Paradoks

Paradoks
Chapter 8


__ADS_3

"Itu suntik mati apa suntik kekebalan?" tanya Viara dingin


Mati gue, batin Keishy.


"Kalo mau tau, sini gua suntik. Jika lu mati gua jujur dan jika lu masih hidup silahkan bunuh gua!" Ujar Keishy geram


Viara santai mengacungkan tangannya ke arah Keishy, "yaudah nih suntikkin tangan gue"


Kok rasanya gua mo bunuh beneran ni anak, batin Keishy.


Keishy mendecih menarik tangan Viara dan segera menyuntiknya.


PLAKK!


"****! Lu mau mati hah!" tamparan Dara menjeda kegiatan Keishy sukses membuat Viara tak berkutik


"Udah lah lu lanjut bunuh si Vian, gausah buang buang waktu, gue sibuk" timpal Nesa geram


Keishy mengangguk segera mendekati Kakaknya kemudian menyuntikkan cairan hijau itu di lengan kirinya.


Dan bisa ditebak Vian mengalami efek yang sama.


Bedanya..


Vian mengguling gulingkan badannya, teriak kesakitan, sangat sangat sakit saat orang melihatnya lebih apa yang Keishy rasakan.


Bukankah itu sangat, Berlebihan?.


"Akting lu lebay amat bagong" Umpat Keishy dalam hati


Dan yang benar saja? Mereka berlima, Nesa, Monica, Dara, Citra dan Viara tentunya percaya bahwa itu suntik mati.


5 Miliar sekarang milik gue, batin Dara.


Hm, dugaan gue salah ternyata, batin Viara


Akhirnya bisa hidup dengan tenang, batin Nesa, Citra dan Monica


"satu ... dua ... tiga ... empat ... lima ... enam ... tujuh" hitung Keishy bergumam


"Eh lu ngapain ngitung-ngitung segala" tegur Citra, tapi Keishy tidak mempedulikan itu.


"Heh! Bolot lu hah?!" timpal Monica dan sekali lagi Keishy tidak menghiraukan mereka


".. delapan ..." semua gadis itu bingung memikirkan apa yang sebenarnya yang dilakukan Keishy

__ADS_1


"sem .. bilan ..." Vian mulai menghentikan drama nya itu diakhiri dengan badan yang sedikit lemas, sedangkan Keishy segera menyumpalkan sesuatu di kedua telinganya.


"Sepuluh"


NNGGGIIIIINNNNGGGG!!!!!!!!


Keishy menyalakan suara anti tikus seketika kelima gadis itu menutup telinganya merasakan bahwa alat pendengarnya ngilu dan sangat mengganggu.


Dengan kesempatan itu Keishy langsung menggeret tubuh Vian ke Lift yang menuju kamar Kakaknya.


DOR!


Tembakan Viara tepat mengenai lengan bagian belakang Keishy tapi tidak ada alasan ia untuk berhenti melarikan diri.


Keishy tidak menghiraukan tangannya malah sibuk menggeret tubuh Vian yang terbilang cukup berat.


DOR! DOR! DOR!


Udah gue duga , batin Viara.


Viara geram kemudian melepaskan tiga peluru dari pistolnya, dua tembakan meleset satu tembakan berhasil menancap pergelangan kaki Keishy.


"KEP*R*T" dengan geram Keishy mengeluarkan tembakan lasernya dengan cepat ke arah lima gadis itu sekaligus


Pelan pelan kulit kelima gadis itu terkelupas dan menampakkan kulitnya yang melepuh serta gosong.


"Dasar tikus!" gerutu Keishy, "ABANG G*BL*G BANGUN!!" Ucap Keishy frustasi


"Eh udah ya?" tanya Vian dengan santai dan dibalas tatapan flat khas dari Keishy


Vian terkekeh kecil melihatnya merogoh bom di sakunya, menarik sumbu dengan giginya kemudian melempar bom itu dengan suara anti tikus milik Keishy ke arah Markas.


Vian menarik tangan Keishy untuk masuk ke dalam Lift dan menekan tombolnya cepat dengan gesitnya.


GGRR!!


"Wow" Vian kagum setelah mendengar getaran dari markas berefek pada lift


Tling!


Bunyi Lift menandakan bahwa mereka sudah sampai, "Bang ... sakit ..." Ringis Keishy keluar dari Lift. Vian dengan santainya keluar dari Lift menyaku tangan kanannya di celana "sekarang kita ke rumah sakit"


Tak lama dari itu Vian segera menopang Keishy membantunya keluar dari Apartemen kemudian masuk ke dalam mobil setelah itu mereka segera pergi ke rumah sakit.


                         

__ADS_1


...••••••...


Bunyi Notifikasi ponsel Arvin menyala membuatnya segera memeriksa ponselnya.


Bang Vian Singa lokal


Oy. It s mia jn bw k klwrgny, bw dy k rwng otpsi, d bdnny ad chp yg trtggl


Seketika mata Arvin perih melihat chat dari Vian itu. Emang gunain satu huruf vokal harus bayar 10jt dulu bang? Duh mata gua, pikir Arvin.


"Bang Zen, tau ini nggak?" Tanya Arvin menyodorkan ponselnya pada Zen yang fokus menyetir sedangkan dirinya masih mengusap matanya yang perih


Zen melihat Arvin sekilas kembali fokus pada rute kemudian mendecih, "Tanya Jepin sono, gua lagi nyetir"


Arvin menghadap ke belakang terlihat Zeyvin dan Mia terbaring lemas disana, dalam keadaan mati. Zeyvin segera menyambut ponsel Arvin saat ia menyodorkan benda itu kepadanya.


"Kata bang Vian, 'Oy itu si Mia jangan bawa ke keluarganya, dibadannya ada Chip yang tertinggal. Oh Chip ... HAH CHIP?!" Seru Zeyvin reflek melihat wajah Mia terbaring di pahanya kemudian menatap Arvin dengan penuh pertanyaan


"Bang coba lu raba badannya, mungkin lu bisa kasih tau bentuk chip itu kek gimana" Ucap Arvin penasaran


"Gamau ah! Gila lu! Ntar gua dikira cabul lagi" Tolak Zeyvin ogah


"Gabakal bang, lu cuma pegang dia doang bukan nge ***** grepein dia" Ujar Arvin


"Yakin lu?"


"Yakin 95 persen bang"


"Lah 5 persennya?"


"5 persennya buat nyali lu gede apa ngga" Ucap Arvin seringai meremehkan


"Okey! Bakal gua buktiin bahwa nyali gua tinggi" Ucap Zeyvin memperingati


Tak sadar bahwa dia telah dibodohi oleh adiknya sendiri.


Dengan berat hati pun Zeyvin segera menyentuh badan Mia dan Arvin pun melihatnya penasaran dengan sedikit menahan tawa karna Kakaknya ini sangat mudah dipengaruhi.


Tap!


Tangan Zeyvin dicegah, bukan dicegah Arvin ataupun Zen melainkan Mia sendiri, "Jangan sentuh gua, terong mesum" Ucap Mia dingin dengan muka pucatnya seketika ketiga pria itu kaget bukan main


Zen menginjak pedal rem mobilnya mendadak, beruntung jalan raya yang ia lewati sepi, jika tidak mereka pasti sudah kecelakaan.


Zen dan Arvin sontak membalikkan badannya ke belakang melihat Mia, "LU MASIH IDUP?!!" Seru mereka

__ADS_1


__ADS_2