Paradoks

Paradoks
Chapter 16


__ADS_3

Malam itu Arvin menyalakan mobilnya segera pergi menuju rumah sakit untuk menjemput pacarnya pulang. Amelyn Hilton Asegaf, wanita itu tergolong dari anak kolongmerat yang tidak pernah bersyukur atas apa yang dimilikinya.


Zean memberinya tantangan untuk membuat Amel jatuh hati padanya dalam selang waktu dua hari. Siapa sangka Amel telah menyimpan rasa begitu lama terhadap Arvin? Tentu saja Amel menerimanya, siapa yang ingin menolak penawaran cinta dari doi? Yang benar saja.


Arvin telah menjelaskan bahwa itu hanya permainan, Amel sedikit kecewa kemudian menunjukkan seringainya dan menjebak Arvin dalam permainannya sendiri. Amel mengumumkan hubungan palsu didepan banyak orang membuat Arvin tidak bisa berkutik apa apa, Apa yang sebenarnya Amel inginkan? Arvin sendiri pun tidak tahu.


Amel mengumbar kemesraan palsu didepan banyak siswa, mereka pun sangat mendukung hubungan Amel dan Arvin. Arvin ingin sekali memutuskan hubungannya dengan Amel tetapi dia membuat kesepakatan bahwa hubungan ini hanya dalam waktu satu semester, tiga bulan lagi hubungan mereka akan putus jika kurang dari itu maka Ayah Arvin, Daris Mukhtar. Akan dipecat sebagai pegawai bawahan dari Ayah Amel, Bara Asegaf.


Arvin membuka pintu kamar rawat yang sebelumnya ia tanyakan kepada salah satu perawat di rumah sakit, terlihat gadis yang seumuran dengannya sedang membereskan pakaiannya diatas ranjang rawat. Maniknya melihat Arvin seketika bibirnya tersenyum simpul kemudian memeluknya pelan.


"Kangen"


Arvin mengelus punggung Amel pelan. "Yaudah yuk, Pulang"


kening amel mengernyit saat Arvin menarik koper yang ia bereskan keluar dari kamar pergi meninggalkan dirinya di ruang rawat, sedangkan Empunya sibuk dengan ponsel yang ia genggam.


"ternyata kamu belum cinta beneran sama aku Vin" batin Amel kemudian tersenyum dalam keadaan terpaksa, sesaat kemudian dia pergi dari sana menyusul Arvin keluar.


                  


...••••••••••...


"mel, sebenernya kaki kamu kenapa? Dari kemaren aku tanya tapi kamu gapernah jawab" tanya Arvin seraya membantu amel menjulurkan kakinya di sofa bersandar


Amel tertegun sekilas kemudian menghela nafasnya berat, "sebenernya kaki aku ditusuk sama orang yang ..."


"yang?"


"yang ngebully sherly Vin" sambung Amel


Arvin beranjak dari duduknya kaget, "siapa yang bully sherly! Jawab!"


Kini wajah Arvin memerah dan berurat, marah karna jaman sekarang masih ada soal pembullyan di sekolah, padahal ADOS jarang jarang menemukan kasus pembullyan seperti ini, Apalagi korban pembullyan adalah adiknya sendiri.

__ADS_1


Amel melihatnya pun segera menunduk takut, "g-gak tau. D-dia keknya anak baru V-vin, tiga bulan lalu dia pake baju croppy gitu sama jeans panjang" Amel berusaha menjelaskan


"Kei?" gumam Arvin


"Gatau, pokoknya orangnya itu. waktu itu aku mau nyelametin adek kamu eh kaki aku ditusuk ama dia pake cutter, jahat banget coba" Seperkian detik Amel meneteskan air matanya


Tapi Kei gak mungkin ngelakuin itu


"Vin, kalo kamu mau tau yang sebenarnya coba sekarang kamu pulang terus tanya ke sherly" Ujar Amel seraya mengusap air matanya. Tanpa aba aba Arvin langsung keluar dari rumah amel pergi pulang untuk menemui Sherly dengan perasaan khawatir.


Saat Arvin sudah jauh pergi, Amel segera mengambil ponselnya kemudian menekan tombol panggilan, mendengar suara sambung ke telepon tapi panggilan itu tidak masuk.


Amel kembali menekan tombol panggilan itu. Panggilan kedua akhirnya masuk.


"H-halo ..?"


"Hai .. Cupu" ejek Amel terkekeh,  "Abang lo bakal nanyain siapa yang ngebully lo, jawab aja cewe yang nyelametin lo waktu itu. Atau nggak Gue bakal .."


"Bakal apa?! Aku bakal aduin ke bang Avin bahwa kakaklah yang ngebully aku dan nyakitin temen temen aku selama ini"


"Hei ... Jangan bertindak gegabah. Walaupun gue putus sama abang lo, gue masih ngebully lo tau gak! Mau ngadu? It's okay bullyan gue bakal makin nyakitin temen temen lo dan lo? Bakal dapet yang spesial dari gue" Ancam Amel seraya menyeringai sinis


"Sebenernya kak Amel mau apasih dari aku sama temen temen aku?"


"mau duit lo, selebihnya cuma buat kesenangan gue sendiri"


"Ya kerja dong kak! Gaada yang gratis di dunia ini! Kek gaada pendirian banget malak adek kelas"


"haha, mulai jawab omongan gue? Tunggu pertemuan kita nanti. Inget! Lo ngadu? Hukuman lo lebih berat dari sebelumnya dan kematian temen temen lo ada ditangan gue" Jelas amel mengeratkan genggaman tangannya dan langsung mematikan ponselnya kemudian melemparnya jauh dengan kesal.


"Bastard! Awas aja tu anak berulah" Umpatnya. Sekian menit kemudian Amel kembali mengambil ponselnya yang ia lempar tadi di lantai, mencoba menyalakan ponselnya, terlihat angka 5% di persentase baterai kemudian Amel membuangnya di tempat sampah.


Batrenya habis, besok mau beli baru aja.

__ADS_1


...••••••...


BRAKK


Arvin membuka pintu kamar Sherly dengan keras, terlihat Sherly yang berada dipojokkan kaget dengan ponsel yang berada ditangan kanannya.


"Sherly!" Seru Arvin kemudian memeluk Sherly dengan perasaan khawatir


Sherly gelagapan kemudian melepas pelukannya pelan, "k-kakak? kakak kenapa?"


"Seharusnya kakak yang tanya sama kamu. Kamu dibully sayang?" Sherly duduk di atas kasurnya dengan perlahan saat Arvin memegang kedua pundaknya seraya duduk sebelum itu.


"N-Nggak ih. Siapa yang bilang emang?" Ucap Sherly mencoba menimalisir gugupnya


"Jangan bohong dek. Kak Amel yang bilang, jujur sama kakak dek. Kakak gamau kamu kenapa-napa setelah ini, kamu titipan orang tua kita. Kamu berlian rumah ini. Kamu ga pantes di tindas dek." Jelas Arvin dengan sorot mata tulus dengan penuh kasih sayang menyorot mata Sherly serius, Sherly tak sanggup dengan tatapan itu kemudian memilih menundukkan pandangannya kikuk.


"Dek apa bener yang bully kamu itu kak Keishy?" Seketika kepala Sherly mendongak kemudian menggeleng cepat menandakan tidak.


"Terus siapa? Sher kamu harus jujur sama kakak, kakak gamau kamu kenapa-napa dek." Tekan Arvin sekali lagi


"K-kak—"


Lo ngadu? Hukuman lo lebih berat dari sebelumnya dan kematian temen temen lo ada ditangan gue


Keterlaluan! Perkataan Amel selalu terngiang dikepala Sherly. Dia mencoba untuk menyeka air matanya, sungguh Amel tidak main main dengan kalimatnya itu. Laras Acacella, salah satu teman Sherly sudah bergelar Almarhumah karna akibat ulah Amel sendiri.


Menggertak bukan tipe Amel, Dia menjatuhkan mental Laras kemudian membiarkannya mati dengan perlahan karna depresi, bisa ditebak, Laras bunuh diri.


"Sher?" Ujar Arvin lembut


Sherly tidak bisa menahan air matanya lagi "kak, Sherly ke toilet dulu." Ucapnya dengan keadaan kepala menunduk menyembunyikan air matanya kemudian pergi dari kamar meninggalkan Arvin sendiri.


Arvin melihat Adiknya pergi dengan tatapan yang nanar kemudian menghela nafasnya pelan, tak lama dari itu Arvin menggenggam tangannya erat menahan amarah.

__ADS_1


kurang ajar!


__ADS_2