
Melihat Kuon yang terdiam seribu bahasa, Naomi menghela nafas. Ia sudah lupa berapa kali ia harus menghela nafas sejak bertemu dengan Kuon.
Pria itu selalu mencari celah untuk membuatnya memikirkan hal-hal yang tidak perlu ia pikirkan.
Ia tahu sebenarnya apa yang ia katakan sebelumnya terdengar keras, akan tetapi semua yang dikatakannya tidak salah. Mereka memang sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi, selain sebagai rekan dalam mengawasi tumbuh kembang Aiko..tidak lebih dari itu...di tambah dengan Kuon yang kini sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak, tentu saja sangat tidak elok jika salah satu di antara mereka masih terus ikut campur dalam kehidupan pribadi mereka masing-masing.
"Aku akan menyiapkan Ramen untukmu.." ujarnya walau Kuon tidak memberi respon apa-apa.
Disaat ia akan meninggalkan meja dimana Kuon berada, Kuon menghentikannya dengan memegang tangannya.
Tentu saja Naomi segera melepaskan tangannya. Melihat ketidaknyamanan Naomi, Kuon segera melepaskan tangannya dan meminta maaf.
"..Maafkan aku..kamu tidak perlu menyiapkan apa-apa untukku, aku membeli Hitsumabushi dalam perjalanan tadi, aku akan sangat menghargainya jika kamu bisa menghangatkannya" Kuon lalu menyerahkan beberapa porsi Hitsumabushi yang dibelinya itu kepada Naomi.
".. Bagikan juga dengan teman-temanmu yang lain.." lanjutnya.
Menggangguk, Naomi lalu mengambil kotak makanan yang diberikan oleh Kuon.
Tidak berapa lama kemudian Aiko dan Arata masuk kedalam Restoran.
Arata terlihat berbicara dengan Naomi sebelum ia kemudian meninggalkan restoran. Sebelum keluar dari Restoran, ia menyempatkan diri pamit kepada Kuon, namun Kuon tidak membalasnya. Ia tidak menyukai pria yang begitu dengan Aiko dan Naomi itu.
...****...
Naomi akhirnya kembali dengan 2 porsi Hitsumabushi yang sudah di hangatkannya, dan Aiko terlihat berjalan mengikuti sang ibu, ketika Naomi sedang menata makanan tersebut diatas meja, Aiko mengintip dari balik celana Naomi, masih penasaran dengan pria asing yang duduk didepannya itu.
Setelah selesai menata semuanya, Naomi segera mengangkat Aiko dan mendudukannya pada kursi tinggi anak-anak. Dengan sigap ia menyiapkan porsi Aiko.
"Aiko juga sangat menyukai Hitsumabushi.." ucap Naomi memulai pembicaraan.
Kuon sedikit terkejut karena mantan istrinya tiba-tiba membahas makanan kesukaan buah hati mereka, dan ia tidak menyangka selain warna mata yang sama, ia juga memiliki kesamaan yang lain dengan putrinya itu.
".. Benarkah? Jika demikian, ia harus makan lebih banyak, aku akan memesannya setiap hari jika memang ia menyukainya. Apa ada restoran yang ia sukai disini?" tanya Kuon
__ADS_1
Mendengar ucapan Kuon, membuat Naomi tergelitik dan tersenyum.
" Apa menurutmu ia tidak akan bosan? Aku akan bosan jika harus memakan makanan yang sama setiap hari walau itu adalah makanan kesukaanku" jawab Naomi tersenyum sembari menyuapi Aiko. Terlihat Aiko sangat lahap menyantap makanan yang dibawa oleh ayahnya itu.
Melihat pemandangan yang ada didepannya membuat Kuon merasakan berbagai emosi yang bercampur menjadi satu. Mereka kini terlihat sebagai keluarga utuh yang sedang menikmati makanan mereka.
Ia lalu berdehem berusaha menyingkirkan apa yang ia pikirkan sebelumnya.
"..Kalau begitu..bisakah kamu memberiku list makanan yang disukai dan tidak disukai oleh Aiko? Apa warna favoritnya? Apa yang sangat di inginkannya, Kartun kesukaannya.. Aku ingin mengenalnya lebih jauh.."
".. Bukankah lebih baik kalau kamu menanyakannya langsung kepada Aiko?"
".. Maksudmu.. "?
".. Aku pikir kamu akan membantuku menjaga Aiko ketika aku sedang bekerja... Jujur saja.. Aku sudah memikirkannya dalam beberapa hari terakhir ini... Walau terasa sangat berat tapi Aiko memang perlu menghabiskan waktunya denganmu..ia berhak untuk tahu kalau kamu adalah ayahnya.. " jawabnya dengan tatapan yang lembut kepada Aiko, sesekali ia mengelus kepala Aiko.
Naomi sebenarnya enggan memberikan Aiko kepada Kuon walau hanya untuk 1 jam..akan tetapi ia kembali mengingatkan dirinya sendiri, ia tidak boleh egois. Ia harus melakukan hal yang bisa memberikan keuntungan kepada Aiko karena ini semua tentang Aiko, bukan tentang dirinya maupun hubungan masa lalunya.
Mendengar jawaban Naomi tentu menjadi angin segar untuk Kuon. Ia tidak menyangka Naomi akan mengijinkannya menghabiskan waktu bersama Aiko berdua saja, secepat itu mengingat bagaimana sikapnya sejak pertama kali mereka bertemu kembali.
"Kalau begitu aku akan menjemputnya besok" ucapnya dengan semangat.
...*****...
"Jadi ia pergi ke Kagawa lagi?" tanya Chikako.
Ia penasaran apa yang menarik di Kagawa sehingga membuat Kuon menghabiskan banyak waktunya di desa itu.. Ia tahu jika Kuon akan membuat resort di desa kecil itu, namun membuat resort tidak membutuhkan pemimpin suatu perusahaan untuk memantau secara langsung. Pasti ada yang disembunyikan oleh Kuon..
"Apa masih ada yang anda perlukan Ny. Nakamura?" tanya seorang pria suruhan Chikako
"Pantau dia, dan laporkan padaku apa yang kamu lihat disana" perintahnya.
...*****...
__ADS_1
Keesokan harinya, Kuon sudah berada direstoran sejak restoran itu baru di buka. Ia sudah tidak sabar menghabiskan waktunya bersama dengan Aiko.
Awalnya Aiko terus menangis karena ia tidak ingin pergi bersama dengan Kuon, namun akhirnya setelah dibujuk dengan permen yang dibawa oleh Kuon, ia berhasil membuat anak itu bersedia pergi dengannya.
Tanpa membuang waktu, ia membawa Aiko ke sebuah toko mainan.
"Apa Aiko menyukai boneka ini? Liatlah ia bisa menari" tanya Kuon seraya menunjuk boneka Beruang yang sedang menari mengikuti irama yang dikeluarkannya,
Kuon mengendong Aiko dengan satu lengannya, dan kedua lengan Aiko memeluk leher Kuon.
"mmh! Uang! Aiko uang!" jawabnya antusias.
Melihat putrinya menyukai boneka tersebut, ia segera memasukannya kedalam keranjang belanja.
"Mmh.. Apalagi ya yang puteri Papa inginkan..?" tanya Kuon.
Mendengar Kuon memanggil dirinya sendiri Papa membuat Aiko kebingungan.
"Papa?"
".. Ya, aku adalah Papa.. Papa Aiko" Kuon menunjuk dadanya sendiri.
Melihat Kuon mengaku sebagai ayahnya membuat Aiko menggeleng-gelengkan kepalanya.
"kan Papa, bukan papa... Papa Aiko Ata" balas Aiko berusaha memberi tahu Kuon jika ayahnya bernama Arata.
Mendengar jawaban Aiko tentu membuat Kuon patah hati, di sisi lain ia tahu jika hal ini memang akan sulit untuk di pahami oleh Aiko. Ia harus bersabar. Sekarang ia sudah mendapatkan kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama Aiko, ia yakin kelak Aiko bisa menerimanya, untuk saat ini ia sudah cukup puas dengan kebersamaan mereka.
...****...
Catatan dari Author.
Maaf sebelumnya sudah cukup lama tidak update Paradoks dikarenakan aktifitas yang padat, di tambah dengan kesehatan Author yang kurang baik. Tapi mulai hari ini Author akan kembali update ceritanya secara berkala.
__ADS_1
Enjoy Reading!