
Hari sudah sore saat mereka tiba di Tokyo.
Bangunan yang kokoh dan mewah berdiri didepannya begitu Naomi keluar dari mobil. Didepannya sudah berdiri jejeran para pelayan yang sedang menanti kedatangan mereka.
"Aku harap kalian menyukainya" ucap Kuon dengan bangga.
Bangunan yang ada di depannya saat ini bukanlah bangunan yang pernah ia tempati dulu. Lokasi property ini lebih dekat ke perusahaan induk Kuon.
Tadinya bangunan yang juga bisa disebut sebagai mansion ini adalah milik orang asing yang membuka cabang perusahaaan di Jepang. Kuon merasa puas ketika ia akhirnya berhasil mendapatkan mansion tersebut.
Dengan tidak sabar, ia pun menuntun Naomi dan Aiko kedalam mansion tersebut.
Jujur saja, walau Naomi sudah menikmati berbagai kemewahan ketika masih berstatus sebagai istri Kuon, ia masih merasa jika mansion yang akan mereka tempati terlalu mewah.
Mansion dengan luas 850m2 tersebut memiliki lantai marmer dan juga 6 kamar tidur dengan 6 kamar mandi pribadi serta 4 kamar pelayan dengan 4 kamar mandi. Belum lagi ruang sauna serta kolam pribadi yang di lengkapi dengan jacuzzi.
Pada ruang keluarga yang di dominasi oleh warna putih tersebut, terdapat Grand Piano Bösendorfer Opus 50 serta jendela yang besar dimana mereka bisa menikmati pemandangan taman mereka yang luas dan tentunya agar sinar matahari mudah memasuki ruangan tersebut.
Selain itu terdapat juga perapian mewah yang akan menghangatkan ruangan tersebut di saat musim dingin.
Naomi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun karena perhatiannya terpana dengan pemandangan baru yang ada di sekelilingnya itu.
Mereka kemudian memasuki sebuah kamar anak, kamar tersebut memiliki tempat tidur model puteri dan di dominasi dengan warna pink muda yang lembut. Di sudut kamar sudah tersusun rapi dari buku bacaan hingga boneka dan mainan yang bisa di mainkan oleh Aiko.
__ADS_1
Aiko yang melihat deretan mainan tersebut seolah-olah terhipnotis dan segera berlari ke sudut itu.
Kuon yang melihatnya pun tersenyum.
".. Aku tidak percaya dengan ini semua" ucap Naomi menarik perhatian Kuon.
"mmh??"
" Berapa yang sudah kamu keluarkan untuk ini semua?" tanya Naomi. Ia tahu jika Kuon tidak akan kesulitan dengan membeli ini semua, hanya saja ia merasa tidak nyaman dengan segala kemewahan yang diberikan oleh Kuon.
".. Apa kamu menyukainya?" tanya Kuon.
" Aku tidak bisa tinggal disini" jawab Naomi.
"Kenapa? Bukankah sudah kukatakan aku akan memberikan yang terbaik untuk kalian? Walau aku tidak merasa ini adalah yang terbaik.. Tapi aku tidak punya pilihan. Hanya tempat ini yang dekat dengan perusahaanku. Aku sengaja memilih tempat ini agar memudahkanku untuk menemui kalian" ucapnya lagi dengan enteng.
"Tidak untuk putri kecilku, Aiko hanya akan mendapatkan apa yang bisa kuberikan untuknya. Lihatlah dia. Betapa gembiranya ia memainkan semua boneka itu. Jika tinggal di apartemen, aku rasa tidak semua mainan itu akan bisa kalian bawa ke apartemen".
"Tapi.."
"Sudahlah, kamu hanya perlu tinggal disini. Serahkan semuanya padaku" ucap Kuon tersenyum. Ia pun kemudian berjalan mendekati Aiko dan menemaninya bermain.
Naomi sadar ia tidak bisa banyak beragumentasi karena ia tahu bagaimana dengan watak Kuon. Lagipula, ia yang telah setuju untuk pindah ke Tokyo. Oleh karena itu, jika ini memang yang diinginkan oleh Kuon, ia tidak akan mempertanyakannya lagi.
__ADS_1
Ia hanya merasa lelah, dan ingin segera beristirahat. Dengan asal, ia pun memasuki suatu kamar yang luas. Ia langsung menjatuhkan dirinya ke atas ranjang yang empuk itu.
".. Setidaknya Aiko sedang bersama dengan Kuon.. Aku akan beristirahat sebentar.. Saja.." ucapnya terlelap sudah tidak mampu menahan matanya lagi.
...*****...
Setelah bermain beberapa saat dengan Aiko, anak itu terlihat lelah oleh karena itu Kuon pun segera membaringkannya ke atas tempat tidur dan menunggunya hingga terlelap.
Setelah memastikan anak itu sudah tertidur pulas, ia pun keluar dari kamar tersebut dan bertanya-tanya di manakah Naomi.
Ia kemudian bertanya kepada para pelayan perihal keberadaan Naomi namun tidak ada satupun yang tahu dimana wanita itu berada, ia pun lalu memasuki kamar satu per satu hingga kemudian mendapati Naomi yang sudah terlelap di atas ranjang.
Dengan perlahan, ia memasuki kamar tersebut, dan duduk disampingnya memperhatikan nafas yang dihembuskan oleh Naomi. Tanda ia sudah berada jauh di dunia mimpi.
Tanpa di sadarinya, tangannya membelai wajah Naomi.. Oh betapa ia merindukan wanita yang ada didepannya saat ini.
".. Apa yang kira-kira kamu mimpikan saat ini.. Naomi..?" tanya Kuon berbisik.
Ia pun dengan perlahan menundukan kepalanya dan mengecup pipi Naomi. Namun ia segera sadar dengan tindakannya. Ia pun langsung berdiri dan keluar dari kamar tersebut.
"Kamu sudah gila Kuon! Ingat Naomi sudah bukan istrimu lagi..apa kamu ingin sekali lagi menghancurkan segalanya disaat pada akhirnya ia mulai mempercayaimu?" makinya pada diri sendiri.
Dengan perasaan bersalah, ia pun memanggil asistennya untuk mengantarnya ke hotel.
__ADS_1
Ia tidak tahu apa yang akan diperbuatnya jika ia berada terlalu dekat dengan Naomi saat ini, ia tidak ingin menyesali tindakannya.. oleh karena itulah ia merasa keputusannya untuk pergi adalah tepat.
Ia akan datang menemui Naomi dan anaknya besok, janjinya pada diri sendiri.