Paradoks

Paradoks
Dilemma


__ADS_3

Tidak berapa lama kemudian, seorang pria yang gagah, tampan dan tinggi memasuki restoran ramen dimana Naomi bekerja.


Megumi yang melihat pria itu tentu saja terlihat bersemangat. Tidak setiap hari ia bisa memanjakan matanya dengan seorang pria yang ketampanannya melebihi aktor kesukaannya.


Dengan antusias ia segera mempersilakan pria itu masuk.


"Apa ada yang kubantu?" tanyanya menawarkan diri.


Mata pria itu terlihat sedang memeriksa seisi restoran seolah-olah sedang mencari sesuatu.


".. Apa Naomi bekerja di sini?" akhirnya ia bertanya.


"Naomi..? Oh..tentu saja.. silahkan ikut aku" Megumi segera menuntun Kuon untuk duduk disalah satu meja yang kosong. Setelah itu ia berlari kecil ke arah dapur untuk mencari Naomi.


"Naomi! Ada pria tampan mencarimu!! Kyaaaa aku tidak pernah melihat pria setampan itu!! Darimana kamu mengenalnya??!" tanya Megumi dengan berbisik, Kenji yang sedang menyiapkan Ramen diam-diam ikut menguping.


Melihat Megumi yang sangat bersemangat, Naomi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


".. Ia hanya kenalanku, aku akan menemuinya sekarang, tolong lakukan bagianku" ucap Naomi menyerahkan satu keranjang sayur kepada Megumi.


Setelah mencuci tangannya, ia pun keluar dari dapur dan melihat Kuon duduk di salah satu meja yang berada di pojok ruangan.


Ia lalu berjalan kearahnya dan duduk di depannya.


"Naomi.." panggil Kuon


"Sekarang kamu sudah disini, apa yang ingin kamu berikan kepada Aiko?" tanyanya.


"Dimana Aiko?" Kuon balik bertanya setelah ia melihat sekelilingnya dan tidak melihat adanya Aiko di tempat itu.


"Ia sedang beristirahat di lantai 2"


"Seorang diri?"


".. Kami tinggal di lantai 2 restoran ini, selagi bekerja aku bisa sambil mengawasinya"


"Tetapi membiarkan seorang anak berusia 2 tahun seorang diri???"


"Selama dua tahun terakhir ini kami hidup baik-baik saja tanpa dirimu bukan? Jika tujuanmu hanya ingin mengkritik bagaimana aku mengasuh Aiko, kamu bisa pergi sekarang"


"Aku tidak bermaksud menyinggungmu... aku.. hanya mengkhawatirkan Aiko." ucap Kuon, raut wajahnya menunjukan penyesalan. Setelah 3 tahun, ia tidak ingin Naomi semakin membencinya, sudah susah payah akhirnya mereka bisa bertemu.


Naomi sebenarnya tahu jika Kuon tidak bermaksud buruk, hanya saja perasaannya sedang tidak baik. Ia sudah cukup merasa bersalah dengan bagaimana ia harus membesarkan Aiko, ia tidak perlu orang lain untuk mengingatkannya.

__ADS_1


"... Tidak semua orang bisa hidup sepertimu, yang bisa mendapatkan apapun yang kamu inginkan. Pendapatanku sekarang belum mampu untuk membiayai seseorang untuk menjaga Aiko selagi aku bekerja..aku cukup beruntung karena bisa tinggal di lantai 2 dengan biaya murah. Oleh karena itu, simpan opinimu" ucap Naomi dingin.


"Naomi..ijinkan aku membantumu, aku bisa memberikan kalian tempat tinggal, aku bisa membiayai hidup kalian. Kamu tidak perlu bekerja di tempat seperti ini"


Walau restoran dimana Naomi bekerja saat ini tidak buruk, ia kurang setuju jika Naomi harus bekerja keras, terlebih kini ia sudah menemukannya.


"Bekerja di tempat seperti ini? Membiayai hidup kami? Memang betul.. jika karakter seseorang tidak akan mudah berubah begitu saja, dari dulu hingga sekarang kamu sangat mudah merendahkan orang lain. Seperti yang kukatakan, hidup kami baik-baik saja, dan " tempat seperti" ini sudah memberikanku keluarga yang tidak pernah kumiliki sebelumnya. Oleh karena itu jika memang tidak ada lagi yang ingin kamu bicarakan, pergilah"


".. Naomi...!! Aku..baiklah..tapi sebelumnya ijinkan aku menemui Aiko, aku membawa sesuatu untuk Aiko, barang-barangnya ada di mobil" ucapnya menghela nafas.


Kuon tahu jika Naomi tengah membencinya saat ini, apapun yang ia katakan hanya akan membuat Naomi semakin kesal. Oleh karena itu ia tidak ingin memperpanjang masalah. Ia hanya ingin menemui Aiko sebelum ia kembali ke Tokyo.


Tadinya ia berencana untuk tinggal di desa Kagawa untuk beberapa hari kedepan, tetapi niat itu harus di tunda, karena kini ia sudah tahu jika Naomi masih hidup dan mereka juga memiliki seorang puteri, oleh karena itu ada yang harus ia kerjakan di Tokyo.


Kuon lalu berjalan keluar dari restoran dan membuka bagasi mobilnya dan mengeluarkan berbagai macam mainan dan hadiah untuk Aiko, ia tampak kesulitan untuk membawa semua hadiah itu masuk kedalam.


"Apa yang telah kamu lakukan?" tanya Naomi melihat begitu banyak barang yang dibawa oleh Kuon.


"Untuk Aiko, aku sudah melewati 2 tahun pertamanya, hanya ini yang bisa kuberikan untuknya untuk sementara waktu"


Melihat hadiah yang begitu banyak, Naomi sakit kepala. Dimana ia harus menyimpan semua hadiah itu?


"Bawalah kembali, tempatku tidak cukup menampung ini semua" ucapnya menghela nafas.


"Aku tahu apapun yang aku katakan tidak akan mengubah pikiranmu.. Ikut aku" Naomi kemudian menuntun Kuon berjalan menuju lantai 2.


Kuon memasuki sebuah ruangan apartemen yang kecil, bahkan apartemennya terlalu rendah untuk tinggi badannya yang 193 cm. Ia harus sedikit menunduk ketika masuk melalui pintu utama.


Didalam ia melihat ruang tamu dan dapur yang menjadi satu, kamar mandi berada di samping pintu utama, dan hanya terdapat 1 kamar tidur.


Ternyata inilah tempat dimana Naomi dan Aiko tinggal selama ini..Hati Kuon lagi-lagi sakit melihat pemandangan yang ada didepannya.


Selama ini, ia hidup dalam kemewahan dan kemudahan dan tanpa ia ketahui wanita yang ia cintai beserta anak mereka justru harus tinggal di tempat yang kecil dan sempit seperti ini.


Ia akhirnya melihat Aiko yang sedang tertidur di Futon, mainan berserakan disekitar nya.


Ia segera berjalan mendekati Aiko dan duduk disampingnya, dengan lembut ia membelai rambut Aiko, ia semakin tidak rela mendapati puteri kecilnya harus hidup seperti ini...


".. Sekarang kamu sudah lihat kan? Kami tidak punya banyak tempat, oleh karena itu bawa kembali barang-barang yang kamu bawa hari ini, aku tetap menghargai usahamu untuk Aiko" ucapan Naomi memecah keheningan.


"...maafkan aku.." ucap Kuon tiba-tiba.


Naomi terkejut karena suara Kuon terdengar penuh penyesalan, ia pun jadi merasa bersalah.

__ADS_1


".. Aku..tidak bermaksud menyalahkanmu. Aku tahu niatmu baik.. Kuon. Bagaimana kalau aku membiarkan Aiko memilih 1 atau 2 dari hadiah yang kamu bawa? Sisanya..bisa kamu berikan kepada...anakmu dengan.. Chikako"


Ucapan Naomi membuat perhatian Kuon tertuju padanya.


".. Kamu sudah tahu..?" tanya Kuon


".. Aku melihat pernikahan kalian di TV.." jawab Naomi.


Suasana di apartemen itu tiba-tiba terasa berat.


Bagaimana mungkin ia berpikir Naomi tidak tahu? Ketika ia memutuskan untuk menikahi Chikako, ia membiarkan Chikako yang mengatur segalanya dan tentu saja itu bukan keputusan yang tepat karena wanita itu tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan membuat pesta besar-besaran.


Seandainya ia tahu Naomi masih hidup, ia tidak akan pernah menikahi wanita itu.


".. Bagaimana kabar anakmu..?" tanya Naomi memulai pembicaraan lagi. Ia ingat saat itu Chikako masih mengandung. Usianya pasti tidak jauh berbeda dengan Aiko.


"..Namanya Yukio.." jawab Kuon.


".. Seorang anak laki-laki seperti yang kamu harapkan dulu.. selamat ya..." ucap Naomi sedikit kaku, walau ia masih merasa sakit hati, ia berusaha tegar karena mereka tidak punya hubungan apa-apa lagi dan bagaimanapun anak dari Kuon adalah saudara Aiko.


Kuon merasa bersalah karena saat ini yang ada di pikirannya adalah Aiko, sejak ia mengetahui soal Aiko, Yukio seolah-olah tidak pernah ada dalam kehidupannya, dengan begitu mudah ia melupakan anak itu. Ia adalah ayah yang buruk karena sudah memperlakukan puteranya seperti itu...


"..Aku harus pergi sekarang, aku akan datang lagi setelah urusanku di Tokyo selesai.. " ujar Kuon, menolak untuk merespons ucapan selamat dari Naomi.


Ia tidak menginginkan ucapan itu keluar dari mulut Naomi. Yang ia inginkan dari dulu adalah anak yang dilahirkan oleh Naomi, yang ia harapkan dan nanti-nantikan sejak dulu adalah anak mereka bersama..bukan dengan Chikako, oleh karena itulah ia tidak bisa menerima ucapan selamat dari Naomi, walau disatu sisi ia merasa bersalah kepada Yukio, ia menyayangi Yukio..hanya saja anak itu terlahir dari wanita yang tidak ia cintai, kesalahannya lah yang membuat anak itu ada. Yukio adalah kesalahan yang ia perbuat kepada Naomi, dan kehadirannya mengingatkan dirinya jika ia tidak akan bisa merubah kesalahan yang ia lakukan dimasa lalunya..sedangkan Aiko.. Aiko bukan suatu kesalahan.. Aiko adalah mukjizat dalam hidupnya..


" Baiklah, aku tidak akan menahanmu" balas Naomi.


Mereka lalu keluar dari apartemen itu, wajah keduanya terlihat tidak bersemangat, dan tanpa membuang waktu Kuon pergi meninggalkan restoran tersebut.


Melihat Kuon sudah pergi, Megumi segera mendekati Naomi.


"Siapa dia? Tidak ada bosan-bosannya aku melihat ketampanannya yang bukan berasal dari dunia ini " ucap Megumi


".. Dia..ayah Aiko.." jawab Naomi.


"Ehhh???????" Megumi terkejut


"Ayah Aiko? Ayah kandung Aiko??? Pantas saja aku merasa ia mirip dengan Aiko, tetapi aku tidak mengira mantanmu setampan itu!! aku jadi penasaran kenapa kalian berpisah!!" sambung Megumi.


".... Setelah berkeluarga kelak..kamu akan tahu kalau harta maupun penampilan bukanlah yang utama... "


...*****...

__ADS_1


__ADS_2