Paradoks

Paradoks
Konfrontasi


__ADS_3

Kuon tidak mengerti apa yang membuat Naomi begitu marah. Apa yang sudah diperbuatnya sehingga membuatnya diusir dari apartemen Naomi. Ia hanya ingin mereka hidup layak, apa itu hal yang sangat buruk? Dengan langkah goyah, ia berjalan keluar dari Restoran, ia lalu mengeluarkan rokok yang ada di sakunya. Kebiasaan merokoknya dimulai ketika ia mengira Naomi sudah tiada.


Ketika ia baru memasukan rokok kedalam mulutnya dan berusaha menyalakan korek api gasnya yang terus-terusan gagal, seseorang menyalakan api untuknya. Ia sedikit terkejut karena orang itu adalah Arata.


".. Apa kita bisa berbicara sebentar?" tanyanya tersenyum.


Melihat Kuon yang tidak mengiyakan maupun menolaknya, ia mengambil kesimpulan jika pria itu setuju untuk berbicara dengannya. Oleh karena itu ia berjalan mendahului Kuon, menuntun mantan suami Naomi dimana mereka akan berbicara.


...*****...


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Kuon tanpa basa basi, ketika mereka sudah duduk di sebuah Bar sederhana.


"Entah kenapa aku merasa anda membenciku.." jawabnya ringan.


"...jika tidak ada yang ingin dibicarakan jangan buang waktuku"


"Baiklah, baiklah, tidak masalah jika anda membenciku. Aku mengajak anda kesini karena ingin bertanya apa yang anda rencanakan?" tanya Arata terus terang.


"Apa maksudmu?"


".. Aku sudah tahu sedikit banyak tentang diri anda..baik dari Naomi sendiri maupun dari media..dan sebagian kecilnya..aku cari tahu sendiri. Sudah 3 tahun berlalu..dan kini tiba-tiba anda muncul begitu saja di kehidupan mereka..padahal jelas-jelas Naomi berusaha menghindari anda. Ia bahkan meminta bantuanku untuk mendapatkan identitas yang baru beberapa tahun silam..namun melihat anda yang begitu rajin menampakkan diri anda disini.. Kelihatannya anda yang masih belum bisa melupakan Naomi.. Sedangkan anda sendiri sudah berkeluarga.. Aku mengerti jika Aiko adalah anak anda dan.. Aku mengerti jika anda ingin lebih dekat dengan Aiko..hanya saja.. Apa anda berpikir anda punya hak untuk itu? "


" Kamu!! Hati-hati kalau berbicara!!" ucap Kuon menarik kerah baju Arata.


Masih dengan tersenyum, tidak terlihat adanya rasa takut di raut wajah Arata.

__ADS_1


".. Aku tidak bermaksud kurang ajar..hanya saja apa tidak terlalu mudah untuk anda kembali kedalam kehidupan mereka...mengingat bagaimana anda memperlakukannya ketika ia masih menjadi istri anda? Naomi memang tidak pernah memberitahuku secara detail apa yang telah terjadi.. Namun aku bukan orang bodoh. Aku hanya membayangkan tekanan dan penderitaan seperti apa yang dialaminya sehingga ia harus memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri? Beruntung dewi Fortuna masih berada dipihaknya.. Apa anda tahu bagaimana kondisinya ketika aku menemukannya? Selama 3 tahun ini juga aku harus menyaksikan perjuangannya dalam membesarkan Aiko seorang diri..tekad dan semangatnya membuatku terharu. Oleh karena itulah aku tidak akan tinggal diam jika kehadiran anda hanya mendatangkan masalah baru kepada Naomi dan Aiko"


" Apa yang bisa kamu lakukan huh? Apa hanya karena kamu orang yang pernah berjasa kepada Naomi, aku akan tunduk dengan ancamanmu? Kuperingati sekali lagi, tidak peduli sedekat apa dirimu dengan Naomi, maupun Aiko, kamu bukanlah siapa-siapa. Sedangkan aku? Walau kami sudah bercerai.. Aku tetap ayah dari anaknya.. Pria yang pernah memilikinya adalah aku, dan pria yang pernah memeluknya juga aku. Bagaimana hubungan ku saat ini dengannya, tidak ada hubungannya denganmu. Apa yang pernah terjadi diantara kami, juga tidak ada hubungannya denganmu, oleh karena itu, pelajarilah tempatmu layaknya seekor anjing yang taat. Jangan lewati batasmu" bisik Kuon seraya mendorong dan melepas kerah Arata, dan setelah itu berjalan meninggalkan Bar tersebut.


Tidak dipungkiri apa yang diucapkan oleh Arata menyakitinya, karena apa yang dikatakan pria itu benar adanya. Dosa yang telah ia perbuat kepada Naomi sudah terlalu besar, hanya saja atas dasar apa ia mempertanyakan haknya untuk menemui mantan istri dan darah dagingnya sendiri? Ia tahu jika ia tidak menyukai pria itu, namun setelah pembicaraan singkat mereka membuatnya semakin membencinya. Ia harus membuat Aiko cepat melupakan pria itu.


Ketika ia berjalan untuk kembali ke penginapannya, ia merasa ada pria yang mengikutinya, oleh karena itu ia sengaja belok ke sebuah gang kecil yang diikuti oleh penguntitnya, dengan cepat ia menangkap pria itu dan memiting lehernya.


"Siapa kamu??! Mengapa mengikutiku??!"


"T-tuan Nakamura, ini aku.. Sakurai" ucap pria itu.


Sakurai adalah orang kepercayaan Chikako.


Melihat pria yang berada di pitingannya adalah Sakurai, ia pun melepaskannya.


"Aku.."


Melihat sikap pria itu yang ragu, membuat Kuon sadar keadaan yang sebenarnya.


Sakurai adalah tangan kanan Chikako..


"Chikako yang memintamu untuk mengintaiku bukan?" tanyanya


"M-maafkan aku Tuan Nakamura, aku hanya menjalankan tugas yang diberikan oleh nyonya.." mohon pria tersebut.

__ADS_1


"Seharusnya kamu tahu dengan siapa kamu bekerja, mulai hari ini.. kamu kupecat. Jangan tunjukan batang hidungmu di depanku lagi" ucapnya.


Saat ini, baik perasaan maupun pikiran Kuon sedang kacau, berani-beraninya perempuan jalang itu mengawasi dan mengintainya. Apa ini yang dimaksud oleh Arata untuk tidak mendatangkan masalah baru kepada Naomi dan Aiko? Sepertinya ia memang harus mengatasi Chikako terlebih dahulu. Ia tahu determinasi seperti apa yang wanita itu miliki ketika ia sudah memutuskan satu hal. Ia harus mengembalikan wanita itu pada tempatnya sebelum ia berpikir ia mempunyai kendali didalam "kerajaan" yang telah ia bangun.


Ia lalu meninggalkan pesan singkat kepada Naomi jika ia akan ke Tokyo pada malam ini juga, dan ia akan kembali ke Kagawa dalam waktu beberapa hari ke depan.


...*****...


Naomi sedang membacakan buku cerita untuk Aiko ketika telepon genggamnya bergetar. Ia lalu menghentikan aktifitasnya untuk memeriksa pesan yang masuk.


"Ada urusan mendadak, aku harus ke Tokyo malam ini, aku akan kembali beberapa hari kedepan, kumohon pertimbangkan kembali permintaanku..demi Aiko"


Setelah membacanya, ia lalu mematikan telepon genggamnya tersebut dan melanjutkan aktitifas mereka.


"Mama?" panggil Aiko tiba-tiba


"Ya? Aiko sayang?"


"Aiko ayang mama" ucapnya.


"Mama juga sayang Aiko..sangat sayang.." balasnya sembari menatap Aiko sedalam-dalamnya.


Mungkin..mungkin saja usulan Kuon tidaklah buruk..bagaimana ia bisa mengatakan jika ia menyayangi Aiko jika ia masih mendahulukan keegoisannya sendiri? Terlepas apa yang telah di ucapkan oleh Kuon, ia setuju jika di dunia ini, hanya orang-orang berduit yang berkuasa. Sekeras apapun ia berusaha memberikan kehidupan yang baik dan layak untuk Aiko, semua bisa dilakukan 10x lipat oleh Kuon hanya dengan menjentikkan jari kelingkingnya.


Hanya saja.. Tokyo bukanlah kota yang memberinya banyak kenangan indah. Bagaimana jika ia tidak sengaja bertemu dengan Ayah, Ibu maupun Seiji? Belum lagi dengan mantan teman-teman kuliahnya..

__ADS_1


Ya.. Ia memang harus mempertimbangkan keputusannya dengan matang dan hati-hati. Jika itu demi Aiko, sudah seharusnya ia mengambil semua resiko yang ada.


__ADS_2