
Jun berjalan terburu-buru menelusuri koridor menuju ruang pribadi Kuon, dengan luwes ia menghindari beberapa pegawai yang kebetulan melewati koridor tersebut.
Sebuah Map tebal berada di tangannya, dokumen yang berada di tangannya adalah hasil investigasi dari Detektif Swasta yang ia rekrut beberapa bulan sebelumnya.
Ia sudah memeriksa apa yang ada didalam dokumen tersebut dan ia tidak yakin jika hal itu akan menjadi hasil yang di inginkan oleh Kuon.
Ia kemudian membenarkan postur tubuhnya setelah tiba di depan pintu ruang pribadi Kuon.
Setelah mengambil nafas yang dalam, ia lalu mengetuk pintu ruang tersebut.
"Masuklah" sahut Kuon dari balik pintu.
Mendengar suara pimpinannya itu, ia segera membuka pintu.
"Selamat Pagi Tn. Nakamura" sapa Jun.
Kuon terlihat sibuk sedang menandatangani beberapa surat dokumen yang berada di atas mejanya.
"..ada urusan apa..? " Tanya Kuon tanpa menoleh ke arah Jun, perhatiannya masih tertuju pada pekerjaan yang ada di mejanya itu.
"..Hasil penyelidikan kecelakaan Nyonya dan Nona sudah keluar.." jawabnya.
Mendengar ucapan Jun, Kuon segera menghentikan aktifitasnya.
"Serahkan padaku" perintahnya
Jun segera menyerahkan Map yang ada di tangannya itu kepada Kuon.
Tanpa menunggu, Pimpinannya itu segera membuka dokumen tersebut.
Kuon melihat foto-foto dan hasil rangkuman yang di tulis oleh detektif yang mereka rekrut, dalam seketika warna wajahnya berubah menjadi merah, sekujur badannya bergetar karena menahan amarah.
Ia memang sudah menduga jika kecelakaan yang di alami oleh Naomi dan Aiko adalah suatu kesengajaan, namun kini ia sudah mulai bisa menyambung potongan puzzle yang membuatnya mempertanyakan alasan di balik itu.
"Bajing@n!!!" teriaknya seraya membuang dokumen tersebut ke lantai mengakibatkan foto-foto yang berisi Tetsu berserakan di lantai tersebut.
Melihat foto dan dokumen yang berserakan, tanpa menunggu perintah, Jun segera memungut dan merapikannya kembali.
Kuon berjalan bolak-balik, satu tangannya berada di saku dan satunya lagi menyisir rambut dikepalanya, ia terlihat frustrasi.
"Apa aku harus menghubungi polisi?" tanya Jun.
__ADS_1
"..Tidak... jangan dulu..aku yakin ini ada hubungannya dengan perempuan jal@ng itu, kita perlu bukti jika memang pel@cur itu yang memberikan perintah .. apalagi ini sudah menyangkut Yakuza .." Jawab Kuon masih terlihat frustrasi.
"..Apa kamu sudah mendapatkan petunjuk tentang hubungan mereka?" sambungnya lagi
"Belum Tn.., Detektif Ito sedang melakukan penyelidikan.."
"Bagaimana dengan peredaran obat yang ku pinta?" potong Kuon
"..Maaf .. detektif Miura juga masih belum mendapatkan banyak petunjuk" jawab Jun gugup.
" Sial! kerahkan lebih banyak detektif, aku tidak peduli berapa yang harus kukeluarkan, aku ingin hasilnya dalam waktu dekat ini!" perintahnya setengah berteriak.
"Baik Tn. Nakamura".
Kuon kemudian mencoba untuk menenangkan diri. Ia mengambil sebuah gelas kosong dan menuangkan Whiskey kedalamnya hingga penuh.
Ia menelan seluruh isi gelas tersebut dalam sekali teguk.
Tek! bunyi gelas yang di hentakan di atas meja.
"Keluarlah ..." ujarnya memberi perintah kepada Jun setelah ia sudah lebih tenang namun tangannya masih terus menuangkan minuman beralkohol itu ke dalam gelas yang ada didepannya itu.
...*****...
Hati Kuon sedang berkecamuk.
Ia ingin sekali segera menemui Chikako dan memberi wanita yang juga istrinya itu pelajaran.
Walau ia belum memiliki bukti yang konkrit atas keterlibatan wanita itu, Kuon yakin Chikako berada dibalik kecelakaan itu.
Tetsu tidak punya alasan untuk melukai Naomi maupun Aiko.
Selama ini, ia tahu Chikako adalah wanita yang berambisi dan licik, hanya saja..tidak pernah terlintas dikepalanya jika wanita itu begitu mengerikan.
Ia sudah mengenal wanita itu selama bertahun-tahun, namun hari ini membuatnya sadar jika ia tidak mengenal wanita itu sama sekali.
Wanita yang dulu memberikan kenyamanan dan menawarkan begitu banyak kesenangan duniawi ternyata adalah wanita yang begitu beracun.
Ia harus menyingkirkan wanita itu...demi Naomi, Aiko..bahkan Yukio.
Ya..ia merasa bersalah kepada Yukio, ia menyesali hidup Yukio yang harus terlahir dari seorang iblis seperti Chikako...oleh karena itu .. ia akan memperbaikinya. Ia akan segera menjebloskan Chikako ke penjara begitu mendapatkan bukti keterlibatannya dan menutup akses komunikasi diantara mereka.
__ADS_1
Ia tidak akan membiarkan Yukio tumbuh menjadi manusia yang kejam seperti ibunya.
...****...
"Mama..? Papa dimana??" tanya Aiko
"Papamu sedang bekerja Aiko, hari ini Aiko temani Mama berbelanja ya" hibur Naomi
"Mmh!" angguknya.
Sudah beberapa hari berlalu sejak Kuon mengunjungi mereka.
Hubungan mereka kembali menjadi kaku karena pernyataan Kuon di malam itu, Naomi tidak tahu bagaimana ia harus menghadapi Kuon jika pria itu memutuskan untuk kembali menjalankan aktifitasnya seperti biasa dengan mengunjungi mereka setiap hari.
Ia merasa bersyukur ketika mendapatkan pesan singkat dari Kuon yang mengatakan akan sibuk untuk beberapa hari kedepan sehingga tidak akan sempat mengunjungi mereka..namun hal sebaliknya untuk Aiko.
Jika sebelumnya Aiko merasa asing dengan Kuon, kini ia selalu mengharapkan kehadiran ayahnya itu.
Memang butuh waktu yang cukup lama untuk membuat Aiko merasa nyaman dengan kehadiran Kuon, namun berkat usaha Kuon yang tidak pernah menyerah untuk mendekatkan dirinya kepada Aiko, putri kecilnya itu akhirnya menerima keberadaan Kuon.
Sudah beberapa hari sejak mereka bertemu, Aiko merindukan sosok Kuon, hanya saja ia tidak tahu bagaimana ia harus mengekspresikannya.
Ia kecewa ketika tamu yang ia kira adalah ayahnya, siang tadi ternyata orang lain.
Ia sering melihat pria itu mendampingi Kuon, dan Naomi memanggilnya Jun.
Hari ini Jun datang mengantikan Kuon untuk mengantar Naomi dan Aiko ke pusat perbelanjaan.
"Hari ini mama ingin sekali membuat makanan kesukaanmu! coba tebak apa itu?" tanya Naomi mencoba untuk menghibur hati Aiko.
"Cokelat?" jawabnya tersipu malu
Naomi pun berpura-pura untuk berpikir sejenak.
" Mmh.. karelna Aiko adalah anak yang manis, Aiko akan mendapatkan Cokelat sebagai makanan penutup" ujar Naomi
"Janji?" tanya Aiko
"Janji!" jawab Naomi tersenyum seraya mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Aiko.
"Ayo kita harus bergegas, atau Jun akan menunggu terlalu lama" sambungnya lagi.
__ADS_1