
Sudah seminggu sejak hari itu, Kuon selalu tepat waktu dalam menjemput dan mengantar Aiko. Naomi juga sangat terbantu karena ia kini sudah tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk penitipan anak selagi ia bekerja dan ini artinya ia bisa mengalokasikan biaya tersebut untuk di tabung .. Ia berencana untuk menyewa Apartemen yang sedikit lebih besar dari tempat yang mereka tempati saat ini karena Aiko akan membutuhkan ruangan yang lebih luas seiring bertumbuhnya anak itu , Aiko juga terlihat menikmati waktunya bersama dengan Kuon.
Sementara itu, Kuon juga mendapati hal-hal baru tentang puteri kecilnya itu, ia takjub karena ia menemukan banyak kesamaan di antara mereka.
Aiko menyukai warna biru yang juga merupakan warna kesukaannya, ia tidak menyukai wortel sama seperti dirinya yang tidak menyukai wortel. Ia selalu memisahkan wortel dari makanannya jika ia mendapatkan menu yang kebetulan ada wortelnya, dan anak itu menyukai eskrim dengan rasa Stroberi, yang lagi-lagi juga merupakan kesukaan Kuon. Ia selalu memesan eskrim dengan rasa Stroberi.
Kuon sangat senang mengetahui banyak kesamaan diantara mereka, jika sebelumnya ia tidak mempercayai dengan adanya ikatan batin, ia kini akan mempercayainya. Ia percaya segala kemiripan yang ia miliki dengan Aiko adalah tanda adanya ikatan batin yang kuat di antara mereka, dan hal ini tidak pernah ia dapatkan dari Yukio.
Walau Kuon sangat menyayangi Yukio, ia sedikit kecewa ketika menemukan fakta jika mereka tidak berbagi minat yang sama. Yukio lebih mirip kepada ibunya, dari selera hingga kebiasaan. Bahkan secara fisik, Yukio lebih mirip dengan Chikako.
Ia kembali teringat akan Haruto..anak itu sangat mirip dengan Naomi..walau ia tidak akan pernah tahu mirip siapa warna mata putera sulungnya itu...jika ia masih hidup, makanan apa yang akan menjadi favoritnya, warna apa yang akan ia sukai..
Ia membayangkan andai saja Haruto masih hidup, tentu saja saat ini ia akan menjadi pria yang paling bahagia di dunia. Dengan Naomi disisinya dan dua orang buah hati yang menjadi kebanggaannya, namun disaat yang bersamaan ia dikejutkan dengan pemikirannya sendiri.
Ia merasa hina dan bersalah kepada Yukio, ayah macam apa yang dengan mudah melupakan darah dagingnya ketika membayangkan kebahagiaannya sendiri? Tidak hanya sekali namun tiap saat ketika ia membayangkan bagaimana kehidupannya sekarang seandainya ia tidak pernah melepaskan Naomi... Bagaimana bisa ia melupakan Yukio seolah-olah anak itu tidak pernah ada di dalam kehidupannya..bahkan untuk saat ini, baik perasaan dan pikirannya terbagi menjadi dua. Ia merasa bersalah karena demi menghabiskan waktunya bersama dengan Aiko, ia harus mengabaikan Yukio.
Ia lalu menghela nafas. Ia memang ayah yang buruk, dari raut wajahnya jelas terlihat konflik dengan berbagai emosi yang berkecamuk di hatinya..
Melihat Kuon yang sedang duduk di kursi taman, dan tampak sedih membuat Aiko yang saat itu sedang bermain pasir, berinisiatif untuk menghibur Kuon dengan mencabut bunga liar yang ada disekitar taman itu.
Ia lalu berjalan ke arah Kuon dengan setangkai bunga liar di tangannya.
__ADS_1
Ia lalu menepuk-nepuk lutut Kuon dan menyerahkan bunga tersebut dengan senyum lebar.
Walau sudah berusia 2 tahun lebih, Aiko belum pandai berbicara dibandingkan dengan Yukio yang sudah fasih berbicara. Badannya juga jauh lebih kecil dari Yukio, namun jiwa dan hatinya tidak sekecil fisiknya. Sebaliknya ia mempunyai hati yang lebih besar di bandingkan anak-anak seusianya. Sedari dini, jiwa mengasihi sudah jelas terlihat darinya.
Melihat Aiko yang menyerahkan setangkai bunga dengan senyuman yang menghiasi wajah cantiknya dengan mata biru yang berbinar-binar membuat pertahanan Kuon runtuh.
Ia segera memeluk Aiko. Bagaimana bisa ia melewatkan 2 tahun pertamanya..bagaimana bisa ia tidak mengetahui jika Naomi sedang hamil ketika mereka akan bercerai..bagaimana jika Naomi justru harus kehilangan bayinya akibat keputusannya pada hari itu..atau bagaimana jika ia tidak pernah mendatangi Kagawa.. Ia tidak akan pernah tahu jika anak yang tanpa dosa ini ada. Anak ini mungkin harus menghabiskan separuh hidupnya diapartemen yang sempit itu dengan segala keterbatasan fasilitas sementara ia, ayahnya hidup bergelimang harta dan yang paling menyedihkan..anaknya harus mengandalkan pria lain sebagai ayahnya.. Ia tidak berani membayangkan ketika Aiko akan mulai sekolah, bagaimana teman-teman sekelasnya akan memperlakukannya jika mereka tahu Aiko tidak memiliki seorang ayah..bahkan hanya sekedar membayangkan Aiko akan dirundung membuat hati Kuon sakit. Ia bersumpah kepada dirinya sendiri, ia akan melindungi puteri kecilnya yang berharga itu.
Kuon memutuskan ia akan memberi tahu Naomi tentang rencananya hari ini. Apapun yang terjadi ia akan membuat Naomi dan Aiko tinggal di Tokyo. Ia tidak bisa menghabiskan sebagian besar waktunya di desa ini karena perusahannya membutuhkannya, dan ia juga sudah tidak ingin hidup tanpa mereka. Oleh karena itulah ia harus bergerak cepat.
...****...
"Apa katamu??" tanya Naomi
"Apa kamu sudah gila???bukankah pernah kukatakan, kami tidak akan pernah kembali ke Tokyo!" balas Naomi gusar. Ia tidak percaya dengan apa yang pria itu ucapkan. Ia ingin membawanya dan Aiko untuk tinggal di Tokyo???
"Kalian? Aku rasa hanya dirimu yang tidak ingin kembali ke Tokyo.. Naomi... , bukan Aiko, kamu tidak boleh egois seperti ini.. lagipula di Tokyo.. Aiko bisa mendapatkan sekolah dengan kualitas terbaik, aku juga akan memberinya dokter pribadi terbaik dalam mengawasi tumbuh kembangnya" Kuon berusaha menjelaskan maksud dan tujuannya.
"Jadi menurutmu aku gagal merawat Aiko?" tanya Naomi, raut wajahnya menunjukan ia terluka dengan ucapan Kuon.
"Bukan begitu maksudku, tapi kamu tahu sendiri fisik Aiko lebih kecil dibandingkan dengan anak-anak seusianya, kita perlu membawanya ke dokter tumbuh kembang untuk memastikan ia mendapatkan semua nutrisi yang dibutuhkannya"
__ADS_1
"Arata sudah memastikan ia sehat-sehat saja. Fisiknya memang lebih kecil dan lemah..tapi tidak sampai di bawah batas normal, tidak ada yang salah dengan Aiko"
"Arata dan Arata! Ia bukan ayah Aiko! Aku.. Aku berterima kasih kepadanya karena ia telah membantumu beberapa tahun belakangan ini..hanya saja..ia bukanlah dokter spesialis..dan bukankah sebagai seorang ayah aku berhak memastikan dengan mata kepalaku sendiri jika Aiko baik - baik saja?..dan..Aku bukan tidak percaya dengan kemampuanmu dalam merawat Aiko ..Naomi, hanya saja Aiko bisa mendapatkan hal yang jauh lebih baik jika ia tinggal dekat denganku..lihatlah tempat tinggal kalian saat ini..., tempat ini tidak layak untuk tumbuh kembang Aiko. Aku akan memastikan ia mendapatkan segalanya yang terbaik di bidangnya masing-masing..aku juga ingin merawatmu.. Aku sudah mendapatkan dokter spesialis yang bekerja di bidang Traumatology untuk kakimu. Aku.. "
"Pergi!!" potong Naomi, dadanya terlihat kembang kempis menahan amarah yang sebentar lagi akan meluap.
"Naomi..!"
"Keluar dari rumahku!! Saat ini juga!! Aku tidak ingin melihatmu dan aku tidak akan mengijinkanmu menemui Aiko lagi!!" pekiknya seraya mendorong tubuh Kuon yang tegap dan tinggi keluar dari Apartemen kecilnya. Ia segera mengunci pintu. Dan duduk bersandar di balik pintu. Terdengar suara pintu yang di ketuk oleh Kuon yang berusaha untuk memberikan penjelasan.
Naomi sudah tidak mampu menahan air matanya lagi, berani - beraninya pria itu merendahkannya hingga sedemikian rupa. Ia memang tidak memiliki harta berlimpah, namun ia selalu memberikan semuanya yang terbaik untuk Aiko, tahu apa pria itu.. bagaimana perjuangannya selama ini membesarkan Aiko seorang diri.. Di satu sisi, ia mengerti jika Kuon bermaksud baik, hanya saja ia tidak bisa menerima ketika Kuon mengomentari fisik anaknya. Ia tahu jika Aiko mengalami keterlambatan bicara dan berat badan yang lebih rendah daripada anak seusianya. Bahkan ketika Aiko lahir, ia harus lahir dengan berat badan di bawah normal, yakni hanya 2.1 kg. Menurut Arata itu semua karena Naomi mengalami kehamilan yang sulit hingga peredaran oxygen ke Janin yang tidak begitu lancar, dokter tidak bisa menemukan penyebabnya kenapa, namun Arata berasumsi ini di akibatkan oleh insiden dimana Naomi memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, mungkin stress yang tinggi dan juga hantaman yang kuat membuat organ dalamnya cacat. Ia bahkan divonis sudah tidak akan bisa hamil lagi ketika ia melahirkan Aiko.
Oleh karena itulah, ia selalu menyesali perbuatannya itu. Ia hampir saja kehilangan Aiko akibat keputusannya yang ceroboh itu, ia tidak butuh Kuon untuk mengingatkannya kembali jika ia lah penyebab fisik Aiko yang lemah.
Melihat ibunya yang menangis, membuat Aiko ikut menangis, ia tidak mengerti apa yang membuat ibunya sedih, yang jelas melihat ibunya yang biasa kuat dan ceria kini justru terlihat sebaliknya membuat hatinya merasa pilu. Ia lalu berjalan mendekati Naomi dan memeluknya.
"Huhuhu mama" tangis Aiko
Naomi segera mengelap air matanya dan membalas pelukan Aiko seraya menepuk punggung kecilnya dengan lembut.
"sst.. Maafkan mama" ucapnya meminta maaf, tidak seharusnya ia memperlihatkan sisi rapuhnya kepada Aiko.
__ADS_1
...****...