari tempat tidur dan berjalan mendekati Kuon.
"Keluarlah, bukankah sudah kukatakan kamar ini terlarang untukmu?!" ucapnya
"Aku adalah istrimu Kuon! Kenapa aku tidak boleh berada di kamarmu?? Seharusnya ini adalah kamar kita bersama!"
"Kamu tahu jika pernikahan kita semata hanya demi Yukio bukan? Kamu juga sudah mendapatkan status yang kamu impikan sedari dulu, sebagai seorang Nyonya Nakamura.. Apa itu tidak cukup?"
"Yang aku inginkan adalah kamu Kuon!!"
"Aku tidak akan pernah menyentuhmu, pergilah jangan melakukan perbuatan yang sia-sia"
"... Apa ini semua karena Naomi?? Kamu masih belum bisa melupakannya? Sudah hampir 3 tahun Kuon!! Sudah 3 tahun wanita jalang itu meningga.."
Plakk!!
"Aku peringati sekali lagi, kamu tidak layak menyebut namanya, dan ya! Tidak peduli berapa lama ia sudah tiada, aku hanya mencintainya, aku tidak akan pernah mencintaimu. Hubungan kita sudah salah sejak kita memulainya dulu. Bodohnya aku baru menyadari itu semua setelah semuanya sudah terlambat. Oleh karena itu, jangan buang waktuku. Aku sudah memberikanmu status sebagai seorang istri Presiden Direktur, maka lakukan tugasmu dengan baik, selain itu kita tidak punya hubungan apa-apa"
Air mata Chikako terlihat tergenang di kelopak matanya, dengan satu tangan memegang pipinya yang memerah, dan tentunya dengan menahan malu yang teramat sangat, ia berjalan meninggalkan Kuon.
Ketika Kuon akhirnya setuju untuk menikahinya setelah Yukio lahir, ia mengira ia telah mendapatkan segalanya, hanya saja ia tidak menyangka ternyata apa yang ia bayangkan selama ini bertolak belakang dengan apa yang menjadi kenyataannya. Ia tidak menyangka jika Kuon akan memperlakukannya dengan begitu dingin.
Wanita itu, walau sudah meninggal ternyata masih berusaha mengambil apa yang menjadi miliknya! Betapa ia berharap wanita itu masih hidup, agar ia bisa menghancurkan hidup wanita itu kembali.
...****...
Kuon sedang berada di atas tempat tidurnya, matanya memandangi foto Naomi yang tengah tersenyum menunjuk kamar Haruto dengan satu tangannya yang lain memegang perutnya yang terlihat agak besar itu.
Ia ingat saat itu mereka baru saja selesai mempersiapkan kamar bayi mereka, dan Kuon mengambil foto itu secara diam-diam ketika Naomi dengan rasa bangga dan tersenyum menunjuk kamar bayi yang sudah mereka tata bersama. Ia bahkan masih ingat apa yang telah Naomi ucapkan..
"aku tidak menyangka jika aku adalah design interior yang lumayan hebat, kamu perlu membayar jasaku tuan Nakamura, lihatlah kamar ini, kamu tidak akan mendapatkannya dimanapun" goda Naomi setelah selesai menata ruangan itu.
Mengingat hal itu membuat hati Kuon sakit seolah-olah organnya itu sedang di peras, ia menyesal karena tidak ingin mempercayai Naomi..ia menuduh Naomi telah menggugurkan anak mereka dengan sengaja.. Padahal difoto ini, Naomi terlihat sangat antusias dalam menyambut anak mereka..mengapa ia bisa begitu bodoh dengan membiarkan amarah dan kecemburuannya mengambil ahli dan tindakannya pada saat itu? Bagaimana ia bisa mengakui jika ia mencintai Naomi ketika ia lah orang yang paling menyakitinya? Kata-kata Naomi kembali terngiang-ngiang di kepalanya.
"aku juga kehilangan!! Bukan hanya kamu seorang yang menderita!!"
Itulah ucapan Naomi yang keluar dari mulutnya ketika mereka bertengkar hebat diruangan kerjanya. Sekarang setelah kehilangan Naomi, ia baru sadar apa yang dimaksud dengan Naomi.
Ia dengan kejam memfitnah Naomi atas kehilangan anak mereka padahal pada saat itu, Naomi membutuhkan tempat bersandar melebihi siapapun..namun ia justru menambahi luka di hatinya yang sudah sangat rapuh.
Jika seseorang tidak layak menyebut namanya.. Bukankah orang itu seharusnya adalah dirinya sendiri..?
Dengan jarinya ia membelai pipi Naomi yang ada di foto..
"Apa sekarang kamu sedang bersama dengan Haruto...? Apa kalian baik-baik saja disana...?" tanyanya seraya tersenyum namun dengan tatapan mata yang sedih.
"Aku tidak tahu mengapa pada akhirnya semua berakhir seperti ini... Aku..sangat merindukanmu.... Apa ini caramu membalasku...?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"Hidup tanpamu membuatku tidak berarti.."
...****...
__ADS_1